
Dengan perasaan tidak menentu Yoga naik keatas tempat tidur, entah apa yang merasuki pikiran Pria itu, tanpa ada rasa ragu ia mengecup kening Zahra.
Kecupan tak berhenti disitu, kini bibirnya menyentuh bibir mungil Zahra. Dengan perlahan ia melu mat dan tangannya sudah tak bisa terkontrol Yoga menyentuh aset berharga wanita itu.
Ternyata sentuhan yang ia lakukan membuat tidur sang istri terganggu. Zahra membuka matanya namun ia terkesiap saat merasakan sentuhan dari Yoga.
"Mas! apa yang kamu lakukan?!" Wanita itu menjauhkan diri dari Yoga dengan nada sedikit tegas
"Sayang, aku sangat merindukanmu." Pria itu kembali mendekap tubuh Zahra dan kembali memberikan sentuhan demi sentuhan. Zahra bingung harus berbuat apa ia melihat jika suaminya itu sudah terbakar gairah.
Haruskah dia pasrah? Zahra juga menyadari bahwa Yoga adalah suaminya, sudah sewajarnya pria itu meminta haknya. Akhirnya wanita itu memasrahkan diri dalam kungkungan sang suami.
Karena tak mendapatkan perlawanan lagi maka Yoga semakin bergairah mencum bui sang istri, ia kembali melu mat lidahnya mulai menyusuri setiap rongga mulut Zahra.
Yoga meneruskan segala aktivitasnya. Tangannya sudah tak bisa terkendalikan ia membuka pakaian Zahra dengan hasrat menggebu. Wanita itu pasrah namun ia merasakan jika perlakuan Yoga sedikit kasar antara gairah dan emosi.
Zahra merasa kurang nyaman dengan perlakuan Yoga, namun ia berusaha untuk tetap melayani dengan sepenuh hati. Semula ia mengira Pria itu adalah orang yang lembut, sedikit nyeri dihatinya.
Akhirnya Yoga ambruk disisi Zahra dengan nafas yang belum beraturan. Pria itu memeluk Zahra. "Kamu hanya milikku Fa."
Ucapan itu membuat Zahra tertegun kaku. Apa maksudnya? Siapa itu Fa? Hati wanita itu terasa begitu nyeri tanpa terasa air matanya sudah menetes dalam dekapan Pria itu.
Zahra mendorong tubuh Yoga menjauh darinya, ia segera beranjak dari tempat tidur dan menuju kamar mandi.
Yoga yang menyadari bahwa ia salah bicara Pria itu segera meraih tangan Zahra.
"Zah, aku minta maaf!" Ucapnya dengan suara berat
"Siapa itu Fa?" Tanya Zahra penuh selidik dengan air mata masih mencurah
"Bu-bukan siapa-siapa. Ah, maaf tadi aku hanya salah bicara."
Zahra segera melepaskan tangan Yoga dan beranjak ke kamar mandi.
Pria itu menjadi serba salah dan merutuki kebodohannya sendiri. Seharusnya ia tidak melakukan hal itu, pakai acara salah sebut nama lagi, hah dasar bodoh!
Setelah selesai mandi Zahra kembali naik ke atas tempat tidur, ia rangkul tubuh bayi mungil itu dengan perasaan yang kacau, air matanya tumpah, berharap mendapatkan ketenangan saat memeluk tubuh sang putra. Tiba-tiba saja bayangan almarhum sang suami melintas dalam benaknya, Pria yang dulu sangat mencintai dirinya dan memperlakukan dirinya penuh dengan kasih sayang.
Yoga baru saja selesai mandi ia melihat tubuh Zahra berguncang seperti sedang terisak. Hatinya semakin merasa bersalah. Perlahan Pria itu ikut berbaring tangannya merangkul tubuh sang istri yang sedang membelakanginya.
"Dek, maafkan Mas." Desisnya dengan suara lirih
__ADS_1
Zahra tak bergeming. Air matanya masih setia menetes, kecewa begitu terasa. Apakah dirinya hanya dijadikan pelarian saja? Apakah suaminya itu mempunyai wanita idaman lain. Siapakah wanita itu? sudah jelas dia mendengar nama yang disebut oleh Yoga.
Yoga mengecup puncak kepala Zahra berulang kali, dia tidak tahu harus berbuat apa agar istrinya itu bisa memaafkannya.
***
Entah berapa kali pasangan pengantin baru itu berselancar di lembah kenikmatan. Waktu sudah menunjukkan 2.45 Fatimah menahan wajah Yandra yang kembali ingin mencum bui dirinya.
