
Steven dan Calista akhir akhir ini menjadi gosip bahan pembicaraan maha siswa di kampus itu, mereka yang awalnya sangat iri dengan Calista kini bergembira riang mendengar jika hubungan keduanya sudah renggang.
Steven merasa bosan dengan Calista yang setiap hari bikin kesal, akhir akhir ini Steven tidak lagi menemui Calista ia cuek dan jarang menghubungi tidak seperti sebelumnya.
Calista yang sudah terlanjur cinta harus menanggung rasa sakit yang teramat hebat, setiap hari ia berada dalam kesedihan, apa lagi ia yang selalu menjadi bahan pembicaraan di kampus.
Pagi itu Calista dan Raysa masuk kampus seperti biasanya, namun yang berbeda Calista tidak terlihat bersemangat.
"List kamu semangat dong ngapain sedih kayak gini terus sih?" Raysa merasa sedih melihat sahabatnya yang setiap hari berada dalam kesedihan juga.
"Aku tidak bisa Sa, rasanya aku ingin pergi jauh saja didunia ini," balasnya mendudukan tubuhnya di kursi dalam kelas dengan wajah menangis.
"Pelan pelan kamu pasti bisa melupakannya ," Raysa mengelus ngelus pundak Calista yang membenamkan wajahnya diatas meja belajarnya.
"List kamu sudah putus sama Steven?" tanya Dinda duduk dikursi sebelah Raysa. "Belum Din cuman hubungannya renggang," sahut Raysa yang melihat Calista pasti tidak ingin membahas ini kepada orang lain selain Raysa.
"Steven selingkuh Sa, nih lihat ada cewek yang post di IG tidur bareng Steven di hotel," ucap Dinda menunjukan foto itu kepada Raysa.
Calista yang sempat mendengarnya ia mengangkat wajahnya dan menarik paksa ponsel itu dari tangan Raysa.
Ia melihat foto itu dengan teliti, Steven yang tengah telanjang namun memakai selimut tidur sambil memeluk wanita tanpa busana.
Seketika jantung Calista serasa copot dan tubuhnya lemas, tangannya gemetar air matanya tak bisa tertahan lagi.
Ia menggelengkan kepala serasa tidak percaya melihat kenyataan ini.
Benar dugaannya Steven pasti main perempuan lain karena ia tidak mengizinkan Steven melakukan hal yang diinginkannya.
"Bajingan kau Steven," gerutu Calista mengepalkan tangannya, jika saja Steven ada disana ia pasti sudah mencekik leher Steven.
Ia berdiri dari duduknya dan segera berlari keluar dari kelasnya.
"Steven!" teriaknya menaiki beberapa tangga menuju di kelas Steven. Siswa siswi lainnya menatapnya heran, Calista seperti kesurupan yang sedang dirasuki setan.
__ADS_1
Ia masuk dengan kasar kedalam kelas mengagetkan Steven yang tengah asyiknya bermain game bersama teman temannya.
"Steven dasar kau bajingan!!" teriaknya memukul meja didepan Steven dengan keras. Tangannya gemetar matanya memerah dan terus meneteskan air mata.
Steven menatapnya bingung, dengan cepat ia berdiri menarik tangan Calista kasar membawanya keluar dari kelasnya.
Seluruh pasang mata menyaksikan kedua ini bertengkah dengan hubungannya, ada yang menertawakan dan mengejek Calista.
Steven membawa Calista dilorong yang jauh dari kerumunan teman teman mereka.
"Kamu kenapa sih, hah?" tanya Steven melepas dengan kasar tangan Calista.
Kesedihan yang tidak bisa dihentikan terus memenuhi tubuh Calista.
Yang dulunya selalu mesra dan romantis kini tidak terlihat lagi.
Cara Steven memperlakukannya sekarang sudah jauh beda, ia cuek dan tidak menunjukan kasih sayangnya lagi kepada Calista.
"Jawab aku Calista kamu kenapa!" bentak Steven menatap tajam kearah Calista, sangat terlihat jika tak ada lagi cinta dimatanya. "Tega kamu Steven, tega selingkuhi aku!" sahut Calista dengan suara serak memaksakannya untuk berbicara kuat.
