Teman Hidupku

Teman Hidupku
Aku Belum Siap


__ADS_3

Calista hampir setengah jam berada diruang ganti masih belum kunjung keluar, Nathan jadi jenuh sedari tadi ia nunggu duduk didepan meja yang telah tersaji semua makanan.


Mengingat jam sudah menunjuk pukul 20:00 malam, Nathan keroncongan pengennya tak nunggu tapi tidak tega lagian mereka sepasang pengantin baru haruslah makan bersama.


"List, kok lama banget?" serunya memanggil Calista yang masih belum juga siap berganti pakaian. "Tunggu bentar!" sahutnya dari dalam.


Padahal Calista disana lagi pusing rasa ingin nangis membolak balik pakaiannnya tidak ada yang bisa dikenakan untuk tidur, memang dress ia punya namun aneh saja jika dipakai, emang mau ke kondangan? Nathan pasti akan menertawakannya.


Memang ada kaosnya tapi mau pake celana apa, tidak mungkin jeans.


Calista benar benar geram sendiri dengan baju baju murahan itu dari Marya, coba saja kalau ia ada dirumahnya baju itu pasti sudah Calista buang.


"Makanan kita keburu dingin loh sayang, ini sudah jam berapa nanti kamu masuk angin kalau telat makan," ucap Nathan kembali berseru mengingatkan Calista.


Nathan curiga dengannya yang sudah begitu lama berada disana, ia mengingat baju yang di lempar Calista tadi kearahnya dan tanpa sengaja kan ia bawa diluar, pikir Nathan itu yang dipakai Calista lagi nunggu diantar makanya masih diam disana.


Ia mencoba meraih baju itu tanpa menyadari model dan bentuknya, lalu ia membawa kepada Calista.


"Ahhm List apa kamu pakai baju yang ini?" ucapnya mengulurkan baju itu ditangannya diluar pintu tanpa masuk kedalam.


Calista menoleh dan menyadari ia cepat meraih dengan kesal


"Bukan,!! Kak Nathan bajuku tidak ada," sahut Calista merengek dengan tangis, pikirannya kacau memikirkan tentang pakaiannya. Tidak tahu harus berbuat apa akhirnya Calista mengadu kepada Nathan.


"Maksudnya gimana?" tanya Nathan bingung kok malah tak ada baju, padahal satu koper besar tadi ia bawa kemari.


Nathan memberanikan diri menghampiri Calista yang ternyata terduduk dilantai masih mengenakan haduk ditubuhnya.


Terlihat sangat kasihan, mukanya kusut sama seperti anak kecil yang habis dipukuli sama emaknya.


"Ada apa?" ucap Nathan dengan lembut, heran saja kenapa Calista jadi begitu apa yang terjadi padanya. " Bajuku, semua sudah diganti Mamah dengan baju baju murahan ini," sahutnya dengan suara geramnya memperlihatkan semua baju itu kepada Nathan.


Nathan mendekat dan mencoba meraih baju itu, ia jadi penasaran apa yang salah pada baju baju yang telah diserakan Calista.


Ia mengangkat dan memperhatikan, seketika itu tawanya pun pecah baru menyadari modelnya.


" Ehem hahaha, !!!! Ledek Nathan tak bisa menahan tawanya, ia pun tertawa persis seperti orang gila menyadari pakaian itu pantas nya yang pakai itu adalah wanita penggoda, model Calista yang masih polos gitu mana mengerti dengan pakaian seksi.

__ADS_1


"Malah tertawa!!!!" teriak Calista menambah emosi, ia menarik paksa baju yang Nathan pegang dan membuangnya kesembarangan arah, mukanya benar benar muram dan emosi.


Nathan menghentikan sedikit tawanya dan menatap kearah Calista kembali. " Ya sudah pakai kaosku saja, ada yang besar tuh," ucapnya menyadari Calista yang tengah bersedih.


Nathan berjalan kearah lemarinya dan membuka untuk mencarikan kaos yang lumayan big size untuk Calista kenakan, lagi pula badannya yang kecil tidak mesti memakai celana juga tidak akan kelihatan.


Calista diam seraya menatap kearah Nathan menunggu baju apa yang akan diberikan padanya.


Baju kaos berwarna putih ternyata lumayan big size bisa tertutuo sampa diatas lututnya setidaknya pahanya tidak begitu kelihatan


" Nah, pakai lah ini," ucapnya mengodorkan baju kaos milik nya kepada Calista.


Mau tidak mau Calista mengambilnya dan melihat, lalu ia kembali menoleh kearah Nathan. " Ya sudah kamu keluar aku mau pakai bajunya," ucapnya masih dengan wajah datar terlihat emosi dan marah.


Nathan mengangguk dan melangkah pelan kembali di luar tempat meja makan mereka.


......................


Calista segera menyusul setelah berpakaian, sontak pandangan Nathan tertuju kearah Calista, bibirnya melukis senyum Calista sangat gemes mengenakan kaosnya. Terlihat seperti anak gadis berumur 12 tahun, Nathan pengen banget peluk dan cium pipinya pasti lembut.


