
Sore hari Pak Eko baru saja pulang dari kebun membawa hasil panen menggunakan mobil pick up.
"Baru pulang yah?" Tanya Yandra yang sudah duduk santai di teras.
"Iya, Yan. Sudah dari tadi datangnya?" Tanya Ayah balik
"Iya, tadi jam dua. Oya, itu mobil siapa yah?"
"Ini mobil sewa, untuk mengangkut hasil panen," jelas Ayah
"Berapa sewanya sehari Yah? Berapa hari Ayah sewa kalau saat panen begini?"
"350 / hari, mungkin cuma dua hari karena masih ada sayuran yang harus di angkat."
"Yah, Bagaimana jika aku ambilkan mobil pick up untuk alat transportasi Ayah ke kebun, jadi Ayah tidak perlu lagi harus nyewa mobil, kan sayang duitnya bisa digunakan yang lain," Tawar Yandra pada ayah mertuanya.
"Waduh tidak usah Yan, lagian Ayah masih bisa pake motor untuk alat transportasi," tolak Ayah dengan cepat. Pak Eko tidak mau berharap dari menantunya yang sudah pasti sangat mudah memberikan yang ia butuhkan namun, Pria paruh baya itu tidak ingin membuat putrinya sungkan terhadap keluarga suaminya.
Pak Eko juga tidak mau anaknya diremehkan oleh orang. Walaupun hidup sederhana tapi dia tidak ingin memanfaatkan kekayaan anak menantunya.
"Kenapa, Yah? Ayah pasti butuh mobil untuk membawa pupuk atau sebagainya. Begini saja, aku akan mengambilkan Ayah mobil pick up di showroom Dengan angsuran yang ringan, nanti Ayah yang angsur perbulannya. Gimana? Apakah Ayah setuju?"
Yandra kembali meyakinkan agar Ayah mertuanya menerima tawarannya, ia sudah tahu bahwa Ayah pasti akan menolak jika diberikan cuma-cuma.
"Baiklah, tapi nanti Ayah bicarakan dulu dengan Ibumu," akhirnya Pak Eko menerima tawaran dari menantunya itu.
Setelah Pak Eko masuk, Yandra segera menemui Fatimah didalam kamar, wanita itu baru saja selesai mandi. Karena mereka juga akan bersiap untuk pulang.
"Eh, kok mandi nggak ngajak Dek?" Ujarnya sembari memeluk Fatimah dari belakang, tangannya mulai tak tenang dan meresahkan.
"Ya Allah, awas dulu Bang! Adek mau cepat," ucap gadis itu berusaha melepaskan diri dari tangan gratilan sang suami.
"Jangan cepat-cepat dong Sayang, enggak enak!" Ujarnya tersenyum nakal sembari menggigit bahu Fatimah dengan gemas
"Awwh... Udah dong Bang! Adek risih, Abang meresahkan banget!" Kesal wanita itu memberontak.
"Hahaha... Jangan berontak Dek, membuat dia makin bangun!" intrupsinya sembari menekankan yang keras di bawah sana.
Fatimah yang resah dan gemas dengan tingkat kemesuman suaminya, maka wanita itu menarik kuat benda pusaka itu dengan geram sehingga pemiliknya meraung.
__ADS_1
"Awwhh...! Ya ampun Adek sengaja buat dia cidera?" Sungutnya sembari mengusap adik kecilnya yang terasa panas dan nyeri
"Biarin! Kesal banget sama kamu ya Bang. Nggak bisa banget lihat istri tenang sebentar, awas ya! Nanti malam nggak ada jatah buat Abang, Adek tidur sama Yanju di atas!"
"Eh, eh... Jangan dong Sayang! Bisa karatan punya Abang!"
"Nggak mau! Abang ngeselin. Pokoknya Adek tidur di kamar Yanju!"
"Ish, jangan dong Dek, iya iya, Abang janji nggak akan ganggu Adek lagi."
"Benaran?" Tanya Fatimah meyakinkan
"Iya benar kalau nggak khilaf. Hehe.. Canda Sayang! Muuach... Iya, Abang janji," ujarnya sembari mendekap tubuh wanita itu dengan sayang.
Setelah selesai mandi mereka pamit dengan ayah dan ibu untuk pulang ke kediaman keluarga Malik.
