Teman Hidupku

Teman Hidupku
Akhirnya Raysa Tidak Jomblo Lagi


__ADS_3

" Kita mau kemana kak Radit?" tanya Raysa malu malu, ia berdiri menunggu Chef Radit yang sedang mengambil motor Klasik modern miliknya di parkiran.


" Kemana yang kamu suka?" sahutnya seraya menyerahkan helm untuk Raysa. "Aku mana tahu, tidak pernah jalan jalan disini soalnya," jawab Raysa memasang helmnya.


"Ya sudah kamu naik dulu, nanti kamu tahu kita kemana," Radit menyalakan mesin motornya menunggu Raysa naik. Dengan pelan dan malu malu Raysa naik di atas motor, duduk dengan jarak yang agak berjauhan sedikit dari Chef Radit.


"Pegang tidak usah malu, nanti kamu jatuh aku yang jadi susah," ucap Chef Radit menoleh sedikit kebelakang untuk memastikan Raysa. "Ohh iyah, sudah ayo jalan," sahut Raysa dengan gugup memegang kedua sisi pinggang Chef Radit.


Radit menunduk untuk melihat tangan Raysa memegangi pinggangnya, ia tersenyum seraya melajukan motornya.


...----------------...


Sepenjang perjalanan Raysa dan Radit terdiam tanpa sepatah kata pun terucap, Chef Radit kelihatan sedikit gugup karena baru pertama kali ini bareng dengan Raysa.


Radit membawanya disebuah Cafe tapi bukan disebuah ruangan melainkan ditempat terbuka didepannya ada pemandangan lautan yang indah dan suara ombak yang bising serta hembusan angin yang membuat kesejukan.


Kali ini Raysa baru melihat pemandangan yang luar biasa indah yang tidak pernah ia kunjungi di Kota itu.


"Ayo kita duduk disana," ajak Radit menyadarkan Raysa yang tengah mematung menatap sekeliling pemandangan indah itu.


"Ahh baik kak Radit, ini aku letakan dimana?" jawab Raysa melepaskan helmnya. Radit tersenyum seraya mengambil helmnya dan meletakannya diatas motor.


Karena Raysa yang terlihat ragu ragu, Radit memberanikan diri untuk menggandeng tangan Raysa menuntunnya di meja yang sangat berdekatan dengan batasan laut.


Raysa luluh mengikuti Radit tanpa menolak tangannya digenggam.


"Kamu kenapa diam saja Sa?" ucap Radit menoleh kearahnya yang berjalan berpapasan bersama. "Tidak apa apa kak, aku hanya menikmati tempat ini doang," alasan yang sangat masuk akal jawaban yang diberikan Raysa.


Radit mengangguk kedua bola matanya tak lepas memandangi wajah cantik Raysa.


Silahkan duduk," ucapnya menarik kursi untuk Raysa. " Makasih kak Radit," balas Raysa mengangguk dan tersenyum padanya. "Tunggu disini aku akan memesan makanan untuk kita," Radit meninggalkan Raysa sementara untuk memesan makanan dan minuman mereka untuk sekedar menemani obrolan mereka nanti disana.

__ADS_1


Mata Raysa tak lepas dari sekeliling disana, angin yang menerpa mengantarkan hawa dingin. Raysa memeluk kedua lengannya dengan telapak tangan dan jari jarinya, rasa dingin menembus dalam kulitnya sehingga ia merinding.


" Kamu kenapa, apa kedinginan?" seru Radit menghampirinya dan memperhatikan Raysa dari jauh. "Ahh tidak, hanya karena anginnya saja terlalu kencang," jawab Raysa tersentak dengan suara Radit yang tiba tiba saja ada dibelakangnya.


"Ya sudah pakai jaketku," ucapnya membuka jaketnya dan memberikannya kepada Raysa. " Tidak apa apa aku pakai?" tanya Raysa ragu siapa tahu Radit tidak suka Raysa mengenakannya.


"Kalau tidak aku kasih tidak mungkin aku menawarkanmu, sudah lah pakai saja kasihan kamu masuk angin," jawabnya kembali duduk berhadapan dengan Raysa hanya meja yang membatasi mereka.


Tak lama setelahnya seorang pelayan dengan napan ditangan dan dengan hidangan simple dan minuman tersaji diatasnya.


"Silakan kak," ucap pelayan itu meletakan semuanya diatas meja," Makasih yah," balas Raysa tersenyum kearah pelayan itu.


Pelayan mengangguk seraya meninggalkan mereka bersama hidangan yang tersaji disana.


Radit menggeser piring yang berisi makanan dan piring kosong untuk Raysa dengan pelan dan senyum.


"Ayo dimakan Sa," ucapnya. "Iyah kak Radit thank's yah," balas Raysa mengambilnya sendiri.


