Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Kemarahan Yoga


__ADS_3

Setelah dari kediaman orangtua Fatimah, mereka kembali ke kediaman keluarga Malik. Diperjalanan pulang, Fatimah tertidur sangat lelap.


Yandra tersenyum dan mengusap kepala sang istri dengan sayang, setelah itu ia menggenggam tangan Fatimah dan mengecupnya.


Selang beberapa menit, mobil yang dikendarai Yandra sudah tiba di kediaman Malik. Yandra tidak membangunkan Fatimah ia segera membopong tubuh sang istri untuk masuk kedalam.


"Loh, tidur?" Tanya Mama berpapasan saat Yandra hendak masuk kamar


"Iya, Ma. Tolong bukain pintunya, Ma." Pinta Yandra pada sang Mama dengan nada sedikit berbisik, takut jika sang istri bangun


Setelah membaringkan Fatimah dan menyelimuti dengan nyaman, Yandra kembali keluar dan di ikuti oleh Mama yang sedari tadi memang masih berdiri di kamar ingin tahu cerita anaknya itu.


"Kenapa istri kamu, Yan? Apakah Fatimah sakit?" Tanya Mama setelah sampai diluar


"Nggak, Ma. Tapi kami tadi dari RS," jawab Yandra sembari berjalan menuju dapur.


"Ngapain ke RS? Eh, tunggu dulu! Kalau ngomong sama orangtua itu yang sopan, nggak sambil jalan begini." Tegur Mama sembari meraih tangan anaknya.


Yandra berhenti dan menatap Mamanya. "Hehe... Ntar dulu, Ma. Aku haus pengen minum, lagian Mama nggak sabaran Amad."


Mama Anggi memberi ruang untuk anaknya minum, dan setelah itu ia kembali mencecar dengan pertanyaan.


"Udah? Sekarang ayo jelaskan pada Mama," ujar wanita paruh baya itu yang ikut duduk berhadapan dengan sang putra.


"Kami ke RS, untuk memeriksa Fatimah, Ma."


"Periksa? Emang istrimu sakit apa?" Tanya Mama Anggi masih penasaran.


"Bukan sakit, Ma. Tapi Fatimah hamil," jelas Yandra memberi kabar bahagia itu pada sang Mama.


"Alhamdulillah ya Allah... Kamu serius, Yan?" Tanya Mama antusias.


"Benar, Ma, Baru berjalan delapan minggu."


"Mama senang banget, Akhirnya keinginan Papa dan Mama tercapai untuk mempunyai cucu yang banyak," ujar Mama sangat bahagia.

__ADS_1


"Kalau begitu Mama harus memberi kabar bahagia ini dengan Papa kamu." Mama Anggi ingin beranjak tetapi segera ditahan oleh Yandra.


"Ma, tunggu dulu."


"Ada apa Yan?"


"Aku ingin memberi Fatimah hadiah sesuatu, tapi aku tidak tahu ingin memberinya apa?"


"Nanti Mama bantu mikir, tapi sekarang Mama harus beritahu Papa dulu. Udah sana temani istri kamu, nanti dia bangun nyariin kamu, pantas saja Mama lihat sikapnya berubah beberapa minggu ini."


Mama Anggi segera melesat keruangan suaminya untuk menyampaikan kabar bahagia itu.


Yandra hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kebahagiaan kedua Ibu hebat yang ada dalam hidupnya itu.


***


Pagi ini Yoga sudah berangkat lebih awal, karena ada pasien kritis yang butuh pertolongannya.


"Sayang, aku berangkat dulu ya, kalau dia datang lagi, jangan di bukakan pintu." Pesan Pria itu yang membuat Zahra tak percaya apa yang dikatakan oleh suaminya.


Entah kenapa semenjak mengetahui hal itu, membuat sikap Yoga berubah. Pria itu sering melamun, ia masih belum bisa berdamai dengan keadaan.


Omong kosong dengan segala penyesalan yang diucapkan oleh wanita yang mengaku sebagai ibunya itu. Tidak pernah ada ibu yang tega membuang anaknya selama puluhan tahun.


Sesampainya di RS, Yoga segera menangani pasiennya yang sedang butuh pertolongan, meskipun pikirannya sedikit kacau tetapi ia tetap mengutamakan keselamatan sang pasien, dan mengesampingkan masalah yang ada.


