
Setelah sampai di RS, Arman dan Lyra harus menunggu Yandra, karena dokter obgyn itu sedang berada di ruang operasi.
Selama lima belas menit, Yandra telah keluar dari ruang operasi, ia segera membawa Abang dan kakak iparnya ke ruangannya.
"Ayo keruangan aku, Bang. Loh, anak ayah ikut juga? Ayo sini gendong sama Ayah." Yandra mengambil Yanju dari gendongan Arman, tetapi Pria itu mencium aroma wangi yang tak asing lagi.
"Bang Arman, pake parfum apa?" Tanya Yandra sembari mengendus-endus aroma parfum itu.
"Kenapa? Enak wanginya 'kan?" Tanya Arman tersenyum bangga.
Yandra mengerutkan keningnya, ini persis bau parfum yang ia tanya pagi tadi pada Fatimah. Apa mungkin Abangnya itu yang mengambil? Tapi itu tidak mungkin, sedangkan Arman baru pulang jam sebelas malam.
"Kamu kenapa natap aku begitu?" Tanya Arman sedikit risih.
"Benaran nanya deh, Bang. Dapat parfum darimana?"
"Iya, tadi aku juga mau tanya, Mas. Kok wangi kamu beda. Emang kamu pakai parfum siapa? Punya Mama?" Tanya Lyra ikut penasaran.
"Bukan, tadi aku nemu di lemari Yanju. Wanginya segar banget. Ya, aku pake aja. Emang punya siapa sih? Punya kamu Yan?" Tanya Arman balik nanya.
"Iya, kok ada di lemari pakaian Yanju? Siapa yang simpan disana?"
"Mana aku tahu. Yasudahlah, nanti aja bahas itu, sekarang ayo periksa kakak ipar mu dulu," pinta Arman.
"Ayo ke ruanganku sekarang."
Mereka segera membuat jadwal, yaitu lusa jadwal yang di tentukan. Setelah membuat jadwal, Lyra segera melakukan serangkaian cek up. Cukup lama mereka di RS Akhirnya selesai juga pemeriksaan medisnya.
Arman dan Lyra segera meninggalkan RS dengan membawa Yanju. Sebelum pulang mereka sudah janji ingin ke mall, sekalian bawa Yanju jalan-jalan.
Jam 12.30 Yandra meninggalkan RS dan menuju ke sekolah sang istri untuk menjemput Fatimah, Yandra sengaja datang lebih awal, ia tidak ingin sang istri menunggu.
Hanya menunggu lima belas menit, Fatimah keluar dari gerbang sekolah, dan segera menyongsong sang suami yang sudah standby menunggunya.
"Udah pulang, Sayang?" Yandra memberikan tangannya dan mengecup kening istrinya.
"Abang udah dari tadi nungguin?"
"Belum, baru Lima belas menit. Ayo masuklah." Yandra membukakan pintu mobil untuk Fatimah.
Di perjalanan Yandra mengajak Fatimah untuk makan siang diluar. "Dek, kita makan siang diluar ya," ajak Yandra
"Nggak mau, Bang. Adek pengen kerumah ibu aja boleh nggak?"
"Boleh, Sayang. Tapi kita makan dulu ya?"
"Adek nggak lapar, Bang. Kalau Abang lapar Abang saja yang makan, Adek tunggu di mobil saja."
"Yaudah nanti saja makannya." Yandra mengalah
Yandra segera mengarahkan mobilnya ke rumah mertuanya. Pria itu kembali merasa ada yang aneh dengan sikap sang istri.
__ADS_1
"Bang, nggak jadi kerumah ibu. Kita pulang aja," ujar Fatimah membatalkan keinginannya semula.
"Kenapa, Dek? Ini udah dekat bentar lagi sampai," jawab Yandra masih heran.
"Adek baru ingat Yanju Bang."
"Udah nggak perlu khawatir. Yanju dibawa Abang dan Bundanya jalan-jalan ke mall."
"Oh, tadi dia ikut ke RS?"
"Iya, setelah selesai pemeriksaan mereka segera pergi ke mall, sekalian ada yang mau mereka cari, katanya gitu sih."
Tak ada obrolan lagi, Yandra masih fokus mengemudi, sementara itu Fatimah sudah berada di alam mimpi.
Yandra hanya tersenyum melihat istrinya itu. Baru sebentar saja sudah terlelap, sangat mudah sekali tidur.
Sesampainya di rumah ibu. Yandra tidak membangunkan Fatimah, ia membopong tubuh ramping itu masuk kedalam kamarnya.
"Loh, tidur?" Tanya Ibu.
"Iya, maaf ya, Bu," jawab Yandra sungkan.
