Teman Hidupku

Teman Hidupku
Steven merencanakan kejahatan


__ADS_3

Calista memaksakan diri untuk pergi kuliah walaupun perutnya sudah kelihatan ia tidak peduli, lagian ada yang sama sepertinya jadi wajar saja menurutnya.


"Sayang aku khawatir, lebih baik kamu jangan pergi deh," cegah Nathan mencemaskan Calista. "Tidak apa - apa nanti ada Raysa yang nemanin aku," Calista bersikeras karena hari itu mereka ada ujian mata kuliah.


Nathan masih dengan raut wajah tegang dan cemas, tidak mungkinkan ia menjaga Calista di kampus.


"Sudah gih yuk antar aku!" seru Calista menarik tangan Nathan untuk segera mrngantarnya pergi ngampus. Mau tak mau Nathan dengan berat langkah mengantar Calista. "Baiklah, aku akan meminta body guard ku nanti untuk mengawasimu," ucap Nathan memikirkan ide untuk menjaga Calista.


"Terserah deh, mau undang Tentara saja sekalian tidak apa apa!" sahut Calista memain mainkan.


Akhirnya ia diantar Nathan untuk pergi ngampus walau pun hati nya tidak tenang namun karena Calista bersikeras ia tidak bisa membatah.


"Aku sudah ngirim chat kepada Raysa, dan dia lagi nunggu aku depan kampus sekarang," jelas Calista meyakinkan suaminya agar tidak terlalu mencemaskan dirinya. "Kamu jangan lasak, tenang di dalam kelas lebih baik," perintahnya dengan tegas.


"Iyah iyah bawel!" jawab Calista dengan wajah cemberut.


Ia merasa tidak nyaman ditegur terus seperti anak kecil di khawatirkan, ia juga sudah dewasa dan tentunya harus jaga diri demi anak yang dia kandung.


...----------------...


Nathan memarkir mobilnya di depan pagar kampus, sebelum Calista turun ia mencium pipi, kening dan perut Calista dengan gemes.


"Anak Daddy yang baik jangan bandel diperut Mommy yah sayang, hari ini Mommy kuliah kamu harus tenang jangan buat Mommy tidak nyaman," ucapnya meletakan gendang telinganya diatas perut Calista sambil mengelus elus.


Calista dengan penuh senyum ikut mengelus kepala Nathan saat ia meletakan kepalanya di atas perut buncitnya.


"Sudah, cium juga," ucap Calista mengangkat kepala Nathan memanyungkan bibirnya agar Nathan juga meninggalkan kecupannya disana.


"Uhhhmmm, jangan nakal pokoknya tenang di dalam kelas. Sebelum pulang beritahu biarkan aku jemput," pesan Nathan memeluk dan mencium Calista.


Calista mengangguk seraya membalas ciuman suaminya. Ia menurunin mobil dan melihat disekeliling halaman kampus untuk mencari keberadaan Raysa.


......................

__ADS_1


"Raysa!!!" teriak Calista melambaikan tangannya memanggil Raysa dalam kejauhan. Raysa menoleh dan ikut melambaikan tangan kepada Calista


Ia berlari menyambut sahabatnya yang tengah berbadan dua itu. "Ehh beb kamu gemes banget dengan baby bump mu ini," ucap Raysa dengan rengekan sambil memeluk dan mengelus perut buncit milik sahabatnya


"Heheh, kabar mu bagaimana Sa," tanya Calista membalas ciuman dan pelukan Raysa padanya. "Baik kok, maaf yah sampai sekarang aku belum main kerumahmu," balas Raysa meminta maaf.


Selama beberapa bulan kedua sahabat ini jarang ketemu dan tidak saling memberi kabar, Raysa tetap bekerja walaupun Calista tidak kerja lagi.


Selama itu mereka sama sama sibuk, hari ini sangat kebetulan pertemuan mereka.


"Sudah lah, pokoknya hari ini datang yah kerumah temanin aku!" ucap Calista merangkul sahabatnya sambil berjalan menyusuri halaman kampus.


Calista yang pernah viral diseluruh kampus mewah itu karena ulah Steven, dan hari ini mereka melihat Calista lagi dengan tubuh yang berbeda


Sebagian ada yang tahu jika ia sudah menikah namun ada juga yang masih julid membicarakannya.


Mereka pikir Calista hamil diluar nikah dan belum punya suami yang bertanggung jawab padanya.


Zain sahabat Steven sempat melihat Calista dan juga heran dengan perut buncitnya. "Wah berita ini harus sampai kepada Steven," ucap Zain tak lupa untuk memotret Calista untuk diberitahukan kepada Steven.


