
Yandra mulai memeriksa setelah mengoleskan gel pada perut datar Fatimah. Setelah itu ia mulai memainkan alat transducer itu di permukaan kulit perut sang istri.
Dengan teliti Pria itu menatap layar tipis yang ada di hadapannya, Fatimah juga tak ingin ketinggalan ia menatap layar itu dengan seksama walaupun ia tidak paham.
Merasa tidak paham dengan isi dalam layar monitor itu. Fatimah mengalihkan pandangannya pada wajah tampan dokter yang sedang memeriksanya itu.
Diam-diam wanita itu mengamati wajah itu, tanpa sadar ia tersenyum lebar memperhatikan wajah serius sang suami terkadang Pria itu tampak tersenyum dan terkadang keningnya berkerut sembari bergumam kecil helaan nafasnya tampak lebih teratur.
Setelah cukup paham hasil pemeriksaan itu. Yandra segera menyudahi dan mengelap sisa gel yang ada di perut Fatimah.
"Muuach... Sehat-sehat ya, Nak. Jangan bikin Ibu marah-marah mulu, Ayah gemas melihat tingkah ibumu," ujar Yandra mengecup perut rata Fatimah, tanpa memberi penjelasan pada sang istri dia sudah bicara dengan calon anaknya.
Fatimah menatap sang suami dengan tatapan penuh tanda tanya, kenapa suaminya tidak memberi penjelasan. Dasar Dokter apaan begitu sesukanya saja.
"Mari Bu, saya bantu duduk. Ayo duduk di sana saya akan menjelaskan kepada anda hasil USG," ujar pria itu semakin membuat Fatimah gemas.
Dengan wajah memberengut Fatimah ikut duduk di hadapan Yandra. Sementara itu Yandra hanya mengulum senyum.
__ADS_1
"Bagaimana hasilnya, Bang?" Tanya Fatimah tidak sabar
"Eh, jangan panggil saya Abang. Panggil Dokter tampan. Paham?" Pria itu masih saja menggoda sang istri.
"Ck, apaan sih Bang? Nggak lucu tau!" Ujar Fatimah mengerucutkan bibirnya
"Hehehe.. Baiklah, Sayang. begini, terhitung dari terakhir kamu haid, maka kehamilan kamu sekarang berjalan delapan minggu." Jelas Yandra sembari berdiri dari kursi kebesarannya dan mencondongkan tubuhnya pada sang istri.
"Selamat ya, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu." Yandra mengecup kening dan kedua pipinya dan berhenti di bibir mungil Fatimah.
"Benar Dek, kamu hamil. Mulai sekarang kamu harus lebih hati-hati ya, jangan terlalu lelah. Hamil muda ini sangat rentan, jadi kamu harus nurut apa yang Abang katakan," ujar Pria itu memberi wejangan pada sang istri.
Fatimah memeluk tubuh bagian bawah Yandra dan menyembunyikan wajahnya di perut suaminya itu. "Adek janji akan nurut dengan semua kata-kata Abang. Tapi Abang jangan suka bikin Adek kesal dong," ucapnya menengadahkan wajahnya.
Yandra mengelus kepala Fatimah dengan sayang. "Abang tuh nggak bikin Adek kesal, tapi hanya dirimu saja yang sedang sensi, tapi tidak apa-apa. Abang paham kok, hal seperti ini wajar terjadi bagi wanita hamil, karena perubahan hormon."
"Maaf ya, kalau Adek sering buat Abang kesal," Fatimah kembali menyembunyikan wajahnya di perut Yandra.
__ADS_1
"Dek, bisa nggak wajahnya jangan terlalu dekat begini, konek dia, Sayang," ujar Pria itu sedikit menekan wajah sang istri agak kebawah perut.
"Abang!" kesal Fatimah sembari mencubit pinggang suaminya dengan gemas.
"Hahaha... Habisnya kamu yang mancing duluan, udah tahu dia seminggu ini puasa, Adek masih aja nggak peka. Kasihanilah Dek. Abang tersiksa batin." tiba-tiba wajah tampan itu melow mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Maaf deh. Tapi Adek lagi nggak mood, Bang." Wanita itu juga memelas
Yandra menatap wajah cantik istrinya yang kini tampak semakin berisi. Yandra kembali melabuhkan kecupan penuh kasih sayang.
"Baiklah, Sayang. Abang paham. Semoga anak Ayah ini tidak selamanya eneg lihat wajah Ayah ya."
Setelah selesai urusan mereka Yandra dan Fatimah segera beranjak pulang untuk memberi kabar bahagia ini kepada keluarga besar mereka dan juga orangtua Fatimah.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1