
Zahra masih membiarkan Yoga untuk melepaskan segala kegundahan hatinya, ia masih setia berada dalam dekapan sang suami hingga Yoga merasa nyaman.
Setelah merasa nyaman Zahra melonggarkan pelukannya, ia merangkum kedua pipi Yoga, dan memberi kecupan lembut di bibirnya.
"Udah? Masih ingin menangis? Atau Mas ingin bercerita?" Tanya Zahra memberi pilihan untuk Yoga agar lepas segala beban pikirannya.
Yoga tidak menjawab ia memberi kecupan serta luma tan pada bibir sang istri yang begitu penuh pengertian itu. Zahra memang cukup muda darinya Tapi sikapnya yang dewasa dan keibuan membuat kadar cinta Pria itu bertambah semakin besar.
"Dek, apa yang harus aku lakukan? Jujur aku tidak tahu harus berbuat apa, perasaanku begitu sakit," jelas Yoga meminta pendapat kepada Zahra tentang masalahnya.
Zahra menggenggam tangan Yoga dengan lembut, "Mas, berdamailah dengan keadaan. Karena apa yang terjadi di masalalu dan saat ini, bagian garisan dari Allah. Semakin kamu menolaknya maka kamu akan semakin merasakan sakit, Semua orang mempunyai masalalu yang pahit, dan Mama pasti mempunyai alasan tersendiri mengapa dia melakukan hal itu. Jangan membenci, Mas, karena dia adalah ibu yang telah melahirkan kamu. Itu tak bisa dipungkiri.
"Meskipun Mama tak mengasuh dan membesarkan kamu, tapi kamu tak bisa mengingkari bahwa di tubuhmu mengalir darah Mama, kamu akan tetap berhutang Budi dengan segala pengorbanannya saat melahirkan kamu ke dunia ini."
"Dek, kenapa kamu begitu tulus? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu takut untuk masuk di keluarga itu lagi." Yoga masih tak percaya dengan segala yang di ucapkan oleh sang istri, padahal dia tahu kecemasannya.
__ADS_1
"Ya, aku memang takut untuk masuk di keluarga itu lagi, tapi aku tidak bisa mengingkari takdir dan realita yang ada. Sekuat apapun aku lari dari kenyataan tetapi tak merubahnya. Kamu tetap anak dari Mama Runi, jadi aku berusaha untuk menerima, tak mengapa jika Mama membenciku asalkan kamu tak berubah, bila suatu saat pun kamu tak menginginkan aku lagi, aku ikhlas Mas."
Yoga segera meraih tubuh ramping itu dan mendekapnya dengan posesif. Mana mungkin ia mampu untuk menyingkirkan wanita yang sungguh sangat berarti dalam hidupnya.
"Apapun yang terjadi kamu adalah prioritas aku, Dek. Aku tidak akan pernah berubah apalagi sampai harus meninggalkan kamu dan anak-anak kita. Aku sangat mencintai kamu, tetaplah selalu berada disampingku."
Zahra tersenyum lega mendengar ucapan sang suami, "Terimakasih Mas, terimakasih telah menerimaku dengan tulus." Zahra mengeratkan pelukannya.
***
Fatimah menerima uluran tangan Yandra dan menyalami dengan takzim, lalu Yandra menghadiahi sebuah kecupan di keningnya.
"Capek, Sayang?" Tanya Yandra pada Fatimah yang telah menduduki bangku disampingnya.
"Nggak, biasa saja Bang."
__ADS_1
"Adek pengen sesuatu?" Tanya Yandra penuh perhatian sembari mengusap kepala Fatimah dengan lembut.
"Pengen tidur," jawab Fatimah sayu. Memang kehamilan Fatimah sedikit berbeda, ia lebih suka tidur bawaan matanya mengantuk saja.
"Baiklah, siang ini kita tidur di suatu tempat," balas Yandra tersenyum kecil.
"Di suatu tempat?" Tanya Fatimah tidak mengerti.
"Iya, udah kamu tidur saja dulu, nanti kalau sudah sampai Abang bangunin."
Fatimah hanya mengangguk kecil meskipun masih penasaran sang suami mau membawanya kemana. Tidak berapa lama wanita hamil itu sudah tertidur pulas. Yandra tidak ingin mengganggu ia hanya mengukir senyum melihat tingkah istrinya itu.
Bersambung....
Happy reading 🥰
__ADS_1