"Tidak apa-apa. Ayo bawa masuk kedalam kamar." Ibu membantu membuka kamar anaknya itu.
Yandra segera membaringkan Fatimah diatas ranjang, tetapi wanita itu malah bangun. "Kok, bangun Dek?" Tanya Yandra sembari mengusap kepalanya dengan lembut dan memberi kecupan hangat.
"Adek lapar Bang," rengek Fatimah yang membuat Yandra segera menahan rasa sabar, tadi diajakin makan kekuh nolak, tapi sekarang tiba-tiba bilang lapar
"Eh, nggak usah beli makan diluar. Adek pengen makan masakan Ibu. Kita makan siang disini saja."
"Tapi nanti takut ngerepotin Ibu, Dek," ujar Yandra merasa sungkan.
"Nggak, kok Bang. Biar Adek yang masak, Adek hanya minta diajarin ibu saja menu yang Adek tidak tahu," jelas Fatimah meyakinkan sang suami.
Pasangan pasutri itu keluar kamar, dan berpapasan dengan ibu. "Loh, nggak jadi tidur kamu, Fa? Kalian udah makan siang, belum? Ibu sudah masak. Ayo makanlah."
"Ibu masak apa?" Tanya Fatimah
"Ibu masak gurame bakar sama sambel terasi juga ada lalapannya. Kebetulan semalam Pakde mu panen ikan di kolamnya."
Seketika matanya berbinar mendengar menu masakan ibu hari ini, rasanya ia sudah tidak sabar ingin melahapnya sekarang.
"Kebetulan banget aku pengen makan menu itu Bu," ujar Fatimah jujur.
"Ayo makanlah, siapkan untuk suamimu."
"Ayo Bang, kita makan sekarang. Adek udah lapar banget."
Yandra hanya mengikuti langkah sang istri menuju meja makan, Pria itu semakin aneh melihat tingkah Fatimah.
Fatimah segera mengambilkan makan siang untuk Yandra, mereka makan dalam keheningan menikmati masakan ibunya.
__ADS_1
Yandra melihat Fatimah makan begitu lahap, entah berapa kali wanita itu tambah, sehingga menimbulkan kecurigaan dihati Yandra.
Setelah selesai makan, dan membereskan meja makan, Fatimah dan Yandra masuk kedalam kamar. Yandra ingin menanyakan sesuatu pada sang istri.
"Dek, kamu udah haid bulan ini?" Tanya Yandra sembari duduk di sisi Fatimah.
Fatimah berpikir sejenak. "Emang sekarang tanggal berapa sih Bang?"
"Tanggal sepuluh. Kamu haid tanggal berapa biasanya?"
"Dua puluh biasanya Bang."
"Berarti udah telat dua puluh hari. Ditambah satu bulan tidak haid, berarti jalan enam minggu sekarang," jelas Yandra menyimpulkan.
"Maksud Abang apa?" Tanya Fatimah tidak paham.
"Ya, kehamilan Adek."
"Uhuk...Uhuk... Abang, apaan sih? Ngarang." Wanita itu tersedak mendengar ucapan Yandra.
"Kok ngarang? Benaran itu."
Seketika Fatimah terdiam, memperhatikan keseriusan di wajah sang suami. Apakah benar dirinya hamil?
"Bang, Adek serius. Abang jangan bercanda dong!" Tiba-tiba saja rasa gelisah menyeruak.
"Adek meragukan Abang?"
"Walaupun Abang seorang dokter kandungan, tapi bisa saja tebakan Abang itu meleset 'kan?" Bantah Fatimah belum yakin.
"Ya, kamu memang benar, Dek, tapi Abang juga melihat perubahan pada sikap dan perilaku kamu beberapa hari ini, maka dari itu Abang sudah bisa menyimpulkan kebenarannya."
"Perubahan? Perasaan Adek nggak ada berubah apa-apa tuh." Sanggah Fatimah tidak menyadari.
"Coba Abang tanya sekarang, Siapa yang menyembunyikan parfum Abang di lemari pakaian Yanju?"
Fatimah terkesiap, dan menatap Yandra dengan senyum malu. Wanita itu heran darimana suaminya tahu jika parfum itu ia singkirkan dari kamarnya.
"Hehe... Kok Abang tahu?"
"Kenapa Adek menyingkirkan parfum itu? Bukankah itu parfum pilihan Adek?"
"Maaf, tapi Adek tiba-tiba tidak suka aroma parfum itu." Jujurnya.
"Bukankah itu suatu perubahan pada diri Adek?"
Mendadak hati wanita itu galau dan gelisah. Masih belum yakin dengan apa yang dikatakan oleh sang suami.
Bersambung.....
Happy reading 🥰
__ADS_1