
Nathan dan Calista sudah bersiap siap dengan barang barang mereka untuk dibawa pergi sore itu.
Ide cemerlang pun terlintas di benak Nathan, ia menyuruh seluruh pelayan rumahnya disana untuk merapikan dan mendekor rumah secantik mungkin, terutama kamarnya ia menyuruh agar di dekorasi seindah mungkin seperti tema sepasang pengantin baru yang ingin berbulan madu.
Tanpa banyak pertanyaan lagi, para pelayan disana mengerti dan segera melakukan semua sebelum mereka datang
"Kamu sudah siap untuk berangkat sore ini?" tanya Nathan kepada Calista yang sedang duduk diruang keluarga.
"Sudah kok, kamu tidak lihat aku sudah berpakaian?" jawab Calista memanyungkan bibirnya, merasa aneh saja dengan pertanyaan suaminya itu.
"Ya sudah kita pergi sekarang, biar tidak terlalu malam kita sampai," balasnya, berdiri dari duduknya ingin segera berpamitan saja kepada kedua orang tuanya. Mengingat jam sudah menunjukan pukul 15:00 wib harus mengejar waktu setidaknya sampai jam 19:00 malam nanti.
Calista ikut berdiri dan mengikutinya untuk pergi berpamitan pada mertuanya, padahal ia baru saja berkumpul kepada keluarga suaminya belum terkesan sedikit pun kepada Mamah mertuanya yang lucu dan baik itu.
"Pah, Mah kami pamit berangkat sekarang," ucap Nathan duduk disofa yang berhadapan dengan kedua orang tuanya.
Spontan Arly dan Linda menoleh kearah mereka yang tengah bersantai diarea kolam renang yang berada ditaman halaman belakang rumahnya.
Linda terlihat sedikit sedih mendengar Nathan akan pamit, rasanya tak rela tapi itu juga yang ia inginkan. Membiarkan anaknya bersama istrinya untuk berdua dulu untuk bersenang senang menikmati masa pangantin baru mereka.
"Yaampun sayang Mamah terharu tapi bagaimana juga harus lah Mamah relakan kalian pergi," sahut Linda berdiri dengan raut wajah sedih, ia meraih dan memeluk tubuh kekar anak prianya yang sudah memiliki keluarga yang baru dan mau tidak mau meninggalkan mereka.
"Mamah jangan sedih, bisakan nyusul kita kapan saja Mamah mau?" balas Nathan ikut memeluk dan mencium Mamahnya. "Pasti Mamah akan menyusul, mau bareng setidaknya satu minggu saja bersama menantu Mamah nanti," sahutnya memang ada niatnya setelah ini menyusul anak dan menantunya.
Nathan mengangguk dan tersenyum seraya melepas pelukannya kepada Linda, ia beralih memeluk dan pamit kepada Papahnya.
__ADS_1
Calista yang berada dibelakangnya secara bergantian tanpa ragu menghampiri Mamah mertuanya ikut memeluk dan berpamitan.
"Mamah, Calista pamit," ucapnya dengan haru dan wajah yang sedih. Linda ternyum sedih dan segera merangkul memeluk menantu tercantiknya itu, ia sedih harus secapat itu mereka terpisah.
"Iyah sayang, jaga diri kalian yah," sahutnya memeluk erat Calista dan melayangkan ciuman diseluruh wajah cantik menantunya. Calista mengangguk tersenyum dan ikut mencium Mamah mertuanya dengan penuh rasa sayang.
"Calista tunggu Mamah disana," ucap Calista sangat berharap setelah ini Linda menyusul mereka, tidak tega banget baru juga ia punya mantu tapi tidak tinggal seatap bersamanya.
Selesai berpamitan dengan Linda, Calista juga tak lupa pamit kepada Arly Papah mertuanya.
Arly ikut menyambutnya dan memberi sedikit nasehat singkat mereka juga mendoakan agar perjalanan mereka dijauhkan dari kecelakaan dan mara bahaya.
Nathan dan Calista memasuki semua barang barang mereka kedalam bagasi mobil dan segera berangkat setelah berpamitan kepada kedua orang tua mereka.
"Ayo naik sayang," ucap Nathan membukakan pintu mobil untuk istrinya. Calista tersenyum dan mengangguk serasa dibuat melayang dengan Nathan yang semakin bersikap lembut padanya.
