Teman Hidupku

Teman Hidupku
Rindu kak Glenka


__ADS_3

Calista sudah dua hari berada dalam tangisan yang tak putus putusnya. Makan dan tidur jarang sekali, apa lagi kerja dan pergi kuliah, Calista malah mengurung diri tidak ingin pergi kemana mana.


"Aku rindu sama kak Glen," ucapnya lirih, duduk dipojokan kamar teriksa dalam tangis.


Ia dalam keadaan seperti ini mengingat kakaknya Glenka yang biasanya ada untuknya dalam keterpurukan dan kesedihan.


Calista meraih ponselnya yang dalam dua hari itu tak ia pegang,ia melihat semua notifikasi banyak chat yang masuk namun ia hiraukan.


Dengan cepat ia mencari kontak kakaknya dan menghubungi.


(Video Call)


Tak lama pun Glenka mengangkatnya.


"Halo Calista," ucap kakaknya memperlihatkan wajahnya dilayar kamera dengan penuh senyuman diwajah. "Kak Glen...." Calista malah menangis histeris saat melihat wajah kakak yang menyambutnya dengan senyuman.


Air matanya jatuh tak terbendung, ia merasa jika Glenka tengah berada di sisinya.


Beberapa minggu lagi Calista tak terasa sudah mau setahun berpisah dengan keluarganya dan selama itu Calista jarang menghubungi mereka.


"Loh kenapa malah nangis List?" tanya kakaknya heran sedikit melihat mata Calista sembab dan wajahnya pucak katung mata sangat terlihat jika Calista kurang tidur dalam beberapa hari.


"Calista kangen kak Glen," suaranya serak dan terus menangis. " Ya sudah Papah sama Mamah nyuruh kamu pulang karena sebentar lagi musim gugur tiba," sahut kak Glenka disana, berharap juga Calista pulang.


Satu tahun yang lalu Jhon telah berjanji kepada sahabatnya jika ia mempertemukan Calista dengan anak sahabatnya, siapa tahu mereka sama sama cocok jadi persahabatan mereka menjadi besan nantinya.


Ini alasannya kenapa mereka menginginkan Calista pulang pada musim gugur, karena anak sahabatnya itu juga pulang diwaktu itu


"Kamu mau kan List, pulang dulu?" tanya kakaknya sekali lagi. " Aku takut Papah marahi aku kak, " balas Calista masih takut dengan Jhon karena kepergiannya waktu itu belum tahu jika Jhon setuju atau tidak.


"Tidak Calista semenjak kamu pergi, Papah selalu menyesali perbuatannya dan kembali menerima mu kapan pun kamu pulang," Glenka meyakinkan Calista agar hati dan pikirannya tidak ada rasa ketakutan.

__ADS_1


"Ya sudah biar Calista atur jadwal dulu, janji akan pulang sebelum musim gugur ini," balas Calista sedikit lega, ia megusap pipinya dan mulai tenang. Setidaknya suara Glenka telah ia dengar saat ia dalam kesedihan.


...****************...


(Calista kembali bersemangat)


"List are you oke?" Raysa pulang dari kampus segera berlari kekamar mencek Calista apakah masih baik baik saja. Dalam keterpurukan Calista saat ini Raysa selalu memberinya ketenangan semampunya agar Calista baikan dalam kesedihan.


"Iyah Sa aku baik baik saja," balasnya sudah tak lagi menangis setelah Glenka menenangkannya tadi waktu bertelepon.


"Syukur deh, padahal aku sudah khawatir banget kamu dua hari ini tidak makan dan jarang tidur," Raysa menghembuskan nafasnya dan menepuk kedua pipinya meresa lega melihat Calista tidak menangis lagi.


"Kita makan siang yuk," ajaknya menarik tangan Calista yang masih duduk ditempat tidur. "Aku sudah makan kamu saja dulu, aku siap siap mau kerja hari ini," Calista sudah mulai semangat dan mulai menghilangkan Steven dalam ingatannya.


"Benarkah?" Raysa menjadi kegirangan melihat sahabatnya kembali bersemangat. "Hem, aku mau kerja," balasnya mengangguk dan memeluk erat sahabatnya.


"Oke oke, kalau begitu mandi sana," Raysa membalas pelukannya seraya mengelus elus punggung Calista.


