Teman Hidupku

Teman Hidupku
Bertemu Mantan


__ADS_3

Setelah dua bulan berlibur panjang, kini Calista dan Raysa kembali mendatangi kampus impian mereka untuk mencari ilmu dan gelar.


Hari itu Nathan meminta untuk mengantarnya, sebagai suami yang baik ia tidak ingin jika istrinya terjadi apa - apa lagian mereka baru membentuk keluarga baru tidak rela jika sampai terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan.


"Sayang, tolong bersikap dewasa dikampus tunjukan jika kamu bukanlah seorang remaja lagi," ucap Nathan yang sedang menyetir sedikit memberi nasehat kepada Calista.


"Hem, tidak mungkin juga kan aku bersikap seperti bocah?" sahut Calista, " Boleh sih tapi jika bersamaku dirumah," sahutnya mencubit hidung Calista gemes. "Huh kayaknya sudah mulai ketagihan nih kayaknya," sindir Calista, yang baru beberapa minggu menikah tapi hampir tiap malam tidak terlewatkan dengan guncangan hebat dari suaminya.


Nathan tersenyum seraya menggigit bibirnya, "Makanya jangan membangunkan harimau yang sudah tidur," balasnya, malah meletakan satu tangannya diatas paha Calista yang mengenakan rok span setinggi diatas lutut.


"Tuh kan nakal terus," ucap Calista merengek saat Nathan meremas pahanya yang mulus itu. " Boleh lah aku nakal sayang, cuman sama istri doang kok," balasnya melepas tangannya dan mencubit pipi Calista.


Calista memang bikin sesak sama suaminya ini, yang baru baru saja sangat terlihat nakal dan suka OMES dikit dikit ada saja tangannya menempel ditubuh Calista.


"Sudah deh bentar lagi aku sampai di kampus, tolong jaga sikapmu," Calista merasa lega melihat tugu kampusnya yang sudah kelihat semakin dekat, benar benar ia tak tahan jika bersama Nathan terus, lama lama bisa basah sendiri karena tangan nya yang nakal.


"Sayang, jaga hati jaga mata jangan selingkuh," Nathan malah mengingatkan terus Calista agar ia tidak menggoda pria yang bersama di kampusnya.


"Iyah iyah, nah aku turun dulu," sahut Calista mencium punggung tangan suaminya, tak lupa mengecup bibir seksi yang super bawel milik suaminya itu.


Nathan tersenyum merasa senang, setidaknya Calista sudah mulai terlihat jika ia mencintai Nathan dengan tulus.


"Kamu hati hati dijlan," seru Calista yang masih berdiri di luar jendela mobil suaminya. "Oke nona cantik, don't forget call me if you back," sahutnya ikut berteriak mengingatkan istrinya jika pulang nanti dia harus dihubungi untuk menjemput.


Calista mengangguk tersenyum melambaikan tangannya saat mobil suaminya melaju. Saat sudah terlihat jauh ia melangkah memasuki halaman kampusnya dengan wajah yang santai dan fresh.


"Calista, List tungguin aku!!!" teriak Raysa berlari mengejar Calista yang berada agak jauh di depannya.


Spontan Calista terhenti dan menoleh kearah sumber suara itu, seketika senyumnya mengembang melihat ternyata Raysa yang memanggilnya.


Ia menunggu sahabatnya itu dengan wajah yang ceria.


"Baru datang Sa?" ucapnya saat Raysa sampai didekatnya. "Iyah nih, kamu sendiri naik apa?" jawabnya dengan nafas yang terengah engah, tengah capek berlari mengejar Calista.

__ADS_1


"Aku diantar sama kak Nathan, Sa atur nafas dulu kek berhenti dulu," sahut Calista merasa ikut sesak melihat Calista yang ngos ngosan gitu.


"Ahh sudah, ayo jalan!" Raysa malah tak peduli, ia menarik lengan Calista dan berjalan melewati halaman kampus untuk pergi ke kelas di lantai atas .


Calista dan Raysa berjalan berpas pasan sambil bercerita, tiba tiba lagi suara memanggil Calista terdengar tak jauh dari sana.


"Calista, tunggu!" serunya, yang tak lain adalah Steven, setelah menghilang beberapa bulan kini entah angin apa yang membawanya mencari Calista.


Mereka kembali terhenti menoleh kearah sumber suara yang berada di belakang mereka.


Calista dan Raysa menatap Steven bingung seakan memberi isyarat mereka bertanya ia mau apa?


"Ada apa!" ucap Calista dengan wajah datar dan sangat terlihat cuek. "Ohh tidak, a-aku ingin mengajakmu kekantin sebentar, ada yang ingin aku bicarakan padamu," jawabnya terbata bata, Steven terlihat serba salah kepada Calista yang menatapnya benci.


