Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Permintaan maaf


__ADS_3

"Tenanglah,Dek. jangan bayangkan itu lagi. kamu itu masih suci. sudah kamu tenang ya." yandra berusaha menenangkan Fatimah.


Setelah merasa lebih tenang, Fatimah melerai dekapan Yandra. ia menatap wajah tampan calon suaminya itu. sungguh tidak terbayangkan olehnya jika Yandra tidak datang mungkin ia tidak sanggup menatap bola mata hitam kecoklatan itu lagi.


"Bang, maafkan Adek...hiks..." kembali ia menunduk menumpahkan tangisannya


"Dek, lihat Abang!" yandra merangkum kedua pipi Fatimah "Abang sangat mencintai kamu, jangan merasa bersalah, ini bukan kesalahan Adek."


Yandra Kembali membawa gadis itu dalam dekapannya. hatinya ngilu melihat wajah trauma calon istrinya. ia juga tidak bisa membayangkan jika ia terlambat datang.


"Sekarang tenang,ya. ayo adek mandilah ganti pakaian ya!" ujarnya mengusap rambut gadis itu dengan lembut


Fatimah segera beranjak dengan selimut yang masih membalut tubuhnya. "Bang, jangan pergi tinggalkan Adek. tungguin Adek ya!" lirihnya dengan suara tertahan.


"Ya, Sayang. Abang akan disini tungguin kamu. ayo mandilah,"


Saat Fatimah sedang mandi. manejer hotel datang menemui Yandra


"Maaf,Pak. atas insiden yang terjadi, sekali lagi saya sebagai pimpinan hotel ini minta maaf yang sebesar-besarnya atas keteledoran petugas kami!" manejer hotel itu memohon maaf


"Bawa kasus ini ke jalur hukum! saya tidak terima calon istri saya dilecehkan!" ujar Yandra tidak mau berdamai


"Tapi,Pak. kita bisa berdamai dan membicarakan ini dengan baik-baik. saya berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. ini memang diluar dugaan kami, saya berjanji Pria itu akan meminta maaf kepada calon istri Anda!"


"Heh! jangan pernah Pria br*ngs*k itu menunjukkan wajahnya lagi dihadapan calon istriku. bawa Pria itu sekarang juga ke kantor polisi!"


"Bang..." panggil Fatimah yang sudah berpakaian rapi. "bawa Adek dari sini!" pintanya pada Yandra.


"Baiklah, ayo kita cari hotel yang lain, hotel yang lebih baik pelayanannya! tapi ingat urusan kita belum selesai. saya akan mengutus pengacara untuk menangani kasus ini!" ancam Yandra kepada manejer hotel itu.


Yandra segera meraih tangan Fatimah membimbingnya keluar kamar itu. sementara manejer hotel masih terdiam di tempat.


Saat mereka baru keluar, Pria yang ingin menodai Fatimah itu sudah berada di depan pintu kamar. Fatimah yang melihat Pria itu segera menyembunyikan wajahnya di punggung Yandra dengan tubuh bergetar.


"Beraninya kau muncul dihadapanku!" Yandra Kembali ingin mengayunkan tangannya untuk memberi pelajaran sekali lagi, namun Fatimah sudah histeris memeluk tubuhnya dari belakang.

__ADS_1


"Abang, tolong bawa Adek dari sini! Adek mohon!" lirih gadis itu kembali terisak.


"Bos, Anda tidak apa-apa?" tanya manejer hotel menghampiri Pria yang hampir menodai Fatimah. dan ternyata Pria itu adalah pemilik hotel itu sendiri.


"Jadi, kau adalah pemilik hotel ini?! dasar Pria tak bermoral! apakah kau sering melakukan hal ini pada tamu hotel mu? heh! aku pastikan kau mendekam di penjara!" seringai Yandra segera membawa Fatimah berlalu dari hadapan pria itu


"Tunggu!" ujar Pria itu menghentikan langkah Yandra dan Fatimah


"Saya mohon maaf atas apa yang telah saya lakukan. tolong percaya dengan saya. karena saya dalam pengaruh obat perangs**g saya dijebak oleh rekan bisnis! percayalah saya tidak berbohong!" ujar Pria itu bersungguh


"Saya tidak bisa memaafkan kesalahan Anda. apapun alasannya, saya akan tetap membawa kasus ini ke jalur hukum!" yandra kembali merangkul bahu Fatimah yang masih murung menghadap kedepan tidak berani menoleh sedikitpun untuk menatap wajah Pria itu.