Calista kembali memperbaiki posisi duduknya dan diam dengan pandangan mata yang lurus didepannya.
Sementara Nathan menyetir sesekali menoleh kearah Calista. Terlihat sedih, mungkin saja harus berpisah lagi kepada mertua setelah berpisah kepada orang tua nya.
Nathan merasa bersalah dan egois menjauhkan Calista kepada orang orang yang sangat berharga dalam hidupnya, "Tapi tak apa lah toh masih ada aku yang akan mencintai seutuhnya," batin nya sambil tersenyum.
"Kenapa senyum senyum, jangan bilang kamu sedang memikirkan bulan madu," ucap Calista yang melihat Nathan terdiam namun bibirnya terlihat sedang tersenyum senyum sendiri.
"Ahhm tidak-tidak kok, aku tidak memikirkan itu," sahutnya terbata bata segera memalingkan wajahnya mengarah lurus di depan.
__ADS_1
"Hem, aneh," balas Calista mengangkat kedua alisnya dan mengedikan bahunya acuh tak acuh. "Kamu kenapa?" tanya Nathan merasa Calista tidak baik baik saja.
"Aku hanya sedih berpisah sama Mamah, pasti merasa kehilangan banget dengan kepergian kita," ucap Calista, tidak enak saja meninggalkan Mamah mertuanya secepat itu.
"Nanti tinggal ajak Mamah saja sama kita biar ada temanmu dirumah," balas Nathan emang merasakan jika Calista sedih karena itu. " Kalau boleh secepatnya," sahutnya kebelet, tidak mungkin juga kan besok atau lusa Linda di ajak, ini masa bulan madu woy tidak ingin diganggu dulu.
Nathan mengangguk saja mengiyakan omongan Calista, padahal pikirnya harus puas puas berdua dulu lah dan terus Calista hamil barulah Linda diajak, gitu pikirannya emang sudah OMES saja.
"Kok aku tidak pernah tahu jika kamu punya rumah disana," tanya Calista tercengeng saja baru mendengar jika suaminya punya rumah sendiri.
"Yah mana kamu tahu kalau tidak ditanya dan tidak kuberitahu," sahutnya kayak sedang bercanda saja sama Calista. " Yaampun, please jangan ajak aku berdebat," ucap Calista tidak ingin banget Nathan mengajaknya adu mulut, rasanya ia sangat capek.
"Hahaha, baiklah untung kamu sudah tobat yah ternyata," Nathan malah tertawa gemes dengan Calista baru diawal sudah ngalah, atau jangan jangan dia begitu nanti jika diajak bulan madu.
Calista mendengus pasrah mendengar Nathan menertawakannya, ia harus menyimpan banyak stok sabar dengan suami yang suka usil ini agar ia tetap santai dengan ucapan yang memancing.
Dengan tak sadarnya mereka, sampai di bandara dan segera saja melakukan penerbangan menuju Kota yang mereka tuju.
Nathan tidak malu memperlihatkan keromantisannya bersama Calista ditengah kerumunan, dengan diam saja Calista memperhatikan dan membiarkannya.
Jika dipikir pikir lama kelamaan juga sikapnya Calista dibuat nyaman dan tidak ingin jauh jauh darinya.
Benar kata Glenka padanya, Nathan adalah orang baik dan tentunya penyayang. Sekarang Calista membuktikannya, perlu ia berterima kasih sekali kepada kakaknya itu karena dukungannya kepada Calista yang menerima Nathan jadi teman hidupnya.
Calista tidak hentinya mengagumi Nathan dan mulai tumbuh akar cinta dalam hatinya untuk suaminya. Tanpa Nathan sadari Calista malah diam diam terus terusan memperhatikan wajah tampan suaminya, sungguh sangat adem bila dipandang terlalu lama.
__ADS_1
Rasanya Calista ingin sekali mengecup dan bergelayut manja padanya, tapi rasa malu dan gugup masih menguasai dirinya sehingga ia hanya mampu mengaggumi suaminya dalam diam, dalam waktu kedepannya ia yakin peluang banyak untuk terus jatuh cinta lagi pada nya.
BERSAMBUNG...