Teman Hidupku

Teman Hidupku
Ada Yang Cemburu


__ADS_3

"Stev kita harus pulang, aku takut Raysa khawatir denganku jika aku lama pulang," ucap Calista menggeser tubuhnya dan melihat jam di layar ponselnya. Tak mereka rasakan ternyata mereka sudah berada disana dalam tiga jam.


Calista teringat dengan Raysa yang memberi peringatan jika sore nanti mereka harus kerja.


"Ohh oke sayang kita pulang, aku akan mengantarmu kerumah," balas Steven beranjak dari duduknya, tidak ingin membatah Calista.


Calista mengangguk mengikuti Steven berdiri, mereka akhirnya meninggalkan taman itu setelah banyak yang mereka bicarakan.


Ucapan cinta dan janji setia serta kebahagiaan yang terlukis dalam hati Calista taman itulah yang telah menjadi saksinya.


Mereka berjalan menuju parkiran mobil dengan Steven yang merangkul pinggang Calista sungguh bermesraan.


...****************...


"Sa, kamu ada dimana?" teriak Calista saat memasuki rumah mencari keberadaan Raysa.


Calista berlari menaiki tangga ke kamar mereka. "Sa, kamu ada dimana?" serunya lagi membuka pintu kamarnya.


CEKLEK!


(Pintu kamar dibuka)


Calista melihat sekeliling kamar itu kosong, hanya suara gemercik air dari dalam kamar mandi yang terdengar, ia yakin Raysa pasti berada disana. Ia melirik jam raksasa di dinding kamar ternyata sudah menujukan pukul 15:00 wib artinya mereka harus siap siap untuk berangkat kerja.


Calista menghembuskan nafasnya sembari menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur.


Beberapa jam berada diluar ternyata capek juga, rasa ngantuk menguasai dirinya. Calista mencoba menutup matanya perlahan namun bayangan bayangan wajah tampan Steven menghantuinya. Bibir Calista mengukir senyum saat bayangan wajah tampan itu memenuhi penglihatannya.


Tanpa ia sadari Raysa yang baru keluar dari kamar mandi, memperhatikan Calista yang tengah berbaring menutup mata namun bibirnya sedang tersenyum.


Jahilnya Raysa ia meneteskan butiran air dari rambutnya keatas wajah Calista, sehingga Calista kaget segera beranjak dari tidurnya.


"Aaaaaah.., apaan tuh!" teriak Calista mendudukan tubuhnya dan membuka matanya melotot kearah Raysa. "Hahaha, apa kamu sedang bermimpi senyum senyum sendiri dalam tidurmu," sahut Raysa tertawa keras sembari berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian.


"Ihh dasar yah kamu Raysa," teriak Calista menghentakkan kakinya menarik handuknya kasar segera memasuki kamar mandi.

__ADS_1


"Jangan mengkhayal di kamar mandi List sudah tidak ada waktu, bentar lagi kita kerja woy!" Raysa berteriak dibalik pintu kamar mengeledeki Calista disana.


"Tenang kamu Sa, ada cerita yang bakal aku ceritakan padamu setelah ini," sahut Calista dari dalam segera membersihkan dirinya.


Raysa mengedikan bahunya dan memanyungkan bibirnya, ia turun kelantai bawah bersiap siap memakai sepatunya.


"Sa kamu sudah siap?" tanya Calista berlari menuruni anak tangga dengan menenteng tas selempang dan sepatunya. "Sudah dari tadi, kamu mah lama banget," balas Raysa yang sedang asyik dilayar ponselnya.


"Aduh aku kayaknya ngantuk banget loh Sa," Calista malah menghempaskan tubuhnya disofa tidak langsung memakai sepatunya. "Jangan bilang kalian sudah ehem ehem tadi ditaman List," Raysa malah mengada ngada, menuduh Calista yang tidak tidak lagi.


"Ngomong apa sih Sa, jangan ngawur deh kamu!" bentak Calista menoleh kearah Raysa, membuatnya sebel dengan kata kata Raysa barusan. "Lah terus kok kamu terlihat lelah seperti ini?" sahut Raysa mengerutkan keningnya dan menyilangkan kedua tangannya didada.


"Sudah deh nanti aku ceritain sama kamu, mau pake sepatu dulu lah aku!" balasnya segera memakai sepatunya.


Setelah perdebatan itu berakhir, mereka akhirnya beranjak pergi menuju Restoran tempat mereka kerja.


"Sekarang ceritakan kalian ngapain saja tadi ditaman?" ucap Raysa yang sedang memeluk lengan Calista berjalan santai. "Aku dan Steven sudah jadian Sa," balas Calista kegirangan memberitahukan kepada sahabatnya.


