Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Melahirkan


__ADS_3

Yoga masih memperhatikan wanita itu dengan seksama dari dalam mobil. Sepertinya wanita itu sudah kedinginan terlihat dari raut wajahnya yang pucat pasi.


Yoga menjalankan mobilnya dengan perlahan mendekati wanita itu, responnya begitu cepat ia segera mengetuk kaca pintu mobil untuk meminta pertolongan. Dari beberapa puluh meter terlihat para preman itu masih mengejarnya.


Yoga membuka pintu mobilnya. "Ayo masuklah!"


Wanita itu segera masuk tanpa ragu, dan Yoga segera melajukan mobilnya. Terdengar suara para preman itu meneriaki mereka.


Di perjalanan, Yoga melirik wanita itu yang sudah basah kuyup dengan tubuh menggigil ia kembali menepikan mobilnya dan meraih Snelli dokternya yang ada di sandaran duduknya.


"Pakai ini untuk mengurangi dinginnya tubuhmu!" Yoga menyerahkan jas dokternya itu


"Te-terimakasih." Jawab wanita itu dengan bibir bergetar


"Dimana rumah kamu?" Tanya Yoga yang berniat ingin mengantarkan pulang


"Aawh... perutku sakit." Wanita itu meringis


"Kamu kenapa? Apakah kamu ingin melahirkan?" Tanya Yoga cemas


"Ti-tidak tahu, tapi perut aku sakit sekali..... Aawh..." Keringat dingin mengucur bersama dengan tetesan air hujan yang belum kering di rambutnya.


"Kamu sabar ya. Aku akan bawa ke RS sekarang!" Yoga melesatkan kendaraannya menuju RS, ia membawa wanita itu ke RS lain, tidak di RS ia bekerja.


Di perjalanan menuju RS. Wanita itu masih meringis menahan sakit. "Mas, bisa lebih cepat? perutku sakit sekali sepertinya bayiku ingin lahir!" Ujarnya dengan refleks meremat lengan Yoga begitu kuat. Sehingga sang Dokter sedikit terkejut! namun ia menyadari bahwa wanita itu sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.


"Baiklah. Kamu tahan sebentar ya!" Yoga menambah kecepatan mobilnya hingga beberapa menit mobil itu sudah berada di sebuah RS bersalin. Ibu dan Anak.


"Ayo, pelan-pelan!" Yoga membantu wanita itu berjalan tetapi sepertinya ia tidak mempunyai kekuatan, mungkin tenaganya yang sudah habis karena menahan rasa sakit dan berlari dari kejaran para preman tadi.


Karena melihat dia sudah tak berdaya. Yoga segera membopong wanita itu. "Sakit sekali,Mas Arif. Adek nggak kuat,Mas!" gumam wanita itu manja. Dan pasrah dalam gendongan Yoga sembari menyebut nama seseorang.


"Dokter! tolong,Dok. dia sepertinya ingin melahirkan!"


"Ayo segera bawa ke ruangan bersalin ya,Pak." Ujar dokter mengarahkan Yoga untuk masuk kedalam ruangan bersalin.

__ADS_1


Setelah membaringkan diatas bad pasien. Yoga segera ingin keluar tetapi dokter memintanya untuk tetap menemani wanita itu.


"Bapak tidak perlu keluar, temani saja istri Anda, sepertinya bayi akan segera lahir." Jelas Dokter Obgyn itu


"Ssshh... Sakit, Dok. Aawh..." Jerit wanita itu kembali


Sementara Yoga masih diam terpaku di samping kepala wanita itu tanpa berani menoleh ke arah bawah tubuhnya.


"Tenang ya,Bu. Tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan dari mulut. Ibu miring menghadap suaminya, biar jalan lahir terbuka lengkap. Sekarang baru buka tujuh. Ibu harus rajin miring. Tolong Pak bantu di elus perut istrinya agar merangsang kepala bayi cepat turun!"


Dokter obgyn memberi penjelasan dan meminta Yoga untuk membantu wanita itu dalam proses persalinannya. Pria itu benar-benar bingung harus berbuat apa. ia ingin memberitahukan yang sebenarnya tapi dalam hal genting seperti ini ia tidak tega.


"Mas,Arif. sakit..." Rengek wanita itu menggapai tangan Yoga untuk meminta kekuatan.


