Teman Hidupku

Teman Hidupku
Kencan Bersama Calon Suami


__ADS_3

Nathan melihat sekeliling taman yang sudah jauh banyak perubahan dari beberapa tahun yang lalu, makin indah dan makin nyaman berada disana.


Ia menoleh kearah Calista yang berjalan berpas pasan denganya masih terlihat dingin tanpa ekspresi sedikit pun.


"Aku minta maaf jika aku memaksa mu untuk jalan samaku hari ini, aku tidak tahu jika kamu lagi badmood," ucap Nathan merasa tidak enak melihat Calista seperti tidak senang dengannya.


Nathan duduk di kursi taman yang berada dibawah pohon rindang disana terasa sejut karena angin yang terus menerpa kearah pohon.


Calista masih diam hanya mengikuti Nathan yang duduk, dia juga ikut duduk disebelah itu.


"Atau tidak kita pulang saja," ucap Nathan karena Calista masih tidak mau ngomong. " Aku nyaman disini, tak ingin pulang dulu," sahut Calista segera menolak, baru juga sampai malah bilang pulang.


Calista melihat kearah Nathan memutar bola matanya malas," Dasar pria tidak peka!" batinnya bergerutu kesal.


"Aku tidak nyaman jika mantan pacarmu yang sedang ada dipikiranmu, sungguh aku tersinggung!" balas Nathan, sedikit kesal sih tadinya ia mengajak Calista untuk sekedar berbicara tentang rencana mereka tapi kalau begini keadaannya sudah tidak enak lagi.


"Maaf," sahutnya singkat merasa sangat bersalah, padahal Nathan adalah masa depannya tapi entah kenapa pikirannya tertuju pada Steven yang hanya disebut masalalu nya yang suram.


"Ada baiknya kamu harus menentukan pilihanmu sebelum kamu terlanjur menikah denganku," Nathan masih belum berharap sepenuhnya Calista benar mau menikah dengannya, mungkin saja semalam ia mengatakan demikian hanya tidak tega saja dengan orang tuanya, nyatanya hati dan cintanya masih kepada mantannya.


"Aku memilihmu, dan mau dinikahi sama kamu," jawabnya mantap, ia menatap lekat wajah Nathan tanpa berkedip sedikit pun.


Nathan terkesima menatap Calista, kadang ia tidak mengerti dengan sikap yang selalu berubah ubah pada Calista.


"Apa kamu mencintaiku Calista?" tanya Nathan butuh kepastian saja agar ia tahu isi hati Calista yang sebenarnya.


Calista terdiam menunduk dan ragu untuk menjawab. " Bisakah kamu menjawab, aku juga ingin tahu isi hatimu yang sesungguhnya," Nathan semakin menyelidikinya, hari ini mungkin adalah kesempatan mereka untuk mengungkapkan semua apa pun perasaan mereka.

__ADS_1


Calista menarik nafasnya dan membuangnya kasar. " Jika aku menjawab aku mencintaimu, apa kamu punya perasaan yang sama dengan ku?" ucap Calista kembali melontarkan pertanyaan kepada Nathan.


"Perasaan suka dan cinta memang ada buat kamu Calista, selama ini aku pendam dan aku coba menguburnya dalam dalam karena kamu memilih orang lain dibanding aku." Jawabnya jujur apa adanya, memang iyah Nathan pernah punya perasaan kepada Calista namun setelah ia tahu Calista sudah memilih orang lain rasa cintanya itu ia pendam sendiri.


"Terus sekarang bagaimana?" Calista juga ingin tahu perasaan Nathan padanya sekarang, agar nanti tidak terjadi konflik dan saling membenci.


"Sekarang aku masih mencintaimu dan tulus, menikahimu emang sudah keinginanku," jawabnya mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Calista.


"Dan aku juga mencintaimu kak Nathan, sekarang aku sadar ternyata cinta sejatiku itu adalah kamu, maaf jika dulu aku menyakiti perasaanmu," balas Calista tersenyum sedih menatap mata Nathan.


