
Pria itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Yandra. "Apa yang ingin Anda sampaikan?" tanyanya sedikit ketus.
Fatimah menatap Pria tampan itu, dari raut wajahnya terlihat bahwa Pria itu kurang suka berhadapan dengan suaminya.
"Woii... Santai dong bicaranya. Tenanglah kamu tidak perlu takut lagi, karena aku tidak akan mengganggu istrimu lagi. Apakah kamu tidak melihat wanita cantik disampingku ini? Dia adalah istriku," jelas Yandra pada Pria itu.
Seketika Pria yang bernama ikhsan itu menatap Fatimah, dan menyunggingkan senyum menawannya.
"Apakah kamu tidak ingin mengenalkannya padaku? Ternyata seleramu bukan mie instan," balas ikhsan senyum menggoda.
"Hash... tentu dong! Mana mungkin aku mau kalah dengamu. Ayo kenalkan, ini istriku, namanya Fatimah, Sayang, kenalkan ini teman Abang namanya ikhsan," Yandra mengenalkan Fatimah pada ikhsan.
"Hai, kenalkan aku ikhsan," Pria itu mengulurkan tangannya namun, ditepis oleh Yandra.
"Nggak perlu berjabatan tangan! Aku kan sudah mengenalkan padamu namanya!" Sergah Yandra.
"Aiish... Dasar Dokter posesif! Apa salahnya berkenalan, siapa tahu dia mengagumi Pria tampan sepertiku, benarkan Dek?" tanya ikhsan tersenyum kepada Fatimah.
Fatimah hanya tersenyum malu dan mengangguk tipis, sedikit membenarkan bahwa ikhsan memang tak kalah tampan dengan suaminya.
"Eh, ganti panggilanmu itu! Jangan pernah panggil "Adek" pada istriku. Panggil nama saja, Paham!" tekan Yandra
Ikhsan tersenyum puas, sepertinya ia baru dapat membalas Pria itu bagaimana rasanya cemburu jika istrinya di goda.
"Kenapa? Suka-suka akulah, mau panggil Adek, ya terserah. Mulut,mulut aku. Emang ada masalah?" Jawab ikhsan tak mau kalah sembari tersenyum senang.
"Kamu!"
"Kenapa? Marah? Tidak senang? Hahaha... " Kekeh Pria itu bahagia.
"Bang! Kamu kenapa sih? Nggak malu apa dilihat orang?" Fatimah menurunkan tangan suaminya yang sedang menunjuk wajah ikhsan.
"Dia yang mulai duluan, Dek. Ngeselin banget!" Rutu Yandra menatap ikhsan dengan kesal.
"Hahaha... Kenapa, sakit 'kan? Makanya jangan suka memulai duluan! Dia yang mulai duluan, Fatimah, dia sering godain istriku," adu ikhsan pada Fatimah sehingga membuat mata Yandra semakin membesar.
"Benaran, Bang?" tanya Fatimah curiga
"Nggak, Dek! Parah banget kamu ya, San. Fitnah kamu!"
Saat mereka sedang mengobrol, suster memberikan file Rania yang baru saja selesai cek tensi dan timbang.
"Hai, Dok, apa kabar?" Tanya Rania tersenyum ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah saya baik. Kenapa tumben nih, periksa dengan saya hari ini?" tanya Yandra heran, karena setahunya Rania yang dulu pasiennya di gantikan oleh dokter obgyn perempuan yang ada di RS itu juga.
Siapa lagi yang bikin kerajaan kalau bukan suami posesif Rania yaitu ikhsan Wibowo, putra dari Bowo Anisman, salah satu rekan bisnisnya yaitu supplier obat di RS Malik.
"Iya, Dok. Dokter Kristin tidak praktek hari ini," jelas Nia.
"Emang suami posesif kamu ini tidak takut istrinya aku periksa?" Sindir Yandra menatap ikhsan.
"Oya, Nia. Kenalkan ini istriku. Dek, kenalkan dia Rania teman Abang," Yandra mengenalkan dua wanita itu.
"Hai, namaku Fatimah Humaira," ujar Fatimah mengulurkan tangan dengan senyum ramah dan bersahabat.
"Hai, namaku Rania Rahayu, senang sekali bisa berkenalan dengan mbak Fatimah, emang tadi lagi ngobrol apa sih? Kok asyik banget?" Tanya Nia sedikit penasaran
"Nggak lagi ngobrolin apa-apa, Sayang. Tadi Dokter Yandra mengenalkan istrinya yang cantik ini," balas ikhsan sembari merangkul bahu sang istri.
"Oh, maaf banget ya, Dok, dan mbak Fatimah, kami tidak hadir waktu pesta pernikahan kalian. Soalnya kami lagi di Jakarta," ujar Rania.
"Iya, tidak apa-apa Nia, ikhsan sudah menjelaskan waktu itu." balas Yandra
"Mari Nia aku periksa!" Yandra beranjak dari tempat duduknya menuju bad pasien
Ikhsan segera membantu Rania untuk berbaring, setelah permukaan perut diberi gel oleh suster, saat Yandra ingin memainkan alat transducer dipermukaan perut Rania.
Yandra mengerutkan keningnya, menatap heran pada ikhsan, begitu juga dengan Rania, Fatimah juga ikut bengong.
