Teman Hidupku

Teman Hidupku
Aku Sangat Membencimu


__ADS_3

"Kenapa, mau melawan?" tanya Steven dengan wajah seremnya. Calista menatapnya dengan tajam tanpa berkedip sedikit pun. "Pantaskah kamu melawan perempuan hamil sepertiku?" sahut Calista ingin menyindir.


"Bukan aku yang mulai, tapi kamu. Bukankah kedatanganku disini baik baik padamu?" balasnya melontarkan kesalahan kepada Calista. " Kamu keterlaluan Steven!" seru Calista tidak bisa menahan diri, untuk menghilangkan emosinya akhirnya ia menangis di pundak Raysa.


Raysa ikut kasihan dan sedih kepada Calista, merasa cemas pada bayi di perut sahabatnya karena jatuh dan terbentur seperti itu.


"List lebih baik kita ke kelas saja, jangan ladenin Steven," ucap Raysa ingin membawa Calista pergi dari hadapan Steven saat itu. "Tapi Sa, pinggangku sangat sakit," balasnya lirih sambil menitiskan air matanya. "Atau kamu pulang saja biar aku antar," pikir Raysa ada baiknya hari itu mereka jangan kuliah, ia mengantar Calista kerumah agar merasa baikan.


"Tidak, kita masuk kelas saja," tolak Calista memang sudah sangat keras kepala, jelas jelas ia jatuh dan tubuhnya terbentur kuat. Harusnya ia itu berpikir cepat pulang dan bagusnya memeriksakan diri untuk memastikan agar bayinya tidak apa apa.


"Ya sudah ayo!" ajak Raysa tidak menghiraukan Steven disana yang masih tertawa mengejek Calista. "Aku sangat membencimu Steven, sampai kapan pun jangan harap aku memaafkanmu bila terjadi sesuatu dengan bayiku!" jelas Calista dengan penuh emosinya berkata sangat keras kepada Nathan.


"Cuihh aku saja tidak sudi kamu memaafkanku, aku doain semoga bayimu tidak selamat!" jawabnya membuat tubuh Calista bergetar dengan emosi mendengar ucapan kotor dari Steven.


"Kamu!" "Sudah List, ayo kita pergi!" Calista ingin mendekat dan menampar Steven lagi karena sakit hati dengan kata kata itu barusan, namun dengan cepat Raysa menahan dan menariknya pergi dari sana.


Steven menatap sinis kepada Calista dengan mata memalas dan mengangkat sebelah bibirnya merasa jijik kepada Calista.


"Hahaha rasain tuh, makanya jadi cewek jangan gatel!" ucap Zain ikut menertawakan Calista.


Mereka duduk menggantikan posisi Raysa dan Calista di bangku kantin itu. " Aku belum puas menyakitinya, aku akan membuat rencana yang lain," balas Steven malah kepikiran untuk mencelakai Calista lebih dalam lagi.


"Boleh sih bro tapi jangan pakai tanganmu sendiri, cari orang buat celakai dia," usul Zain seakan akan mendorong Steven agar rencana nya ini ia jadikan. "Hem itu yang lagi aku pikirkan," balasnya dengan mata yang lurus kedepan dan memikirkan cara bagaimana mencelakai Calista.

__ADS_1


Steven telah dikuasai dengan pikiran jahat ditambah Zain yang selalu mengompori agar ia berbuat jahat kepada Calista. Steven benar benar sudah hilang akal sehatnya, karena kecewa dan sakit hati ia tidak bisa merelakan Calista dimiliki orang lain.


"List kamu yakin tidak apa apa, tadi kamu terbentur sangat kuat loh," ucap Raysa mencemaskan Calista. "Tidak apa apa sih Sa, cuman benar pinggangku emang sakit banget!" balasnya dengan wajah yang menyedihkan ******* ***** pinggangnya. "Lebih baik kita pulang sekarang," saran Raysa biar Calista dapat istirahat dirumah.


"Tapi kamu tidak apa apa tidak ikut ujian hari ini?" Calista sebenarnya tidak niat untuk pulang kalau ia pulang Nathan curiga karena ia sangat cepat. " Tidak, kita izin sama Dosen," jawab Raysa rela mengorbankan waktunya untuk Calista mengingat itu adalah sahabatnya, apa pun yang terjadi ia tidak akan meninggalkan.


