
Calista melihat pintu rumah masih tertutup padahal ia telah perpesan kepada Marya jika hari ini ia pulang.
Ia menghampiri pintu dan menekan bel yang terletak disana.
TING'TING'TING!
(Suara bel berbunyi)
Beberapa kali Calista menekan bel itu dan akhirnya pintu dibuka.
CEKLEK!
Marya membuka pintu pelan dan mencaritahu siapa yang datang.
Calista berdiri diambang pintu dengan senyum haru terukir di wajahnya, tak lain dengan Marya ia terlihat terpengangah melihat yang datang ternyata Calista.
"Mamah!" serunya langsung berhamburan memeluk Marya. "Calista anakku," balas Marya menyambut pelukan itu dengan erat mengusap kepala Calista dan mencium pipinya untuk menghilangkan rasa rindu yang sudah menumpuk kepada anak gadisnya itu.
"Calista sangat kangen sama Mamah," ucap Calista memeluk erat Marya dengan penuh tangis bahagia, satu tahun berpisah selama itu kerinduan telah menggunung.
"Iyah sayang Mamah juga sangat merindukanmu," sahut Marya masih enggan melepas pelukannya. "Mamah sehat, tidak sakit?" tanya Calista sedikit melonggarkan pelukannya menatap wajah Marya yang hampir lupa dalam ingatannya.
"Mamah sehat sayang, ayo masuk!" balas Marya meraba raba wajah Calista dengan senyum sedihnya, lalu menarik tangan mengajaknya masuk kedalam.
Calista mengikuti Marya masuk kedalam dan melihat sekeliling ruangan rumah, rasa rindunya sedikit hilang melihat banyak kenangan disana.
Seseorang pelayan menghampiri mereka dan mengambil alih menyeret koper Calista, ia membawa kekamar yang telah mereka bersihkan karena Marya mengatakan jika hari ini Calista pulang.
"Siapa yang datang Mah?" teriak Jhon dari arah dapur menghampiri diluar ruang tamu, sontak Calista dan Marya menoleh kearah Jhon.
DEG!
Calista terdiam mematung dengan jantung yang hampir copot mendengar Jhon yang menghampiri mereka.
__ADS_1
Jhon tersentak kaget saat ia mendapati Calista yang tengah berdiri disana menatapnya diam.
"Calista," ucapnya mengagah dan mata bulatnya lekat kearah anak gadisnya yang pulang setelah pergi dalam satu tahun.
Calista terlihat gemetar, bibirnya susah untuk mengucapkan kalimat saat melihat Papahnya.
"Pah," ucapnya memberanikan diri ia melangkah pelan kearah Jhon, bagaimana pun ia merindukan sosok Ayah dalam hidupnya. Perasaanya bercampur anduk antar menyamperin atau tidak, dan pada akhirnya apa pun yang terjadi nantinya ia memberanikan diri menghampiri dan memeluk Papahnya.
"Pah, Calista minta maaf sama Papah," ucapnya berhamburan memeluk tubuh kekar Jhon yang mematung menatapnya. Perlahan tangan Jhon merangkulnya membalas pelukan Calista.
Papah yang harusnya minta maaf padamu Calista," balasnya mengecup pucuk kepala Calista dan dengan pelukan yang erat, tak terasa air matanya menetes menunjukan rasa rindu yang mendalam kepada anak gadisnya.
Hampir Calista berumur 18 tahun, baru kali ini ia memeluk erat dengan penuh haru dan rindu yang mendalam kepada anak gadisnya yang seharusnya dimanja bukan diperlakukan tidak adil seperti sebelumnya. Dalam hati Jhon menyesali segala perbuatannya yang selalu keras dan suka main pukul terhadap Calista.
Marya yang menyaksikan pelukan hangat dari Ayah ke anak gadisnya itu ia merasa bahagia, damai dan tentram. Baru kali ini ia melihat suaminya bersikap hangat terhadap Calista, ia mengelus dadanya rasa sesaknya selama ini ternyata hilang seketika saat melihat perubahan sikap suaminya yang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Sementara Glenka segera turun kelantai bawah untuk melihat yang tengah berbincang disana, langkah kakinya pun terhenti saat melihat Calista dan Papahnya saling memeluk dan mengeluarkan tangis.
"Aku sangat berdosa dengan mu, sebenarnya anak gadis selalu disayang dan dimanja bukan selalu dipukul, maafin Papah Calista," ucapnya lirih tak henti memeluk dan mencium Calista dengan penuh tangis.
