
Satu hari lagi sebelum hari H pernikahan Nathan dan Calista, semua keluarga dan kerabat jauh berkumpul dan sibuk untuk persiapan hari esok.
Calista sedang duduk termenung didalam kamarnya, pernikahannya tinggal hitungan jam saat itu juga nanti masa gadis dan masa lajangnya berakhir.
Di umur yang ke 18 tahun sudah membentuk keluarga baru, meninggalkan orang tua dan hidup bersama orang baru, dan tentu ia berharap semoga Nathan menjadi suami yang bisa menuntunnya nanti.
Memikirkan kedua orang tuanya dan kakanya, seketika itu Calista tidak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata berat baginya berpisah, apa lagi berpisah dengan kakak yang selama ini selalu ada untuknya.
Calista sedih dan menangis, padahal diluar semua yang datang bergembira riang menyambut hari pernikahannya.
...----------------...
TOK-TOK-TOK!
(Ketokan pintu di luar)
Calista menyadari ada yang mengetuk pintu dari luar namun ia tidak menghiraukan.
"Calista ini Mamah sama Papah sayang, apa kami boleh masuk!" teriak diluar yang ternyata itu adalah Marya. Calista mendengarnya mengusap pipinya yang telah dibasahi air mata dan mencoba membuka pintu untuk Marya.
"Iyah Mah ada apa?" ucapnya membuka pintu, suaranya terdengar serak dan mata yang masih berkaca kaca.
Jhon dan Marya memperhatikannya dan mereka yakin Calista sedang menangis. " Boleh kah kami masuk?" tanya Marya tersenyum kepada Calista.
"Hem," jawabnya mengangguk menggeser tubuhnya dari ambang pintu mempersilakan Papah Mamahnya kedalam.
Mereka masuk dan duduk disofa yang ada disana, Marya dan Jhon saling menatap dan merasakan kesedihan Calista.
"Calista besok adalah hari kebahagiaanmu sayang, jadi Papah dan Mamah mau menasehatimu sedikit," ucap Marya menjelaskan apa maksud kedatangan mereka. Memberi nasehat sebelum anak gadis mereka menjadi seorang istri guna agar Calista bisa menyikap kan diri menjadi dewasa, apa lagi saat bersama suami dan mertuanya.
__ADS_1
"Hem, Papah Mamah tidak sedih Calista meninggalkan kalian?" jawabnya malah lari dari kata kata Marya, tangisnya pun pecah ia berhamburan duduk ditengah tengah Marya dan Jhon.
"Kami sedih sayang tapi harus bagaimana tidak mungkin kami menahanmu," balas Marya ikut sedih ia mengusap kepala Calista tak terasa air matanya menetes.
"Papah tetap sayangkan sama Calista nanti?" ucapnya menoleh melihat Jhon yang hanya terdiam disana tapi raut wajahnya terlihat tidak baik baik saja.
"Papah tetap sayang Calista, kita hanya berpisah rumah bukan berpisah untuk selamanya," sahutnya menenangkan Calista, hati Jhon memang merasakan sedih yang termat melihat Calista secepat ini menikah.
Mereka baru berbaikan, baru mulai kedekatan namun secepatnya Calista menikah, sebagai Ayah ia sudah memikirkan yang terbaik untuk anak gadisnya.
Tanpa ragu Calista membenamkan diri dalam dekapan Jhon, ia akan melepaskan rasa sedihnya disana.
Jhon merangkulnya dan air mata yang sejak ia tahan akhirnya menetes, Calista terus menangis sesegukan untuk melepaskan semua beban pikiran yang sedari tadi banyak menumpuk.
Suana haru dan tangis pun memenuhi semua ruangan itu, Jhon dan Marya tidak tertahan untuk tidak ikut menangis melihat sedih kebahagiaan Calista.
Ia mencoba mendekati pintu itu dan mengumping sedikit pembicaraan didalam seketika pun ia ikut terharu dan sedih.
Perlahan kakinya melangkah memasuki kamar itu ia juga tidak bisa menahan diri untuk tidak melepaskan sedih kebahagiaan yang Calista ciptakan dalam hidupnya.
