
Sore itu mereka pergi kerja di Restoran Nathan Alexander seperti biasa sepulang dari kuliah.
Kebetulan hari itu pengunjung Restoran terlihat tampak ramai sehingga kekurangan pelayan untuk mengantar pesanan.
"List bisa kan kamu bantu mereka untuk mengantar pesanan ini di ruang VIP, takutnya kelamaan mereka nunggu," ucap Chef Radit yang telah menyelesaikan beberapa pesanan tapi masih belum juga diambil oleh pelayan.
Ia meminta bantuan Calista untuk mengantarnya agar pelanggan tidak merasa bosan untuk menunggu.
"Baik kak Radit mana yang harus aku antar duluan?" ucap Calista mau mengantarkan pesanan itu dengan senang hati.
"Yang ini List, tolong di antar di ruang VIP nomor 2," Chef Radit menyodorkan sebuah napan besar kepada Calista yang dipenuhi dengan makanan yang sangat istimewa.
Calista mengangguk dan menerima napan itu ditangan Chef Radit, ia segera bergegas mengantar pesanan itu sesuai yang dikatakan Radit padanya.
Dengan langkah yang cepat dan berjalan fokus agar pesanan itu sampai dengan selamat.
Calista menekan tombol ruang VIP yang ia tuju dan memberi salam kepada para pelanggan yang ada di dalam ruangan itu, ia membungkuk seraya menyajikan semua hidangan itu diatas meja.
Setelahnya ia segera kembali keluar dari ruangan itu berjalan dengan sopan dan memberikan senyumannya kepada pelanggan agar pelanggan disana puas atas pelayanan mereka.
Saat ia membuka pintu dan keluar dari ruangan VIP, tanpa ia sadari Tuan Nathan yang sedang berjalan menaiki tangga dengan kepala menunduk sambil bermain dengan ponselnya sedikit bersenggolan bahu kepada Calista.
"Ahh maaf aku tidak sengaja," ucap Nathan terhenti langkahnya seraya mengangkat wajahnya menatap Calista.
Calista ikut terhenti dan menatap wajah Nathan, semenjak kejadian beberapa bulan yang lalu dimana Calista yang hampir terjatuh lalu Nathan yang menolong dalam pelukannya, mereka berdua jarang lagi bertemu. Nathan yang semulanya sering mengganggu Calista seketika berhenti sejak kejadian itu.
Alasannya ia menjauhi Calista karena malu dan tidak ingin terpikat oleh kecantikan dan tingkah laku Calista yang menggemeskan karena ia tidak mau atau tidak ada niat sama sekali untuk mendekati wanita apa lagi Calista adalah karyawannya, ia menjaga sikap agar tidak dikatakan Bos bejat.
Mereka diam saling menatap entah apa yang ada dipikiran mereka masing masing.
__ADS_1
"Ahmm kamu tidak apa apa?" Nathan memecahkan kesunyian diantara mereka, karena Calista yang tak menjawabnya.
"Oh tidak, maaf aku tidak sengaja tadi aku buru buru," balas Calista merapikan roknya sebagai alasannya.
Nathan mengangguk tak tau harus berkata apa lagi setelah itu. " Aku permisi," Calista segera enyah dari sana, tidak ingin berlama lama berbicara dengan Nathan ia juga malu saat kejadian di beberapa bulan yang lalu itu sampai ia tidak berani menatap Nathan terlalu lama.
Nathan menoleh kebelakang melihat langkah kaki Calista yang sangat cepat menuruni anak tangga seperti sedang di kejar pocong, ia tersenyum menggeleng kepala dan kembali terus melangkah kakinya menaiki tangga.
......................
"Sudah kak Radit, apa masih ada lagi?" ucap Calista saat kembali memasuki dapur Chef Radit. "Ohh iyah List, masih ada satu pesanan lagi, tolong yah kamu antar di ruangan depan," ucap Chef Radit kembali memberikan napan kepada Calista dan menyuruhnya segera mengantar.
