Teman Hidupku

Teman Hidupku
Berada Dalam Pilihan Yang Sulit


__ADS_3

Calista yang hanya mengenakan kaos berlengan pendek merasakan angin malam yang terus berhembusan dalam kulitnya, ia merinding melipat kedua tangannya dan mengusap ngusap lengannya.


"Maaf, aku membuatmu kedinginan," Nathan baru menyadarinya, ia membuka kancing kemejanya ingin memberikan Calista untuk menutupi lengannya


"Kamu mau ngapain buka baju?" Calista mencegahnya dan mengerutkan keningnya bingung dengan Nathan yang membuka kancing bajunya. " Aduh yaampun Calista aku tidak ngapa ngapain, aku hanya memberimu kemejaku untuk menutupi lenganmu," balas Nathan tersenyum segera membuka kemejanya dan menyelimuti bahu dan lengan Calista.


"Aku ada kaos nih, bukan mau telanjang dada di depanmu," ucapnya lagi memberanikan diri mengelus kepala Calista lembut. "Makasih," balas Calista memperbaiki kemeja Nathan di tubuhnya.


"Hem, aku mengajakmu kesini pastinya aku bertanggung jawab padamu," Nathan juga tidak ingin hanya karena meminta Calista menemaninya ditempat dingin seperti ini membuat Calista sakit.


Calista memikirkan perbuatan baik yang ditunjukan Nathan, baru ia sadari ternyata pria di depannya ini baik tidak sejahat yang ia pikirkan.


Pandangannya tidak lepas dari dada bidang dan perut kotak kotak milik Nathan yang sangat terlihat jelas dengan kaosnya yang ngepres di badan. Yang membuat para wanita ingin sekali membenamkan diri disana, berada di pelukan pria bertubuh seperti itu pasti rasanya nyaman, apa lagi Calista yang pendek akan terasa enteng dipeluk pria yang bertubuh tinggi dan kekar seperti Nathan.


"Jangan memandangi tubuhku seperti itu, aku takut jika katamu benar ingin memperkosaku," ucap Nathan menegur Calista yang tak berkedip menatap tubuh seksinya. "Iss jangan ngimpi aku mengagumi tubuhmu, bicara apa kamu ini," balas Calista segera memalingkan wajahnya menyadari ucapan Nathan barusan.


"Hahaha," Nathan malah menertawakannya, merasa lucu melihat Calista mengela.


Namun sesaat tawa Nathan terhenti saat bunyi dering ponsel milik Calista berbunyi di dalam tas selempangnya.


Dengan cepat Calista membuka tasnya meraih ponsel itu dan melihat siapa yang memanggilnya.


......................


(Mengangkat telepon)


"Halo Stev," ucap Calista yang menjawab telepon itu ternyata dari Steven pria yang baru berkenalan dengannya tadi siang di kampus, ini juga salah satu pria idamannya


"Halo List maaf mengganggu mu malam malam kayak gini, aku ingin memastikan kamu sibuk apa tidak malam ini," sahut Steven dibalik telepon Calista.


"Hmm kenapa itu?" tanya Calista mengerutkan keningnya tak mengerti apa maksud Steven padanya. "Aku ingin mengajakmu keluar, tapi kalau kamu tidak ingin it's oke no pro blem," ucap Steven tidak memaksa, mungkin juga ia ingin kenal lebih dalam kepada Calista atau mungkin ada hal lain yang ia inginkan kepada Calista.

__ADS_1


Calista terdiam sesaat mendengar ajakan Steven, sebenarnya ia ingin sekali mau diajak Steven keluar tapi sekarang ia tengah berada di luar kepada Nathan, saat ia diam ia memandangi kearah Nathan yang sedari tadi juga terdiam mendengar suara di balik telepon Calista.


Ia bisa mendengar suara pria dari seberang sana ingin mengajak Calista keluar malam ini juga, ia menunggu jawaban Calista kepada pria itu.


"Ehm aduh gimana yah Stev sepertinya malam ini aku tidak bisa deh, gimana kalau besok saja lagian ini sudah malam tidak enak aku keluar," ucapnya tak tega menolak tapi harus bagaimana lagi, tidak mungkin ia pamit kepada Nathan dan segera pergi ikut ajakan Steven, gadis macam apa dia itu, pikirnya.


"Ohh gitu ya sudah deh, besok kita ketemu di kampus saja dan mau yah pulang bareng aku," balas Steven masih tidak putus asa, besok akan ada waktu lagi berjumpa kepada Calista di kampus.


Steven pun mengakhiri sambungan telepon itu, ia tidak banyak protes lagi karena mengingat juga sudah malam, harusnya ia mengajak Calista sedari tadi sore agar Calista tidak ada alasan untuk menolak. Steven meminta nya besok dan ia yakin Calista tak akan bisa menolak lagi.


"Siapa yang nelpon, pacarmu?" tanya Nathan setelah Calista mengembalikan ponsel-nya di dalam tas selempangnya. "Bukan, dia hanya temanku di kampus," jawabnya santai terlihat berkata tak berbohong.


Nathan mengangguk mengerti tanpa menanyakan lagi tentang pria yang menghubunginya itu.


