Teman Hidupku

Teman Hidupku
Mengenang Kenangan Mantan


__ADS_3

Calista telah membalas chat Nathan dan telah bersiap siap untuk dijemput.


Ia berdandan seadanya saja, berpakaian sewajarnya dan rambutnya dibiarkan tergerai.


Sedang memandangi dirinya dicermin ia mengangkat jari jarinya menyentuh pipinya kebetulan saja matanya tertuju di jari manisnya yang masih mengenakan cincin pemberian Steven padanya.


Matanya tidak berkedip memandang dan mencoba melepas dijarinya, seketika memori saat indah bersama Steven terbayang semua diingatannya.


Ia menutup kedua matanya dan menggenggam erat cincin itu, ternyata sudah satu bulan tidak lagi bersama Steven tapi kenangan nya masih menghantui pikirannya


Ia kembali melirik cincin itu sambil memelintir dengan jari jarinya, sayang sekali padahal ini sangat berharga tapi Steven tidak menggunakannya.


Calista mengerti mengapa dulu Steven memberinya barang barang berharga hanya untuk menariknya agar Calista terjerumus dengan keinginannya, untung saja Calista masih tertolong kesuciannya tak sempat direnggut olrh Steven kalau sudah mau jadi apa dia dimasa depan untuk suaminya, ia yakin Steven tidak selamanya setia walaupun ia mengorbankan kehormatannya, karena Steven hanya menginginkan kenikmatan bukan cinta yang tulus.


Calista berdiri mematung didepan cermin sambil melirik lirik cincin itu, tanpa sadar dering ponselnya yang mengagetkannya.


DING-DING-DING!


(Dering ponsel berbunyi)


Calista terkesiap sadar dari lamunannya, ia segera meraih ponselnya yang ternyata Nathan yang menghubunginya.


(Mengangkat telepon)


"Hem iyah kak Nathan," ucapnya dengan suara lembut dan pelan. " Kamu sudah siap? Sahut Nathan to the point saja. " Sudah, kak Nathan dimana?" jawab Calista memalingkan wajahnya sambil mencari tas selempangnya.


"Aku didepan rumah, kemari turunlah," balasnya ternyata sudah sampai di depan rumah Calista, sengaja tidak masuk agar kepergiaan mereka tidak ditahan dulu jika bertemu Jhon dan Marya.


"Tidak masuk dulu?" tanya Calista keluar kamar menurunin tangga. "Tidak, ayolah cepat," Nathan malah tidak sabar saja mendesak Calista untuk segera keluar. " Iyah iyah tunggu, mau pamit dulu!" sahut Calista mematikan telepon tanpa menunggu jawaban Nathan lagi.


"Kamu sudah mau pergi sayang?" tanya Marya yang melihat Calista sudah siap siap. " Iyah Mah Calista pamit dulu," balasnya meraih tangan Marya dan mencium punggung tangan itu. "Nathan sudah datang?" tanya Marya menoleh kearah luar. " Sudah lagi nunggu diluar," jawab Calista. " Ya sudah kalian hati hati yah sayang," Marya mengelus kepala Calista dan tersenyum, matanya tidak lepas melihat pundak Calista yang berjalan keluar meninggalkannya.


Calista keluar dan mendapati Nathan yang tengah berada diluar pagar rumahnya sedang berdiri di depan mobilnya.

__ADS_1


Ia berjalan dan segera menghampiri disana.


Nathan yang melihatnya tersenyum dan segera membuka pintu mobil untuk mempersilakan Calista.


"Silakan masuk," tanpa basa basi lagi, Nathan langsung saja berlari kearah pintu kemudi menyusul Calista yang sudah masuk.


"Kita kemana?" tanya Calista menoleh kearah Nathan yang sedang menyalakan mesin mobilnya.


"Ke taman, aku sudah lama sekali tidak pernah kesana," balasnya melaju mobil menuju tempat yang ia maksud.


Calista tak membalasnya lagi, ia diam dengan pandangan mata yang lurus didepan. Nathan menyetir sambil sesekali menoleh kearah Calista yang hanya diam membisu.


"Are you oke?" ucap Nathan memastikan Calista. "Hem yes i'am fine!" balasnya menoleh dan kembali lagi diam. "Oke, aku pikir kamu sedang tidak enak badan karena telihat dingin," sahutnya lagi, agar Calista mau ngobrol dengannya.


"Aku tidak ingin mengganggumu menyetir fokus dulu sampai ditujuan," balasnya dengan muka datar, pikiran Calista masih saja terbayang dengan Steven ia seperti lagi tidak nyaman merasa sedang menghianati Nathan yang tengah bersamanya.


Ia menunduk dan melihat tangannya yang ternyata masih menggenggam cincin yang tadi. " Yaampun," ucapnya sampai tidak menyadari jika Nathan mendengar. "Kenapa?" sahut Nathan mengerutkan keningnya heran saja.


