Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
First kiss


__ADS_3

Saat kedua mempelai menuju panggung, semua tamu undangan serentak bertepuk tangan dengan meriah. Ini adalah hal yang langka sebagai seorang Dokter dan pimpinan yang terkenal dingin dan kaku kini ia begitu bersemangat akan menyanyikan sebuah lagu.


"Silahkan Pak dokter, mau menyanyikan lagu apa?" tanya MC sembari menyerahkan mic kepada Yandra dan Fatimah.


Pria itu berdiskusi sejenak dengan sang istri memilih lagu yang cocok untuk mereka. Setelah bersepakat mereka memilih sebuah lagu dangdut.


"Baiklah, sebuah tembang yang bertajuk Pantun cinta," ujarnya di balas dengan sorakan dan tepuk tangan meriah oleh tamu undangan.


Yandra: Banyak bunga di taman... Cuma satu ku petik. Banyak gadis perawan hanya Adek yang cantik....


Fatimah: Banyak buah semangka... di bawa dalam sampan. Banyak anak jejaka... cuma Abang yang tampan....


Yandra: Berjuta bintang dilangit... satu yang bercahaya... Berjuta gadis yang cantik Adeklah yang kucinta...


Fatimah: Pandai Abang merayu.... Hatiku jadi malu...


Yandra: Rumah atapnya tinggi... Terbuat dari bambu... Cuma adek kupilih... dan yang selalu kurindu....


Fatimah: Gunung puncaknya tinggi.... tertutup oleh salju... Memang Abang kupilih... dan yang selalu kurindu....


Saat kedua mempelai masih asyik dengan duet syahdu mereka. Yoga dan Zahra baru saja tiba. Yoga menatap kemesraan pasangan pengantin itu dari kejauhan.


Entah apa yang dirasakan oleh Pria itu. Matanya begitu lekat menatap mereka, sementara itu Zahra sedang sibuk membaca nama pasangan pengantin yang terpampang di deretan papan bunga.


"Berarti istri atasan mas Yoga, seorang guru juga ya?" tanya Zahra sembari mensejajarkan langkanya dengan yoga


Pria itu masih fokus menatap pasangan pengantin itu, hingga tak mendengarkan ucapan sang istri


"Mas?" panggil Zahra sedikit mengguncang lengan Yoga


"Ah, ya? Ada apa Zah?"


Zahra menatap kemana arah mata Yoga menyorot. Wanita itu merasa heran melihat tatapan sang suami yang begitu dalam pada kedua mempelai itu.


"Bang Yoga..." Panggil Najuwa, terlihat sang bocah begitu girang menghampiri pasangan itu.


"Hai, Adek cantik apa kabar? Cantik banget sih kamu hari ini," balas Pria itu sembari mencubit pipi Najuwa dengan gemas

__ADS_1


"Hehe... Abang juga tampan sekali. Oya, kakak ini siapa Bang?" Tanya Najuwa


"Oya, kenalkan ini kak Zahra, dia istri Abang," jelasnya


"Abang serius? Kok Abang nikah nggak undang Cua dan kak Fatimah?"


"Hai, kakak cantik! Namaku Najuwa, senang bertemu dengan kakak," ujarnya kembali sembari menyalami tangan Zahra dengan hormat.


"Terimakasih, Sayang. Kakak juga senang bertemu denganmu," balas Zahra tersenyum ramah


"Loh, ada Nak Yoga? Ayo masuklah,Nak. Silahkan cobain menu yang ada, ini siapa Nak Yoga?" tanya Ibu menghampiri mereka.


Yoga terpaksa menceritakan bahwa dia sudah menikah. Karena pernikahan mereka hanya ijab qobul tanpa ada resepsi maka mereka tak mengundang tamu manapun.


Kini pasangan itu menikmati menu hidangan yang mereka pilih, namun mata Yoga masih memperhatikan pasangan pengantin yang kini sudah kembali duduk di kursi pelaminan.


Zahra melihat sikap Pria itu berubah sedikit murung. Rasa penasaran semakin besar saat melihat Yoga tak bisa lepas menatap kedua mempelai. Dalam benak timbul pertanyaan, apakah Yoga pernah mempunyai hubungan dengan pengantin wanita? Secara Pria itu terlihat sudah begitu akrab dengan adik dan ibu Fatimah.


Setelah selesai makan Yoga membawa Zahra untuk naik keatas Pelaminan. Karena begitu larut dengan perasaannya seakan Pria itu melupakan kehadiran wanita yang ada di sampingnya.