"Ayo makan," ucapnya mengajak Calista, dengan sigap ia mengambilkan makanan untuknya dan untuk Calista keatas piring.


"Pakaianku masih ada dirumah Raysa, besok aku coba ngambil," balasnya sambil mengunyah makanannya. " Aku akan mengantarmu, kita pergi bersama besok," Nathan tidak mungkin membiarkan Calista pergi kemana mana sendiri, dia telah menjadi suami tentunya ia yang menjaga sepenuhnya Calista.


Tidak menyahuti lagi, Calista fokus ke makanan yang sudah lumayan hambar karena dingin. Ia mencoba melahap saja mengingat perutnya sudah bunyi keroncongan.


......................


Berakhir dengan acara makan malam bersama, Nathan menyuruh pelayan kembali memungut piring kotor bekas makanan mereka disana.


Calista masih terdiam, ia berpindah duduk di sofa dekat tempat tidurnya dan menyalakan ponselnya karena sedari tadi lupa untuk memegang ponsel itu.


Begitu juga dengan Nathan, suasana gugup benar benar menguasai kamar itu. Nathan yang sama sekali tidak ada pengalaman untuk menggauli istri di malam pertama ia bingung harus memulainya bagaimana.


Sesekali ia melirik Calista namun sepertinya ia sedang asyik dengan ponselnya. Nathan menjadi gelisah sendiri, mondar mandir kesana kemari dan akhirnya memberanikan diri ikut duduk disofa yang diduduki Calista.


Sebagai alasan saja ia menyalakan ponselnya, dan kagetnya dengan notif yang masuk begitu banyaknya.

__ADS_1


Calista sampai menyadari menoleh kearah Nathan karena penasaran notif sebanyak itu dari siapa.


Nathan sampai terkencar kencar, dengan cepat memalingkan wajahnya saat Calista memandanginya.


"Dari siapa?" tanya nya pura pura saja sok cemburu dengan notif yang sebanyak itu. " Tidak tahu, biarkan aku cek," jawabnya segera membuka dan ternyata dari Linda yang chatnya hampir 20 buah.


"Dari Mamah," ucapnya dan membaca kalimat demi kalimat semua isi chat itu, lagi lagi Nathan dibuat ngakak dan tertawa dengan isi chat Linda padanya.


" Apa sih malah tertawa," gerutu Calista menarik paksa ponsel Nathan dan membaca semua isi chat Linda. " Jamu kuat?" ucap Calista membaca intinya saja dengan suara besarnya, ia mengerutkan keningnya sedikit bingung apa maksudnya.


Sementara Nathan masih saja dengan tawanya. " Apa itu jamu kuat?" tanya Calista membekap mulut Nathan dengan paksa karena tawanya yang bikin bising ditelinga Calista.


Nathan malah memberontak seperti orang yang tengah diculik karena mulutnya di bekap oleh Calista. " Bisa kamu jawab apa itu jamu kuat!" teriak Calista karena Nathan masih tidak tenang.


Nathan melepas paksa tangan Calista dimulutnya ia merasa sesak dan tidak bisa menjawab pertanyaan Calista.


"Huuufffttttt! Bagaimana aku menjawabmu mulutku di bekap gitu!" seru nya membuang nafasnya kasar, ia mengusap wajahnya dan mengatur pernafasan yang ngos ngosan.


"Jadi itu apa maksud Mamah?" tanya Calista lagi terus menyelidiki Nathan sampai ia menjawab. "Aku juga tidak tahu, tapi kayak nya semacam obat untuk menguatkan pria diranjang," jawabnya lancang dan kembali tertawa.


Calista melotot tidak percaya saja Linda juga mempersiapkan semacam itu kepada Nathan. " Oh my God, Mamah mertua sefrekuensi sama Mamahku ternyata," ucap Calista dengan mulut mengangah.


"Jadi gimana," balas Nathan, lagi lagi membuat Calista bingung. " Apanya," tanya nya mengerutkan kening menatap Nathan. " Kita diatas ranjang," jawabnya dengan suara datar berasa tak berdosa.


Calista terdiam jadi salah tingkah, jantungnya mulai dag dig dug mendengar Nathan menagih sesuatu itu padanya.


"Kenapa diam?" bisiknya mulai mendekati wajah Calista dari samping. Calista menunduk menutup matanya, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dengan keras ia menggigit bibir bawahnya membuat Nathan telan liur memandangi itu.


"Calista," Nathan mencoba membelai pipi Calista dengan penuh gairahnya, membuat Calista semakin merinding.


Tangannya mulai nakal, ia membelai semakin lembut sampai kedagu niatnya memancing agar Calista terbuai dan segera saja sat set tanpa ditunda lagi, mengingat jiwa dalamnya bangkit bergejolak.


Tapi Calista segera menepis jari jari nakalnya itu memberanikan diri menatap Nathan. " A-aku belum siap kak Nathan," ucap nya terbata bata dan gugup.


Nathan seketika dibuat kesal dengan jawaban Calista, karena kekesalan yang menguasai dirinya ia beranjak dari duduknya dengan kasar menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidur tanpa menghiraukan Calista lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2