Setelah tugasnya selesai, Yoga bersiap untuk pulang, tetapi saat keluar dari ruangan seorang wanita yang ingin di hindari telah berdiri dihadapannya.


Yoga segera membuang muka, entah kenapa rasa sakit yang begitu dalam saat melihat wanita yang telah mengaku sebagai ibunya itu.


"Untuk apa datang kesini?" Tanya Yoga dingin


"Nak, Mama ingin bicara," ujar wanita itu dengan mata berkaca-kaca


"Aku tidak mempunyai waktu untuk bicara, aku buru-buru." Yoga segera meninggalkan wanita itu.

__ADS_1


"Adit, dengarkan Mama dulu!" Mama Runi meraih tangan Yoga


"Maaf, tolong lepaskan saya." Yoga menarik tangannya dari genggaman wanita paruh baya itu.


"Adit, Mama mohon tolong beri Mama kesempatan untuk menjelaskan semuanya, Mama janji setelah ini tidak akan memaksamu untuk mempercayai segala ucapan Mama, Mama tahu kamu kecewa dan terluka, Mama juga menyadari bahwa Mama bukanlah ibu yang baik. Tapi perlu kamu tahu, Nak, apa yang Mama lakukan semua ada alasannya. Sungguh, Mama tidak bermaksud untuk membuangmu," jelas Mama Runi dengan air mata yang jatuh berderai.


"Hng! Mama? Jangan sebut itu, aku tidak mempunyai Mama. Alasan apapun tidak ada yang membenarkan seorang Ibu tega membuang anaknya hanya karena dia menyelamatkan masa depannya sendiri sehingga dia mengorbankan anak yang juga tak ingin dilahirkan ke dunia ini."


Kata-kata Yoga membuat tangis wanita itu semakin pecah. "Maafkan Mama, Nak. Mama benar-benar minta maaf, Hiks..."


Yoga meninggalkan sang Mama, perasaannya begitu kacau, rasa kesal dan sakit hati tak bisa ia sembunyikan.


Dengan penuh amarah, Yoga segera meninggalkan RS tanpa memperdulikan wanita itu lagi.


Tidak berapa lama mobil Yoga sudah menepi di halaman rumahnya, Pria itu masuk dan membuka Snelli dokternya dengan kasar lalu membuangnya begitu saja di Sofa kamar.


Zahra yang sedang menidurkan Arfan begitu terkejut dengan ekspresi wajah sang suami yang tampak kacau. Zahra segera turun dari ranjang dengan perlahan.


Yoga duduk di Sofa dengan kedua tangan mengempal untuk menyanggah keningnya yang terasa ingin pecah.


Dengan ragu dan takut Zahra duduk disisi sang suami, ia memberanikan untuk mengusap bahu Yoga dengan lembut. Namun, tiba-tiba Pria itu mendekap tubuhnya dengan erat.


Zahra membalas pelukan Yoga. Ia merasakan tubuh Pria itu bergetar sedang mengeluarkan tangis yang tertahan.


Zahra semakin mendekapnya dengan erat dan mengecup kepala sang suami penuh kasih sayang. "Ada apa, Mas? Apa yang terjadi?" Tanya Zahra lembut


"Dek, kenapa ini terasa sakit sekali. Aku tidak menginginkan hal ini. Aku tidak ingin wanita itu hadir dalam hidupku lagi, dia bukan ibuku. Aku tidak mau mendengarkan alasan apapun darinya."


Zahra hanya bisa diam, dia baru tahu ternyata hal itu yang membuat suaminya kacau, apakah Mama Runi menemui Yoga? Zahra bingung Apa yang harus ia lakukan.


Haruskah ia mendukung keinginan sang suami? Tetapi dia tidak tega, karena dia juga seorang Ibu, walau bagaimanapun dialah wanita yang telah melahirkan sang suami.


"Mas, tenang dulu ya, udah jangan sedih. Nanti kita bicarakan. Aku buatin kamu minum sebentar ya," ujar Zahra melerai pelukannya.


"Dek, jangan pergi! Tetaplah disini. Aku tidak butuh apapun, aku hanya butuh kamu." Pria itu tak membiarkan Zahra pergi.

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2