Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Baikan


__ADS_3

Sudah tiga hari Fatimah dirawat. Tak ada kemajuan tentang hubungan mereka, Yandra kembali seperti semula yaitu dingin dan kaku seakan jiwa hangat dan perhatiannya hilang.


Fatimah tak ambil pusing tentang berubahnya sikap Yandra, karena dihatinya masih menyimpan ragu. Lebih baik ia mengetahui sekarang sebelum terlanjur melangkah lebih jauh.


"Bu, aku ingin pulang," ucapnya pada ibu


"Dokter bilang kamu perlu dirawat beberapa hari lagi Fa, kamu sabar ya,"


"Tapi sampai kapan,Bu? aku udah nggak betah," rengek nya kembali


"Nanti ibu tanya lagi sama Dokter ya,"


"Hmm, baiklah." Fatimah kembali berbaring sembari memainkan ponselnya, terasa ada yang hilang. Tak ada lagi pesan yang selalu posesif. Rindukah? tapi melihat sikapnya yang sekarang cuek membuat gadis itu semakin ragu, mungkin dia memang tak di inginkan lagi toh nyatanya pria itu tidak berusaha lebih keras lagi untuk memperjuangkannya.


Tiba-tiba cairan asin itu menetes di sudut matanya, takut ibu mengetahui ia segera merubah posisi tidur miring menghadap dinding.


"Fatimah, apakah kalian sudah sepakat untuk membatalkan pernikahan yang sudah di tentukan?" tiba-tiba pertanyaan ibu membuat gadis itu berhenti sesaat menahan tangisnya


"Fa, ibu dan ayah tidak memaksakan tapi sebagai orangtua, kami ingin kamu bahagia. Jika memang masalah kalian sudah tak bisa di selesaikan lagi maka bicarakan baik-baik, ambil keputusan yang tepat, tentunya harus di pikirkan lebih dalam lagi agar tak ada penyesalan di kemudian hari," nasehat ibu pada putrinya itu.


Fatimah membalikkan tubuhnya menghadap pada sang ibu dengan air mata yang masih setia menetes.


"Tidak perlu menangis,Nak, jika kamu sudah tidak mencintainya, jadi untuk apa kamu membuang-buang energi menangisi dia," ibu menghapus air mata Fatimah dengan sayang sembari mencium keningnya


"Ta-tapi dia yang tidak mencintai aku,Bu," ujar gadis itu dengan tergugu


"Apakah dia mengatakannya sendiri padamu?"


Fatimah menggelengkan kepalanya, pria itu memang tak pernah mengatakan hal itu. "Tapi dari sikapnya menunjukkan bahwa dia sudah tak mencintai aku lagi,Bu," lirihnya


"Nak, jangan menyimpulkan suatu hal yang belum pasti kenyataannya. Maka dari itu ibu katakan selesaikan masalah kalian dengan hati yang tenang cobalah bicara dari hati ke hati tanpa melibatkan ego masing-masing."


Fatimah hanya diam mendengarkan nasehat dari ibu, apakah memang dirinya terlalu larut dalam kekecewaan hingga tak memberinya kesempatan. Bukankah dia juga sudah berulangkali memohon maaf, apa mungkin sekarang dia sudah lelah untuk meyakinkan dirinya?


Siang ini Yoga bergegas untuk pulang, pasiennya yang begitu banyak membuat jam pulangnya terlambat.


"Buru-buru Dok," ujar Dr Evan yang berpapasan dengan Yoga


"Ah iya, hari ini pasien lumayan banyak. Dokter baru mau pulang juga?" balas Yoga


"Iya, tapi mampir sebentar mau jenguk Fatimah,"


"Fatimah? Dia kenapa Dok?" tanya Yoga terkejut ternyata dengan kesibukannya tak menyadari bahwa Fatimah masuk RS.


"Kecelakaan tiga hari yang lalu, tapi sekarang sudah menunggu pemulihan," jelas Evan


"Kalau begitu mari, saya juga ingin menjenguknya sebentar."


***

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kamu Fa?" tanya Yoga prihatin


"Alhamdulillah sudah mulai membaik Dok. Terimakasih sudah menjenguk," ucap Fatimah


"Semoga cepat sembuh ya, kalau begitu aku pamit pulang dulu!" Yoga tidak ingin terlalu lama disana ia tahu jika Fatimah sudah tak menginginkan kehadirannya lagi.


Saat Yoga keluar, Yandra sudah menghadang di depan pintu kamar rawat inap itu. tatapan mereka bertemu, Yoga meneruskan langkahnya


"Tunggu!"


Suara Dr Yandra menghentikan langkah Yoga, sebenarnya ia sudah malas untuk menanggapinya. "Ada apa?" tanyanya dingin


"Ternyata peringatanku tak sedikitpun kamu tanggapi. Apakah kamu tidak bisa mencari wanita lain tanpa harus mengganggu milik orang?!" Tuding Yandra begitu perih.


Yoga tersulut emosi saat mendengar tuduhannya, langkah yang tadi maju kini kembali mundur kebelakang dan menatap Yandra dengan sorot menyala.


"Jaga bicaramu Dokter! Ya, aku memang sangat mencintai Fatimah. Tapi aku tidak sepicik yang kamu tuduhkan. Dengar Dok! Aku melepaskan Fatimah untukmu karena aku tahu kamu lelaki yang ia cintai. Jika suatu saat kamu menyakitinya maka aku akan mengambilnya darimu!" tegas Pria itu dengan raut wajah tak bersahabat


"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi! Aku akan selalu membuat wanitaku bahagia. Tak akan pernah kuberikan sedikit saja celah untukmu!" Ujar Yandra tak kalah sengit.


