
Pagi ini jam sembilan Lyra akan menjalani Caesar, semua keluarga Malik maupun keluarga Arman yang di Jogja juga tak ingin ketinggalan momen berharga itu, mereka sudah standby di RS untuk menyambut cucu ke 3 mereka, Fatimah juga tak ingin ketinggalan dia sengaja izin untuk tidak mengejar hari ini.
Sebelum masuk ke ruang operasi, dengan di dampingi Arman, Lyra terlebih dahulu memohon maaf kepada kedua orangtua suaminya itu.
"Ma, Pa, Buk, Romo, aku mohon do'anya, semoga semua berjalan lancar, maafkan aku bila selama ini ada salah," ujar Lyra lirih sembari menyalami tangan mertuanya dengan takzim
"Papa dan Mama akan selalu mendo'akan kamu, Nak. Semoga Allah memberi kelancaran proses Caesar ini." Papa Malik mengelus kepala Lyra dengan lembut.
"Semangat ya, Nak. Do'a kami selalu mengiringi kamu." Mama Anggi memeluk dan mencium pipi anak menantunya itu.
"Tetap semangat, Nduk, Do'a kami semua menyertai mu." Buk Narti juga memeluk Lyra penuh haru.
Setelah memohon maaf kepada keluarga suaminya, Lyra beralih pada Paman satu-satunya, hanya dialah yang Lyra anggap sebagai pengganti ayahnya.
"Paman, maafkan aku jika selama ini banyak salah pada Paman, jangan beri aku dosa, mohon Do'a dan ridho dari paman. Do'akan aku dan bayiku selamat ya, Paman," ucap Lyra memeluk sang paman penuh haru dan air mata.
"Jangan meminta maaf lagi, Nak. Paman sudah memaafkan segala kesalahahmu, Paman selalu mendo'akan segala kebaikanmu. Semoga Allah mempermudah segala urusanmu, Nak."
Setelah memohon Do'a dari keluarga besar, Arman segera membawa Lyra masuk kedalam ruangan operasi. Di iringi Yandra sang adik sekaligus dokter yang akan menangani operasi Caesar itu.
Enam puluh menit berlalu, keluarga Malik dan Bu Narti menunggu dengan segala rasa cemas dan gelisah.
Sementara itu Yandra dan tim dokter lainnya sedang fokus menangani proses operasi Caesar, Arman cemas karena sang adik dan rekan dokter yang lainnya tampak sibuk seperti telah terjadi sesuatu pada Lyra.
"Sediakan stok darah lebih banyak lagi, Dok!" Pinta Yandra pada rekannya.
Tidak berapa lama sepasang bayi kembar berhasil di keluarkan dengan selamat. Namun, hal buruk terjadi pada Lyra, karena Lyra telah mempunyai riwayat pendarahan sebelumnya maka hari ini perdarahan itu terulang kembali selama operasi perjalan yaitu perdarahan Postpartum. Karena pendarahan terlalu banyak maka volume cairan dalam tubuh berkurang mengakibatkan gangguan sirkulasi ke pusat paling vital.
Yandra berusaha untuk menghentikan pendarahan itu, bermacam suntikan yang mereka lakukan, dan menambah stok darah dari semula yang di tentukan.
Kedua bayi kembar itu telah selesai dibersihkan, Bidan menyerahkan kepada Arman untuk di adzankan.
"Selamat Pak Arman, bayinya lahir dengan selamat, kembarnya sepasang ya, Pak. Cantik dan Tampan," ujar Bidan yang membersihkan baby twins itu.
Dengan rasa haru dan bahagia Arman menggendong kedua bayi kembarnya. Arman mengecup keduanya secara bergantian. Setitik cairan Kristal menetes di pelupuk matanya.
__ADS_1
Rasa bahagia tak terkira saat kedua makhluk suci itu berada dalam dekapannya. Namun, rasa sedih tak mampu ia utarakan saat Dokter mengatakan bahwa sang istri mengalami koma akibat perdarahan selama dalam proses Caesar.
Arman segera mengadzani kedua buah hatinya itu. Setelah selesai melantunkan kebesaran Allah di telinga kedua anaknya, ia beralih membacakan kalimat suci Alquran di telinga sang istri, Arman berdo'a semoga Allah segera memberi kesadaran pada Lyra.
Dengan suka cita keluarga besar itu menyambut kehadiran kedua malaikat kecil itu. Dan mereka juga tak bisa menahan tangis saat mengetahui kondisi Lyra saat ini.
Paman Lyra begitu syok, saat mendengar penjelasan dari Yandra sang dokter yang menangani operasi Caesar itu.
Kini bayi kembar sedang di panaskan dalam inkubator, Arman masih setia menunggu sang istri, Pria itu terlihat begitu kacau, air matanya tak henti jatuh berderai saat melihat keadaan Lyra.
"Yan, apakah Lyra bisa bangun dari koma?" Tanya Arman dengan suara serak.
"Abang, tenanglah. Lyra pasti akan sadar. Aku percaya itu, karena dia adalah wanita yang kuat," jawab Yandra memberi semangat pada sang kakak.
Yandra mengusap bahu Arman penuh perhatian dan juga sedih melihat kondisi istri dari Abangnya itu. Tak bisa di pungkiri walau bagaimanapun, wanita itu pernah ada didalam hatinya, bahkan mereka juga mempunyai seorang anak dari hubungan singkat itu.
"Abang sabar ya, kita sama-sama berdo'a semoga kakak ipar segera sadar."