Suasana seluruh ruangan itu menjadi penuh haru dan tangis, Glenka berjalan pelan ikut berdiri bersama Marya yang sedang menangis bahagia disana.
" Papah janji tidak akan melakukan perbuatan tidak baik lagi padamu Calista, apa pun keinginanmu Papah penuhi," ucapnya kepada Calista seraya melonggarkan pelukannya menatap wajah Calista dan mengusap air mata yang menetes dipipi anak gadisnya.
Calista mengangguk tak sanggup lagi untuk berkata kata, kini pandangannya beralih kepada Glenka yang tengah berdiri menatapnya.
"Kak Glen," seru Calista beralih memeluk Glenka dengan penuh senyuman. "Iyah Calista, kakak senang kamu tepati janjimu pulang hari ini," sahut Glenka menerima pelukan Calista.
Kini keluarga yang dulunya dingin dan tidak ada kebahagiaan, sekarang berbeda mereka menciptakan kembali suasana baru menjadi hangat dan mengukir kebahagiaan, kedua orang tua dan kedua anak dalam keluarga itu merasakan hati yang adem karena satu sama lain telah meminta maaf dan saling memafkan.
"Sebaiknya kita makan siang dulu, kasihan Calista pasti lapar dan capek," usul Marya setelah kesedihan berlalu dan mulai tenang. "Hmm benar aku sudah laper banget dan kangen ngumpul makan bareng dengan kalian semua," sahut Calista segera berdiri tidak sabar pergi keruang makan.
Jhon, Marya dan Glenka mengikuti Calista yang buru buru melangkah, dan lagi lagi ia dibuat kaget disana.
__ADS_1
Sambutan yang hangat dan istimewa.
Ruang makan telah terhias seindah mungkin kursi dan mejanya tersusun serta makanan mewah yang tersaji memenuhi meja.
Disana juga tertulis dengan huruf besar dan indah.
*Welcome In Home Calista*
Calista terpengangah kaget melihat kejutan seper wow dan istimewa, ia berbalik badan melihat orang tuanya dan kakaknya dengan penuh semangat dan tersenyum bahagia.
"Mah, Pah, kak Glen, ini ada apa?" ucapnya terbata bata sungguh ini suatu kejutan yang istimewa dari keluarga tentunya Calista merasa senang.
Mereka tersenyum kearahnya merasa puas melihat Calista bahagia seperti itu. "Ini semua Papah yang usul Calista untuk menyambutmu pulang," jawab Marya menjelaskan pertanyaannya yang membuatnya bingung sendiri dengan kejutan itu.
"Dan tentunya ini semua untuk tanda minta maaf Papah padamu," sahut Jhon membuka kedua tangannya dengan penuh senyum, tanpa ragu lagi Calista berlari kearah Jhon dan kembali memeluk Ayah nya erat.
"Thank's Papah," seru Calista membenamkan wajahnya didalam dada Jhon sungguh kebahagiaannya tidak bisa ia ungkapkan dengan kata kata lagi.
Calista mengangkat wajahnya melihat wajah Jhon yang tersenyum kearahnya, ia mencoba menjijit kakinya dan mengecup pipi Jhon untuk pertama kali dalam usia remajanya.
Jhon tersenyum seraya membalasnya ia megecup lembut kening Calista. " Ya sudah ayo coba masakannya," ajaknya, menoleh kearah istrinya dan anak laki lakinya.
" Kak Glen tidak kasih aku hadiah dimusim gugur ini,"tanya Calista merangkul pundak Glenka yang duduk bersampingan dengannya. "Ada nanti, kamu makan dulu gih," jawab Glenka mengusap rambut Calista dan mencubit pelan hidung mancung itu.
"Oke, aku tunggu hadiah dari kalian karena aku juga sudah siapkan hadiah untuk Mamah, Papah dan kak Glen," seru Calista mengambil makanannya.
Hari ini Calista merasakan kebahagiaan yang luar biasa, hal seperti ini tidak pernah ia temui sebelumnya.
Doa doa selama ini ternyata Tuhan telah mendengar, keluarga hangat dan bahagia telah ia temui dan telah Tuhan dengarkan.
Ia pun terus berdoa dan berharap agar kebahagiaan ini selamanya tidak pernah pudar lagi.
...****************...
__ADS_1
BERSAMBUNG...