Di perjalanan pulang Yandra tak melepaskan genggaman tangannya dari Fatimah. Sesekali ia mengecup tangan mulus sang istri.
Fatimah sangat bahagia dengan cinta Yandra yang begitu besar kepadanya, walau terkadang mesumnya tak terkendalikan. Sepertinya ia harus lebih bisa memahami, mungkin karena mereka baru saja menikah jadi bawaannya tak terlepas dari yang begitu.
Ada rasa takut dihatinya karena sering menolak keinginan suaminya, bagaimana jika nanti dia mencari wanita lain untuk melepaskan hasratnya yang begitu besar.
"Kenapa bengong Dek?" tanya Yandra membuyarkan lamunan Fatimah
"Ah, nggak kok Bang, siapa yang bengong," elaknya
"Dek, tadi Abang bicara dengan Ayah,"
"Bicara apa Bang?"
"Abang ingin membelikan Ayah mobil pick up untuk transportasi beliau ke kebun," jelasnya
"Trus Ayah bilang apa?"
"Ya tentu saja Adek sudah tahu jawaban Ayah, beliau sepontan menolak, tapi Abang mencari cara agar Ayah mau menerima."
"Apa yang Abang katakan?"
"Abang katakan, bahwa Abang hanya memberikan DP, dan angsurannya ayah yang bayar, akhirnya beliau menerima, Abang mengatakan pada Ayah semua proses Adek yang urus. Jadi, besok uang angsuran itu Adek buat sebuah tabungan untuk mereka, karena uang itu nanti bisa digunakan untuk kuliah Yusuf atau Najuwa masuk SMA," jelas Yandra panjang lebar agar Fatimah paham.
__ADS_1
Fatimah kembali terharu atas segala perhatian suaminya itu. "Sekali lagi terimakasih ya Bang. Adek tidak tahu harus mengekspresikan perasaan bahagia Adek gimana. Yang jelas Adek sangat bahagia dan berterima kasih atas segala kebaikan Abang kepada Adek dan keluarga Adek," ucapnya tulus
"Sama-sama,Sayang, karena keluarga Adek adalah keluarga Abang juga, sudah sewajarnya Abang membahagiakan mereka."
***
Pagi ini Yoga bersiap untuk ke RS. Zahra sudah sibuk melayani suami dan anak-anaknya, meskipun ada Bik Nur, namun, wanita itu ingin mengurus suami dan anak-ana Dengan tangannya sendiri, bila dirinya sudah terlalu repot maka ia akan minta bantuan Bik Nur.
"Kopinya Mas," Zahra menyuguhkan secangkir kopi hitam di atas meja yang ada di kamarnya.
"Ya Sayang, terimakasih," jawabnya sembari mangancingkan kemejanya.
Zahra mengambil alih pekerjaan Yoga, dengan teliti wanita itu mengancingkan kemeja lengan panjang suaminya.
Yoga mengamati wajah cantik istri kecilnya itu, bibirnya yang ranum membuat ia menelan air liur. Perlahan Yoga menyentuh bibir mungil Zahra sontak membuat wanita itu terkejut.
"Mas..." Desisnya menahan gejolak dalam hati.
"Kenapa? Adek masih malu hmm?" Yoga menautkan keningnya dan kening Zahra dengan nafas sedikit memburu
Zahra menatap mata bening itu dengan dalam. Kenapa suaminya itu seperti sudah begitu dekat, padahal mereka baru saja menikah dan mereka juga sudah tahu bahwa pernikahan itu tidak di dasari cinta.
"Mas, selama beberapa minggu ini kita menjalani rumah tangga, apakah Mas Yoga sudah mempunyai perasaan padaku?" Tanya Zahra ingin tahu
"Menurut kamu?" Yoga balik nanya
"Ya, mana aku tahu Mas!"
"Masa sih kamu tidak tahu? apakah sebegitu tidak pedulinya kamu padaku?"
"Bu-bukan begitu Mas! Aku tidak bisa menerka-nerka hati seseorang."
"Dek, apakah kamu tidak melihat sesuatu di mataku? Apakah kamu tidak melihat seseorang masalalumu padaku diriku?"
"Maksud Mas Yoga?" Zahra mencoba mentelaah ucapan Yoga. Sebenarnya ia merasakan hal itu namun, segera ia tepis, rasanya itu tidak mungkin!
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1