"Tidak, aku tidak mau!"jelasnya menolak ajakan Steven. "Ehmm sebentar saja tidak lama," ajak Steven tak putus asa karena Calista menolak.


"Kapan kapan yah, aku lagi banyak tugas. Yuk Sa!" tolaknya lagi, menarik tangan Raysa dan segera enyah dari hadapan Steven.


Steven menghembuskan nafasnya kasar mengusap wajahnya kesal, ingin mengejar Calista tapi malu jika unjung unjungnya Calista memarahinya dan mencaci maki diri nya. Tentu ia malu, mau ditarok mana muka nya itu jika seleuruh kampus menyaksikan.


Ia tidak putus asa dalam hati ia memberikan semangat pada dirinya sendiri. Pikirnya sepulang dari kampus kembali ia meminta Calista lagi agar mau ikut dan mau ngomong padanya.


......................


"List, ada apa dengan Steven?" tanya Raysa sedikit membangongkan. " Tau tuh aku juga bingung, mau apa lagi dia!" sahut Calista memang terlihat kesal mengingat wajah Steven yang membuatnya sakit hati.


Mereka pun memasuki kelas tanpa membahas tentang Steven lagi, sambil menunggu Dosen masuk Calista dan Raysa membahas mata kuliah yang memang mereka tidak paham dari penjelasan Dosem pada mereka.


......................


(Pulang Kampus)


Tak terasa mereka fokus pada pelajaran kuliah sehingga tak mereka sadari waktu pulang tiba.

__ADS_1


Calista dan Raysa cepat cepat keluar dari kelas dan ingin segera pulang. "Mau bareng aku List?" ajak Raysa yang biasa membawa mobilnya sendiri untuk ngampus. "Ohh maaf deh Sa aku sudah minta kak Nathan jemput aku, bentar lagi dia datang," tolak Calista memberi pengertian agar Raysa tidak marah padanya.


"Hmm oke deh, kira kira dia masih lama tidak?" tanya Raysa. " Kurang tahu sih, emang kenapa?" Calista pun tidak begitu tau Nathan lama atau tidak yang pastinya ia disuruh nunggu.


"Aku temani kamu nunggu," Raysa pun tak tega ninggalin Calista sendiri menunggu Nathan datang, niatnya menemani Calista dulu. " Ahh jangan deh, yakin lah dia bentar lagi nyampe," Calista jadi tidak enak jika Raysa ikut nunggu, belum tentu Nathan cepat takutnya Raysa capek.


"Benar nih tidak apa - apa aku tinggal sendiri?" tanya Raysa memastikan. " Benar Sa, tidak apa apa.


"Oke kalau gitu aku duluan yah, bye bye!" pada akhirnya Raysa tetap mengikuti Calista yang selalu memberinya alasan untuk tidak menunggunya, dengan terpaksa ia meninggalkan Calista sendirian di depan halaman kampus


Calista mencari tempat duduk yang sengaja telah disediakan disana didepan pagar kampus, mungkin untuk tempat sekedar menunggu angkutan jika siswa siswi kampus pulang.


"Mari aku antar kamu pulang," ucap Steven tiba tiba sudah berada disamping Calista. Calista menoleh dan mengerutkan keningnya sangat benci melihat Steven.


"Tidak usah jual mahal, sini bareng aku antar!" ucap lagi karena Calista tak menyahutinya lagi. "Tidak perlu!" balas nya singkat sembari memalingkan wajahnya kearah lain.


"Aku ingin mengajakmu disuatu tempat, kita perlu bicara," sahutnya terus terang kepada Calista.


Belum sempat Calista menjawabnya, sebuah mobil sport pun berhenti di depan mereka.


"Sayang ayo masuk!" teriak Nathan melambaikan tangannya kepada Calista. Senyum senang Calista perlihatkan saat sang suami datang menjemputnya.


Nathan turun dari mobil saat menyadari jika disamping Calista ada seorang pria, karena merasa cemburu ia pun menghampiri.


"Ayo sayang! " ucapnya dengan wajah datar memandang kearah Steven. "Iyah sayang," balas Calista segera menghampiri mencium dan memelul Nathan, sengaja untuk memanasin Steven yang masih berada disana.


"Calista, dia siapa!" serunya menahan Calista saat hendak pergi dari sana. Calista berhenti dan menoleh kebelakang. " Dia suami aku, please stop ganggu aku!" jawabnya sedikit pedas membuat telinga Steven memanas mendengarnya.


Matanya melotot tubuhnya mematung mendengar ucapan Calista padanya. Tidak percaya tapi mungkin itu sudah kenyataannya.


Steven kembali menyesai perbuatannya yang dulu mengecewakan Calista. Niatnya ingin memperbaiki lagi namun sudah terlambat.


...****************...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2