Teman Hidupku

Teman Hidupku
Keadaan buruk pun terjadi


__ADS_3

Malam itu Raysa memilih untuk tidak mengganggu Calista dan Nathan. Ia segera beristirahat, ketakutan pun mulai menghantuinya karena keadaan Calista yang membohongi suaminya.


"Mudah mudahan Calista baik baik saja deh, mampuslah aku jika sampai terjadi apa apa sama dia, huuffftt" ucap Raysa sendiri menghela nafas panjang sembari menarik selimut menutupi tubuhnya.


...----------------...


"Sayang ini langsung tidur, tidak mau ngapa ngapain dulu gitu?" ucap Nathan memeluk tubuh Calista yang berbaring menyamping membelakangi Nathan. "Aku lagi tidak enakan sayang, pinggangku sakit banget," balas Calista penuh dengan suara manja nya. "Hmm ya sudah deh, kalau begitu aku bantu pijitin yah," Nathan meletakan telapak tanganya diatas pinggang Calista mulai mengelus dengan lembut


Mata Calista terpendam seraya menikmati pijitin tangan suaminya, rasanya sangat adem. Jika pijitin itu sampai dipagi hari pasti tidurnya nyenyak malam itu.


"Gimana sayang, enakan?" tanya Nathan mengangkat tubuhnya setengah mencium pipi Calista. "Hemm aku sangat nyaman," balasnya mengangguk sambil tersenyum. "Tapi habis ini kamu kasih aku kesempatan yah?" Nathan malah terus terus meminta tubuh Calista, padahal jika saja ia tahu Calista sedang sakit mungkin pikirannya tidak kesana.


"Tahan dong sayang, kok tidak tegaan denganku yang mengandung anakmu?" ucap Calista memberi perkataan menohok agar Nathan sedikit peka padanya. "Astazim maaf sayang, aku benar benar tidak tahan terus bila ada disampingmu," balas Nathan tersentak mendengar Calista mengatakan jika ia tak tega.


Sebenarnya Nathan pun tak tahu apa yang sedang terjadi padanya, sikit sikit minta itu mulu pada Calista. Sementara dulu ia sama sekali tidak memikirkan hal sekotor ini.


Nathan terdiam melanjutkan pijitannya di pinggang Calista. "Bukan tidak tega sih sebenarnya tapi aku tidak tahu kenapa sangat panas bila didekat Calista," batinnya menatap langit langit kamar sambil menghela nafas panjang.


Calista malah menutup matanya untuk tidur, sementara otak dan pikirannya sedang beradu bagaimana cara menjelaskan semua itu kepada suaminya


Malam itu benar benar ia sudah tak tahan dengan rasa yang teramat perih, biarpun Nathan terus memijitnya tapi rasa sakit itu malah semakin memucat sampai Calista terus meringis tanpa adanya suara


"Ehhmm sakit banget," ucapnya lirih terdengar seperti sedang berbisik. Nathan menghentikan gerakan tangannya mengangkat setengah tubuhnya kembali menatap wajah Calista yang membelakanginya.


"Sayang bilang apa?" tanya nya sedikit tidak mengerti karena suara Calista yang sangat kecil dan serak. "Perut dan pinggangku sakit yang," jawab Calista, ia memberanikan diri terang terangan saja karena sudah tak tahan dengan rasa sakitnya.


Nathan melongo dengan cepat mendudukan tubuhnya memegang tubuh Calista, kepanikan mulai menghantuinya.


"Kenapa bisa sesakit itu?" tanya nya menatap wajah Calista yang menyedihkan dengan menutup matanya. "Pokoknya sakit, antar aku ke Rumah Sakit!" jawab Calista dengan suara serak seketika itu juga tangisnya pecah.

__ADS_1


Nathan segera memeluknya merasakan tak tegaan melihat istrinya kesakitan seperti itu.


"Tenang sayang, sekarang kita ke Rumah Sakit," ucapnya menurunin ranjang mengambil pakaianya.


Nathan mulai kepanikan dan takut, dengan cepat ia membawa Calista turun kelaintai bawah.


"Sayang panggil Raysa biar dia ikut juga," ucap Calista dengan suara kecil nya sambil menahan rasa perih dan kram di perut nya. "Iyah sayang sabar yah tahan sebentar!" sahutnya.


Jam sudah menunjukan pukul 22:45 malam tentu para pelayan disana memang sudah beristirahat, ditambah Raysa tentu sudah tidur jam segitu.


