
Didalam ruangan operasi Yandra masih setia menemani Fatimah. Beberapa Dokter bedah ortopedi di kerahkan untuk pemasangan pen pada kunci-kunci kaki Fatimah yang mengalami patah.
Empat puluh menit operasi berjalan lancar. Kini Fatimah sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Yandra segera menghubungi Ibu Ida dan juga Mama Anggi.
"Dek, maafkan Abang." Yandra mengusap kepala gadis itu dengan lembut, menyadari kesalahannya tetapi semua yang ia lakukan untuk menjaga perasaan Fatimah, karena Widi datang secara mendadak.
Cklekk!
Pintu ruangan itu terbuka ternyata Mama dan Ibu datang bersamaan. Disana juga terlihat ada Papa dan Ayah, mungkin mereka sengaja datang bersama.
"Apa yang terjadi Yan?" tanya Ibu dan Mama begitu cemas
"Tadi Fatimah ketabrak motor." Yandra menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya sehingga membuat Mama Anggi begitu kesal.
Bugh! Bugh!
Mama Anggi memukul bahu Yandra "Kamu itu kenapa bodoh begini Yandra! kapan kamu mengerti dengan perasaan wanita. Berapa kali Mama mengatakan tolong peka sedikit, kenapa otak kamu itu tidak pintar-pintar?!" Teriak Mama Anggi begitu kesal dengan anaknya itu.
"Ma, sudah dong Ma. Tenanglah kita sedang diruang rawat, ingat Fatimah sedang sakit!" Sergah Papa Malik menahan mama Anggi yang sedang mengamuk putranya.
"Kesal Mama, Pa. Kenapa dia selalu saja menyakiti hati perempuan, kapan dia pintarnya sudah tahu tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Widi tapi kenapa harus berbohong!" omel mama.
Yandra hanya diam tanpa ada bantahan sedikitpun, ia menyadari segala kesalahannya yang mengakibatkan Fatimah celaka.
Sementara itu Ayah dan Ibu hanya diam, mereka tidak ingin menambah keributan lagipula calon besannya itu sudah menasehati putranya. Tidak menutup kemungkinan pula jika ini semua murni kesalahan Yandra, tentu saja banyak sedikitnya Fatimah juga salah, karena terlalu gegabah.
Yandra menatap calon Ibu mertuanya yang sedari tadi hanya memasang wajah datar. Yandra merasa dirinya tidak berguna, belum menikah saja dia sudah menyakiti putri mereka. Apakah mereka akan memberinya kepercayaan itu lagi?
"Bu, Yah, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud menyakiti Fatimah, ini semua diluar dugaanku. Tapi aku mohon Ibu dan ayah percaya bahwa aku tidak ada hubungan apapun lagi dengan Widi," ucapnya meyakinkan kedua orangtua Fatimah
"Nak, sudahlah. Ibu tidak menyalahkan siapapun diantara kalian. Sekarang biarkan Fatimah istirahat dulu!" balas Bu Ida dengan tenang, walaupun dihatinya sangat mencemaskan putrinya
***
Diposisi lain. Yoga baru saja pulang membawa Zahra bersama bayinya untuk tinggal dikediamannya. Yoga tidak mungkin membiarkan mereka pergi tanpa tujuan.
__ADS_1
"Ayo turun, ini rumahku." Zahra turun dengan perlahan sementara bayinya dalam gendongan Yoga.
"Siapa itu Dok. Apakah Ibu sambung Rara?" Celetuk para ibu-ibu kompleks yang sedang belanja sayur.
Yoga dan Zahra saling bertatapan, tetapi mereka tidak menanggapi ucapan para ibu-ibu rumpi. Yoga hanya tersenyum dan segera membawa Zahra masuk kedalam rumahnya.
"Bik, kamarnya sudah di siapkan?" tanya Yoga pada art
"Sudah Den. Semua sudah bibik bersihkan,"
"Baiklah, terimakasih ya Bik. Oya Bik, ini Zahra yang saya ceritakan semalam," ujar Yoga memperkenalkan Zahra pada sang bibik.
"Selamat datang Non Zahra. Jika butuh sesuatu jangan sungkan bilang sama bibik," ucap bibik Nur dengan ramah.
"Terimakasih Bik, panggil nama saya saja Bik," Zahra tidak enak dipanggil seperti majikan. Ia di beri tempat tinggal saja sudah sangat bersyukur.
"Zah, ini kamar kamu. Jika kamu butuh bantuan apapun kamu bisa panggil bibik Nur," ucap Yoga sembari menaruh sang bayi diatas tempat tidur.