"Kamu jangan percaya atau bergaul terlalu dalam kepada pemuda di Kota ini kalau tidak masa depanmu akan hancur," ucap Nathan sedikit memberi peringatan kepada Calista yang masih belum mengenal jauh Kota itu.


"Kenapa?" sahut Calista ingin tau apa maksud dari bicaranya Nathan. "Pemuda pemudi disini pergaulannya bebas, untuk melakukan hubungan badan disini juga bebas," jelas Nathan agar Calista mengerti dan paham maksud perkataannya.


Nathan menggandeng tangan Calista berbalik badan menghampiri mobil yang berada di unjung Dermaga.


Ia ingin membawa Calista untuk membuktikan perkataannya yang ia beritahukan barusan.


"Kita mau kemana lagi?" tanya Calista sedikit ada rasa takut, atau jangan jangan Nathan juga melalukan hal tidak senonoh seperti yang ia ucapkan barusan. "Nanti kamu akan tahu aku membawamu kemana," jawabnya segera memasuki mobil.


Calista masih nurut tak berprotes ia juga ingin tahu apa yang sebenarnya ditunjukan Nathan padanya.


Jam yang sudah menunjukan pukul 22:00 malam jalanan masih ramai kendaraan berlalu lalang disekitarnya.


Nathan membelokan mobilnya membawa kedalam Gang yang terlihat sepi hanya bangunan bangunan besar yang terdapat disana, lampu lampu mulai remang tak seterang di dalam kotanya.


"Ngapain kita kesini sih, ini kan sudah agak sepi," ucap Calista seketika ia merinding membayangkan betapa horornya tempat seperti itu. "Perhatikan pinggir jalanannya, apa kamu melihat pasangan pasangan pemuda disana?" balas Nathan menyadarkan Calista.

__ADS_1


Calista mengikutinya dan mencoba memperhatikan pinggir jalan didalam jendela kaca mobil, dan benar saja banyak pasangan pasangan disana yang tengah bersembunyi dibalik bangunan bangunan sepi sedang melakukan perbuatan tak senonoh bersama pasangan.


"Astaga, apa aku salah lihat?" ucap Calista segera memperbaiki posisinya tidak mau melihat adegan adegan yang intim itu, seumur umur dalam hidupnya ia tidak pernah melihat seseorang melakukan itu kepada pasangannya, apa lagi ia sama sekali tidak pernah melakukan itu.


"Hahah kenapa, apa kamu sudah mempercayai kata kataku?" balas Nathan sedikit terlihat lucu Calista yang segera menutup matanya.


"Oh God, apa kamu termasuk melakukan perbuatan bejat seperti itu kepada pasanganmu?" tanya Calista mulai ketakutan berada dalam mobil bersama Nathan yang baru juga ia kenal saat ini.


"Hahaha kamu ngomong apa sih, aku tidak pernah melakukan hal itu," jawab Nathan terus tertawa lucu mendengar Calista menuduhnya. "Jangan berbohong deh," ucapnya lagi menyelidiki Nathan.


"Sumpah aku tidak melakukanya, memang banyak wanita yang menawarkan diri padaku tapi aku tidak ingin melakukannya," jawab Nathan jujur sampai ia bersumpah agar Calista dapat mempercayainya.


"Tapi kan kamu juga penduduk di Kota ini, ataukah tidak semua orang di Kota ini melakukan itu?" Calista masih enggan mempercayainya ia menginterogasi sampai keakar akarnya.


" Aku bukan penduduk asli disini Calista, kita berasal dari Kota yang sama dan aku baru juga satu tahun atau kurang dari dua tahun berada di Kota ini," jelas Nathan agar Calista tidak terus terus menuduhnya yang tidak tidak lagi.


"Yaampun, aku pikir kamu orang asli disini," jawab Calista tersenyum bodoh malu sendiri telah menuduh Nathan terlalu dalam seperti itu.


"Tidak lah, dan orang orang disini itu bebas selingkuh sama pasangannya, misalnya suami istri bisa saja membawa selingkuhannya dirumah tanpa ada rasa takut sama pasangannya," terus Nathan menjelaskan secara detail agar Calista juga mengerti tentang kebiasaan di Kota itu.


"Ohh astaga, sebejat itukah orang orang disini?" Calista dengan mulut mengangah tak bisa mempercayai kenyataan ini. " Yah makanya Kota ini di juluki dengan nama Kota Bahagia, penduduknya bebas merasakan kenikmatan dunia tanpa ada batas," Nathan mengetahui semua asal usulnya nama Kota itu di jululi sebagai Kota Bahagia karena orang orang disana bebas merasakan kenikmatan dunianya tanpa ada batas dan tanpa ada yang menegur akan hal yang tidak senonoh itu.


Calista menggeleng menutup mulutnya dengan kedua tangannya, kalau saja ia mengetahui asal usul Kota itu mungkin ia tak berani tinggal disana apa lagi mereka hanya bermodal berani tanpa ada kenalan disana.


Nathan hanya tersenyum dan mengangguk memberi penjelasan secara kenyataan kepada Calista gunanya agar ia bisa mewaspadai dan berhati hati bergaul disekitar lingkungan kampusnya.


...----------------...


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2