
Kini hanya ada Yandra dan Fatimah berada di ruang rawat. Sementara itu Papa Malik dan Mama Anggi membawa kedua orangtua Fatimah untuk makan malam di luar. Mereka sengaja memberikan waktu untuk menyelesaikan kesalahpahaman Yandra dan Fatimah.
"Dek, Abang minta maaf ya!"
Tak ada tanggapan, Fatimah masih diam berbaring mengarah ke dinding membelakangi Yandra.
Yandra menghela nafas dalam. Rasanya nggak enak banget di cuekin. Harus lebih sabar lagi. Ini memang salahku
"Dek, jangan diam aja dong, jangan dibiasakan kalau Abang lagi ngomong di kasih punggung begini. Besok udah nikah kebawa-bawa lho," ujarnya menasehati
Fatimah membalikkan tubuhnya menghadap pada Yandra yang duduk di kursi samping ranjang.
"Abang yakin ingin meneruskan pernikahan kita?"
"Yakin banget Dek," jawabnya semangat
"Tapi aku yang tidak yakin sekarang Bang. Abang memintaku agar menjaga sikap agar tak terbawa setelah menikah, tapi seorang pembohong apakah akan terbawa-bawa juga setelah menikah? balas Fatimah tajam
"Dek, Abang minta maaf atas segala kesalahanku, tapi semua yang kamu lihat tidak seperti yang kamu bayangkan!"
"Benarkah? Tapi untuk apa kalian bertemu di tempat tertutup seperti itu? Adakah orang yang percaya bahwa Kalian memang tidak ada hubungan apa-apa? Jika memang Abang dan Widi tidak ada hubungan lagi, kenapa bicaranya tidak di tempat yang terbuka. Dan kenapa harus menggunakan ruang privat?!" Gadis itu meninggikan suaranya, rasa kesal yang sedari tadi ia tahan terkemuka kan juga
"Fa, bisa nggak diturunkan nada bicaranya?" protes Pria itu merasa tidak nyaman
"Kenapa? Apakah Abang merasa muak mendengarnya? Mungkin Widi lebih lemah lembut bicaranya. Silahkan Abang pilih dia aku sudah tidak peduli!" ujar Fatimah kembali memunggungi
"Fatimah, aku tidak tahu soal ruangan itu. Karena yang meminta aku datang ke Cafe itu Widi, awalnya aku mengira kami memang akan bicara di tempat biasa namun saat aku sampai, dia memberitahuku telah memesan ruang privat room," ujarnya berusaha untuk menjelaskan
Fatimah hanya diam tidak membalas ucapan Yandra lagi. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu, apakah dia mencoba untuk mempercayai ucapan Yandra?
"Baiklah, aku sudah menjelaskan semuanya. Tidak ada lagi yang aku tutupi. Jika kamu melihat Widi memelukku, itu hanya inisatif nya sendiri. Aku tidak pernah membalasnya, aku menemuinya hanya untuk menegaskan bahwa keputusanku sudah bulat untuk memilih kamu agar dia dapat menerima kenyataan itu. Kini terserah padamu, yang penting aku sudah jujur!"
Setelah menjelaskan panjang lebar, Yandra meninggalkan Fatimah sendiri di ruangannya. Sepertinya dia harus cari angin untuk menyejukkan hatinya yang terasa panas, dan otaknya yang kacau.
"Van, dimana kamu? temui aku sekarang di taman RS!" ujarnya menutup telepon secara sepihak
Yandra duduk di bangku taman RS. kepalanya benar-benar mumet memikirkan kelanjutan hubungannya dan Fatimah. Apakah ucapan gadis itu benar jika dia sudah ragu untuk membina rumah tangga dengannya.
__ADS_1
"Ngapain kamu malam-malam begini ingin bertemu denganku? ada urusan penting?" tanya Evan kurang senang sembari duduk di sisi bos nya itu
"Ya, penting banget!" balas Yandra ketus
"Apa?"
"Kamu punya solusi nggak' agar seseorang kembali percaya pada kita?" tanya Pria itu serius
Evan menatap Yandra dengan senyum tertahan. "Kenapa? apakah Fatimah tidak mau memaafkan kamu? makanya jadi cowok tu harus lebih terbuka, jika kita sudah berkomitmen untuk melangkah ke jenjang lebih serius dengan seseorang, maka jangan pernah menganggap masalalu kita bisa diselesaikan oleh kita sendiri," ujar Evan mendadak jadi serius
"Tapi semua yang aku lakukan itu untuk menjaga perasaannya!" ujarnya tak mau di salahkan
"Yayan, kamu dengar ya Abang mu ini bicara!"