Dengan refleks Yoga menerima tangan itu dan menggenggamnya dengan erat. "Tenang ya. Kamu pasti bisa! semua akan baik-baik saja!" Ujarnya sembari mengusap perut wanita itu walaupun dengan perasaan yang tidak menentu, tetapi Yoga berusaha membantu sebisa dirinya, agar sang bayi segera keluar dan setelah itu ia akan menjelaskan yang sebenarnya. Atau nanti dia akan mencari tahu siapa Pria yang bernama Arif.


"Ya bagus. Sedikit lagi ya,Bu. hampir lengkap, terus ambil nafas panjang keluarkan dari mulut dengan perlahan." Wanita itu menuruti arahan sang dokter


Kini wanita itu sudah lebih tenang dengan tangan yang tak terlepas dari genggaman Yoga. Sesekali ia menarik baju kemeja Yoga bagian depan dengan kuat, layaknya seorang istri sedang meminta kekuatan dari sang suami.


***


Perawat segera membersihkan sang bayi, Karena tidak ada persiapan maka Yoga meminta fasilitas dari RS itu yang nanti akan dihitung di bagian administrasi.


"Selamat ya,Pak,Bu. Bayinya laki-laki. BB.3,3 .PB.49 Cm. Sekarang silahkan di Adzankan bayinya,Pak." Perawat itu menyerahkan sang bayi pada Yoga


Dengan gugup Yoga menerima bayi itu. "Sebentar,Sus. Saya ambil wudhu sebentar. Bisakah letakkan bayinya di ruang rawat inap yang akan di tempati oleh ibunya nanti?"


"Baiklah, Pak." Perawat membawa Yoga dan bayi itu menuju ruangan. Sementara itu ibu dari sibayi sedang melakukan perbaikan pasca melahirkan secara normal, Dokter menjahit bagian yang robek di area jalan lahir.


Setelah Perawat keluar. Kini tinggal Yoga dan bayi laki-laki itu menghuni ruangan. Yoga mengambil sang bayi dari boks ia segera mengumandangkan kebesaran Allah di telinganya.


"Hai, bayi tampan. Selamat datang di dunia ini ya. Semoga kelak kamu menjadi anak yang Sholeh!" Yoga memberi kecupan di pipi merah itu, tak bisa dipungkiri jiwa seorang ayahnya keluar meskipun bukan miliknya tapi rasa sayang terhadap seorang anak tak bisa ia sembunyikan.


"Sus, saya titip bayi ini ya. Saya akan pulang sebentar," Yoga menitipkan bayi itu pada perawat yang menjaga.

__ADS_1


"Baiklah,Pak." Ujar perawat dengan ramah.


***


Diruangan itu seorang Ibu muda yang baru saja memberikan sang bayi ASI. ia mendekap tubuh bayinya penuh kasih sayang. dengan deraian air mata.


"Terimakasih ya,Nak. Kamu sudah lahir ke dunia ini dengan selamat. Kamu janji ya,jangan pernah tinggalkan Mama. Jika Papamu masih ada dia pasti akan bahagia." Serunya dengan memeluk sang bayi.


Cklekk!


Yoga masuk sembari menenteng beberapa bungkusan di tangannya. Pria itu sudah terlihat rapi dengan stelan baju santai.


"Hai, bagaimana keadaanmu?" Tanya Yoga


"Alhamdulillah, Sudah mulai membaik. Terimakasih ya,Mas. Atas segala pertolongannya!" Ucapnya tulus


"Ya, sama-sama. Apakah kamu sudah menghubungi keluarga? dan mana suami kamu?" Tanya Yoga sedikit heran melihat tak ada siapapun yang menemani wanita itu.


Wanita itu hanya menunduk tidak ada jawaban yang keluar. Sepertinya ada sesuatu yang ia pendam.


Yoga menghela nafas berat, lalu duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien. ia memperhatikan wanita itu dengan seksama.


"Boleh aku menggendongnya?" Yoga mengulurkan kedua tangannya untuk meminta sang bayi.


Perlahan wanita itu menyerahkan bayinya pada Yoga. ia menatap Yoga yang begitu menyayangi anaknya penuh kasih sayang. kembali bayangan sang suami melintas dibenaknya.


"Mas, dia sangat tampan seperti kamu. Apakah kamu sudah menyediakan nama untuk anak kita?" Tanya wanita itu yang membuat Yoga terkesiap.


Bersambung.....


NB. Kita beralih ke Duda tampan sejenak ya🤗 ntar Fatimah dan Yandra dilanjutkan, soalnya mereka akan menuju bahagia meskipun masih ada krikil-krikil kecil tapi masih bisa dilewati 😌


Jangan lupa kasih semangat author lagi ya🙏🤗


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2