
Segala acara pernikahan telah terlaksana dengan baik dan sesuai yang diinginkan kedua keluarga pihak laki laki dan perempuan.
Kini Calista dan Nathan sudah sah menjadi suami istri baik di agama dan negara. Hari pertama menjadi istiri Nathan dan berada di rumah yang berbeda jauh dari orang tua
Karena terlalu capek satu hari merayakan pesta pernikahan mereka, Calista masih tepar diatas tempat tidur yang ia tidak tahu entah punya siapa kamar itu.
Semalam mereka pulang sampai larut malam sehingga Linda menuntunnya masuk kamar melepas gaun pengantin dan segera tidur tanpa bertanya sedikit pun.
Matahari bersinar terang pagi itu pantulan sinarnya memasuki ruangan kamar yang tengah Calista tempati, ia menyadari dan terbangun namun matanya masih berat untuk dibuka.
Calista mencoba mendudukan tubuhnya namun rasa nya sangat pegal sehingga semua otot ototnya yang kaku ia regangkan, baru ia rasa sedikit baikan dan segar.
Matanya menatap sekeliling ruangan kamar itu sangat asing baginya, ia menjinjit kakinya dibawah lantai mencoba memeriksa kamar itu karena ia yakin kamar yang sedang ia tepati adalah milik Nathan bisa dilihat dari dekorasinya dan walpaper yang emang disukai oleh pria.
Calista berjalan kearah lemari hias yang dilengkapi dengan meja yang berada dipojok kamar itu.
Disana ia melihat foto yang telah di bingkai terpajang diatas meja. Foto seorang pria dan wanita tengah mengenakan seragam SMA.
Calista mengambil dan melihat dengan seksama wajah pria yang ada di foto itu. Wajahnya tak asing seperti wajah Nathan tapi di foto itu ia masih terlihat kurus dan kurang tampan mungkin saja waktu ia sekolah jarang merapikan diri.
Pandangan Calista beralih kepada wanita disampingnya yang tengah dirangkul pundaknya oleh Nathan, ia menerka nerka wajah wanita itu tapi ia tidak mengenal sama sekali.
Calista penasaran mungkin saja wanita itu adalah masa lalu Nathan, tapi buat apa ia menyimpan foto itu rasanya bikin kesal saja Calista melihatnya.
__ADS_1
Sedang melamun memandangi foto itu tiba tiba ia dikagetkan dari belakang.
" Sejak kapan kamu bangun?" tanya Nathan yang entah kapan ia berada di belakang Calista, sehingga Calista segera meletakan foto itu kembali dan membalikan badannya kearah Nathan.
"Ahhmm baru saja, kok masuk tidak ngetuk pintu dulu," balas Calista kaget dan kesal sendiri kepada Nathan. " Suka suka ku, ini kamarku tidak ada yang paksa jika aku masuk," sahutnya melipat kedua tangannya di dada dan menatap genit kearah Calista.
"Hem baik lah, kalau begitu biarkan aku keluar," ucap Calista ingin segera keluar dari sana. " Ingin kemana?" Nathan menahannya tak ingin ia pergi dulu dari sana.
Calista menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat, " Katanya ini kamarmu kan ya sudah aku tidak ada hak untuk masuk," balasnya kesal memutar bola matanya malas kepada Nathan yang baru saja menjadi suaminya.
"Kamar ini juga kamar mu karena kamu sudah menjadi istriku," Nathan berjalan melewati Calista menuju lemari yang terpajang foto diatasnya.
Ia meraih foto itu meliriknya dengan senyum sinis. " Pasti kamu bertanya tanya dengan foto itu," ucapnya lagi memegang bingkai foto dan kembali berjalan kearah Calista.
"Hmm," Calista mendengus seraya menghembuskan nafasnya kasar, malas jika dihari pertama menjadi istri sudah berdebat. " Aku kasitahu jika wanita difoto itu hanya masalalu ku, dan seperti nya juga perlu dibuang karena aku sudah memiliki masa depan," ucap Nathan tanpa ragu ia membuang bingkai foto itu di tempat sampah yang berada di kamar mandinya.