"Terimakasih ya, Yan."
Setelah Yandra keluar dari ruang rawat inap Lyra, Arman mengecup kening sang istri penuh kasih sayang,
"Jangan lama-lama tidurnya ya, Sayang. Mas sungguh tidak bisa kamu tinggalkan dalam kesendirian seperti ini, aku tidak sekuat dan setegar dirimu, Sayang. Apakah kamu tidak melihat jika suamimu ini selalu bergantung padamu? Lihatlah bayi kembar kita, dia ingin sekali di peluk oleh Bundanya, kamu harus berjuang ya." Arman menggenggam tangan Lyra dan mengecupnya, kembali air matanya jatuh.
Arman sungguh tak menyangka ternyata masih ada lagi ujian berat yang Allah berikan kepadanya, beginikah yang dirasakan Lyra saat dirinya koma dulu? Sungguh wanita yang kuat dan penuh kesabaran.
"Ya Allah, hamba mohon kepadamu ya Rabb. Tolong selamatkan istri hamba dari hal buruk, bangunkan dia dari koma ini, hamba mohon jangan pisahkan kami." Do'a Pria itu begitu lirih sembari memeluk sang istri.
Segala dukungan, semangat, dan Do'a selalu datang silih berganti pada Arman dari keluarga besar mereka.
Mama Anggi tampak begitu sedih saat menjenguk menantu pertamanya dalam keadaan tak berdaya. Air mata wanita itu luruh begitu saja, ia berpikir kenapa cobaan seakan tak pernah berhenti datang kepada anak dan menantunya itu.
"Kamu sabar ya, Nak. Mama percaya istrimu pasti bisa melewati ini semua." Mama Anggi memeluk Arman dengan tangis iba. Arman tampak begitu rapuh seakan separuh jiwanya pergi bersama sang istri yang kini sedang melawan maut.
***
__ADS_1
Sudah cukup Sore sebagian keluarga sudah mulai pulang karena merasa cukup lelah seharian di RS menyambut kelahiran baby twins, dan memberikan semangat kepada Arman yang kini sedang bersedih karena keadaan Lyra memburuk.
Yandra izin kepada Arman dan Mama untuk mengantarkan Fatimah pulang, karena Fatimah juga terlihat sudah begitu lelah, karena seharian ini Fatimah ikut mengurus dan memberikan ASI pertama untuk sikembar.
Walaupun Yandra merasa keberatan melihat kondisi Fatimah sekarang kurang stabil, Yandra sudah yakin jika Fatimah saat ini sedang hamil, tetapi istrinya itu masih enggan di periksa olehnya.
Yandra yang tengah sibuk juga mengurungkan niatnya dulu, biarlah itu akan menjadi kejutan bagi keluarga mereka nanti. Tapi tak bisa di pungkiri bahwa hati pria itu juga cemas saat istrinya menyusui tiga orang bayi dalam keadaan hamil.
Yandra sempat menolak keinginan sang istri, tetapi Fatimah tetap kekeuh untuk memberi ASI si kembar, Yandra juga tidak tega pada kedua keponakannya itu. Maka Yandra harus memantau kesehatan Fatimah dengan cara memberinya suplemen dan vitamin agar Fatimah tetap sehat.
Di perjalanan pulang, Fatimah tampak sedih. Wanita itu menyimpan rasa takut yang begitu besar. Jika hal buruk terjadi, bagaimana nasib keponakannya itu. Tetapi segera ia tepis pikiran buruk itu, ia selalu berdo'a agar Lyra segera sadar dari komanya.
"Dek, kenapa murung? Ada apa?" Tanya Yandra sembari mengusap kepala Fatimah dengan lembut.
"Adek sedih melihat kondisi kak Lyra, Bang. Benar-benar tak menyangka jika ini terjadi, padahal tadi pagi kak Lyra masih baik-baik saja," jelasnya dengan sedih.
"Ya, itulah kehidupan Dek, Abang juga tak menyangka, semalam saat check up hasilnya semua bagus."
"Ternyata perjuangan seorang ibu sangat begitu besar ya, Bang."
"Ya, sangat besar. Semoga Allah membalas syurga untuk segala ibu-ibu yang berjuang demi anaknya."
"Aamiin... Apakah suatu saat nanti Adek mampu melewati perjuangan itu ya, Bang?" Tanya wanita itu sendu.
Yandra menepikan mobilnya, dan mendekap tubuh Fatimah, ia tahu jika istrinya menyimpan rasa trauma atas apa yang terjadi pada Lyra saat ini. Maka Yandra masih mendiamkan dugaan kehamilannya itu, tunggu suasana cukup tenang dan kondusif, setelah itu ia akan melakukan pemeriksaan pada istrinya.
"Tidak perlu cemas dan takut ya, Sayang, karena semua sudah menjadi kodrat seorang wanita yaitu mengandung dan melahirkan. Kamu tidak perlu takut ya."
Fatimah tersenyum dan mengeratkan pelukannya, "Insyaallah Adek siap menerima segala takdir Allah, Bang. Adek juga ingin menjadi wanita hebat seperti kak Lyra berjuang demi keselamatan nyawa sang anak walaupun nyawa sendiri taruhannya."
Kata-kata wanita itu seakan membuat hati Yandra ngilu dan sedih, padahal untuk saat ini sang istri sudah berjuang memberi sumber kehidupan pada tiga orang bayi. Yandra hanya mendekap tubuh Fatimah dan mengecup puncak kepalanya berulang kali.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1