Ia yakin ucapan Nathan tulus dan tidak ada dusta, dulu Steven berbeda saat mengucapkan isi hatinya pada Calista. Sekarang ia mengerti orang yang tulus dan yang mendusta.


" Aku sudah memafkan mu sedari dulu," Nathan memberanikan membelai rambut Calista dan menyelipkan beberapa helai didaun telinganya.


" Apa kamu bahagia memilihku?" tanya nya mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Calista. " Bahagia banget," balas Calista tertawa tapi meneteskan air mata. Itu tandanya kebahagiaan yang Calista rasa sudah melebihi dari segalanya sehingga ia terharu sampai menitiskan air mata.


" Kamu milik ku mulai sekarang dan sampai maut memanggilku," ucapnya saat Calista sedang merasakan hangat pelukannya dan aroma maskulin tubuhnya.


Calista sangat tertarik dengan pria yang harum dengan maskulin itu, dan rasanya ia juga benar sudah mendapatkan pria yang rela menyodorkan tulang rusuk untuknya.


"Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untukmu," Nathan masih saja mengucapkan kalimat demi kalimat agar Calista yakin padanya jika semua ini bukan lah sekedar manis dimulut saja.


Nathan tidak seperti pria diluar sana yang hanya mengatakan kata kata manis tapi unjungnya menyakiti dan meninggalkan.


Nathan adalah sosok pria setia dan jujur, apa yang sudah ia miliki dengan sepenuh hati ia menjaga dan mencintai, tinggal tergantung wanitanya yang tidak setia dan mau menghianatinya.


" Makasih kak Nathan, aku juga akan berusaha untuk menjaga cinta tetap untukmu selamanya," balas Calista, dengan setulus hatinya.

__ADS_1


Ia pernah kecewa dan sakit hati, ia sudah merasakan bagaimana sakitnya bila diduain dan di tinggalkan, maka ia berjanji dalam hidupnya jika ia menemukan cinta sejatinya sebesar apa pun godaan ia tidak akan goyah, hati dan cintanya ia kunci untuk satu orang dalam hidupnya.


"Aku percaya padamu, mulai sekarang kamu adalah kekasihku," ucap Nathan tersenyum melihat Calista yang makin membenamkan wajahnya didalam dada empuknya.


Nathan merasa geli dan hawanya panas, seumur umur ia tidak pernah sedekat itu dengan wanita.


Wajar ia terlihat tidak biasa, tapi Calista sangat berani menggodanya. " Ehm List, sebaiknya aku membelikan kita minuman dan cemilan dulu, kita bersantai lebih lama nanti disini," Nathan mencari alasan agar Calista menjauh sedikit, ia terlihat sesak dan berkeringat dingin, si ontong yang berada dibawah sana seperti bangun merasakan kedekatan wanita cantik itu.


Calista tersenyum, di sela sela keseriusan ia malah jahil dan nakal. Ia mencobai Nathan bagaimana reaksinya jika dipancing seperti itu.


Ternyata ia beda, tidak mau meladeni sikap seperti itu, Calista sangat yakin jika Nathan memang nyata pria yang baik baik bukan seperti mantan pacarnya.


"Hem, ya sudah aku tunggu kak Nathan disini," balas Calista memundurkan tubuhnya pelan, dan tersenyum kearah Nathan.


" Aku akan cepat kembali, penjualnya disana tidak jauh," sahutnya segera berdiri saat Calista melepasnya.


Bukan karena takut dan tidak jentelmen hanya saja belum waktunya, ia tahu Calista memancingnya tapi masa bodoh sebelum halal ia tidak mau bermain main dulu dengan itu.


"Tunggu tanggal mainnya, aku akan membuatmu lemas," batinnya menghembuskan nafasnya kasar seraya pergi dari sana menyisakan Calista sendiri. Nathan memang kesal terhadap Calista karena jahilnya otongnya bangun di waktu yang tidak tepat.


"Hahaha dasar pria aneh, tapi aku suka ternyata dia bukan pria mesum seperti Steven," ucap Calista tertawa sendiri melihat Nathan seperti cacing kepanasan ia buat.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2