Teman Hidupku

Teman Hidupku
Steven Kepoin Calista


__ADS_3

Steven dalam beberapa minggu ini terus memantau Calista, dan sangat penasaran dengan Nathan, apa betul itu suaminya atau hanya sekedar ia akui karena Steven kembali minta maaf padanya.


"Raysa, aku ingin menanyakan sesuatu padamu," ucap Steven yang melihat Raysa tengah bersantai sendiri di teras kampus. " Apa?" jawabnya singkat terlihat cuek kepada Steven. "Apa benar Calista sudah menikah?" Masih dalam keadaan ragu dan tidak percaya, Steven terlihat sangat menyedihkan.


"Kepo banget, emang apa urusanmu?" Raysa malah menyahutinya seperti memanasin dan tidak ingin memberitahu. " Aku ingin memastikan, sebenarnya ingin balikan padanya," jawabnya dengan suara terbata bata memberanikan diri untuk tidak gengsi, siapa tahu Raysa membantunya


Rayasa tersenyum kecut seakan menghinanya. " Bukan nya kamu tidak memenginginkan Calista?" sahut Raysa menjadi membuat dirinya tidak nyaman mendengar kata kata Steven


"Aku salah dan aku menyadari, jika Calista memberiku kesempatan kedua maka aku akan memperbaikinya," balasnya, masih tidak mau menghiraukan kata kata Raysa padanya.


"Sepertinya kamu sudah terlambat!" ucap Raysa santai. " Maksud kamu apa?" Steven mengerutkan keningnya semakin membuatnya bingung. "Calista emang sudah menikah, kesempatan kedua telah usai untukmu," sahut Raysa dengan raut wajah sadis, berdiri dari duduknya enyah dari hadapan Steven.


Ucapan Raysa barusan membuat jantung Steven berdetak kencang, pikirannya jadi kacau dan serasa tumbuh penyesalan yang terlalu dalam.


Ia menatap nanar punggung Raysa yang telah pergi meninggalkannya disana. Perkataan itu seperti petir yang menyambar di sekujur tubuh nya.


Kecewa, menyesal, marah dan kesal tengah Steven rasakan saat ini.


Ia meraih ponsel dari sakunya dan membuka. Seteven mencoba intip tentang Calista di media sosialnya, ternyata selama ini tidak pernah ia perhatikan tentang foto foto pernikahan Calista yang tengah beredar.


Matanya melotot tak percaya melihat foto Calista tengah memakai gaun pengantin bersama Nathan.


"Akkhhhh Sial! Benara benar kamu menghianatiku Calista," gerutunya menatap dengan aura pembunuh melihat foto itu.


Malah kesalahan ini seolah olah ia lontarkan kepada Calista, ia seakan menuduh Calista yang menghianati dan mencapakannya.


Benar, tiga bulan yang lalu itu ia selingkuh dan terang terangan di hadapan Calista tentang perselingkuhannya kepada wanita lain.


Namun selama itu ia belum memutuskan Calista, hubungan renggang dan saling menjauh tetapi di dalamnya tak ada terdengar kata putus.


Sekarang hati Steven ingin kembali, ia pikir perasaan dan cinta Calista sama seperti yang di budayakan di Kotanya, sebesar apa pun kesalahannya maka pasangan tetap memaafkannya.


Tapi ia salah Calista malah berbeda, ia tulus dan setia dalam hubungan percintaan. Karena Steven menyelingkuhinya ia berpaling ke hati yang lain.


Disini siapa yang benar dan yang salah coba? Yang pantas di sakiti siapa, Calista atau Steven?.

__ADS_1


Buat teman teman silahkan di komentar dan di like, juga ikuti terus kisah ceritanya. Jangan lupa vote, subscriber dukungan besar mu Author butuh.


😘😘😘


......................


Lanjut!


Singkat cerita.


Steven dengan lesu berjalan, tanpa ada ekspresi. Wajah tampannya menjadi dingin dan semangatnya pun pudar.


Otak dan pikirannya dipenuhi oleh Calista, ia berandai andai bila Calista mau bersama nya lagi ia berjanji akan menyayangi dan mencintai Calista, tak akan mau berselingkuh dan mendua.


Sebenarnya dulu ia benar mencitai Calista, tapi hasratnya yang tak bisa membuatnya bertahan saat itu, ia pikir wanita sama saja di dunia ini. Bermain dalam cinta dan dibarengi dengan mengorbankan tubuh dan jiwa raganya.