"Kenapa kamu?" Tanya Yandra
"Gunakan sarung tanganmu! Jangan sampai kamu menyentuh kulit Istriku!"
"Mas!" Panggil Rania membesarkan matanya pada ikhsan, suaminya itu benar-benar membuatnya malu.
"Tapi, Sayang. Dia tidak boleh menyentuh kamu selain aku," jelas ikhsan tak mau kalah.
Yandra terkekeh melihat sikap posesif Pria itu, ia segera meminta suster mengambilkan sarung tangan.
"Baiklah, baiklah! Biarkan saja Nia. Aku ngerti bagaimana bucinnya seseorang pada pasangannya sehingga tak bisa berpikiran jernih," ujar Yandra mengambil dari pengalamannya sendiri.
"Nah, tuh kamu tahu! Kenapa pengalaman sendiri ya? Pasti istrimu yang cantik itu banyak yang deketin sehingga kamu gelap mata ya 'kan?" Tekan ikhsan
Yandra hanya memutar mata malas, ia enggan menanggapi ucapan ikhsan yang memang benar apa adanya. Ya, mereka memang sama, posesifnya.
***
__ADS_1
Hari ini Yoga pulang dengan wajah lelah Pria itu masuk kedalam rumah, namun, disambut senyum manis oleh istri dan anak-anaknya yang sedang duduk di ruang TV,
"Assalamualaikum...."
"Wa'alaikumsalam.... Yee, Daddy udah pulang," ujarnya Zahra pada anak-anaknya, ia segera meletakkan Arfan di keretanya, dan segera menyalami tangan sang suami dengan takzim.
"Ayo kakak salim dulu sama Daddy, Nak." Zahra mengajarkan putrinya yang sudah banyak kemajuan, gadis kecil itu sudah pandai memegang mainan dan mulai fokus menatap orang, dan sudah mulai bisa duduk.
Yoga berjongkok di depan kursi roda Rara, dan memberikan tangannya, lalu memberi kecupan di seluruh wajah sang putri, dan disambut oleh senyum ceria gadis itu.
"Anak Daddy sudah mulai banyak kepintaran sekarang ya, Alhamdulillah Daddy sangat bahagia, Nak, sehat-sehat ya, Sayang." ujarnya lalu beralih menghampiri kereta bayi mungil itu.
"Hai, Adek Arfan, apa kabar? Aduh, pintar banget, ngomong apa itu, Sayang? Ayo sini gendong Daddy dulu." Yoga mengambil bayi mungil yang sedang asyik ngoceh itu.
Yoga mengecup wajah bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang. Walaupun tak mempunyai hubungan darah, tapi rasa sayangnya tak pernah berbeda sedikitpun sebagaimana ia menyayangi Rara.
"Kopinya, Mas," Zahra menaruh secangkir kopi dengan beberapa potong brownis yang ia buat tadi bersama Bibi Nur.
"Terimakasih,Sayang."
"Sini Adek Mama yang pegang, Daddy minum dulu ya," Zahra mengambil Arfan dari gendongan Yoga, dan kembali menaruh kedalam keretanya.
Setelah itu Zahra membantu membuka Snelli dokter yang masih terpasang di tubuh sang suami. "Mas, mau mandi, atau mau makan dulu?" Tawarnya menatap wajah tampan Pria yang terpaut delapan tahun darinya itu.
"Muuach. Aku mau makan kamu dulu boleh nggak?" Sebuah kecupan dan jawaban Pria itu membuat wajah sang istri merah merona.
"Ish... Bapak orang ini, selalu saja begitu. Genit alias mesum," cibir Zahra dengan senyum malu.
Yoga terkekeh sembari memeluk sang istri, Pria itu merasa semangatnya kembali tumbuh karena mendapatkan perhatian penuh dari istri tercintanya itu. Ia benar-benar bahagia dengan kehidupannya sekarang.
"Terimakasih ya,Sayang, kamu tidak perlu begitu repot memanjakan suamimu ini. Aku tahu kamu pasti juga sangat lelah mengurus anak-anak dirumah, maaf terkadang aku terlalu sibuk sehingga tidak sempat membantumu," ujarnya membelai lembut rambut Zahra.
"Kamu jangan bicara seperti itu Mas, aku tidak lelah, kamu memang terkadang tidak sempat membantu, tapi sudah ada Bibi Nur yang selalu membantuku."
Yoga hanya tersenyum menanggapi ucapan sang istri. Ia sangat tahu Zahra tidak akan mengatakan lelahnya selagi dia mampu.
Yoga juga menyadari, tidak mudah mengurus anak yang berkelainan khusus seperti Rara, dalam perawatan Zahra, anaknya itu sekarang sudah banyak kemajuan. Karena Zahra selalu mengikuti cara terapi alami yang ia pelajari dari Dokter yang datang ke rumah.
Maka Rara mendapatkan terapi tambahan dari ibu sambungnya itu, sehingga gadis kecil itu sudah mulai bisa memegang sesuatu dan sudah fokus melihat.
Bersambung....
NB. Oya, bagi yang penasaran ikhsan dan Rania itu siapa? Silahkan mampir di novel yang berjudul istriku seorang buta huruf yaa🙏🤗
__ADS_1
Happy reading 🥰