Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Prihal kado


__ADS_3

Kini hubungan Yandra dan Fatimah sudah kembali seperti semula, tentu saja orangtua mereka sangat bahagia.


Malam ini Fatimah baru saja sampai dirumah setelah seminggu lamanya dirawat akhirnya dokter mengizinkan untuk pulang. Karena insiden tersebut mereka harus menunda tanggal pernikahan, hingga kondisi Fatimah benar-benar membaik.


"Fa, di luar ada keluarga calon suamimu datang," ujar ibu memberitahu


"Oh, kok mendadak Bu, datangnya?" tanya Fatimah


"Ibu juga tidak tahu, mana nggak ada persiapan apa-apa lagi. Terpaksa ala kadarnya saja ibu hidangkan," jelas ibu kembali


"Iya tidak apa-apa Bu, mereka pasti paham."


"Yasudah, ibu tinggal dulu ya." Bu Ida kembali keluar setelah memberitahu.


Fatimah berusaha berdiri dengan dibantu kruk kaki. Dengan perlahan ia berjalan menuju meja rias untuk memperbaiki wajahnya yang sedikit kusam, sedikit lipgloss ia poles agar terlihat segar.


Tok! Tok!


"Fa, ini Mama..." suara seseorang diluar


"Iya, Ma. Masuk saja tidak dikunci." Jawab Fatimah dari dalam


Mama Anggi segera masuk bersamaan dengan Yanju dan juga Lyra. Mama menggendong Yanju sementara Lyra membawa sebuah parsel buah.


"Maaf ya, Nak, Mama dan yang lainnya datang mendadak. Kami hanya ingin memastikan bahwa kamu memang baik-baik saja, maaf juga beberapa hari ini Mama tidak datang membesuk kamu di RS, karena Mama sedang sibuk mempersiapkan segala untuk pernikahan kalian, ditambah lagi kondisi kak Lyra kurang membaik," jelas Mama merasa bersalah


"Tidak apa-apa,Ma. Alhamdulillah aku sudah mulai sehat," Fatimah segera meraih Yanju dalam gendongan Mama. "Kak Lyra bagaimana keadaan kakak sekarang?" tanyanya pada Lyra yang berdiri di sisi meja rias


"Alhamdulillah, sudah enakan Fa. Mungkin kakak terlalu banyak beraktivitas jadinya kondisi sedikit menurun," jelasnya


Setelah cukup lama mereka berbincang Arman ikut masuk. "Dari tadi ditungguin kok nggak keluar sih! apakah calon pengantin wanita sedang mengadakan pingitan?" ujarnya nyelonong,dan berdiri disisi kak Lyra tangan Bang Arman merangkul bahu istrinya itu.


"Hai, Bang, kapan sampai?" tanya Fatimah tersenyum melihat kemesraan pasangan suami istri itu. Bang Arman begitu menyayangi Lyra terlihat jelas dari segala perlakuannya.


"Tadi sore Abang sampainya. Bagaimana keadaan kamu Dek?" tanya Arman prihatin


"Alhamdulillah hanya tinggal pemulihan Bang,"


"Syukurlah, semoga pernikahan kalian dilancarkan. Jangan ada lagi kesalahpahaman, maklumi saja sikapnya yang masih tergolong kaku itu. Mesti banyak belajar dianya sama aku!" ucapnya sombong

__ADS_1


"Halah nggak usah cari muka. Aku bisa kok menjadi Pria yang lebih perhatian, penyayang, dan yang jelas aku bisa membahagiakan istriku nanti dengan caraku sendiri!" tiba-tiba orang yang dibicarakan juga nongol.


Kini kamar itu sudah menjadi sesak, sehingga Mama Anggi menjadi gerah berada diantara anak-anak muda itu.


"Ngapain sih harus sesak begini? yaudah Mama keluar dulu. Fa, Mama diluar ya mau ngobrol sama Ibu kamu. Kamu istirahat saja, jangan terlalu di ladeni yang tidak penting!" pesan Mama sebelum keluar dari kamar itu.


"Bawa apa kamu itu?" tanya Arman penuh selidik


"Ya kado lah! Abang nggak lihat ini kotak kado!" jawabnya sewot


"Oh, curiga aja. Takutnya bom lagi, niatnya ingin romantis taunya kesalahan lagi, orang kaku 'kan memang suka begitu diluar ekspektasi!" cibir Arman pada adiknya


"Issh... Bukan di dukung kek adiknya. Udah sana keluar aku mau kasih kado spesial buat calon istriku!" usir Yandra


"Hah! keluar? kamu serius mau berduan di kamar?"