Akhirnya Calista semangat bangkit dalam kesedihan, lagi pula Steven belum menyentuhnya sejauh terlarang. Hanya sekedar cium peluk mungkin adalah hal wajar dalam pacaran, jadi ia tidak perlu takut dan cemas toh tubuhnya masih utuh. Dan ia juga harus wanti wanti lagi dalam memilih pria.


...----------------...


Kedua sahabat ini berjalan meninggalkan rumah pergi bekerja seperti biasanya, Calista dan Raysa berjalan sambil mengandeng tangan serta bercerita dan Calista mulai tersenyum kembali setelah dua hari ia lewati kesedihannya.


"Sa kak Nathan tidak tanya aku?" tanya Calista penasaran saja dengan Nathan siapa tahu ia menginterogasi lagi karena tak masuk dua hari.


"Tidak tuh, kak Nathan sekarang malah jarang ke kantornya," balas Raysa sudah jarang banget ia melihat Nathan pergi ke Restor, dulu setiap hari selalu datang. Mungkin karena kecewa dengan Calista ia menjadi malas datang karena harus bertemu Calista setiap hari.


"Musim gugur aku harus pulang Sa, aku sudah janji sama kak Glen," Calista harus memberitahu Raysa tentang rencananya pulang agar Raysa tidak kecewa nantinya jika ia pulang secara mendadak.


"Yaampun List aku juga hampir lupa tentang itu, kalau begitu aku juga pulang dan mengajak kak Radit agar bisa berjumpa dengan Papah Mamahku," sahut Raysa baru mengingat waktu musim gugur setidaknya sehari berkumpul dengan keluarga.

__ADS_1


"Ya sudah nanti kita coba beritahu kak Nathan agar dia tidak nyari kita," ucap Calista, bagaimana pun mereka sudah satu tahun kerja disana tentu jika mereka pulkam harus dikonfirmasi dulu.


......................


(Marya Dan Jhon)


"Glen kamu habis ngobrol sama siapa tadi siang, kayaknya Mamah dengar suara Calista" Marya sempat mengintip Glenka yang tengah video call dengan Calista tadi siang namun ia enggan untuk bergabung disana.


"Iyah Mah Calista nelpon dan katanya ingin pulang, dia sudah rindu sama kita," balas Glenka memberitahukan Marya. "Baguslah Calista pulang dimusim gugur kita kumpul sekeluarga," sahut Jhon berjalan dari ruang kerjanya sempat mendengar pembicaraan Glenka dan Marya.


"Betul, Mamah harap Calista secepatnya pulang Mamah sudah rindu banget," seru Marya penuh dengan senyum dan gembira mendengar anak gadisnya akan pulang setelah satu tahun pergi.


"Sebaiknya kita memberinya kejutan saat ia pulang, Papah perlu minta maaf yang sebesar besarnya pada Calista," ucap Jhon yang sudah menyadari kesalahan terbesar yang selalu ia lakukan sebelumnya kepada Calista.


"Kejutan yang bagaimana Pah?" Marya memikirkan apa kejutan yang paling istimewa mereka berikan untuk menyambut Calista pulang.


"Nanti kita pikirkan yang penting harus sudah siap sebelum Calista sampai," Jhon merencanakan ide cemerlang agar anak gadis mereka merasa bahagia disambut hangat saat ia pulang.


Jhon bersama Marya dan Glenka menyusun rencana apa yang diberikan untuk sambutan Calista nanti, sebelumnya mereka pergi berbelanja membeli segalanya untuk ide yang diusulkan Jhon.


Marya dan Glenka sudah menjadi tentram dan nyaman karena perubahan sikap Jhon yang 100% sudah jauh berubah.


Keluarga mereka menjadi hangat jauh dari sikap dingin setelah Jhon mengubah sikapnya.


Semenjak kepergian Calista ia menyadari banyak kesalahannya dan menyesalinya, dan hari demi hari ia mengubah sikap menjadi lebih baik.


Calista yang jauh dari mereka sama sekali tidak mengetahui perubahan itu, saat ia memikirkan untuk pulang hal pertama yang muncul dipikirannya adalah harus menjalani saat saat nanti beradu mulut lagi kepada Jhon, jika berpikiran tentang itu terkadang ia malas untuk memutuskan pulang.


Tapi ia telah terlanjur berjanji kepada Glenka dan itu suatu perkataan yang telah dipegang , mau tidak mau tetap ia harus mengambil tekad untuk pulang.


...----------------...

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2