
POV Dr.Prayoga Aditia Sp.A K
Aku di besarkan di sebuah yayasan. Dari kecil aku memang sudah mempunyai cita-cita untuk menjadi seorang dokter. Maka kutanamkan niat dalam hati untuk menggapai cita-citaku.
Waktu bermain di usia remaja tak pernah aku pergunakan, aku hanya fokus belajar dan belajar, hingga akhirnya aku berhasil meraih peringkat terbaik di sekolah menengah atas. Aku mengambil jurusan IPA, Alhamdulillah nilai akademik ku di atas rata-rata.
Aku mendapatkan beasiswa kedokteran di universitas terbaik yang ada di kota Medan. Maka aku terpaksa harus keluar dari yayasan panti asuhan yang sudah 19 tahun membesarkan aku,dan memberi pendidikan.
Seminggu sebelum keberangkatanku, seorang gadis berumur 11 tahun di titipkan oleh keluarganya yang beralaskan tidak mampu menyekolahkannya ke jenjang berikutnya, maka mereka menitipkan gadis itu di yayasan panti asuhan tempatku tinggali saat itu.
Setiap hari aku selalu memperhatikan gadis itu selalu murung, dia selalu mengasingkan diri dari teman seusianya yang sedang menikmati masa2 bermain dan bahagia mereka. Entah kenapa baru kali ini aku mempunyai jiwa empati dan peduli pada seorang wanita, karena selama ini aku hanya fokus dengan duniaku yaitu belajar memperdalami ilmu sesuai dengan jurusan yang aku ambil.
Dengan ragu aku mendekatinya, walaupun dari tatapannya enggan untuk berkomunikasi, namun aku selalu berusaha untuk mengajaknya bicara walau sepatah dua patah kata.
"Hai, boleh Abang duduk disini?" ucapku mencoba menawarkan diri
Dia tidak menjawab tetapi hanya diam saja namun tatapannya masih lurus kedepan. Walau tak mendapat jawaban, aku tetap duduk di sisinya.
"Nama kamu siapa?" tanyaku mengakrabkan diri
"Rara." jawabnya dengan satu kata. hehe lumayan ada kemajuan sedikit.
"Nama yang bagus, Rara kenapa tidak ingin bermain bersama mereka?" tanyaku kembali
"Kak, aku tidak mau tinggal disini! aku ingin pulang kak. Kenapa mereka tega sekali menitipkan aku disini? rasanya disini asing. Hiks... Hiks..." tangisnya pecah, ternyata itu penyebabnya kenapa dia bersedih hati
Aku berusaha menenangkan dirinya. ku usap kepalanya dengan lembut. "Dek, kakak dengar mereka tidak mempunyai biaya untuk menyekolahkan kamu, jadi menurut kakak itu sudah keputusan yang tepat bagi mereka agar kamu bisa melanjutkan pendidikan. Sekarang lebih baik kamu fokus dengan sekolahmu agar nanti kamu bisa menggapai cita-citamu."
Aku mencoba menasehatinya. ternyata dia tidak ingin memanggilku Abang, hehe. aku mengikuti maunya yaitu panggil kakak. walau sebenarnya aku kurang suka dengan panggilan itu, karena menurutku panggilan itu kurang manly untuk seorang pria.
__ADS_1
Gadis itu menatapku begitu lekat. Aku sedikit gugup ditatap oleh seorang bocah, tapi aku menyukai mata, hidung, bibir dan juga raut wajahnya yang ayu.
"Eh, biasa aja dong natapnya. Adek kayak singa lapar deh. Hehe..." seloroh ku
"Apa sih kak. Aku tuh cuma heran saja kenapa kakak juga mudah percaya dengan omongan mereka," ujarnya kesal
"Maksud adek apa?"
"Kak, mereka hanya berbohong. Papaku baru sebulan yang lalu meninggal, aku tinggal bersama ibu tiri, mereka mengambil semua harta peninggalan Papa, lalu menitipkan aku disini. Kalau untuk biaya pendidikan, aku rasa harta Papa tidak akan habis menyekolahkan aku hingga S2 nanti,"
Aku benar-benar terkejut dengan segala penjelasan gadis kecil itu. ternyata itu yang membuat mentalnya sedikit terganggu.