"Kamu tidak apa apa jalan samaku, apa pacarmu tidak marah?" tanya Radit tiba tiba saja membuat Raysa berhenti dengan kegiatannya. "Hem aku belum punya pacar, tidak ada yang akan marah," balasnya tersenyum kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Maksud kakak," Raysa malah berlagak bodoh pura pura tidak mengerti dengan ucapan Radit padanya. " Ehm, apa kamu terima jika aku katakan aku suka dan aku ingin jadi pacarmu," ucap Radit sekali lagi dengan suara mantap memandang kearah Raysa dengan serius.


Raysa seketika terdiam mulutnya berhenti mengunyah makanannya memandang dengan bisu wajah Radit, seakan yang ia dengar barusan hanya lah sebuah lelucon dari Radit saja.


"Aku serius Raysa, jangan anggap aku sedang becanda," Radit mencoba meyakinkan Raysa, sendok dan garpunya ia letakan diatas piring dan menarik pelan kedua tangan Raysa.


"Aku butuh jawabanmu, jangan diam," mencoba memancing Raysa dan menunggu apa jawabannya.


Tangan Raysa dalam genggamannya sangat dingin dan berkeringat, Radit menyadari jika Raysa tengah gugup dan pastinya jantungnya pasti berdetak hebat saat ini.


"Ehmm gimana yah," ucap Raysa melepas genggaman tangan Radit dengan pelan dan memalingkan wajahnya kearah yang lain.

__ADS_1


"Kalau tidak mau jangan dipaksa, aku juga tidak memaksamu menerimaku," sahut Radit melihat Raysa tidak menjawab apa apa. Ia menjadi ragu apakah Calista membohonginya untuk sekedar melepas diri karena Radit pernah mengungkapkan perasaan padanya.


"Ahmm bukan gitu kak, aduh hmm aku mau terima kak Radit tapi aku harap ini bukan sekedar mainan aku juga butuh keseriusan kak Radit," balas Raysa menarik nafasnya sebelum memberi jawaban kepada Radit.


Radit tersenyum dan kembali menggenggam kedua tangan Raysa. "Aku janji Sa, lagian aku ini bukan anak remaja lagi yang masih bermain main dalam cinta, aku ini sudah dewasa tujuanku untuk mencari cinta sejatiku untuk kujadikan teman hidup," Radit meyakinkan bahwa semua kata katanya bukan sekedar manis dimulut saja tapi ada keseriusan dalam hati tujuannya untuk menghalali Raysa, mengingat umurnya yang hampir menginjak kepala tiga.


"Aku percaya sama kak Radit, dan aku harap hubungan kita nanti segera diketahui orangtuaku," Raysa malah berbeda dengan Calista, ia menjalin hubungan dengan pria untuk diketahui oleh orang tuanya bukan malah menyembunyikan.


"Besok atau lusa, kita coba hubungi orang tuamu aku juga ingin melamarmu secepatnya," balas Radit emang serius dan apa adanya.


"Kak Radit mau melamarku?" Raysa malah tertawa lucu mendengar ia dilamar dalam waktu dekat oleh Radit, rasanya tak masuk akal karena ia juga saat ini masih kuliah. "Iyah kita tunangan, nanti setelah kamu tamat kuliah kita menikah,"


Radit tersenyum dan mencium kedua punggung tangan Raysa, sekarang hatinya tenang dengan jawaban Raysa yang sangat memuaskannya.


Tak lain Raysa juga merasa sangat bahagia malam ini, ternyata yang selalu ia angan dan impikan kini telah terwujut, pacaran, tunangan dan menikah kepada Chef adalah satu hal yang sangat istimewa baginya.


"Ya sudah ayo makan, biarkan aku menyuapimu," Radit kembali mengingat dengan makanan mereka setelah membahas tentang isi hati yang sudah lama di pendam.


Raysa mengangguk tanpa ragu menerima suapan dari Radit. "Kapan kapan kita masak bersama," ajaknya, mencubit pipi Raysa dengan gemes.


"Ajak aku kerumah kak Radit untuk masak disana," balas Raysa ingin tahu lebih dalam atau ingin sekali menjalin hubungan kepada keluarga Radit bukan hanya kepada Radit saja.


"Tentu, aku akan memperkenalkanmu pada orang tuaku dan saudaraku," Radit bisa menebak ucapan Raysa dengan cepat ia menanggapi.


Raysa kembali mengangguk dan mencoba ikut menyuap makanan untuk Radit.


Dengan penuh cinta dan romantis dimalam itu, suasana yang tadinya dingin menjadi hangat karena kedua insan yang saling jatuh cinta dan merasakan kebahagiaan.


...****************...


......................

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG...


__ADS_2