"Terserahmu mau putus atau tidak, aku tidak peduli," Steven benar benar sudah menghilangkan Calista di hidupnya sudah tak menganggap Calista sebagai kekasihnya lagi.
Calista tak bisa menjawabnya ia membekap mulutnya dengan telapak tangannya ingin melawan tangis tapi tangisannya lebih kuat dari pada tubuhnya.
"Tolong jauhi aku, aku sudah punya penggantimu yang siap melayani aku dengan tulus," ucapnya terakhir setelahnya ia berlalu pergi menyisakan Calista terpuruk disana.
Calista menghempaskan tubuhnya lesu dilantai, tangisnya pecah sejadi jadinya, keinginan bunuh diri terlintas dipikirannya, ia mendekati pagar tangga melihat kebawah sedikit ada rasa takut melihat ketinggian itu.
"Calista!" teriak Raysa yang menyusulnya sejak tadi, ia menarik Calista mencegahnya untuk lompat kebawah. "Apa kamu sudah gila bunuh diri dengan hal tidak penting?" seru Raysa memegang kedua sisi rahang Calista.
Dengan penuh tangis dan haru Calista memeluk Raysa dan menangis sesegukan dalam pelukan sahabatnya.
"Kita pulang jika kamu sudah tidak kuat lagi Calista," ucap Raysa menengkan Calista, suaranya sudah tak terdengar lagi dengan tangisan yang menjadi jadi Calista mengangguk sebagai jawabannnya kepada Raysa.
__ADS_1
Tanpa menunda nunda waktu lagi, Raysa segera membawa Calista pulang agar dirumah ia lebih leluasa menangis, Raysa tak tahan dengan gosip dimana mana tentang Calista dikampus itu.
"Sa aku menyesal seumur hidupku telah mengenal Steven!" teriaknya dengan penuh tangisan. Ia menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur dan membuang tasnya kesembarangan arah.
"Bajingan kau Steven!!!" ia meluapkan kekesalannya meninju bantal beberapa kali dan melempar semua barang yang ada didekatnya.
"Aaaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh!!!!" ia berteriak sekuat kuatnya agar rasa sakit itu sedikit hilang, ia kali ini lebih histeris menangis dari sebelumnya ini tentang hati dan cintanya, rasa sayang yang terlanjur ia berikan kepada Steven menjadi bebannya berat untuk melupakan.
Raysa membiarkannya sendiri disana, ia tidak mau mengganggu bila hanya menambah kekacauan hati Calista.
Ia ikut sedih meneteskan air mata, sahabatnya bahagia dalam beberapa bulan saja padahal harapannya ingin Calista selalu bahagia dalam percintaannya.
"Ya Tuhan jika engkau membenciku berada di dunia ini cabut nyawaku lah Tuhan, aku ikhlas!" teriak Calista seakan akan Tuhan lah yang menjadi skenario dalam kehidupannya.
Ia berdiri dari tidurnya dan pergi kekamar mandi, disana ia nyalakan shower dan merendam diri dibawahnya dengan tangis yang terus menerus ia luapkan.
"Kenapa kau datang dalam hidupku jika hanya untuk menyakitiku Steven," gerutunya mendudukan rubuhnya dibawah air shower sambil memeluk kedua lututnya.
Ia menutup matanya sebel yang ternyata bayang bayang wajah dan perilaku Steven kembali terputar dalam ingatannya.
Calista menggosok matanya karena wajah Steven terus menghantuinya. Ia menarik rambutnya frustasi dengan apa yang terjadi pada hidupnya hari ini.
Seketika saja foto yang barusan ia lihat itu tadi terbayang dalam ingatannya membuatnya terus menangis dan rasanya ingin mencakar mulut pacar baru Steven itu atau jika ia melihat perempuan itu dimana sekarang ia pasti sudah mendatangi dan melibas sekuat tenganya.
...****************...
...----------------...
Penyesalan selalu diakhir karena diawal selalu ada perjuangan.
Cerita Calista ini sungguh sangat miris. Pernah menegurnya untuk selalu menjaga jarak dengan Steven namun Calista yang selalu keras kepala.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...