Teman Hidupku

Teman Hidupku
Nathan Cemas


__ADS_3

Nathan melangkah masuk kerumah dengan langkah besarnya mencari keberadaan istrinya.


Tanpa suara apa pun ia segera menekan tombol pintu kamar untuk memastikan Calista.


Sontak, Calista dan Raysa kaget dengan kedatangannya. Padahal Calista masih saja berbaring dengan Raysa yang memijit kepalanya.


"Sayang, kamu tidak kenapa napa kan?" tanya nya nyosor masuk dan menghampiri tepi ranjang yang ditepati Calista.


Raysa segera menghentikan gerakan tangannya yang memijit kepala Calista, ia bingung menatap Nathan yang tiba tiba datang merasa cemas kepada Calista


"Aku tidak kenapa napa, kok kamu kelihata cemas begitu?" balas Calista memperlihatkan wajah santainya namun dengan kuat ia menahan rasa sakit perut dan pinggangnya.


"Aku cemas, perasaanku tidak enak padamu," sahutnya mendudukan tubuhnya diatas tempat tidur mengelus perut Calista. "Apa sih sayang jangan terlalu lebay deh," jawab Calista memperlihatkan senyumnya agar Nathan tidak merasa curiga padanya


Sementara Raysa diam membisu disana, sedikit geram pada Calista yang menyembunyikan kejadian ini kepada suaminya.


Coba saja jika ia memberitahukan, Calista akan segera dirujuk ke RS untuk memeriksa keadaan bayinya.


Padahal benturan itu tadinya sangat keras, Raysa jadi sangat yakin jika perut Calista pasti sudah tidak baik baik saja.


"Ehmm Raysa, makasih yah sudah jagain Calista sampai sore, aku minta maaf jika aku pulang agak terlalu lama," ucap Nathan berterima kasih kepada Raysa. "Eh tidak apa apa kak, aku tulus kok jagain Calista. Dia juga sudah kuanggap sebagai saudara ku sendiri," balas Calista tersenyum gugup kepada Nathan.


Sebenarnya sudah kian ia rencanakan untuk memberitahukan ini semua kepada Nathan, namun kata hatinya berkata untuk tidak diberitahu


Perasaan Calista yang ia jaga, jangan sampai Calista marah padanya jika ia yang memberitahukan kepada Nathan.


"Sa kamu nginap disini dong, aku senang bila kamu ada disini malam ini," ucap Calista pura pura bersemangat padahal ia sedari tadi menahan sakit. "Oke, aku akan mengabulkan permintaanmu," sahut Raysa dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


"Sayang sebaiknya kamu mandi yah, biarkan aku membantumu," ucap Nathan, karena memang sudah jadi kebiasaannya bila sore ia pulang kerja ia akan memandikan Calista sambil ada ritual ***-***.


"Ehmm tidak aku sudah mandi kok sayang sebaiknya kamu mandi saja, aku akan mengantar Raysa kekamar tamu," balas Calista menolak dan berbohong jika ia sudah mandi. "Ohh ya sudah deh," sahut Nathan tidak memaksakan istrinya lagian tidak enak jika Raysa mendengarnya.


Calista mengangguk sambil tersenyum merasa lega saat Nathan memasuki kamar mandi.


"Sa kamu pakai bajuku saja yah, suruh Bi Sinta untuk ditunjukan kamar untukmu," ucap Calista dengan bisikan agar Nathan tak mendengar mereka. " Iyah beb, jadi letak pakaian mu dimana?" balas Raysa menatap sekeliling ruangan.


"Disana, nanti kunci lemarinya masih tergantung di lemari," sahut Calista menunjuk dan menjelaskan kepada Raysa. "Oke," Raysa mengiyakan dengan mengangkat jempolnya sambil mengikuti jari Calista yang menunjuk letak Walk in closet nya.


Calista mengusap wajahnya cemas, ia sampai bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan ini semua kepada suaminya, sementara tubuhnya kaku dan sangat terasa sakit jika ia berdiri.


Pikirannya menerka nerka, bagaimana jika Nathan memintanya untuk kelantai bawah untuk makan malam, mengingat Raysa menginap disana. Tidak enakan jika ia tidak ikut turun untuk menemani makan malam


Calista terus menggeliat diatas tempat tidur dengan pikiran kacaunya, ia masih belum mendapat akal untuk memberi alasan nanti kepada Nathan.


