Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Fatimah kontraksi


__ADS_3

Kini sudah satu Minggu setelah kepergian Mama Runi, Yoga masih berduka, itu bisa terlihat dari kesehariannya yang tak bergairah. Pria itu masih belum percaya semua cepat sekali berlalu.


Rasa sesal dan salah selalu melipir dalam hatinya, banyak andai dalam hatinya, mungkin semua tak seperti ini, mungkin sang Mama masih ada.


Kenapa disaat ia ingin memperbaiki hubungannya dan Mama, justru Allah mengambil wanita yang telah melahirkannya itu. Yoga masih terpaku dalam lamunan.


"Mas, sudah ya, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Pasti Mama juga tidak ingin melihat kamu seperti ini." Zahra mencoba untuk menghibur suaminya yang kini dalam duka.


"Tapi aku masih dihantui oleh rasa bersalah, Dek, aku merasa jahat sekali karena tidak memberikan Mama kesempatan untuk memperbaiki segalanya."


"Mas, aku tahu itu, tapi sebelum Mama meninggal, kita sudah saling memaafkan, dan beliau juga bilang telah merasa lega, berarti Mama juga sudah memaafkan kesalahan kamu, Mas. Yang harus kamu jaga adalah amanah dari Mama yaitu menjaga Tina, karena dia adik kamu satu-satunya."


"Ya kamu benar, Sayang. Aku tidak akan melupakan amanah itu. Terimakasih ya Dek, kamu selalu ada saat aku sedang kehilangan arah untuk menemukan kembali jati diriku."


Yoga memeluk Zahra, ia mencari kenyamanan dalam dekapan sang istri yang begitu penuh pengertian dan sangat bersikap dewasa.


***


Kini sudah sembilan bulan berlalu, dimana bulan ini adalah hpl Fatimah, malam ini Fatimah susah tidur karena ia merasa tidak nyaman.


"Kenapa, Dek?" Tanya Yandra yang sedari tadi memperhatikan Fatimah tidur dengan gelisah,


"Bang, susah tidur, nafas Adek sesak," rengek wanita itu pada sang suami sembari duduk.


Yandra yang memang seorang Dr Obgyn tentu saja sangat tahu keluhan sang istri. "Sini sandaran sama Abang." Yandra meraih tubuh Fatimah dan menyandarkan kepala wanita itu di dadanya, tangannya mengusap lembut punggung Fatimah agar lebih nyaman dan lega.

__ADS_1


"Bang, masih lama nggak sih lahirannya?" Tanya Fatimah sembari menikmati elusan tangan sang suami.


"Kalau berapa lamanya Abang tidak bisa pastikan, Dek, tergantung bayi kita bagaimana dia pandai membuka jalan lahir, kan Adek sendiri yang ingin lahir normal, tapi kalau Adek ingin lahiran Caesar tidak perlu menunggu lagi, besokpun sudah bisa lahirannya."


Yandra menjelaskan dan memberi pilihan kembali pada Fatimah sepertinya sang istri sudah tak sabar menunggu waktu itu tiba.


"Jadi gimana? Adek masih ingin lahiran normal?" Tanya Yandra tetapi tak ada jawaban dari Fatimah.


"Dek?" Panggil Yandra sembari menilik ke wajah Fatimah.


"Yah, tidur." Yandra merebahkan tubuh istrinya dengan perlahan agar tak terbangun.


Setelah menidurkan kekasih halalnya itu, Yandra ikut masuk kedalam selimut tangannya masih mengusap perut Fatimah dengan lembut agar tidurnya tetap nyaman.


Fatimah merasakan perut bagian bawah tak nyaman, semakin lama sakitnya semakin kuat, hingga ia tak kuasa menahan. Fatimah segera mendekati Yandra yang masih tertidur, walaupun tidak tega membangunkannya, tetapi harus bagaimana lagi.


Fatimah hanya ingin suaminya yang menangani proses persalinan normalnya. "Bang, bangun, perut Adek sakit." Fatimah membangunkan Yandra dengan sedikit erangan menahan sakit.


Yandra yang baru saja terlelap saat mendengar ucapan Fatimah, ia segera membuka mata dan berusaha mengembalikan kesadaranya naik ke permukaan.


"Kenapa, Sayang?" Tanya Yandra dengan nada sedikit cemas. Ya, walaupun dia seorang dokter kandungan, tetapi berbeda menghadapi para pasiennya dengan istrinya sendiri, walau bagaimanapun ia tetap saja cemas.


"Sakit, Bang, astaghfirullah..." Fatimah mencengkeram erat lengan Yandra.


"Ayo baring dulu, Abang periksa." Yandra segera menggunakan alat medisnya yang telah ia siapkan dari jauh hari, untuk jaga-jaga bila Fatimah merasakan kontraksi secara tiba-tiba.

__ADS_1


Setelah menggunakan sarung tangan medis, Yandra segera mendekati Fatimah yang telah berbaring. "Ayo buka dulu, Sayang," intrupsi Yandra ingin membuka CD istrinya.


"Ih, Abang ngapain sih? Nggak usah mesum deh!" Sanggah wanita itu dalam keadaan menahan sakit ia masih bisa protes, merasa jika suaminya akan berbuat aneh-aneh, karena ini juga pengalaman pertamanya melahirkan.


"Astaghfirullah, Dek, Abang ingin periksa jalan lahir. Kalau tidak dari sana. Terus, bayinya lahir lewat mana? Di lepeh?" Pria itu riweh sendiri menghadapi sang istri


"Aaaww... Sakit Bang!" Pekik Fatimah kembali yang membuat Yandra tak banyak mikir segera membuka kain penutup tubuh sensitif Fatimah.


Karena rasa sakit Fatimah tidak protes lagi, dia hanya fokus dengan rasa mules yang tak bisa dibayangkan rasanya.


Sesaat wanita itu terdiam, karena kontraksinya hilang. Yandra menunggu dulu kontraksi itu datang lagi baru ia bisa memeriksanya.


"Kalau sakit bilang ya, Dek." intrupsi Pria itu, Fatimah hanya mengangguk, tak berselang lama sakit itu kembali datang.


"Bang, sakiit..." Desis Fatimah


"Ayo buka pahanya, tekuk kedua lututnya," titah Pria itu dan segera memasukkan jemarinya yang telah terbungkus sarung tangan dan diberi alkohol


Dengan fokus Pria itu meraba jalan lahir dan mengukur pembukaan serviks dan sudah bisa menyimpulkan pembukaannya.


"Sudah buka 5 Dek, tidak lama lagi, kita ke RS sekarang ya."


Bersambung.....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2