"Ehm i-ini, ini tidak penting lebih baik dibuang," jawab Calista gugup raut wajahnya seperti sedang bersalah menatap kearah Nathan.


Niatnya ingin membuang cincin itu, ia membuka jendela mobil dan melemparnya keluar. Namun Nathan dengan cepat menahan dan melihat apa yang sedang Calista genggam.


"Tunggu jangan dibuang, aku ingin tau apa itu?" ucapnya menarik pergelangan Calista dan membuka telapak tangannya.


Calista terdiam dan luluh, ia dengan terpaksa saja memperlihatkan cincin itu kepada Nathan.


"Cincin, kok dibuang?" ucapnya setelah mengetahui, ia melihat wajah Calista dengan bingung dan penuh tanda tanya. " Tidak penting, jangan halangi biar ku buang saja," balas Calista kembali menarik tangannya dan bersikeras membuang cincin itu.


"Kasihan jika dibuang, itu sepertinya berlian," Nathan bisa tebak jika cincin itu pasti dari mantan pacar Calista, ia sengaja memancing Calista agar terdengar sedikit kesal dengan ucapannya.


"Tidak berguna, ia hanya membuatku kesal jika melihatnya," Calista benar saja kesal kepada Nathan yang menahannya membuang cincin itu.


Cincin itu tidak perlu disimpan menurut Calista karena jika dia masih menyimpan maka kenangan manis yang berunjung pahit bersama Steven akan tetap teringat padanya dan susah untuk melupakan.

__ADS_1


"Kenapa kalian putus?" tanya Nathan ingin tahu saja karena dulu Calista pasti sayang sama pacarnya itu, lihat saja waktu Nathan mendekatinya ia tidak sudi dan meminta untuk dijauhkan.


"Dia pria bersifat bejat," jawabnya singkat masih dengan wajah datar dan dingin. "Hahaha!!!" seketika tawa Nathan pecah mendengar Calista mengatakan itu, terlihat gemes tapi kasihan.


"Puas?" Calista malah emosi mendengar tawa Nathan yang seakan akan mengejeknya. " Maaf bukan begitu maksudku, hanya lucu saja caramu memberitahuku," balas Nathan menghentikan tawanya menyadari Calista terlihat sedih dan marah.


"Hem," Calista berdehem tidak menghiraukan Nathan lagi, ia malah menyandarkan kepalanya di jendela mobil tapi cincin itu masih ia genggam belum juga ia buang.


Nathan tercengeng sendiri diacuhkan oleh Calista. Tiba tiba saja terlintas di pikirannya " Jangan jangan Calista ingin dinikahi dengan Nathan hanya untuk melampiaskan kesedihan nya saja bukan karena cintanya.


Calista menoleh karena Nathan telah diam dan seperti sedang fokus menyetir, ia kembali menyadari cincin itu, kebetulan mereka berhenti tepat lampu merah, ia membuka kaca jendela niatnya ingin memberikan cincin itu kepada seorang ibu ibu yang sedang berjualan kue keliling disekitar itu.


"Bu kesini!" teriak Calista melambaikan tangannya kepada ibu ibu itu. Nathan memperhatikan dan pikirnya Calista mungkin ingin membeli kue kepada ibu itu.


"Mau beli apa Non?" ucap ibu itu memperlihatkan dagangannya. " Ohh tidak aku hanya memberikan ibu sedekah, mohon diterima," balas Calista, menyodorkan cincin itu kepada ibu pedagang kue.


"Ohh astaga, terimakasih Nona!" ibu itu langsung saja merebutnya dari tangan Calista dan kegirangan itu cincin berlian yang tidak ternilai harganya, ibu itu sangat berterima kasih dan bergembira riang.


Nathan tersenyum saat menyadari Calista tengah bersedekah kenangan terindah dari mantannya kepada orang yang tidak mampu, terlihat lucu dan tidak habis pikir.


" Kenapa malah diberikan kepada orang?" Nathan seakan akan terus memancingnya dan membuatnya emosi saja. " Aku bilang itu sudah tidak penting dan tidak aku butuhkan," jawabnya dengan raut wajah sebel mendengar Nathan memancing emosinya.


"Kasihan," balasnya mengejek Calista yang masih terlihat menyedihkan. " Bisa tenang enggak sih , kalau tidak turunkan aku," dan benar saja Calista meledak emosi dibuat Natha.


"Hehe, oke oke aku diam,," Nathan mengalah dan tidak banyak omong lagi, ia juga takut Calista ngambek dan bisa bisa kencan mereka hari ini berakhir dengan kesal.


Calista mendengus memutar bola matanya sebel kearah Nathan untuk menghilangkan galaunya ia memasangkan earphond ditelinganya.


...****************...


......................


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2