
"Calista, Tuan Nathan menyuruh mu mengantarkan kopi dan cemilan untuknya, ini silahkan diantar," ucap seorang Koki yang memang sering menyempatkan dirinya selalu membuatkan makanan untuk Bos setiap datang disana.
"Yaampun kenapa malah aku, ya sudah lah sini biar aku antar," ucap Calista ingin membatah lagi tapi sikapnya yang seperti itu tidak mungkin ia perlihatkan kepada semua yang ada disana.
Calista pun membawakan napan yang berisi kopi dan cemilan keruangan Nathan dengan menggunakan lift.
Saat Calista sampai didepan pintu ruangan Nathan ternyata pintunya tidak ditutup, Calista bisa melihat ruangan itu namun sepertinya tidak melihat sosok seorang Nathan disana.
Calista mendekati pintu dan memasuki ruangan Bosnya, ia melihat sekelilingnya karena disana tak ada orang ia temukan, segera meletakan napan diatas meja dan ingin segera enyah dari sana sebelum ia bertemu dengan Nathan.
"Apakah ada yang menyuruhmu pergi?" suara serak full bas terdengar menghentikan langkah kaki Calista.
Calista menoleh kebelakang dan mendapati Nathan tengah duduk di kursinya, ia heran tadinya tak seorang pun disana tapi kenapa tiba tiba Bos gila itu sudah ada disana.
"Ada apa lagi sih," ucap Calista memberanikan diri padahal perasaannya sudah tidak enak.
"Aku ingin kamu berada disini sebelum kopi dan cemilanku ini habis," balasnya berdiri dari tempat duduknya menghampiri Calista yang tengah berdiri dibalik mejanya.
"Pekerjaan ku masih banyak tolong jangan halangi aku," sahut Calista sama sekali tidak takut atau menyegani Nathan sebagai Bos pemilik Restoran itu.
"Aku suruh tetap disini, jangan membatah," Nathan masih bersikeras menghalangi Calista untuk tetap berada disana.
"Tuan Nathan yang terhormat, jika anda tak ingin aku bekerja di Restoran milikmu jangan malah menyiksa ku, lebih baik katakan biar aku keluar dari Restoranmu! Ucap Calista berkata dengan sepenuh hati karena merasa muak dengan sikap Nathan yang satu hari ini menyiksanya seperti pembantu.
"Aku belum mengatakan yang seperti itu, malah aku memintamu tetap disini diruanganku," balas Nathan meraih gelas kopinya.
Calista dengan kesalnya ia memutar bola matanya dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Nathan menatapnya dengan sorot mata tajam dan senyuman menggoda dibibirnya.
"Tidak usah memandangiku seperti itu, aku bukan makananmu," ucap Calista merinding serem sekali rasanya ia seperti mangsa didepan Singa.
"Hahah aku tidak sejahat itu santai saja, lagian mana mungkin aku memakanmu," balasnya malah tertawa lucu mendengar kata Calista.
"Jadi apa yang kamu inginkan, dengan menahanku disini berarti kamu butuh sesuatu dariku," balas Calista dengan suara lembut dan tengah berbisik mulai melakukan aksinya.
Ia berjalan mendekati meja dimana Nathan menyandarkan bokongnya dibibir meja itu.
Nathan dengan cepat memperbaiki posisinya berdiri tegap saat Calista mendekatinya dengan jarak sejengkal.
__ADS_1
Dengan senyuman menggoda juga Calista melakukannya, matanya menatap kedalam bola mata warna coklat milik Nathan, dan
DEG!
(Detak jantung Nathan berdetak kencang)
Nathan memundurkan tubuhnya sedikit kebelakang karena posisi Calista yang sangat intim ia dapat merasakan hembusan nafas Calista diwajahnya.
"Kenapa malah diam?" bisik Calista dengan suara berat dan serak mendekati bibirnya di daun telinga Nathan.
Seketika itu Nathan merasakan bulu tangannya merinding rasanya hantu sedang melewati tubuhnya.
"Tolong jangan macam macam," balasnya memberanikan diri namun ia menutup matanya melawan rasa ngeri merindingnya.
"Kenapa, bukankah ini kamu suka?" pancing Calista kembali berbisik sambil membelai dada bidangnya yang empuk bagaikan bantalan.
"Stop Calista jangan coba menggodaku," dengan penuh keberaniannya ia memegang pergelangan tangan Calista untuk menahan jari jari nakal Calista yang mulai menggelitik dadanya.