"Terimakasih ya Mas,"
"Mas Yoga..." panggil Zahra menghentikan langkahnya
"Maaf, apakah Mas sudah menikah? Apakah mbak sudah tahu kehadiran aku disini. Boleh aku bertemu dengan istrinya mas Yoga? Aku ingin berterima kasih atas segala pertolongan yang mas Yoga berikan, tentu saja itu semua atas izin mbaknya," ujar Zahra tulus
Yoga menatap wanita itu. Dia sepertinya lupa memberitahukan tentang dirinya. "Aku memang sudah pernah menikah, tapi kami sudah bercerai. Aku juga mempunyai seorang putri yang berumur tiga tahun,"
"Ah, maaf ya Mas. Aku benar-benar tidak tahu, apakah putri mas Yoga tinggal disini?"
"Ya, dia ada di sebelah kamarku. Tapi putriku seorang anak berkelainan khusus. Maaf jika nanti kamu merasa tidak nyaman dengan segala kebisingannya," jelas pria itu lagi tak ada yang di tutupi.
"Maaf sekali lagi ya Mas. mungkin aku sudah terlalu lancang untuk banyak bertanya, aku tidak akan pernah merasa terganggu kok Mas. terimakasih sudah memberikan aku tempat tinggal."
Yoga mengangguk dan tersenyum segera keluar untuk menemui Rara. sepertinya Rara sedang tertidur.
Yoga masuk melihat putrinya sedang tertidur pulas dengan sebuah mainan Lego masih di genggamannya. ia mengecup kening dan pipi Rara.
__ADS_1
"Maaf ya Nak, Daddy akhir-akhir ini sering sibuk, tapi Daddy janji nanti kalau waktu senggang Daddy akan membawamu jalan-jalan." Yoga berbaring sembari memeluk Putri kesayangannya itu.
***
Di RS. Fatimah baru saja sadar dari obat bius anestesi, ia mengedarkan pandangannya sekeliling ruangan. Terlihat Mama dan ibu sedang ngobrol di sofa panjang, mereka belum menyadari bahwa Fatimah sudah bangun.
"Bu, Ma," panggilnya dengan suara serak
"Fatimah! kamu sudah bangun,Nak. Alhamdulillah..." ucap Ibu dan Mama
"Bu, apa yang terjadi padaku?" tanyanya bingung
"Tadi kamu ketabrak motor,Nak. Apakah ada yang sakit?" tanya ibu sembari memperbaiki hijab Fatimah yang tidak rapi
Fatimah menggelengkan kepalanya namun ia merasakan kakinya kebas dan terasa kaku Fatimah juga baru mengingat segala kejadian yang mengakibatkan dirinya kecelakaan itu. Ia kembali mengingat bagaimana Widi memeluk Yandra begitu mesranya. Kembali hatinya perih dan sudut matanya mulai panas, tetapi Fatimah berusaha untuk tetap tenang ia tidak ingin Ibu dan Mama merasa khawatir.
"Tapi kenapa kakiku kebas begini?" tanyanya cemas
"Nak, kaki kamu baru saja selesai operasi pemasangan pen, karena kamu mengalami patah tulang," jelas mama dengan wajah sedih
"Apakah aku sudah tidak bisa berjalan normal lagi Ma? apakah aku cacat untuk selamanya?" gadis itu tak kalah cemas
"Ssshh... jangan bicara begitu, itu semua tidak benar. Kamu pasti bisa berjalan normal kembali, kamu hanya butuh pemulihan beberapa minggu."
Mama Anggi kembali menjelaskan karena dia istri seorang dokter dan dia juga pernah bekerja di bidang kesehatan tentu saja dia mengetahui semuanya tindakan yang dilakukan.
Fatimah hanya tersenyum menanggapi ucapan mama, tentu saja dalam hatinya selalu mengucapkan syukur karena Allah masih selalu menjaganya, apa yang dialami sekarang ia anggap bentuk teguran kecil dari Allah.
Saat mereka sedang bicara, Papa dan ayah masuk. "Bagaimana apakah Fatimah sudah sadar?" tanya Papa
"Alhamdulillah udah Pa, tadi Fatimah tanya apakah dia akan cacat. Tentu saja mama jawab tidak, benar 'kan, Pa?" mama Anggi minta pembenaran dari suaminya
"Benar sekali,Nak. Kamu hanya butuh waktu beberapa minggu untuk pemulihan, setelah itu pen bisa dibuka kembali," Papa malik membenarkan segala keterangan istrinya.
"Apakah Fatimah sudah sadar Ma?" tiba-tiba Yandra masuk mendekat pada kerumunan orangtua mereka.
__ADS_1
Bersambung....