Sementara Raysa telah beranjak disana untuk mandi dikamar ruang tamu yang telah ditunjukan Bi Sinta padanya.


"Yaampun gimana yah cara jelasin ini nanti," ucapnya dengan wajah menangis.


Kurang lebih dari satu jam, Nathan kembali dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang.


Memang pikirannya tidak tenang dan cemas namun ia memperlihatkan dengan santai karena ia juga melihat Calista baik baik saja.


"Sayang Raysa sudah kekamar tamu?" tanya nya sambil mendudukan tubuhnya kembali ditepi ranjang. "Sudah sejak tadi, kenapa?" jawab Calista mengelus pipi suaminya sambil tersenyum. "Ehm kita boleh itu tidak?" ucap Nathan malah meminta Calista untuk melakukan ritual yang enak enak seperti yang sering mereka lakukan.


"Aduh sayang jangan dulu deh, tidak enak kalau Raysa memanggil kita nanti ," tolak Calista dengan memberi alasan tentang kedatangan Raysa. "Sebentar saja dong sayang, ini sudah pegel banget pengen dikeluarin," ucapnya memperlihatkan sikap manjanya kepada Calista.

__ADS_1


"Nanti yah kalau kita semua sudah tidur, sekarang jangan dulu deh," lagi lagi memberi penolakan dengan seribu alasannya.


Dengan terpaksa saja Nathan mengangguk dan menyetujui perkataan Calista.


Ia beranjak dari duduknya dan segera berpakaian.


"Kita makan malam dibawah, aku siap siap dulu " seru Nathan yang berada diruang ganti. "Hem iyah sayang," jawab Calista mengiyakan saja dulu. "Kira kira Raysa sudah siap mandi tidak, kita tidak enak kalau tidak mengajaknya makan bersama," ucapnya lagi sambil berjalan menghampiri Calista.


"Tapi kami sedari tadi sudah makan sebelum kamu datang," alasan Calista yang tiba tiba saja terlintas di pikirannya. "Loh kok gitu, kenapa aku tidak ditunggu?" balas Nathan dengan wajah melongo kearah Calista. " Maaf deh sayang, aku yang kelaparan tadi," sahut Calista dengan wajah kikuk pura pura bodoh saja.


"Hmmm ya sudah aku makan dibawah kalau gitu," ucapnya sedikit ada rasa kesal dan gerak gerik Calista ia mencurigai. "Ehm gimana kalau kamu disini makan saja sayang, suruh Bi Sinta antar," sahut Calista, tujuannya biar Nathan sesekali nanti untuk suapin dia


"Oke, aku akan memintanya untuk mengantar kesini," jawabnya dengan mata yang tajam menatap Caliata, bukan karena marah namun karena ia merasa ada yang tidak beres kepada istrinya ini.


Calista jadi salah tingkah dan gugup memandangi wajah Nathan yang menatapnya seperti itu, berasa Nathan tengah menyadari jika Calista sedang berbohong padanya.


Dengan cepat ia turun kelantai bawah untuk menyuruh Bi Sinta menyiapkan makananya.


Sementara Calista segera mengirim pesan kepada Raysa untuk meminta maaf karena tak menemaninya makan, dan ia juga menyuruh agar Raysa makan malam sendiri suruh Bi Sinta yang menemaninya.


Raysa segera menanggapi chat itu, ia memang tidak mempermasalahkan jika Calista dan suaminya tidak menemaninya untuk makan malam.


Raysa sendiri pun khawatir dengan Calista yang membohongi suaminya, bagaimana jika ia ketahuan bisa bisa Nathan ikut marah dan kesal padanya.


Ia memang sudah sedari tadi menyuruh Calista untuk menjelaskan semua ini kepada Nathan tapi Calista sendiri yang keras kepala untuk terus menyembunyikan semua ini.


Perasaan Raysa sebenarnya tidak enak, ia juga ikut berfirasat buruk tentang bayi Calista.

__ADS_1


...****************...


BERSAMBUNG...


__ADS_2