"Yaelah Bang, buka aja pintu kamarnya. Aku nggak bakalan aneh-aneh, cuma kasih kado doang!"


"Ya udahlah,Mas, ayo kita keluar. Mungkin mereka juga mau ngobrol hal yang penting!" ujar Lyra memahami


"Yaudah, ayo kita keluar. Tapi ingat, pintu kamar harus di buka biar nggak timbul prasangka!"


"Iya iya... Nih aku buka pintunya, udah sana keluar!" usir Yandra


Gadis itu mengangguk dan tersenyum menanggapi ucapan Arman yang mendadak posesif pada adiknya sendiri.


Lyra juga tersenyum disertai gelengan kepala, melihat tingkah laku suami dan adik iparnya itu yang terlihat tidak akur tapi saling menyayangi.


***


Kini tinggal mereka di kamar. Yandra duduk di sisi meja rias dengan bangku plastik sementara Fatimah duduk dihadapan meja menghadap ke arah cermin besar itu.


"Apakah ada keluhan?" tanya Yandra membuka percakapan. Walaupun mereka sudah baikan tapi rasa canggung masih tercipta


"Nggak,Bang. Kira-kira butuh berapa lama ya untuk sembuh tanpa dibantu tongkat?" tanya Fatimah balik


"Mungkin kira-kira satu Minggu paling lama. Oya, besok tanggal sidang pra nikah di KUA, apakah Adek bisa datang? atau Abang saja terlebih dahulu nanti Adek nyusul kalo udah sembuh?" tanya Yandra


"Benarkah? wah kok Adek sampe nggak ingat ya,Bang,"

__ADS_1


"Masa sih? atau memang niat untuk membatalkannya," ujar Pria itu mulai memancing huru hara


"Apaan sih Bang? nggak usah mulai deh!" ujarnya jutek


"Hehe... Abang bercanda, Dek. Oya, ini ada kado spesial buat kamu. Ini Abang beli saat kita menghadiri acara pernikahan Evan, waktu di butik saat itu." Yandra menyerahkan kado yang sudah lama ia belikan tapi karena sibuk ia lupa


"Apa ini isinya? bukankah waktu itu Abang beli kado untuk kak Nadia pakaian kurang bahan itu?" tanya Fatimah penuh selidik karena bungkus kadonya juga mirip


"Itu mah buat Nadia, tapi yang ini spesial buat kamu. Abang yakin kamu pasti suka, apalagi kamu yang mengenakan pasti sangat cocok dan terlihat sangat cantik!" ucapnya meyakinkan


"Benaran?"


"Iya, Dek. Buka saja kalo nggak percaya!"


"Hmm, baiklah Adek buka. Benaran nggak papa adek buka sekarang?"


"Iya, benaran. Abang juga ingin lihat ekspresi wajah bahagia Adek," ucap yakin


Fatimah segera merobek kertas kado itu. perlahan ia membuka kotaknya, sementara itu Yandra tak hentinya tersenyum menyaksikan calon istrinya yang tengah fokus dengan kotak kado itu.


Fatima membuka kotak itu seketika matanya membulat sempurna hampir keluar saat menyaksikan isi dalam kotak itu.


"Aaaa....!" Fatimah melompat kan kotak itu keatas meja riasnya. sehingga tiga hela pakaian minim itu berhamburan keluar


Yandra juga tak kalah kaget melihat isi dalam kotak itu ia segera berdiri dan kelimpungan sendiri


"Eh, eh. Dek, jangan menjerit begitu dong. nanti kedengaran oleh yang lainnya. Ntar dikira Abang ngapa-ngapain kamu lagi!" Yandra refleks menutup mulut Fatimah dengan pakaian kurang bahan itu


"Yandra! Apa-apaan kamu ini?!" tiba-tiba Mama masuk menyaksikan pemandangan yang sangat mengejutkan


"Ma! Ini tidak seperti yang Mama bayangkan," elaknya


"Eh, itu kenapa kamu sumpal mulut Fatimah? terus itu apa di tangan kamu?" tanya Arman juga ikut masuk.


Fatimah segera mendorong tubuh Yandra yang masih membekapnya.


"Maaf, maaf Dek. habisnya kamu jerit sih!" ujarnya serba salah


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗


Happy reading 🥰


__ADS_2