
"Calista sebaiknya kamu keruangan Tuan Nathan sekarang, lagian pekerjaan kita sudah mendingan. Tinggal sedikit lagi biarkan aku saja yang mengerjakan,"ucap Chef Radit setelah pekerjaan mereka hampir selesai, pesanan mulai menipis tinggal beberapa menu yang simple saja.
"Ehm tapi kak Radit, Calista tidak suka berhadapan sama Tuan Nathan," balas Calista enggan untuk datang, karena ia tau nanti disana pasti akan cecokan lagi kepada Bos gilanya.
"Kenapa List, apa sebenarnya terjadi?" Chef Radit sedikit heran saja dari kemarin Calista kelihatan tidak suka dengan Tuan Nathan.
"Tidak apa apa sih kak, ya sudah aku coba datang saja dulu," ucap Calista memberanikan diri dan menyiapkan mental untuk menghadapi Bos gila itu.
"Kalau tidak aku temani List," Chef Radit dibuat ragu dengan sikap Calista ia sedikit punya firasat ada yang tidak beres antara Calista dengan Tuan Natha.
"Ahm tidak perlu lagi lah kak, biarkan Calista sendiri saja," Calista tanpa menunggu jawab Chef Radit ia segera bergegas pergi dari dapur menuju lift keruangan Tuan Nathan.
...----------------...
(Calista menghadapi Bos Gila nya lagi)
"Ada apa lagi memanggilku kesini?" Calista dengan nanyalinya sendiri membuka pintu ruangan Nathan dan memasuki tanpa minta permisi atau memberi sapaan terhadap Nathan sebagai Bos disana.
Nathan yang tidak menyadari kedatangan Calista sangat kaget, ponselnya yang sedang ia genggam untung saja tak terjatuh.
"****! Kamu mengagetkanku," ucapnya dengan suara meninggi dan segera berdiri dari duduknya.
"Hallahh, tidak usah banyak alasan langsung saja apa yang ingin kamu katakan, aku lagi sibuk di dapur," seru Calista segera menyela ucapan Nathan yang benar benar syok dan hampir jantungan karena dia yang langsung nyosor masuk tanpa permisi.
"Bisa tidak jadi cewek sedikit kalem, siapa yang tidak jantungan denganmu yang selalu membuat kaget," balas Nathan mencoba menenangkan dirinya.
"Haduh tidak usah ceramahi aku deh, katakan kenapa kamu memanggilku," lagi lagi Calista yang sama sekali tidak menghargai Nathan, malah ia seolah olah menjadikan Nathan itu seperti musuh besarnya.
Nathan terdiam sesaat dan memandangi wajah Calista yang sedang marah marah tidak jelas ini dihadapannya rasanya ia mulai terpesona, walaupun Calista terlihat tomboy tapi dia sangat cantik dan manis, dan sikap langka yang ada padanya membuat Nathan malah terkagum.
Calista semakin kesal melihat Nathan malah berdiri bengong memandanginya tak berkedip.
__ADS_1
"Astaga Tuan Nathan yang terhormat, ada apa denganmu?" teriak Calista melangkah mendekati Nathan.
Nathan kembali kaget dengan suara bariton Calista yang seperti kereta api yang lewat.
Karena kaget ia dengan cepat meraih pergelangan Calista menariknya keluar dari ruangannya.
"Lepas, mau bawa kemana aku," seketika Calista memberontak mencoba melepaskan diri, namun genggaman tangan Nathan yang kuat membuatnya terseret mau tidak mau mengikuti langkah kaki besar Nathan.
Di gedung lantai paling atas atau di belakang ruangannya, ada lantai yang dibiarkan terbuka hanya besi pagar yang membatasinya agar orang yang pergi kesana tidak terpeleset dengan adanya pagar itu.
Pemandangan malam yang lumayan cantik dapat terlihat jelas disana, saat sampai disana Nathan melepas tangan Calista dengan kasar.
Hembusan angin yang kuat menembus dalam kulit Calista yang putih dan tipis itu, rambut halusnya yang tergerai melayang kesana kesini karena hembusan angin yang kuat, mereka berada dalam ketinggian yang mungkin saja jika orang melompat kebawah tidak akan ada tanda tanda kehidupan lagi.