***


Dimobil Fatimah masih belum mau bicara. dia masih murung. tatapannya kosong, terkadang air matanya menetes.


"Sayang, kita makan malam dulu,ya. ajak Yandra dengan suara lembut


"Adek, capek,Bang. pengen tidur," jawabnya tidak semangat.


"Tapi Adek tidak lapar,Bang!"


"Baiklah, kalau begitu Abang juga tidak mau makan. kita cari hotel sekarang!"


Fatimah segera menghadap ke arah Yandra. "Abang Kenapa harus ikut mogok makan?" tanya gadis itu dengan suara serak


"Karena mulai hari ini, jika Adek tidak makan, Abang juga tidak makan!" jawabnya tegas


"Kenapa harus begitu, Bang?"


"Karena Abang ingin tidak ada diantara kita yang menahan lapar, kita akan menyelesaikan masalah dengan perut yang kenyang agar solusi dan ide bisa di kemukakan. meskipun nanti kita sudah menikah, jika kita sedang ada masalah, maka prinsip ini Abang tanamkan mulai hari ini." jelas Pria itu dengan tenang


"Baiklah, ayo kita makan," akhirnya Fatimah pasrah


"Nah gitu dong! udah, Adek jangan pikirkan itu lagi. Abang akan mengurus kasus ini. Abang pastikan dia mendekam di penjara!" ujar Yandra mengeraskan rahangnya, wajah kesal masih terlihat jelas

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, mereka segera mencari hotel. Fatimah juga sudah lebih tenang , tentu saja Yandra selalu menghibur gadis itu.


***


"Bang, kenapa kita harus satu kamar? Adek tidak ingin tumbuh fitnah jika ada orang yang melihat kita," tanya Fatimah cemas saat memasuki kamar hotel itu.


"Apakah Adek yakin ingin sendiri? Dek, percaya dengan Abang! Abang tidak akan melakukan hal buruk, kamu adalah calon istri Abang jadi mana mungkin Abang tega merusak kepercayaanmu. Abang hanya ingin kamu tidur dengan nyaman tanpa ada rasa takut. nanti Abang bisa tidur di sofa." Yandra meyakinkan karena ia tahu bahwa gadis itu masih trauma


Fatimah menatap mata hitam kecoklatan itu, untuk mencari kebohongan, namun sebaliknya hanya kejujuran dan ketulusan yang ia temukan. sebenarnya ia juga tidak yakin bisa tidur dengan tenang, karena jujur saja peristiwa itu masih terekam jelas di memory otaknya.


"Baiklah, Adek percaya dengan Abang," Fatimah segera menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, karena ia belum sholat isya.


Setelah selesai sholat, ia melihat Yandra duduk di sofa sedang fokus dengan ponselnya.


"Bang, ayo sholat dulu!"


Suara gadis itu mengalihkan perhatiannya dari ponsel. "Ah, ya." Pria itu segera menunaikan sholat isya.


Fatimah segera merogoh ponsel di dalam tas selempangnya, ia ingin melihat apakah ada pesan dari teman sesama gurunya, karena ia pergi tanpa pamit pada mereka.


Ternyata benar ada beberapa panggilan dari salah seorang temannya. gadis itu bingung apakah mereka mengetahui tentang kejadian itu. ia sangat malu jika mereka mengetahuinya. lama gadis itu melamun


"Kenapa,Dek?" tanya Yandra membuyarkan lamunannya.


"Ah, ini ada panggilan dari teman Adek yang disana,"


"Terus kenapa tidak telpon balik?"


"Adek bingung harus bicara apa,Bang? apa mungkin mereka sudah mengetahui kejadian itu?"


"Coba Adek telpon balik! jika mereka sudah tahu, katakan Adek pindah ke hotel lain. jika mereka tidak tahu katakan Adek tidur dirumah saudara."


Bersambung....


NB: Pelan-pelan dulu ya, author lagi kurang sehat 🤧

__ADS_1


Happy reading 🥰


__ADS_2