"Kamu serius List, demi apa?" sahut Raysa menghentikan langkahnya seraya menarik lengan Calista ikut kegirangan mendengar kabar gembira itu dari sahabatnya. "Aku serius, nih cincin yang dia berikan padaku sebagai tanda cintanya," Calista memperlihatkan cincin berlian itu kepada Raysa.


"Iyah betul, doain ya Sa semoga Steven pria yang pertama dan terakhir dalam hidupku," harapan Calista, karena Steven salah satu pria yang telah membuatnya terpikat dan jatuh cinta yang terlalu dalam.


"Amin deh List, aku akan dukung jika dia emang yang terbaik untukmu," sahut Raysa ikut mendoakan yang terbaik dengan hubungan Steven dan Calista.


Mereka berjalan sambil sesekali tertawa, Calista menceritakan segala pengalaman pertamanya saat menerima cinta Steven.


Raysa pun berharap ia dengan cepat mendapat kekasih agar tidak iri terus melihat Calista yang happy dengan pasangan hidupnya.


...****************...


(Restoran Nathan Alexander)


Langsung saja mereka berganti pakaian setelah sampai ditempat kerja, Raysa dan Calista berpencar pergi ditempat kerja mereka masing masing.


"Hai kak Radit, selamat sore?" sapa Calista saat ia memasuki dapur Chef Radit. Namun Radit terlihat cuek dan pura pura tak mendengar Calista menyapanya.

__ADS_1


"Kak Radit," ucap Calista lagi menghampiri Chef Radit yang tengah mempersiapkan bahan masakannya. Ia masih saja terlihat cuek tak menoleh sedikit pun kearah Calista.


"Loh kakak kenapa sih?" Calista jadi kebingungan menerka nerka kesalahannya namun ia sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun, kenapa Chef Radit malah cuek dan menjauhinya.


"Aku salah apa sih sama kak Radit, kenapa kak Radit sepertinya marah kayak gitu samaku?" gerutu Calista berdiri mematung di belakang Chef Radit.


"Aku kesal dan marah padamu List, aku kecewa ternyata selama ini kamu menjalin hubungan kepada Tuan Nathan" ucap Chef Radit mengeluarkan kekesalannya kepada Calista, ternyata kemarin malam ia sempat melihat Calista jalan berdua bersama Nathan.


"Apa maksud kak Radit," balas Calista menarik bahu Chef Radit agar ia menghadap Calista dan menjelaskan apa maksudnya.


Sementara di luar pintu dapur Nathan berjalan hendak masuk, tapi langkah kakinya terhenti saat melihat Calista dan Chef Radit tengah berbicara saling berhadapan dan kelihatannya mereka sedang serius.


Ia bersembunyi dibalik pintu dan mengintip apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


"Jawab kak Radit, apa maksud perkataanmu itu?" tanya Calista sekali lagi saat Radit berhadapan dengannya. Chef Radit memandangi Calista tanpa ada ekspresi apa pun, dengan beraninya dia memegangi kedua tangan Calista.


Calista terdiam mengerutkan keningnya sama sekali tidak paham dengan maksud Chef Radit padanya.


Nathan yang menyaksikan mereka diluar ikut mengerutkan keningnya dan merasa cemburu melihat kedekatan Calista kepada Chef Radit.


Inginnya ia mendengar apa yang sebenarnya diucapkan Chef Radit kepada Calista, tapi dering ponselnya yang membuatnya buru buru enyah dari situ.


Calista dan Radit yang tidak menyadari kedatangannya disana, masih dengan posisi berhadapan.


"Aku cemburu List melihatmu bersama Tuan Nathan, aku suka sama kamu perasaanku tidak bisa aku sembunyikan lagi padamu," ucap Chef Radit setelah ia mengambil nafas terbaik untuk mengungkapkan isi hatinya kepada Calista.


"Tidak kak Radit, tidak!" balas Calista menarik paksa tangannya dalam genggaman Chef Radit, ia menggelengkan kepalanya dan melangkah mundur menjauh dari Chef Radit.


"Aku tidak mungkin menerima kak Radit, selama ini aku sudah anggap kak Radit seperti kakak ku sendiri. Dan lagi pula sahabatku Raysa menyimpan perasaan kepada kakak, aku tidak menghianatinya seharusnya aku memperjuangkannya kepada kak Radit," tolak Calista dan menjelaskan yang sebenarnya, padahal Raysa yang selalu berharap agar Chef Radit mempunyai rasa padanya, karena selama ini Raysa menyukai dan mengagumi Chef Radit.


Radit terdiam mendengar dengan jelas yang diucapkan Calista. Sedikit tersentak saat Calista mengatakan jika Raysa lah yang menyukai Chef Radit bukan dirinya.


...****************...


......................

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2