Teacher And Doctors Love Story

Teacher And Doctors Love Story
Siapakah pasien suaminya itu?


__ADS_3

Setelah puas mengelilingi pasar terapung, bermacam oleh-oleh, makanan hingga cindera mata yang mereka beli.


"Gimana? Adek senang nggak dengan jalan-jalan ini?" Tanya Yandra sembari menyandarkan kepala Fatimah di dadannya.


"Alhamdulillah Adek seneng banget. Terimakasih ya, Abang sudah belikan oleh-oleh banyak sekali," jawab Fatimah tersenyum manja.


"Sama-sama, Sayang. Mumpung kita lagi liburan begini, Abang sengaja pengen manjain anak dan istri."


Fatimah tersenyum, sembari mengecup pipi Yandra. "Baik banget sih suamiku ini? Semoga Allah memberikan rezeki yang berlimpah."


"Aamiin... Terimakasih do'anya Sayang, Oya, mumpung kita lagi disini. Adek mau permak gigi nggak? soalnya di Thailand ini ada klinik gigi yang bagus."


"Mau dipermak gimana lagi gigi Adek, Bang?"


"Ya, mana tahu Adek pengen bikin model gigi yang lagi ngetrend. Seperti gigi kelinci," ujar Yandra tersenyum lucu


"Hahaha... Nggak ah, udah syukuri saja pemberian Allah. Tapi Adek pengen mempunyai gigi putih seperti gigi Abang, kalau itu sih mau Adek asal tak merubah ciptaan Allah."


"Yaudah besok kita pergi kesana. Ajak Zahra mana tahu dia juga pengen membersihkan kerang gigi juga," jelas Yandra.


"Hmm, baiklah."


Tak berapa lama mobil yang mereka tumpangi sudah tiba di halaman hotel. Yandra membantu Fatimah menurunkan semua barang-barang yang mereka beli tadi.


Saat mereka hendak masuk kamar, mereka berpapasan dengan Yoga dan Zahra.


"Wuih, sepertinya sudah tercium aroma-aroma cinta nih," goda Yoga dan Zahra.


"Has... Iya dong! Nggak enak banget marahan terus, iya 'kan, Sayang?" Tanya Yandra pada Fatimah


Fatimah hanya tersenyum malu dan mengangguk tipis untuk membenarkan ucapan sang suami.


"Kamu dari mana, Fa? Itu bawa apaan kok banyak banget?" Tanya Zahra


"Kami tadi dari pasar terapung! Ini oleh-oleh dan bermacam cinderamata. Juga ada pakaian pokoknya bagus-bagus aku jadi lupa diri lihat yang beginian. Hehe... Maaf ya paksu," ujar Fatimah pada Yandra senyum malu.


"Ya, kamu curang Fa, pergi nggak ngajak-ngajak! Aku kan juga pengen beli oleh-oleh. Ya, kan, Mas?" tanya Zahra pada Yoga sedikit memberengut.

__ADS_1


"Udah tenang saja. Nanti malam kita cari pusat oleh-oleh, lagian kalau kita pergi dengan mereka nggak bisa juga Dek. Pasar terapung itu kan di atas sampan. Kalau Yoga dan Fatimah masih enak, mereka cuma bawa satu anak. Lah kita? Kalau kak Rara sama suster, terus Arfan gimana? Ingat Sayang, kita punya dua tunas, belum lagi ditambah yang ada di dalam ini," ujar Yoga sembari mengelus perut rata Zahra.


"Astaghfirullah! Apaan sih Mas? Nggak usah mikir kesana dulu deh, Arfan masih bayi banget," intrupsi Zahra dengan wajah kesal.


Fatimah dan Yandra ikut tertawa melihat tingkah pasutri itu.


"Benar yang dikatakan Zahra itu, Ga. Kayaknya kamu belum boleh menabur bibit dulu karena Arfan masih kecil. Tapi kalau aku dan Fatimah memang sedang proses, kalau begitu aku dan Fatimah mau bercocok tanam dulu biar bibitnya segera bertunas." Yandra membawa sang istri masuk kedalam kamar.


Yoga hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala, mereka juga masuk kedalam kamar, ia menatap Zahra yang masih cemberut. Namun, Pria itu segera mendekap tubuh sang Istri.


"Udah nggak usah cemberut begitu! Apakah kamu tidak ingin mempunyai keturunan dari aku? Apakah kamu takut jika nanti keturunanku tidak sempurna lagi?" tanya Yoga sendu, tentu saja dia merasa minder karena ia mempunyai seorang anak spesial dari pernikahan pertamanya, itu membuat kepercayaan dirinya sedikit terganggu.


Yoga bukan menyesali dengan kehadiran Putri tercintanya. Tapi dia hanya takut kejadian itu terulang lagi, perpisahannya dan mantan istri dikarenakan hadirnya anak istimewanya itu.