"Bang, udah stop! Kamu bilang kita mau mandi, nanti keburu subuh, kamar mandi akan digunakan, Adek malu Bang," Rengek wanita itu
"Hehehe... biarkan saja Sayang, kenapa harus malu, semuanya pasti pernah mengalami hal yang sama seperti kita," ujarnya masih berusaha mengecup wajah Fatimah
Pria itu benar-benar tidak mempunyai rasa lelah, ia masih mode on. Sehingga membuat Fatimah harus pasrah dalam pergulatan sengit yang kembali dimulai oleh sang suami.
Dengan wajah kuyu Fatimah berusaha untuk berdiri, dia merasakan tidak nyaman di tubuh intinya. Ada rasa perih sehingga susah untuk berjalan.
"Kenapa Dek? apakah masih terasa perih? Nanti habis mandi Abang ambil obat di mobil," ujar Yandra menatap sang istri sedikit cemas.
"Nggak usah Bang, Adek tidak apa-apa!" sanggah Fatimah berusaha untuk tetap nyaman.
"Adek serius? Udah nggak apa-apa nanti Abang kasih obat agar nyerinya cepat hilang," ujar Pria itu masih kukuh
"Nggak usah!"
"Emang Abang mau kasih obat apa?"
"Gel untuk luka lecet, nggak ada efek kok, hanya terasa dingin," jelas Pria itu, namun Fatimah hanya diam, wajahnya bersemu merah
"Kenapa? Adek malu? Kenapa harus malu Sayang, Abang sudah lihat semuanya," ujarnya tersenyum nakal sembari mengecup kening sang istri dengan penuh kasih sayang.
"Udah ayo sekarang kita mandi, eh tapi Adek dulu yang mandi, biar cepat!"
Fatimah segera berjalan dengan perlahan, namun tanpa diduga Yandra membopong tubuh sang istri sehingga membuat Fatimah terkesiap
"Bang, apa-apaan sih! Turunin Adek! Malu jika ada yang melihat!" Seru wanita itu
"Ssstt... Diamlah Sayang! jika kamu berisik begini akan membangunkan semua orang dirumah ini!"
Fatimah yang tadi memberontak segera terdiam saat mendengar intrupsi dari Yandra. Pria itu membopong tubuhnya, pasangan suami istri itu mengendap-endap menuju kamar mandi.
"Eh, eh... Abang mau ngapain? sana keluar dulu! Adek mau mandi, kita gantian mandinya!" usir wanita itu mendorong tubuh Yandra untuk keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kelamaan Dek, ayo mandi berdua saja. Nanti keburu subuh."
"Tapi awas ya jika Abang aneh-aneh!" Ancamnya
"Iya, iya.. Abang janji nggak macem-macem. Udah ayo mandi sekarang!" Akhirnya mereka mandi dengan tertip karena terburu waktu maka tidak ada penyimpangan.
"Kak Fatimah! Bang Yandra?"
Suara cempreng mengagetkan kedua pasangan itu saat baru keluar dari kamar mandi. Siapa lagi kalau bukan si bungsu
"Eh, Dek. Mau kemana?" tanya Yandra bersikap biasa saja.
"Mau ke kamar mandi. Abang dan kakak kok mandi berdua? Emang suami istri boleh ya mandi bareng?" Tanya gadis kecil itu dengan polosnya
"Yes, Tentu saja boleh," jawab Yandra jujur
"Tapi kok aku nggak pernah lihat ayah dan ibu mandi bareng? Awas dosa loh kak!" Gadis itu ngoyor masuk ke kamar mandi.
Fatimah dan Yandra saling bertatapan dengan tawa tertahan saat mendengar ucapan bocil sotoy.
Fatimah membuka koper bawaan Yandra untuk mengambil pakaian ganti sang suami. Setelah beres ia segera mengganti pakaiannya sendiri.
"Dek, masih nyeri? Abang ambil obat sebentar ya," ucapnya memeluk Fatimah dari belakang dan mengecup tengkuk putih halus itu.
"Nggak usah Bang, adek sudah baik-baik saja."
"Serius?"
"Iya, serius! Yaudah Adek buatin Abang minum dulu ya. Nggak boleh tidur dulu, nanti sholat subuhnya ketinggalan," serunya memperingati
"Baiklah Sayangku. Sekalian ya Dek, ambilkan Abang makan," pintanya
"Lapar juga? Adek kira udah kenyang karena itu," goda Fatimah dengan senyum malu
"Nakal kamu ya! Justru itu yang membuat Abang lapar, karena sudah banyak pengeluaran. Jadi harus di isi kembali energi, untuk stok nanti siang," balas Yandra tersenyum nakal
Wajah Fatimah seketika memerah, ia tak ingin menanggapi lagi, segera keluar kamar untuk menyediakan makanan untuk sang suami mesumnya.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1
Hai, Raeder yang Budiman... mampir yuk ke novel baru author yang berjudul. Balas Dendam Istri Kontrak