"Hem ya sudah," sahut Calista pasrah ia menunggu Raysa saja. " Ya sudah yukk?" Raysa beranjak dari duduknya meraih lengan Calista dengan pelan, membantu agar pinggangnya tidak terlalu sakit.


"Hati hati List, aku bantu kamu," ucapnya juga meraih tas Calista, mengambil alih untuk membawa.


Mereka pun berdua memutuskan untuk pulang siang itu, padahal mereka belum mengikuti ujian satu mata pelajaran pun.


Demi sahabat, Raysa ikut bolos karena baginya sahabat lebih penting dari segalanya.


Kebetulan sejak tadi Zain memperhatikan mereka, saat ia tahu jika Raysa dan Calista pulang ia segera mengabarin kepada Steven agar mereka mengikuti dan satu kesempatan untuk berbuat aksi jahat mereka.


Raysa melaju mobilnya saat Calista telah menaiki, lajukan mobil sangat pelan dan hati hati.


Sementara dari belakang Steven dan Zain tengah mengikuti mereka.


"Senggol saja mobilnya Zain kalau boleh dorong saat melewati jurang," ucap Steven penuh dengan kelicikannya. "Oke, tenang saja kita cukup memantau saja dulu," balas Zain dengan wajah sok hebatnya, padahal mereka tak memikirkan jika perbuatan yang dilakukan ini membuat dampak buruk kepada orang lain.


Raysa melajukan mobil tanpa ada rasa curiga sedikit pun jika dari belakang Steven dan Zain mengkuti untuk merencanakan kejahatan.

__ADS_1


"Cepat sedikit Zain, pas lebih dekat senggol saja mobilnya," seru Steven memerintahkan Zain karena rasanya ia sudah tak sabar dengan aksi gila mereka ini. "Sabar bro, kendaraan yang lain masih ramai tunggu di jalan sepi," sahut Zain agar tidak terlalu buruk buruk dulu.


"Alakhh, jangan pakai lama dong!" ucap Steven merebut setir ditangan Zain, sehingga kepala mobilnya menabrak kuat belakang mobil Raysa yang ada di depan mereka.


"Ayo cepat ngebut!" teriaknya setelah berhasil mobil yang dikendari Calista oleng hingga masuk ke got.


"Ahhhh, awas Sa hati hati!" teriak Calista memaksakan kaki Raysa untuk merem mobilnya. "Ohh my God, apa yang terjadi List," sahut Raysa, secara bersamaan mereka terlempat kedepan sehingga kepala sama sama terbentur


"Owwh sakit," ucap Calista meringis memegangi kepalanya yang terbentur. "Siapa sih yang nabrak kita dari belakang?" ucap Raysa ikut memegangi kepalanya. "Aku iuga tidak tahu, coba turun Sa lihat kalau mobilnya tidak rusak," balas Calista dengan wajah yang sudah memucat.


"Tunggu bentar yah, jangan turun biar aku saja," Raysa dengan cepat turun dan memeriksa mobilnya.


Matanya melotot saat ia mengetahui ban mobil depannya masuk kedalam got dan belakang mobilnya sedikit hancur.


"Astaga Tuhan mobilku parah banget ternyata!" ucap Raysa memegangi kepalanya merasa frustasi melihat keadaan mobilnya. "List mobil nya parah, ban nya masuk got juga," Raysa mengadu kepada Calista dengan wajah lesu tak berdaya.


"Aduh gimana dong Sa aku turun yah, kita cari pertolongan saja," sahut Calista benar benar sudah sangat kesakitan sejak tadi ditambah kepalanya yang sudah terbentur.


"Jangan turun List biar aku saja yang usahakan," cegah Raysa mulai curiga jika ada yang sengaja mencelakai mereka, yang terpenting sasarannya pasti Calista. "Tapi Sa," "Sudah deh List kamu tenang saja," ucap Raysa memotong ucapan Calista tak membiarkan turun di dalam mobil.


Calista cemberut, sedih dan khawatir, hanya gara gara dia Raysa ikut terjebak di dalamnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2