"Sa kita kekantin dulu yuk pengen minum yang segar segar nih," ajak Calista menarik tangan Raysa. "Oke tapi jangan lama, sebaiknya kita duduk di kelas agar perutmu terjaga," sahut Raysa memberi Calista pengertian. "Siap beb ku," balas Calista mencium pipi Raysa dengan gemes.


Mereka menuju kantin rencana mau duduk dan memesan minum dulu sebentar sebelum mereka masuk ruang kelas.


Calista semenjak hamil selalu doyan ingin ngemil dan minum yang enak enak terus, mungkin karena bawaan bayi sehingga tubuhnya tampak gemuk dan makin berisi.


Jika ia mengenakan pakaian yang ngepres badannya semakin bohay dengan perut buncitnya.


...----------------...


"Kamu lihat mereka dimana Zain?" tanya Steven menghampiri Zain saat melihat foto Calista. "Mereka ke kantin, yuk kita susul!" jawab Zain memberitahukan kepada Steven.


Steven mengangguk sembari menarik Zain untuk segera pergi menghampiri Calista di kantin.

__ADS_1


"Dia hamil bro, emang sudah punya suami?" tanya Zain sedikit membingungkannya. "Aku dengar sih sudah, gila kan cewek ini bikin aku sakit hati menikah tanpa memutuskan ku dulu," jawab Steven seolah olah ia yang disakiti oleh Calista.


"Balas dendam bro," dan benar saja Zain mengompori agar Steven merasa sakit hati atas perbuatan Calista. "Tenang saja, aku sudah atur itu!" balasnya terseyum kecut memikirkan raut wajah Calista.


Mereka menyusul Calista dan Raysa ke kantin, dengan wajah datar Steven mendudukan tubuhnya tepat disamping Calista yang sedang menyesap minumannya.


Tersentak kaget saat tiba tiba ada orang yang nyosor duduk di sampingnya, Calista menoleh kearah Steven.


Ia mengerutkan kedua alisnya menatap heran kepada Steven yang sudah duduk terlihat santai disampingnya.


"Apaan sih, kursi masih ada disana kenapa mesti di sini kamu duduk!" ucap Calista merasa tidak nyaman karena kedatangan Steven. "Aku kangen sama kamu, boleh dong aku peluk," sahutnya tanpa ragu merangkul pundak Calista dengan erat.


"Ihh apaan sih, lepas tidak!" seru Calista menepis dengan kasar tangan Steven yang merangkulnya. "Hahah santai saja sayang, dulu juga kamu sangat senang jika aku peluk," balasnya dengan suara tawa penuh ejekan kepada Calista.


"Jangan mimpi kamu kalau aku bakal mau lagi sama kamu," gerutu Calista berdiri dari duduknya dengan raut wajah yang emosi. Sontak mata Steven terbelalak menatap perut Calista yang lumayan sangat besar.


"Sayang kamu hamil, siapa yang memperkosamu?" ucapnya dengan pura pura syok sambil memberi sindiran. "Heh jaga mulutmu kalau ngomong, jelas jelas aku sudah punya suami jangan bilang aku hamil diluar nikah!" jelas Calista dengan penuh raut wajah yang emosi.


"Hahah hebat yah suami mu, sekali masuk sudah jebol!" ledeknya sambil tertawa. " Aku bisa elus tidak, itung itung wajah ku yang tampan siapa tahu nular pada wajah baby mu nanti," ucap Steven dengan beraninya ia memegang perut Calista dan mencium tanpa Calista sadari.


Calista dibuat geram, tangannya megepal dengan wajah yang sudah memerah. "Kurangajar!" serunya tidak bisa mengontrol emosinya, dengan cepat tangan melayang di pipi Steven menampar dengan keras.


Steven kaget sambil memegangi pipinya, seketika itu emosinya juga ikut meledak.Sorot matanya tajam kearah Calista, dengan cepat kedua tangannya mendorong dada Calista sehingga tubuh Calista terjatuh karena tidak menyadari aksi Steven.


"Calista!" seru Raysa berlari segera menompang Calista. "Kamu tidak apa apa?" tanya nya memastikan.


Calista meringis kesakitan, pinggangnya serasa encok dengan tangan Steven yang mendorongnya kuat. "Sa pinggangku sakit," ucapnya dengan lirih merintih kesakitan. "Haha makanya jangan coba coba kasar denganku!" seru Steven tertawa mengejek melihat Calista meringis seperti itu.


Calista terdiam dan masih sangat marah kepada Steven, ia mencoba menguatkan diri memaksakan agar bisa berdiri kembali.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2