"Selamat ya atas pernikahan kalian! semoga bahagia!" Ujarnya menjabat tangan Yandra.


"Ah, perkenalkan ini Zahra istri saya!"


"Kamu serius? Kapan nikah, kenapa tidak mengundang? Atau jangan-jangan kamu sengaja menyewa orang untuk mendampingimu menghadiri pernikahan kami?" Tuding Yandra. seketika mendapat sikut dari Fatimah.


Yoga tersenyum sinis. "Heh! Aku tidak se Cemen itu Bro."


Zahra menyalami Fatimah dan cipika cipiki. "Selamat menempuh hidup baru ya, semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah!"


"Aamiin... terimakasih kak. Kalau boleh tahu siapa nama kakak?" Tanya Fatimah mengakrabkan diri


"Nama aku Zahra, panggil Rara juga bisa," balasnya.


Yoga hanya menangkup kedua telapak tangannya tanda ucapan selamat. "Semoga selalu bahagia ya? Tetaplah selalu tersenyum, semoga kamu masih mau berteman denganku."


"Terimakasih ya, Dok." Hanya itu jawaban Fatimah dengan senyum simpul. Diantara mereka tampak begitu kaku.

__ADS_1


***


Jam 5.30 acara sudah selesai, Yandra dan Fatimah sudah masuk kedalam kamar pengantin. Fatimah duduk di bibir ranjang, ia bingung apa yang ingin dilakukannya.


Fatimah ingin mandi karena merasa sangat gerah, namun ia bingung untuk membuka gaun pengantinnya. sedangkan kamar mandi berada diluar kamar


"Kenapa bengong Dek? Mau mandi dulu?" tanya Yandra duduk disisi Fatimah


"I-iya Bang, tapi Abang bisa keluar sebentar nggak? aku mau buka gaun pengantin ini."


"Kenapa Abang harus keluar? Apa kata orang diluar nanti. Lagian kita sudah suami istri lho Dek, ayo sini Abang bantu Adek buka gaun pengantin dan hijab."


Seketika wajah Fatimah merah merona, jantungnya serasa ingin lompat. Apakah dia sudah siap dengan semuanya.


Ini benar-benar terasa asing dan ia begitu sangat malu. Tapi ia menyadari sekarang dirinya sudah menjadi seorang istri semua jiwa dan raganya sudah milik sang suami seutuhnya.


Dengan perlahan Fatimah mengangguk tanda menerima bantuan dari Yandra, wajah Pria itu sumringah.


Dengan perlahan Fatimah duduk di depan kaca hias, Yandra mulai membuka aksesoris yang melekat di kepala Fatimah. Saat hijab itu terlepas dari kepalanya, Yandra menatap gadis itu takjub dengan kecantikannya. rambutnya yang hitam legam juga lurus, panjang hingga pinggang. Yandra mengurai rambut itu dari ikatannya.


Dengan lembut Pria itu mencium mahkota yang indah itu, wangi dari rambut itu sangat menenangkan hati.


"Kamu cantik sekali,Sayang. Muuach!" Kecupan hangat mendarat di pipi, membuat wajah itu kembali merah padam, keringat dingin mengucur di dahinya. Wanita itu tidak berani mengangkat wajah. Jantungnya sungguh tak dapat tenang.


Hingga terkahir yaitu membuka resleting gaun pengantinnya. Namun Fatimah segera menahan tangan Yandra.


"Bang, biar Adek saja yang buka sendiri." Cegah gadis itu gugup setengah mati.


"Kenapa, Dek? Apakah kamu belum siap?" Tanya Yandra dengan suara berat.


"Bu-bukan begitu Bang, ini masih sore. Tidak enak dengan keluarga yang lainnya, lagipula kita belum makan malam. Maaf Adek masih sangat malu, keluarga masih sangat ramai, kalau Abang tidak keberatan kita rileks dulu ya?" Ujarnya memelas


Yandra merangkum kedua pipi Fatimah, mendekatkan wajahnya lalu mengecup bibir itu dengan lembut, seketika mata gadis itu membelalak. Ini adalah first kiss baginya.


"Baiklah, aku akan memberimu waktu beberapa jam lagi, persiapkan dirimu mulai sekarang,Sayangku. Muuuaachh.... Muuuaachh..." Pria itu mengecup wajah Fatimah beberapa kali.


Bersambung...

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2