Zahra terkesiap mendengar ucapan sang suami. Padahal sedikitpun ia tak pernah berpikiran seperti itu. Ia hanya belum siap saja untuk mempunyai bayi lagi. Karena sekarang Arfan baru berumur empat bulan.


"Astaghfirullah, Mas. kenapa bicara seperti itu? Demi Allah aku tidak pernah berpikiran kesana. Aku sangat ingin mempunyai anak dari Pria yang aku cintai, tapi tidak sekarang," ujar Zahra kembali memeluk Yoga dari belakang.


"Iya, Dek. Mas, tahu. Maaf ya, seharusnya kita tidak perlu bahas tentang itu dulu," Yoga membuka lilitan tangan Zahra dan merubah posisi menghadap wanita itu.


"Terimakasih ya, kamu sudah sabar merawat kak Rara," ucapnya sembari membawa Zahra dalam dekapannya.


Yoga mengeratkan pelukannya dan memberi kecupan seluruh wajah Zahra tanda terima kasih tak terhingga. Kenapa seorang ibu tiri tulus menyayangi daripada ibu kandungnya sendiri, jangankan untuk menyayangi mengakuinya saja tidak.


***


Setelah sepuluh hari menikmati liburan Kini mereka sudah kembali ke tanah air. Dengan banyaknya membawa bermacam ragam oleh-oleh dari dua negara tetangga yang mereka kunjungi yaitu Singapura dan Thailand.


Fatimah memberikan oleh-oleh itu untuk kedua orangtuanya, dan adik-adiknya, Mama dan Papa, juga seluruh ART yang bekerja di rumah keluarga suaminya itu.


"Dek, hari ini tidak punya kegiatan 'kan?" Tanya Yandra yang sedang mengenakan kemejanya, karena hari ini pertama ia kembali ke RS.


"Tidak ada Bang, rencananya mau kerumah ibu. Emang kenapa Bang?" tanya Fatimah yang membantu mengancingkan kemeja Yandra.


Yandra menatap bibir mungil itu dan mencuri kecupan, dan mendapatkan cubitan dari sang istri. "Nggak usah mesum, setiap hari apa tidak enek?"


"Nggak pernah bosan Dek. hehe..." Yandra mencubit pipi Fatimah dengan gemas.

__ADS_1


"Hari ini temani Abang di RS ya!"


"Ngapain di RS? Abang kan sibuk banget pastinya. Malas ah, nanti Adek hanya bengong nggak ada kegiatan," tolak Fatimah.


"Nanti Adek kan bisa belajar tentang ilmu medis, mana tahu Adek minat untuk kuliah kedokteran juga, kan kita bisa selalu bersama di RS," ujar Yandra.


"Abang pengen Adek jadi dokter juga? Abang mau jika Adek tidak mempunyai waktu lagi untuk Abang dan Yanju?"


"Nggak mau! Yaudah Adek cukup jadi Cikgu aja. Sekarang ayo temani Abang ke RS!"


"Hmm, baiklah."


Setelah masuk ke ruang praktek, Yandra meletakkan bangku besi itu di sampingnya untuk tempat duduk sang istri. Tak ada yang berani berkomentar.


"Sini Dek, duduknya!" Yandra menunjuk kursi yang ada disampingnya.


"Bang, kamu nggak malu dilihatin orang-orang? Hanya kamu dokter yang membawa istri saat praktek begini?" tanya Fatimah sembari berbisik.


Yandra hanya terkekeh menanggapi ucapan sang istri. "Ngapain malu Dek? Kamu kan tidak merecoki Abang. Kecuali kamu pecicilan, naik keatas meja Abang tidak bisa tenang, itu baru buat Abang malu!"


"Ck, apaan sih! Abang kira Adek Tarzan kota apa, sampai segitunya menghayalkan cara pecicilan Adek, sampai naik keatas meja kerja Abang!" Gerutu wanita itu memalingkan muka.


"Hahaha... Kamu ini ya, bisa aja. Padahal Abang nggak mikir kesana! Udah duduk tenang Abang mulai periksa pasien!"


Yandra memberikan file kepada suster untuk memanggil nomor urut antrian pertama.


"Ibu Rania Rahayu?" Panggil perawat


"Ya, saya sus?"


"Silahkan masuk, Bu."


Nampak pasangan suami istri masuk kedalam ruangan dokter. Suster terlebih dahulu menimbang berat badan dan cek tensi.


"Udah nggak usah di tungguin! Sini duduk ada sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan Anda! Nggak usah cemburu, yang periksa istrimu itu suster!" Ujar Yandra pada suami si pasien, Fatimah sedikit heran dengan cara suaminya bicara pada suami pasien itu


Suami pasien itu menatap Yandra dengan tatapan mata malas. Fatimah sedikit penasaran siapakah pasien suaminya itu?

__ADS_1


Bersambung....


Happy reading 🥰


__ADS_2