Teman Hidupku

Teman Hidupku
Nathan Jadi Galau


__ADS_3

"Mia hari ini Calista libur apa?" tanya Nathan yang melihat seluruh karyawan tidak satupun disana terdapat Calista. " Benar Tuan Calista dan Raysa hari ini libur, jawab Mia dengan sopan kepada Bosnya.


Nathan bergegas pergi dari sana tanpa menyahuti lagi Mia yang masih berdiri disana. Entah kenapa perasaan Nathan jadi galau karena hari ini ia tidak melihat wajah Calista.


Ia meninggalkan Restoran menyetir mobilnya, langkahnya entah kemana ia tuju.


Karena galau dan frustasi akhirnya malam itu ia pergi ke club untuk menghilangkan sedikit penatnya.


(Sedang Bertelepon)


"Oke Alfred, aku tunggu kamu di Club XXX malam ini," Nathan mengajak temannya untuk sekedar menemaninya untuk pergi ke Club itu.


Nathan mematikan sambungan teleponnya dan segera membelok mobilnya melaju ditempat yang ia inginkan.


......................


Sementara Calista dan Raysa mengisi hari libur mereka dengan dibawa jalan jalan satu hari full bersama Steven dan satu orang lagi pria teman Steven untuk sekedar menemani Raysa.


Sebelum Steven mengantar mereka pulang, ia singgah di sebuah Cafe untuk sekedar menikmati makan malam disana.


"Sayang kita makan malam dulu yah kasihan kalian satu hari ini dalam perjalanan jauh, takutnya nanti kalian masuk angin," ucap Steven menoleh kearah Calista yang duduk di jok samping kemudi.


"Oke, Sa ayo kita turun!" sahut Calista menyetujui ia mengajak Raysa turun dan memasuki Cafe itu.


Sementara Steven dan Zain temannya mengekori kedua gadis cantik itu memasuki Cafe.


"Bro kamu tidak tertarik dengan Raysa?" bisik Steven mengobrol saat masih berjalan memasuki Cafe. " Aku sih mau mau saja bro tapi Raysa kayaknya tidak suka samaku," balas Zain merangkul pundak Steven sambil tertawa bersama.


"Sabar dulu kamu harus merayunya dengan santai," bisik Steven lagi agar tidak terdengar oleh Calista dan Raysa di depan. Zain mengangguk dan tersenyum tidak lagi menjawab karena Calista sesekali menoleh kearah mereka dibelakang.

__ADS_1


Mereka pun duduk dan menunggu pesanan mereka yang telah dipesan Steven kepada pelayan Cafe.


Steven dan Calista masih saja selalu mengumbar kemesraan walaupun didalam kerumunan, membuat Raysa sedikit risih karena bareng mereka tanpa ada pasangannya.


"Bisa tidak sih kalian biasa saja kalau lagi bareng kayak gini, mataku sakit lihat kalian tahu," gerutu Raysa memutar bola matanya sebel melihat pandangan didepan matanya tengah bermesraan.


"Hahah maaf Sa bukan sengaja membuatmu cemburu, lihat tuh Buaya ini sukanya nempel terus," balas Calista tertawa dan menepuk pelan pipi Steven.


"Mengerti lah Sa, kita kan baru pacaran maunya lengket terus," sahut Steven ikut tertawa mendengar ucapan Raysa.


"Hem," Raysa malah menjawab dengan deheman saja sambil memanyungkan bibirnya, tidak mau meladeni lagi takutnya nanti dia diledeki bersama Zain yang sedari tadi hanya diam saja disana.


Pelayan membawakan makanan sesuai dengan pesanan mereka, tanpa ragu mereka berempat langsung menyantap makanan yang telah disajikan itu didepan mereka.


Namun lagi lagi Calista dan Steven malah tidak menghiraukan Zain dan Raysa disana, mereka malah enakan suap suapan di depan umum tanpa ada rasa malu sedikitpun.


Semenjak Calista menjalin hubungan kepada Steven ia makin lancang dan sudah jauh ada perubahan sikap, ini semua mungkin pengaruh dari Steven yang hampir setiap hari mengajaknya keluar, baik itu jika berada di kampus maupun jika sudah berada dirumah.


...****************...