Tapi Calista No! Ia adalah wanita yang tidak mau kehilangan martabatnya sebagai wanita sebelum lelaki yang tulus mencintainya mengajak nya diatas Altar dengan menyebut janji suci di hadapan orang tua dan Tuhannya.


Jadi buat Steven lain kali kalau mengajak wanita pacaran jangan ada OMES sebelum sah menjadi suami istri. Warning!" 😁😁😁😁


Sebenarnya pria kuat tidak pernah menangis, tapi mungkin karena ketulusannya kepada wanitanya ia tidak menahan jika air mata itu jatuh menetesin di pipinya.


Tapi salah siapa sih? Calista juga pernah merasakan sesakit yang pernah Steven rasakan. Ia juga pernah tidak berselera makan, minum, dan tidak ingin pergi dari rumah dalam waktu yang lama. Kamu rasain juga kan sekarang, sakit kan? Makanya jangan suka menyakiti wanita.


Ibaratnya kamu meninggalkan emas demi sebuah perak begitulah Calista, dimata pria lain dia itu bagaikan emas yang bersinar jadi jangan salah kan dia bila di luar sana masih banyak yang menginginkan Cintanya. (Kata kata mutiara untuk Steven) 😂😂😂


......................


Siang itu ia terlihat tidak baik baik saja, ia terluka dan tak ada obat yang bisa menyembuhkan selain Calista.


Dengan nyali yang berani, Steven menghubungi Calista.


Satu


Dua

__ADS_1


Tiga


Panggilan masuk namun tak ada sahutan. Steven tidak putus asa, ia mengirim pesan untuk Calista agar telfonnya di angkat, ia ingin berbicara tentang rasa sakitnya yang pernah ia buat.


Sementara Calista sedang bersenang senang kepada pria yang telah menjadi suaminya tanpa memikirkan perasaan Steven yang sekarang.


"Sayang ponselmu bunyi sedari tadi," bisik Nathan ditelinga Calista yang sedang tidur siang bersamanya


Siang itu Nathan tidak pergi meninjau Restoran mewahnya karena Calista sedang libur, tak mau menyia nyiakan waktu libur istri ia siap melayani selama itu dirumah.


Selesai dengan kegiatan *** - *** Calista lemes dan akhirnya tertidur.


Nathan mendengar ponselnya berbunyi sejak tadi, ia tidak berani mengangkat bukan karena takut atau bagaimana, Nathan hanya menjaga privasi istrinya takut Calista marah. Karena saat ini untuk tinjauan kepribadian sesama pasangan tak pernah mereka bahas.


Dan Nathan yakin Calista tidak ada yang bisa ia sembunyikan, cinta yang sepenuhnya Nathan tahu jika hanya untuk dirinya.


"Bangun sayang angkat telefonnya, kasihan sedari tadi bunyi terus siapa tahu penting!" ucap Nathan sekali lagi.


Calista terbangun, sedikit menggeliat tubuhnya yang masih polos tak berbenang.


Ia mengucek matanya seraya meraih ponsel yang berada di nakes samping ranjangnya.


Matanya menyimpit saat layar ponsel ia buka, disana sudah banyak panggilan tak terjawab tapi nomor yang tidak dikenal.


Calista benar benar tak mengingat, memori tentang Steven sudah tak ada lagi di benaknya, ia membuka pesan masuk dan membacanya.


"Huufftt, ini tidak penting loh sayang ngapain sih aku dibangunin segala?" ucap Calista mendengus kesal, hanya orang yang tidak penting seperti itu tidur nyenyaknya terganggu.


"Emang dia siapa, kok dibilang tidak penting?" tanya Nathan penasaran. "Mantan goblok, kalau dia telepon lagi kamu angkat saja," jawab Calista, ia tidak menghiraukan pesan itu dari Steven ponsel miliknya ia lempar ke sembarangan arah diatas tempat tidur, kembali menarik selimut menutupi tubuhnya dan membenamkan wajahnya didada bidang suaminya untuk lanjutin tidurnya.


Nathan mengedikan bahunya seraya menghembuskan nafas kasar, istrinya tak menghirauka tentang itu yah apa lagi dia, juga tak peduli.


Mereka melanjutkan tidur siangnya dengan berpelukan bersama.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2