Mereka menyadari Glenka serentak mata mengarah padanya. " Kak Glen," seru Calista segera berdiri untuk menyambut kakaknya, ia berlari kearah Glenka dan memeluk erat.
" Kak Glen, Calista sedih berpisah sama kalian," ucapnya meringis tangis memeluk dengan erat tubuh kekar kakaknya. " Kakak juga sedih Calista tapi ini juga kebahagiaanmu," balasnya dengan suara yang mulai serak ia membalas pelukan itu dan mencium pucuk kepala Calista kuat.
Kedua orang tua dan saudaranya laki laki itu ikut merasa sedih bahagia seperti yang Calista rasa, namun mereka tidak perlu berlama lama larut dalam tangis karena ini bukan perpisahan selamanya hanya berpisah beda rumah dan beda tempat, dan juga harus menerima perbedaan status Calista setelah ini.
"Kalian duduk dulu sayang, ada yang Papah bicarakan sama kita," ucap Marya ingin mengubah suasana agar tidak berlarut dalam tangis ini.
Calista mengangguk dan mengikuti Glenka yang duduk disana.
__ADS_1
"Jadi Calista besok hari pernikahanmu disitu juga semua masa gadismu kamu tinggalkan dirumah ini, sikap kedewasaan dan sikap layaknya seorang istri kamu bawa kerumah suami mu," ucap Jhon dengan pelan memberi nasehat agar Calista mencerna semua kata katanya.
"Iyah Pah, aku akan berusaha jadi istri yang terbaik untuk suami dan keluarganya," balas Calista dengan suaranya yang lemah.
"Yah dan Papah mohon sikap keras kepalamu diturunkan, jangan lah membuat suamimu emosi dan unjungnya kamu dipukul, jangan nak Papah tidak memenginginka itu lagi," lanjut Jhon terus memberi nasehatnya untuk Calista.
Calista menunduk seraya mengangguk mengerti dengan semua nasehat Jhon padanya.
"Dan Mamah ingatkan kamu untuk bersikap sewajarnya jika bersama suami, sikap kekanak kanakan mu di buang yah sayang jangan buat suamimu kecewa dihari pertama kalian nanti," tambah Marya, sedikit mengingatkan agar Calista tidak kaget dan tidak malah bersikap kekanak kanakan jika baru pertama mengenal suatu hubungan suami istri.
Calista memahami maksud yang dikatakan Marya padanya, ia mengangkat wajahnya melihat kearah Marya dan sedikit tersenyum.
"Mah Calista menikah berarti sudah siap dengan segala apa pun, Mamah jangan khawatir Calista mengerti kok," jawabnya sedikit ada rasa malu namun ia harus menjelaskan agar Marya tenang dan tidak terus terusan menegurnya dalam hal itu
" Kakak sedikit memberimu nasehat juga Calista, kakak harap jika kamu pergi dari rumah harus pamit dan tunggu persetujuan suami mu," tambah Glenka, ini juga harus di ingatkan kepada Calista karena kebiasaan nya jika pergi dari rumah ia suka tak mengatakan kepada orang rumah, Glenka mengingatkannya agar nanti Calista bisa mengubah itu.
Karena ia tahu jika Calista pergi tak pamit suaminya pasti cemas seperti Marya yang selalu panik jika Calista tiba tiba tak ada dirumah unjung unjungnya dicariin, orang rumah juga bikin pusing.
"Baik kak, pokoknya Calista akan coba semampuku semua mengubah sikap agar menjadi dewasa tidak mengecewakan suami dan kalian yang aku tinggalin nanti."
"Yakin 100% sih Nathan pasti pria baik dan pengertian, Papah tidak salah memilihnya untuk Calista," ucap Glenka meyakinkan sekali jika Nathan adalah orang baik, ia dapat melihat dari sisi sudut pandangnya, dan caranya bertutur kata.
Harapan mereka kepada Calista pun semoga saja terwujut dan tidak berunjung mengecewakan.
Nasehat terakhir untuk Calista sebelum ia melangkahkan kakinya menginjak masa yang penuh kedawasaan untuk menghadapi keluarga baru.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG...
__ADS_1