"Hahaha, aku baru menyadari bahwa kamu bukan pria normal! Ucap Calista menarik paksa tangannya dalam genggaman Nathan dan tertawa keras sambil menghina Nathan.
Nathan terdiam sembari mengatur pernapasannya, detak jantungnya yang berdetak kencang perlahan mulai stabil saat ia menarik nafas dalam dalam dan mengeluarkannya dengan pelan.
Calista menang dalam hal ini, ia adalah wanita pertama yang berani membelai tubuhnya yang intim.
"Jangan memancing ku untuk membuktikan jika aku ini adalah pria normal, aku bisa membuatmu kenjang kenjang," jawabnya santai setelah Calista sedikit menjauh di hadapannya.
"Aku ingin kamu membuktikannya," pancing Calista agar pria ini mati kutu dibuatnya, agar mulutnya sedikit tenang dan berhenti mengganggunya.
Nathan tersenyum licik tau apa maksud Calista, ia juga tak mudah terjebak di hal itu.
"Jangan memintaku, atau kamu tau akibatnya," balas Nathan, kembali mendekati Calista ia juga melakukan persis yang dilakukan Calista padanya.
Calista terdiam saat Nathan semakin mendekatinya, tubuh besarnya seperti menyelimuti tubuh Calista.
"Kenapa diam? Bisiknya membungkukan tubuhnya sedikit karena tubuh Calista yang pendek.
"Iyah aku menunggu aksimu," balas Calista menantang nya karena ia yakin Nathan tidak akan berani kasar padanya.
"Hahaha nyalimu besar juga," ucapnya lagi melangkah lebih dekat sehingga tak ada jarak diantara mereka.
__ADS_1
Calista sebenarnya deg degan saat didekati seperti itu lagi pula sebelumnya Calista memang tak pernah berpacaran namun untuk membuat kapok sipria gila itu ia harus memberanikan diri.
Ia mengangkat wajahnya menatap mata Nathan dengan berani tak sedikit pun mengedipkannya.
"Berani juga nih cewek" batin Nathan saat mereka saling memandang.
satu menit mereka bertahan dengan posisi seperti itu, karena Calista tau tak akan ada perlakuan kasar yang akan dilakukan Nathan, dengan kuat ia mendorong dada bidang Nathan.
"Baru kali ini aku melihat cowok diberi kesempatan tapi tidak punya reaksi, hahah!" ucap Calista dengan suara nakalnya menertawakan si Bos gilanya.
Nathan tersenyum jijik mendengar ucapan Calista, berbalik badan menghampiri kursi kebesarannya.
Ia meraih gelas kopinya dan meneguknya.
"Aku masih bisa menghargai wanita, jangan kamu samakan aku dengan pria bejat yang pernah kamu temukan," balas Nathan santai mengangkat satu kakinya dan melipatnya dikaki bawahnya.
"Cuih, mana ada pria normal tidak tergiur dengan wanita? Lagi lagi Calista memancingnya, ia ingin tau sejauh mana pria gila itu bertahan dengan kata katanya.
"Jangan menyebutku pria tidak normal, aku akan membuktikannya padamu diwaktu yang tepat," balasnya mengambil cemilannya dan memakannya.
Calista melangkah menghampiri samping kursi yang di duduki Nathan.
"Buktikan jangan hanya besar mulutmu, atau tidak aku yang akan memperkosamu," ucap Calista mengancam, dengan menaikan satu kakinya diatas kaki Nathan dan memperlihatkan pahanya yang putih dan mulus.
Nathan memegangi kakinya dan menuruninya pelan.
"Dasar wanita sadis," balasnya kapok tak tau harus berkata kata apa lagi.
Calista yang tidak takut sama sekali padanya, ia merasa tertegun salut dengan wanita seperti Calista. Sepertinya ia telah menemukan sok sok wanita yang selama ini ia inginkan, ia suka sikap wanita pemberani seperti ini, dan suka dengan wanita yang menantang bukan yang ditantang.
Calista dengan kasar berbalik melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan itu ia menarik pintu dan membanting nya kuat.
Nathan yang tidak menyadari dengan perlakuan Calista, ia kaget dan menelan ludahnya.
"Dasar wanita jadi jadian," gerutunya bergidik ngeri, ia mengelus dadanya seraya mengatur nafasnya.
......................
...----------------...
__ADS_1
BERSAMBUNG...