"Dek, maaf ya, kakak tidak tahu yang sebenarnya. Kalau kakak boleh kasih saran lebih baik Dek Rara sekolah yang rajin disini. Lihatlah kakak, walaupun tidak mempunyai keluarga tapi kakak bisa menggapai cita-cita, Alhamdulillah sekarang kakak mendapatkan beasiswa kedokteran di universitas xxx. Kakak juga berharap adek bisa sukses nantinya,"
"Berarti kakak sebentar lagi tidak tinggal disini lagi dong?"
"Kakak serius?" tanyanya penuh harap.
"Insyaallah serius, kamu janji ya sama kakak untuk rajin belajar, agar kita nanti sama-sama jadi orang sukses!"
Dia tersenyum dengan mata berbinar menatap diriku sambil berkata. " Iya kak, aku janji akan menggapai cita-citaku agar sukses seperti kakak," ujarnya mantap, sepertinya kesedihannya berangsur hilang mungkin dia termotivasi dengan perjalanan kisahku.
"Good Job cantik! Kalau boleh kakak tahu apa cita-cita mu?" tanyaku sedikit penasaran
"Aku ingin jadi seorang guru SLB kak," jawabnya, aku sedikit heran dengan cita-citanya yang unik
"Kenapa guru SLB Dek?"
"Ya aku merasa tertantang untuk menjadi pendidik yang sabar, karena almarhumah Mama juga seorang guru SLB. Mama seorang guru sekaligus ibu yang sabar dan penyayang. Aku ingin menjadi seperti Mama."
__ADS_1
Aku tersenyum menatap ketulusan hati gadis kecil itu. "Kakak Do'akan cita-citamu tercapai ya."
"Aamiin terimakasih ya Kak."
***
Waktu begitu cepat berlalu, hari yang kutunggu sudah tiba. Aku bersiap untuk berangkat ke kota Medan. Sebelum berangkat aku berpamitan dengan gadis kecilku itu.
"Dek, kakak pergi sekarang ya. Kamu jaga diri baik-baik, kakak janji jika ada waktu luang aku akan datang menemui kamu. Dan satu lagi janji kakak, jika nanti kakak sukses terlebih dahulu darimu, maka kakak akan menjemput kamu, kakak yang akan mencapaikan cita-citamu," jelasku panjang lebar
Dia begitu sedih saat melepaskan kepergianku. begitu juga sebaliknya, entah kenapa aku begitu berat meninggalkan dia, aku begitu menyayanginya. Aku merasa sayangku bukan layaknya seorang kakak ke adik. Apakah aku mencintai gadis belia itu? Rasanya aneh sekali.
Gadis itu memeluk diriku dengan erat sembari terisak-isak. "Kak, janji ya akan menemui aku disini. Kakak juga janji ya akan menjemputku jika kakak sudah sukses, jangan lupakan aku! Terus, kakak nggak boleh dekat dengan cewek lain selain aku!" ujarnya yang membuat aku tak bisa menahan tawa
"Adek jatuh cinta sama kakak? Adek cemburu? Hahaha.... aku mentertawakan dirinya, dan juga diriku sendiri. sebenarnya aku merasa senang mendengar ucapannya.
"Ih, kakak apaan sih! Aku masih kecil tapi mana tahu memang jodoh sama kakak, Hehe..."
Aku begitu gemas mendengar jawabannya. Walaupun usia kami terpaut delapan tahun, tapi tak bisa aku pungkiri bahwa aku memiliki ketertarikan dengan gadis kecil itu.
Sesampainya di kota Medan, aku mulai sibuk dengan mata kuliahku. Disamping kuliah aku mencoba mencari pekerjaan sampingan, aku mencoba melamar bekerja di sebuah RS swasta. Alhamdulillah aku di terima sebagai bruder yaitu perawat laki-laki, mungkin mereka melihat ijazah SMA ku jurusan IPA dengan nilai terbaik.
Aku sangat bersyukur atas segala kemudahan yang selalu Allah berikan disetiap langkahku. Maka akupun tak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan itu, dengan bekerja di RS maka akan menambah wawasan ilmu yang sedang aku pelajari.
Bersambung....
NB. Kupas tuntas dulu perjalanan kisah duda tampan dan Janda cantik ini ya🤗 satu bab lagi meluncur
Happy reading 🥰
__ADS_1