Ia sengaja karena tidak ingin menyakiti hati Calista dengan masalalu nya, lagi pula wanita itu sudah duluan menikah dari padanya dan ia pun tidak tahu wanita itu pergi kemana jadi tidak penting sekali jika kenangan itu disimpan.
" Loh kenapa dibuang," tanya Calista heran, ia mengerutkan keningnya menatap tajam kearah Nathan. " Itu hanya masalalu yang sudah tidak penting, sekarang kamu adalah masa depanku lebih baik foto pernikahan kita yang harus di pajang dimana mana dirumah ini," balasnya tersenyum dan kembali melangkah kearah Calista.
Calista terdiam tanpa menjawab lagi perkataan Nathan, seketika badannya tegang saat Nathan mendekatinya dan membungkuk sedikit karena badannya yang tinggi. " Kamu masa depan ku dan teman hidupku, berusaha lah biar kamu yang menempati seluruh hatiku," bisiknya di telinga Calista dengan suara serak dan full basnya.
Calista menutup matanya seraya menikmati bulu bulu tangannya yang merinding karena bisikan Nathan yang sangat sensual ditelinganya.
__ADS_1
Nathan memperhatikan wajah Calista dengan jelas saat ia sedang menutup mata, sungguh sangat sempurna dan sangat cantik bibirnya tersenyum dan dengan beraninya mengecup pelan pipi mulus milik istrinya itu.
Calista tercengeng dan segera membuka matanya, begitu kagetnya saat ia membuka mata wajah Nathan yang sangat dekat terlihat jelas di depan matanya. Mata coklat, hidung mancung dan bibir seksinya Calista dapat melihat, membuat nalurinya tak tertahankan ingin sekali mengecup dengan penuh cinta wajah itu.
Karena Calista masih terdiam dan mematung dengan mata tak berkedip memandang wajah Nathan, dengan beraninya Nathan kembali meninggalkan kecupan manis dibibir Calista dengan lembut dan penuh cinta.
"Kenapa diam terus, apa ingin bercumbu lebih lama?" ucapnya mencoba menjahili Calista yang masih diam diam bae didepannya. " Ihh dasar mesum," sahutnya malah sebel mendengar Nathan berbicara seperti itu, dengan cepat ia berbalik dan keluar meninggalkan Nathan dikamar itu.
Nathan tertawa nakal saat ia melihat Calista kesal padanya, dengan mata yang tajam metap punggung Calista yang meninggalkannya.
Calista melihat ruangan diluar kamar Nathan langkahnya terhenti dan bingung dimana jalan untuk turun, rumah yang sedikit unik dengan bangunan yang super mewah bak istana.
"Kenapa malah berhenti, pergilah kebawah Mamah sedang menunggu kita dimeja makan," ucap Nathan yang melihat Calista kembali berdiri bengong. " Lewat mana?" tanya Calista bodoh ia menggaruk kepalanya dengan wajah kikuk memandang Nathan
"Hahaha Calista-Calista, mari ikut aku," sahut Nathan sedikit ngakat dan bikin tertawa melihat Calista seperti anak kecil yang sedang nyasar di dalam kerumunan.
Nathan menarik tangan Calista dengan pelan dan menurunin tangga yang berada kearah kanan mereka. Calista merasa bingung dan sangat susah baginya untuk menghafal ruang ruangan rumah itu karena sangat besar, ia pun sampai berpikir bagaimana untuk membersihkan semua ruangan itu setiap hari bisa bisa bikin pinggang encok dan pegal linu.
Calista berjalan dengan tangan yang dipegang oleh Nathan persis seperti anak kecil yang takut jika nyasar lagi dan tidak tahu jalan pulangnya.
...****************...
BERSAMBUNG...
__ADS_1