***


Dikediaman Dr Yoga. Siang ini Zahra menemani Rara yang sedang melakukan fisioterapi diruangan yang sudah dikhususkan oleh Yoga untuk anaknya menjalankan terapi dengan cara mendatangkan dokter kerumah, tanpa harus membawa Rara ke RS, karena Yoga begitu sibuk maka dengan cara mendatangkan dokter memudahkannya untuk mengontrol tumbuh kembang Rara.


Zahra mengamati semua proses yang dilakukan. Dua orang ahli fisioterapi begitu cekatan dalam menangani Rara yang tergolong sangat aktif.


"Mbak Zahra yang nemani Den," jawab Bibik


"Kok Zahra?"


"Iya Den, mbak Zahra sendiri yang minta, mumpung sikecil lagi tidur, dia ingin melihat proses fisioterapi neng Rara," jelas Bik Nur.


"Oh baiklah." Yoga segera berlalu


Cklekk!


Yoga masuk ke ruang fisioterapi, ia melihat Zahra sedang fokus memperhatikan dokter yang sedang melakukan aktivitasnya.


"Zah, biar aku saja yang menemani Rara. Kamu dikamar saja istirahat," ujar Yoga datar


"Ah baiklah. Kalau begitu aku permisi ya, Mas," Zahra segera beranjak, ia merasa beberapa hari ini Yoga tidak banyak bicara, tidak seperti saat pertama kali ia datang kerumah itu. Apakah dirinya sudah merepotkan Pria itu?


Zahra masuk ke kamarnya, duduk di pinggir ranjang sembari mengamati bayi mungil yang sedang tertidur pulas ia mengecup wajah bayinya itu.


Mas Arif, lihatlah putra kita, Dia begitu tampan. Andai kamu masih ada Mas, kami tidak akan mungkin hidup seperti ini menjadi beban orang lain. Aku sangat merindukan kamu Mas. Aku rindu! Datanglah dalam tidurku walau sesaat. Gumam wanita itu dalam hati.


Zahra berbaring di sisi Arfan, ia memeluk bayinya itu dengan penuh kasih sayang.


"Arfan sehat-sehat ya,Nak. Mama janji akan selalu menjagamu, Setelah Mama pulih kita akan mencari tempat tinggal, kita tidak boleh selalu merepotkan Om Yoga. Kamu tidak perlu takut,Nak. Mama akan menjadi ibu sekaligus ayah untuk kamu." ujarnya berbisik di telinga sang bayi lalu mencoba memejamkan mata berharap suaminya akan datang menemui dirinya di alam mimpi.

__ADS_1


***


Malam ini Yandra baru selesai dengan segala urusan di RS. Sebelum pulang Yandra ingin menyelesaikan masalahnya dengan Fatimah.


Cklekk!


Fatimah yang sedang fokus dengan ponselnya seketika konsentrasinya buyar saat melihat siapa orang yang masuk. Jantungnya kembali berdegup tak menentu.


Yandra menatap wajah gadis itu begitu sayu, matanya juga terlihat sembab. Seharian ini ia memang sengaja tidak menemui Fatimah, setelah bicara dengan Yoga, Yandra tak lantas menemuinya, ia kembali ke ruangannya karena merasa kecewa melihat Fatimah masih berkomunikasi dengan Yoga.


Malam ini ia ingin memperbaiki hubungannya yang terasa semakin renggang. Yandra akan berusaha sekali lagi untuk meyakinkan Fatimah.


"Hai, kamu apa kabar hari ini?" ucapnya sembari duduk di samping ranjang


"Alhamdulillah baik," jawab gadis itu singkat


"Sudah makan?"


"Sudah,"


Kembali diam. Aura kaku semakin terasa, bingung mau memulai dari mana merasa canggung. Ternyata beberapa hari perang dingin mencetak jarak diantara mereka.


"Dek..."


"Ya..."


"Masih marahkah?"


"Nggak."


"Bisa kita bicara dari hati ke hati?" ujar Yandra mencoba serius


"Hmm," jawabnya dengan anggukan


"Abang mohon Adek percaya dengan semua penjelasan Abang waktu itu. Dek, sumpah demi apa, Abang tak mempunyai hubungan dengan Widi. Abang ingin Adek percaya, dan Abang janji setelah ini tidak ada lagi yang Abang tutupi dari Adek,"


"Baiklah, aku percaya sama Abang. Semoga apa yang Abang katakan sekarang bisa di pertanggung jawabkan untuk selamanya,"


"Alhamdulillah... Terimakasih ya Dek, Abang janji tidak akan membohongi Adek lagi!" ujar Pria itu dengan senyum bahagia.


"Adek masih mau menikah dengan Abang 'kan?" tanyanya lagi penuh harap


Dengan senyum malu Fatimah mengangguk. sehingga membuat Pria itu refleks ingin memeluknya, tetapi Fatimah segera menahan tubuh Yandra yang membuat Pria itu tersenyum malu.


"Hehe... maaf, habisnya terlalu senang." Yandra nyengir sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal


Bersambung....


Happy reading 🥰

__ADS_1


__ADS_2