Calista melihat sekeliling itu menelan ludahnya sungguh ini pandangan yang indah bisa memanjakan mata, lampu lampu gedung dan rumah menyatu bagaikan bintang yang menerangi angkasa.
"Ngapain membawaku disini," ucap Calista masih terlihat jutek dan cuek, berpura pura terlihat biasa saja melihat pemandangan itu, tapi kenyataannya malah ini sangat luar biasa menurutnya.
"Ya lihat lah, mataku masih jernih tidak katarak," balas Calista masih terlihat acuh tak acuh.
Nathan tersenyum kearahnya dan berbalik melangkah kembali menarik Calista berdekatan dipagar yang ia tepati.
"Coba tenangkan pikiranmu, tidak baik gadis seperti kamu marah marah terus nanti cepat tua," ucap Nathan ingin melihat Calista sedikit kalem dan tenang tanpa ada marah marah.
"Huhhh," Calista menghembuskan nafasnya kasar seraya memutar bola matanya, merasa geli melihat sikap Nathan yang tiba tiba baik padanya.
"Maaf banget yah, aku tidak ada waktu menemanimu kesini aku ini karyawanmu bukan kekasihmu yang siap menemani kesepianmu," Calista terlihat serius tidak mau basa basi dengan Bos gila itu karena ia tidak ingin terjebak kepada lelaki buaya yang sok manis ini dihadapannya.
Nathan terdiam, tak lepas dengan senyum manis terukir di bibirnya semakin terdengar lucu saja dengan kata kata Calista padanya.
"Aku mau pergi jika tidak ada yang penting untuk dibahas," ucap Calista ingin enyah dari sana.
__ADS_1
Dengan cepat Nathan menarik dan menahannya pergi, karena Calista yang tidak menyadari tangannya ditarik, kakinya terpeleset tubuhnya oleng kebelakang.
"Ohhhww.!!!" teriaknya, dengan cepat Nathan meraihnya menarik tangan Calista kuat sehingga Calista terbanting di dalam dada bidangnya yang empuk itu.
Karena ketakutan dan syok ia memeluk erat perut kotak kotak milik Bos gilanya itu, Nathan yang dipeluk dengan seperti itu tiba tiba jantungnya berdetak sangat kencang, merasa gugup karena pertama kali ia berpelukan dengan wanita ditempat sepi dan romantis seperti itu.
Calista yang berada dalam pelukan tubuh kekar Nathan merasa nyaman dan tenang, ia mengatur nafasnya, daun telinganya yang menempel di dada Nathan dapat ia rasakan detak jantung Nathan yang sangat kencang, ia membuka matanya perlahan menyadari jika Nathan ternyata gugup memeluk tubuhnya yang mungil.
Karena tersadar, Calista dengan cepat menarik diri dari pelukan Nathan mundur beberapa langkah kebelakangnya.
"Ehm maaf, aku tidak sengaja," ucap Nathan terbata bata salah tingkah dengan Calista yang terdiam. Calista menunduk rasa malu menghampirinya.
"Apa kamu tidak apa apa?" Nathan memastikan Calista karena terdiam dengan seribu bahasa.
"Ohh tidak," balasnya singkat mengelus pergelangan tangannya.
"Aku permisi," Calista merasa gugup dan tidak tau harus bersikap bagaimana lagi, yang terjadi barusan sungguh mempermalukan dirinya sendiri.
Calista segera enyah dari sana meninggalkan Nathan yang masih terdiam mematung dipojok.
Matanya tidak terlepas dengan punggung Calista yang meninggalkannya, tubuhnya yang tegang dan dingin kembali hangat setelah Calista berlalu dari sana.
"Ya Tuhan kenapa aku tiap berdekatan dengannya detak jantungku serasa copot," ucapnya sendiri mengelus dadanya menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya pelan.
Ia masih berdiri mematung disana membayangkan kembali Calista saat berada dalam pelukannya, ada rasa senang namun gugup, tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengannya.
......................
...----------------...
BERSAMBUNG...
__ADS_1