Nathan menoleh kearah Alfred dan tersenyum. "Eh bro baru saja aku sampai, ayo duduk," balas Nathan menepuk tempat duduk disampingnya.


Alfred mengangguk dan tersenyum, ia merasa ada yang aneh kepada temannya ini tidak biasanya mengunjungi bar seperti itu apa lagi minum minuman keras.


"Ada masalah apa kamu Nat?" tanya Alfred tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan hal ini kepada Nathan.


"Ohh tidak ada, aku hanya pengen saja nyoba minuman di bar," jawabnya kepada Alfred duduk dengan santai sambil menikmati alunan musik yang suaranya sedang memenuhi gendang telinganya.


Alfred mengangguk dan ia yakin Nathan lagi dalam masalah tapi ia juga tidak tahu, untuk bertanya ia mengurungkan lagi niatnya karena Nathan pasti tidak mau cerita dengannya.

__ADS_1


Nathan kembali memesan Wine kepada Bartender yang ada disana, padahal ia telah menghabiskan dua botol minuman berakohol tapi masih saja ia memesan.


Alfred yang sedari tadi hanya menemaninya dan tidak terlalu banyak minum, terus memperhatikan Nathan yang sudah lumayan mabuk dan mulai tak sadarkan diri.


"Nat kamu kenapa mabuk kayak gini, lebih baik kita pulang tidak usah pesan minuman lagi," tolak Alfret segera mengibaskan tangannya saat Bartender itu menyodorkan satu botol lagi minuman kepada Nathan.


"Tolong jangan hentikan aku Alfred, aku harus meluapkan kekesalanku di alkohol ini," ucap Nathan dengan suara yang sudah mulai tidak jelas. Matanya sayu dan tubuhnya dipenuhi dengan keringat serta rambut yang sudah acak acakan.


"Sebenarnya masalahmu apa Nat?" tanya Alfred merasa heran ia mengerutkan keningnya menatap Nathan.


"Aku dibuat kecewa oleh seorang gadis, sampai saat ini aku belum berani mengungkapkan perasaanku padanya karena takut ditolak," balasnya terbata bata, ia menyandarkan kepalanya dibahu sofa dengan botol minuman ditangan.


"Astaga hanya masalah sepele kamu malah menyakiti dirimu sendiri," Alfred merasa kasihan dengan Nathan yang terpuruk seperti ini, belum juga ia mencoba malah sudah merasa kecewa saja.


"Mending kita pulang Nat, biar aku antar kamu kerumah," Alfred berdiri menarik lengan Nathan dengan paksa untuk membawanya keluar dari sana. "Biarkan aku membayar semua minumanku ini Al, tunggu!" bentak Nathan menepis tangannya dan menarik beberapa jumlah uang dari dompet nya untuk membayar harga minumannya


Langsung saja Alfred segera membawanya pulang dari sana, untung Alfred tidak membawa kendaraannya jadi bisa saja ia membawa mobil Nathan untuk diantar sampai kerumah.


Sementara Nathan disepanjang perjalanan terus berbicara tidak jelas namun ia selalu menyebut nama Calista. Alfred yang hanya mendengar tanpa menyahut menerka nerka siapa sebenarnya gadis yang bernama Calista itu.


"Al kamu nginap dirumahku malam ini," ucapnya menoleh kearah Alfred dengan mata sayu, pikirannya sasar dan tidak ada tempat untuk berbagi lagi. "Oke Nat, aku nginap dirumahmu lagi pula keadaanmu parah banget," Alfred mengiyakan karena ia sangat cemas dengan Nathan yang mabuk separah itu.


Tanpa di sadari Alfred memasuki pagar rumah Nathan yang sangat megah dan mewah, disana ada Satpam yang membukakan pintu untuk mereka.


"Ayo aku bantu," Alfred menarik Nathan keluar dari dalam mobil dan merangkul tubuh yang sudah tak bertenaga itu, ia segera membawa kedalam rumah untuk beristirahat.


Nathan berbicara dan tertawa sendiri entah apa saja yang ia ucapkan, sebenarnya Alfred sangat risih melihatnya sangat mabuk seperti itu namun ia tidak tega meninggalkan Nathan sendiri dalam keadaan mabuk seperti itu. Ia harus menjaga Nathan dan mengurungkan niatnya untuk tidak pergi dari sana.


...****************...

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG...


__ADS_2