TOK-TOK-TOK-!


"Raysa!" seru Nathan memberanikan diri untuk membangunkan Raysa. "Iyah tunggu bentar yah," sahutnya mungkin saja belum tidur atau masih mengkhawatirkan Calista.


Dengan cepat Raysa bangun membukakan pintu untuk Nathan.


"Ada apa kak Nathan?" ucap nya dengan suara kecil menatap wajah Nathan. "Kamu ikut kami ke Rumah Sakit, Calista sedang kesakitan," balasnya dengan wajah yang sudah mulai panik. "Ohh ya sudah kak ayo!" sahut Raysa cepat menanggapi karena ia emang sudah tahu apa yang terjadi kepada Calista.


Ia segera berlari mengekori Nathan untuk menghampiri Calista yang tengah duduk di sofa ruang tamu, wajah nya terlihat sangat menyedihkan dan berkeringat dingin.


"List tadi lagi aku sudah bilang kita periksa ke RS, ini nih yang aku khawatirkan dari tadi terjadi juga!" ucapnya berbisik sambil menarik tangan Calista pelan untuk membantu berjalan keluar.


"Sa tolong jaga rahasia ini, kamu jangan ngomong apa apa yah!" balas Calista, padahal Raysa sudah sangat geram pada sikapnya yang tidak mau jujur kepada suaminya.


Raysa diam sambil menompang Calista menunggu mobil yang tengah diambil Nathan dari parkiran rumah.


"Raysa tolong bantu dia masuk pelan pelan," seru Nathan membukakan pintu untuk Calista. "Iyah kak, List ayo!" sahut Raysa, Calista mengangguk seraya melangkahkan kakinya masuk kedalam mobil


Malam itu benar benar sangat menyedihkan, Calista yang tidak ada pengalaman dibagian mengandung anak malah tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada nya.

__ADS_1


Perutnya yang sangat teramat kram bersamaan pinggang yang terasa panas dan rentak.


Wajahnya terus meringis kesakitan sambil ******* ***** kuat lengan Raysa yang sedang menjaganya.


"Bertahan yah Sayang kita sebentar lagi sampai," ucap Nathan yang terus memperhatikan Calista dibalik spionnya di depan kemudi.


Pikiran Nathan sudah sangat tidak baik baik saja, perasaan buruk menghantui, hatinya mendua antara anaknya dalam bahaya atau Calista yang kritis.


Ia jadi frustasi tidak sabar ingin segera sampai ke RS untuk mengetahui apa yang sedang terjadi, bingung pun ia rasakan karena tadi pagi saja Calista masih sehat sehat, tapi kenapa malam ini sudah seperti ini.


"Tolong jangan sembunyikan padaku Calista, apa yang terjadi padamu hari ini?" ucap Nathan melontarkan pertanyaan ini yang sejak tadi ia pendam.


Calista dan Raysa saling menatap ketakutan dan bingung mau jawab apa, apa mungkin mereka harus berbohong dalam keadaan kritis seperti ini?


"Ehmm aduh ti-tidakk kok, aku hari ini belum jatuh atau apa gitu, tidak-tidak ada!!" jawabnya terbata bata terlihat takut dan gugup. Raysa masih terdiam sambil mengelus elus pinggang Calista. Sebenarnya mulutnya sudah siap terbuka untuk menjelaskan semua ini tapi Calista kenapa masih berbohong kepada suaminya.


"Apa benar itu Raysa, tolong kalian jujur jangan membohongiku!"seru Nathan dengan wajah yang sudah kusut dan cemas memilihat Calista yang semakin meringis kesakitan.


Perasaannya sudah mulai tidak enak, pasti diantara kejadian ini Calista berbohong padanya.


Ia menunggu jawaban Raysa dan berharap menjelaskan yang sebenarnya agar ia tenang.


"Raysa jawab?" ucapnya lagi karena Raysa terdiam. "Ahhhmmm iyah kak Nathan, Calista hari ini terlihat baik baik saja tidak ada yang terjadi," jawabnya ikut membohongi karena Calista yang memberi kode bersikeras untuk menyembunyikan semua ini.


Nathan terdiam masih tidak puas dengan jawaban ini, karena ia yakin ada sesuatu yang sudah terjadi hari ini kepada Calista. Raut wajah kedua bersahabat ini terlihat sangat ketakutan dan cemas.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2