"Baik kak, hari ini aku akan membantu pelayan untuk mengantar pesanan," balas Calista bersemangat segera pergi mengantar pesanan itu lagi.
Radit tersenyum kearahnya, entah kenapa ia terlihat sangat nyaman kepada Calista saat mereka terus bersama seperti itu.
Setelah beberapa menit berdiri mematung disana, Chef Radit akhirnya tersadar dalam lamunannya ia segera bergegas untuk melanjutkan pekerjaannya.
......................
"List tumben kamu ikut jadi pelayan hari ini?" ucap Raysa yang melihat Calista juga ikut mengantar pesanan. " Oh ini sementara karena Chef Radit tidak ingin pesanan pelanggan menumpuk di dapurnya," jawab Calista kepada Raysa.
"Eh List jangan lupa sampaikan salamku sama Chef Radit yah, bilang kalau aku terlope lope padanya," disela sela kesibukan Raysa masih saja bermain main dan dengan entengnya berbicara nitip salam kepada Chef Radit yang tengah sibuk di dapurnya sekarang.
"Aduh Sa nanti saja nitip salamnya, Chef Radit lagi sibuk tau di dapur," bentak Calista memutar bola matanya seraya meninggalkan Raysa disana.
"Ihh dasar kamu Calista, mentang mentang sudah jadi asisten Chef Radit arogan banget!" Raysa kesal menggerutu dibelakang Calista ia menghentakan kakinya dan ingin mencabik cabik muka sahabatnya yang nyebelin itu, meninggalkannya begitu tega.
Calista mana peduli, bodoh amat dengan Raysa yang menitip salam kepada Chefnya mereka lagi sibuk tidak ada kesempatan untuk mengobrol seputar itu dulu.
__ADS_1
Dengan berat hati Raysa melanjutkan pekerjaannya karena pelayan yang lain tengah sibuk sibuknya ia malah kebanyakan tingkah.
...****************...
Sementara Nathan yang berada di ruangannya tiba tiba saja kepikiran Calista lagi yang sebenarnya sudah lama ia lupakan, namun saat kembali bertemu hatinya malah kembali lengkat dan pikirannya dipenuhi oleh Calista lagi.
"Gadis ini kok membuatku frustasi, sikapnya yang berubah ubah bikin aku jatuh hati," Nathan malah seperti orang gila, berbicara sendiri dan menerka nerka pikirannya yang dipenuhi oleh bayangan wajah Calista.
Perasaannya tak bisa ia sembunyikan lagi jika sebenarnya Calista membuatnya jatuh hati pada pandangan pertamanya, padahal awalnya ia menganggap Calista itu gadis ingusan baru lulusan SMA, sangat tidak cocok dengan kriteria wanita yang ia inginkan.
Tapi semenjak Calista membuatnya terkesan dengan sikap kekanak kanakannya malah hatinya lengket dan sulit untuk melupakan tentang Calista.
Menurutnya Calista sama seperti Buglon terus berubah ubah, kadang kalem, kadang cerewet dan kadang cuek, ia seperti sudah menemukan yang ia cari karena sebenarnya tipe wanita yang ia suka itu ada dalam diri Calista.
Yang ia ragukan dan yang ia takutkan jika Calista tidak menanggapi dengan perasaannya bisa bisa ia tidak berani lagi memperlihatkan wajahnya kepada Calista di Restoran itu.
"Apa dia mau jika malam ini nanti aku mengajaknya untuk keluar sebentar? oh yaampun aku ragu untuk mengungkapkannya. Sudah lah mau dia mau atau tidak itu terserah yang penting usahaku dulu memberanikan diri untuk mengajaknya,"
Ucapnya sendiri mondar mandir berjalan di dalam ruangannya tanpa ada seseorang pun selain dia disana, ia hampir dibuat gila dengan bayangan Calista yang kembali muncul dibenaknya.
Padahal dalam beberapa bulan yang lalu ia tak lagi kepikiran Calista, namun pertemuan singkat itu lagi mengingatkannya dengan perasaan yang telah ia pendam.
...----------------...
...****************...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG...
__ADS_1