Teman Hidupku

Teman Hidupku
Pengantin Baru


__ADS_3

"Calista sayang ayo sarapan," seru Linda yang melihat Nathan sedang menggandeng Calista berjalan kearah meja makan. "Iyah Mah, maaf jika aku kelamaan bangun," balas Calista menoleh kearah Nathan memberi isyarat agar tangannya dilepas oleh Nathan.


Dengan cepat Nathan konek dan segera melepas genggamannya pelan. Linda dan Arly yang melihat itu seketika tersenyum dan saling memandang, hati mereka sangat bahagia melihat Nathan merasa sangat sayang dan cinta kepada Calista.


Sementara Calista dan Nathan jadi salah tingkah dengan malu malu menarik kursi pelan dan segera mereka duduk secara bersamaan.


"Kalian itu sudah jadi suami istri yang sah, tidak usah malu malu gitu kalau mau bermesraan," ucap Linda capcus saja, sambil mengambilkan makanan diatas piring Nathan dan Calista.


Lagi lagi Calista dan Nathan saling melempar pandangan dan tersenyum, merasa lucu saja mendengar ucapan Linda pada mereka.


"Sudah deh Mah, lebih baik kita makan nanti saja dibahas itu," sahut Arly memotong ucapan Linda, karena ia tahu Calista dan Nathan menjadi gugup saja dengan omongan Linda.


"Hmm ya lah," balas Linda mendengus berasa bikin kesal saja dengan suaminya yang suka negur negur terus.


Mereka pun sarapan menikmati makanan yang tersaji enak dan lezat didepan mereka, selain suara gemercik sendok dan garpu diatas piring tak ada suara manusia terdengar sedikit pun.


Calista dengan rasa segan dan nanar berada diantara keluarga yang sama sekali tak ada hubungan darah dengannya, namun kedua orang tua itu tidak membedakannya mereka memperlakukannya seperti anak sendiri.


Sikap Linda yang terbuka dan blak blakan saja tanpa ada yang perlu ia tutup tutupi.


Calista baru satu hari berada diantara keluarga itu sedikit ada rasa nyaman dan terhibur dengan ibu mertua yang sedikit ada lucu lucunya.


"Apa kalian ada rencana bulan madu sayang?" tanya Linda memecahkan keheningan dan mencoba bertanya dengan pertanyaan yang penuh keraguan untuk dijawab.


Calista dan Nathan menghentikan kegiatannya dan saling memandang, bingung mau jawab apa pertanyaan ini memang sulit dan tidak ingin di untuk jawab.


"Nat, kamu dengar Mamah?" ucapnya lagi karena tak ada yang menjawabnya. " Aduh Mah aku masih belum memikirkannya, nanti saja yah aku pikirin dulu," jawab Nathan terbata bata, benar saja bulan madu sama sekali tidak ada dipikirannya saat ini, bukan karena tidak ingin tapi ia harus menunggu persetujuan Calista.

__ADS_1


"Kalian itu pengantin baru harusnya ada kesepakatan merencanakan bulan madu," sahut Linda tanpa dosa, membuat Calista tersendat mendengar ucapannya.


"Uhuk uhuk," Calista tersendat dan berbatuk saat ia meneguk air minumnya. Beberapa pasang mata menjadi perhatian kearahnya, Nathan yang berada disampingnya seketika menghentikan kegiatan makannya dan memberanikan diri untuk mengelus bahu Calista dengan pelan.


"Hati hati kalau mau minum," ucapnya dengan suara lembut memberi perhatian kepada istrinya. "Ehmm," balas Calista berdehem dan mengangguk, matanya sampai mengeluarkan tetesan air mata sangking sakitnya tersendat.


"Mah lebih baik kita makan dulu yah, semua yang ingin kamu tanya sama mereka sebaiknya nanti saja. Kasihan Calista jadi tidak fokus makan," ucap Arly yang sedari tadi terus menegur istrinya yang bawel bertanya ini itu kepada Nathan dan Calista.


"Iyeh iyeh maap yah sayang, Mamah hanya tidak sabar saja mendengar kepastian pada kalian," sahutnya meminta maaf kepada menantunya sedikit ada rasa bersalah membuat Calista tersendak dengan mulutnya yang terus bawel itu.