"Eh, bisa serius panggil nama aku nggak!" protesnya tak terima
"Ah, ya. Maksud aku gini Bos. Menurut wanita, masalalu orang yang dia cintai itu sangatlah menjadi momok menakutkan. Karena itu kita sebagai lelaki di tuntut lebih jeli lagi memahami perasaannya. Wanita itu tidak butuh omongan tapi dia butuh pembuktian, maka untuk menghilangkan rasa curiganya alangkah baiknya kamu mengikut sertakan dirinya saat kamu sedang bicara dengan Widi,"
"Kalau soalnya itu aku mana tahu. Lagian kenapa kamu baru ngomongnya sekarang? seharusnya kamu ngomong dari kemaren-kemaren agar kejadiannya nggak begini!" Lagi-lagi sikutub membuat orang serba salah
"Terus kejadian ini semua karena kesalahan aku, Bos?" tanya Evan jengah
"Kalau soal itu kamu harus usaha sendiri amang tahe!" ujar Evan geram
"Hah! payah banget kamu jadi temen. Nggak bisa diandelin sedikitpun!" omel Yandra segera beranjak
"Eh, mau kemana kamu?" tanya Evan tersenyum
"Ke atas! kesel samamu keong!" gerutu Yandra
Evan memandangi punggung sahabatnya itu menjauh, dia tersenyum. "Sorry kawan, kamu harus bisa memecahkan masalahmu sendiri agar tak menjadi manusia kaku."
***
Pagi ini dikediaman Dr Yoga. Seperti biasanya sebelum berangkat ke RS, Yoga menyuapkan Rara sarapan. Gadis kecil itu hanya bisa duduk tapi belum bisa berjalan, dokter bilang kemungkinan untuk berjalan tipis, karena Rara terkena cerebral palsi Hemiplegia ada satu bagian tubuh terpengaruh menyebabkan penderita sulit untuk berjalan.
Rara mengoceh begitu riuh, suaranya yang nyaring membuat bayinya Zahra terbangun dan menangis.
__ADS_1
"Sayang, suaranya dipelan kan dong. Denger tuh Adek bayi kebangun karena denger suara kak Rara," ujar Yoga menasehati Rara agar tidak terlalu ribut. Namun anak kecil itu malah tertawa kegirangan menanggapi ucapan sang Daddy.
"Bik, Zahra sudah diantarkan sarapan?" tanya Yoga pada art yang sedang menuangkan susu dalam gelas untuk Rara
"Sudah Den," jawab bik Nur
"Bik, tolong carikan orang yang mau bekerja di rumah ini untuk membantu Bibik, karena saya lihat Bibik sangat kerepotan ditambah lagi harus ngebantuin Zahra," pinta Yoga
"Baik den Yoga, nanti Bibik coba tanyain saudara yang ada di kampung,"
"Bagus kalau begitu. Yasudah saya pergi dulu jika ada sesuatu jangan lupa kabari saya, Bik,"
Yoga segera berangkat ke RS. Dia tidak berpamitan dengan Zahra karena wanita itu sedang repot dengan bayinya, entah kenapa Yoga tidak mau terlalu dekat dengan wanita lain, dihatinya masih ada Fatimah.
Setelah Yoga pergi. Zahra keluar menggendong bayinya yang baru selesai dimandikan. Ia melihat Bibik yang bersiap mengantarkan Rara ke dalam kamar dengan mendorong kursi roda gadis kecil itu.
"Loh, Mbak Zahra udah bisa jalan. Itu bayinya sudah dimandikan? kenapa nggak tungguin Bibik saja," ucap bibik heran karena Zahra sudah bisa memandikan bayinya padahal dia baru tiga hari selesai melahirkan.
"Alhamdulillah saya sudah bisa memandikannya dengan perlahan Bik, lagian saya tahu Bibik sangat repot. Hai, siapa nama kamu cantik?" Zahra mendekati kursi roda Rara
"Nama saya Rara, tante Zahra!" Bibik nur membantu menjawab
"Hai kak Rara, salam kenal ya dari adek Arfan," ujar Zahra memperkenalkan bayinya pada Rara yang selalu tersenyum riang saat dibawa bicara oleh siapapun.
Lama Zahra mengamati gadis itu, dan mengelus wajah Rara dengan sayang. "Dimana kamar Rara Bik?"
"Itu Mbak, yang sebelahnya lagi kamar den Yoga," tunjuk Bibik kepada dua kamar yang bergandengan
Ngomong-ngomong Yoga, kemana orang itu kenapa Zahra tidak melihatnya. Akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk bertanya meski sungkan.
"Mas Yoga kemana,Bik? apakah belum bangun?"
"Den Yoga baru saja pergi ke RS, Mbak."
"Oh." hanya itu yang keluar dari bibir Zahra. Dia tidak perlu kecewa karena Yoga bukan siapa-siapanya
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya 🙏🤗
Happy reading 🥰