"Iyah Mah nanti kita bahas yah," balas Calista mengangguk dan tersenyum kepada Mamah mertuanya, merasa kasihan sih karena terus terusan ditegur sama Papah mertua nya. Calista tahu jika Linda hanya penasaran saja makanya tak sabar.


Mereka pun kembali menyantap makanan mereka dengan diam tanpa ada pembahasan lagi.


......................


Sarapan pagi telah usai kini mereka berempat tengah berada di ruang keluarga untuk sekedar berbincang bincang saja.


"Jadi gimana sayang kemana kalian berencana akan pergi untuk berbulan madu," kembali dengan pertanyaan ngeh dari Linda, lagi lagi membuat sepasang pengantin baru ini bingung menjawabnya.


"Ehmm gimana yah, aku perlu tanya Calista dulu deh Mah dimana yang ia suka," balas Nathan emang benar benar tidak sempat terlintas di pikirannya untuk mempersiapkan tempat dimana untuk bulan madu.


"Loh kok malah nanya ke aku sih?" sahut Calista merasa aneh kenapa malah dilontarkan pertanyaan itu padanya. "Aduh gimana sih, kamu kok kayak gitu Nat," ucap Linda ikut menyahutin, sama sekali tidak masuk akal kenapa malah kepada Calista ia lontarkan semua.


Nathan jadi terkencar kencar sendiri mengusap wajahnya dan menarik serta mengeluarkan nafasnya kasar.


"Yah aku tidak tahu," jawabnya ngalah dengan mengedikkan kedua bahunya. "Hmm ada baiknya jika di rumah mu di Kota bahagia saja Nat, dari pada kalian bingung untuk menentukannya," usul Arly pada mereka yang melihat Nathan kasihan kebingungan seperti itu.

__ADS_1


Nathan baru mengingat itu saat Papahnya menyebutnya, ia tersenyum dan kembali bersemangat.


"Nah ide bagus tuh Pah, kenapa dari tadi aku tidak mikir gitu yah," sahut Nathan dengan semangat.


Calista diam mendengar seputar pembicaraan itu, dan ia baru tahu jika Nathan ada rumah di Kota Bahagia, benar benar tidak nyangka bisa ia bayangkan betapa mewahnya lagi rumah nya yang disana karena rumah di Kota Bahagia sangatlah mewah dan megah.


"Bagaimana sayang, apa kamu mau disana?" ucap Nathan memberanikan diri mengucapkan kata sayang kepada Calista didepan orang tuanya.


Seketika tubuh Calista panas dan dag dig dug mendengar ucapan Nathan padanya barusan.


"Aku ngikut kamu saja deh, terserah dimana," jawabnya terbata bata, karena jantungnya deg degan memikirkan bulan madu itu.


"Kapan kalian kesana sayang," tanya Linda sudah benar benar tak sabar jika Nathan secepatnya mengajak Calista bulan madu, siapa tahu cuman sekali bertemu sudah bisa hamil dan secepatnya punya cucu, itu yang selalu ada dipikirannya.


"Nanti sore saja kalau Papah dan Mamah mengizinkan, aku juga harus mantau Restoran karena sudah sebulan ini aku tidak balik kesana," sahut Nathan, benar benar sudah mengambil keputusan jika sore nanti mereka harus balik ke Kota Bahagia.


Calista menoleh menatapnya dengan mata melotot tak percaya, kok tiba tiba kebelet kayak gitu padahal tadinya Nathan sampai tak berpikiran kesitu.


"Ya sudah kami sih boleh boleh saja Nat, ada baiknya begitu takutnya usahamu disana jadi berantakan tanpa pengawasanmu," ucap Arly berpikir ada baiknya kata Nathan, kasihan juga jika usaha sebesar itu berantakan dan jadi bangkrut hanya karena sudah lama tak terpantau oleh Nathan.


Jadi mereka sepakat jika sore nanti mereka akan segera berangkat kembali ke Kota Bahagia, untuk sekedar meninjau usahanya dan yang paling utama nya untuk berbulan madu disana.


Calista mau tidak mau tentu harus mengikuti kata suaminya, seorang istri harus patuh apa pun keputusan suaminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2