Teman Hidupku

Teman Hidupku
Tidak Bisa Di Selamatkan


__ADS_3

Hampir dalam 30 Menit mereka menyusuri jalan untuk pergi ke Rumah Sakit dan akhirnya Nathan memasuki area parkiran Rumah sakit pada malam hari itu.


Kebetulan Nathan telah menghubungi Dokter pribadinya terlebih dahulu sehingga mereka sampai langsung ada penanganan.


Beberapa perawat dan suster membantu membawanya diruang pemeriksaan.


"Tuan Nathan, sebenarnya apa yang terjadi pada Nona Calista?" tanya Dokter sebelum ia memeriksa. "Ahhhm tidak ada Dok, tiba tiba saja perutnya kram dan kesakitan," jawab Nathan berbicara seperti itu kepada Dokter karena Calista belum memberitahukan apa yang sebenarnya telah terjadi.


Calista terdiam sambil berpikir lebih baik Dokter memeriksa dan menjelaskan apa yang terjadi pada baby nya sebelum ia memberitahukan yang sebenarnya.


"Kalau begitu biarkan aku memeriksa Non Calista," ucap Dokter bersama suster yang membantunya.


Nathan mengangguk saja sembari menunggu penjelasan Dokter nantinya.


Dokter Mahen adalah Dokter pribadinya Calista, sejak kehamilannya ia sekali sebulan kontrol dan memeriksa kondisi bayi di perutnya.


Dokter Mahen memeriksa dengan alat dan segala macamnya, seraya ia menghela nafas.


"Tuan Nathan, Nona Calista mengalami pendarahan kemungkinan besar tadi nya ia sudah jatuh dan terbentur kuat," jelas Dokter Mahen saat memeriksa.


Seketika raut wajah Nathan pucat dan takut, apa ia Calista jatuh tapi kenapa ia tidak memberitahukan.


"Ehm maksud Dokter keguguran?" tanya nya masih bingung belum mengerti sepenuhnya tentang kehamilan istrinya.


"Bisa jadi jika pendarahan nya tidak berhenti," lanjut Dokter Mahen menjelaskan. "Ya Tuhan, sebenarnya apa yang telah terjadi padamu Calista?" ucap Nathan mengusap wajahnya dengan frustasi, ia terlihat sangat menyedihkan wajah nya benar benar tidak terpancar kebahagiaan.


Calista masih diam tak bisa berkata apa apa, saat ini air mata yang berbicara untuk menjelaskan begitu syoknya mereka mendengar kabar buruk ini.


Ia baru menyadari jika sejak tadinya ia pendarahan pantas saja perut bawahnya sangat sakit dan kram.


Calista tidak berani menatap wajah Nathan lagi, tubuhnya tegang dan bergetar hebat. Saat ini apa pun ucapan Nathan dalam emosi ia siap mendengarkan dan siap menghadapi.

__ADS_1


Tangis Nathan tak tertahankan saat mendengar berita ini dari Dokter Mahen, Nathan menatap sendu kearah istrinya ia melangkah mendekati Calista yang tengah terbaring dengan penuh air mata.


"Sayang jelaskan padaku apa yang sudah terjadi?" ucapnya dengan tangis sambil berlutut dilantai dengan dagu yang menempel di bibir ranjang Calista.


Calista memalingkan wajahnya tak ingin menatap wajah Nathan yang sangat menyedihkan, ia pun ikut menangis tersendu sendu.


"A-a-aku minta maaf, semua ini salahku," balasnya dengan lirih, bibirnya bergetar tak kuasa untuk berkata kata. "Apa yang sebenarnya terjadi Calista tolong jelaskan!" sahut Nathan merasa geram karena Calista berbicara setengah - setengah.


Calista mengusap pipinya yang dipenuhi dengan air mata menarik nafasnya dalam dalam dan menghelanya pelan.


"Memang benar tadi waktu di kampus aku jatuh dan perutku terbentur," jelasnya sambil meringis sakit. "Aku minta maaf belum bisa menjadi istri yang terbaik untukmu," lanjut nya menyesali semua yang telah terjadi ini pada bayi mereka.


Seandainya ia mendengarkan perkataan suaminya untuk tetap stay dirumah tidak usah pergi kekampus, mungkin semua tak jadi begini.


Calista benar benar menyesal, ia meremas dadanya yang sangat terasa sesak karena tangisnya


Nathan menatapnya tak percaya sambil menggelengkan kepala, ia beranjak dari sana menjauh ditepi ranjang Calista


"Jadi bagaimana Dok, apa ada jalan keluar untuk ini?" tanya Nathan dengan suara seraknya. Dokter mahen menghela nafas dan berkata. "Satu satunya untuk menyelamatkan Nona Calista kita harus merelakan janin didalam perutnya," balas Dokter Mahen dengan gugup. Sebenarnya ia pun tak tega mengatakan kalimat itu, ia mengerti dan tahu persis bagaimana hancurnya hati Nathan dan Calista saat ini.


Detak jantung Nathan dan Calista serasa mau copot saat mendengar pernyataan dari Dokter Mahen, Nathan benar benar sesak seperti oksigen yang berada disekitarnya telah habis, kaki nya lemas tak kuat lagi untuk berdiri.


Disitulah kesedihan mereka pecah, Calista benar benar syok dan merasa sangat bersalah telah mencelakai calon bayi mereka.


Baru juga merasakan kebahagian secapat ini direnggut, Calista bersumpah dalam hatinya untuk membalaskan dendam ini kepada Steven, ini semua atas ulah Steven yang telah mencelakainya.


"Bagaimana Tuan dan Nona, apa bisa kita kerjakan sekarang?" tanya Dokter Mahen memberi saran agar jangan terlalu lama janinnya di tahan, saat di USG janinnya sudah tampak membiru dan ketubannya pun telah habis jadi kemungkinan janin sudah tak bernyawa.


"Apa tidak ada cara lain lagi Dok?" jawab Nathan dengan suara yang penuh tangis ingin meminta keajaiban agar janinnya selamat.


Dokter Mahen menggeleng seraya menelan ludahnya. "Janinnya sudah tidak selamat di dalam perut Nona Calista," jelasnya dengan suara lemah, entah mengapa Dokter Mahen merasa berasalah melihat pasangan suami istri ini berada dalam kesedihan.

__ADS_1


Calista menangis histeris saat mendengar lagi jika janinnya sudah tak bernyawa, ia berteriak menarik rambutnya frustasi. Tubuhnya menggeliat kesana kemari, menangis sejadi jadinya seakan ia tidak bisa menerima kenyataan pahit ini.


Karena di dalam ruangan pemeriksaan sangat ribut Raysa mengintip dari luar melihat Nathan dan Calista sedang menangis histeris bersama, karena penasaran dan tidak tege akhirnya ia nyosor masuk tanpa permisi lagi kepada Dokter Mahen.


"Calista, apa yang terjadi?" tanya nya berlari kearah ranjang Calista sambil menenangkan Calista. "Sa, bayi ku Sa sudah tidak bisa diselamatkan lagi!!!!!" ucap Calista dengan suara seraknya serasa sesak untuk mengungkapkannya.


Raysa melongo tubuhnya serasa kehabisan energi untuk bergerak saat mendengar ucapan Calista, ia ikut terpukul dengan kejadian ini. Rasa penyesalan pun tumbuh dalam hatinya, ia berandai jika saja ia tidak menghiraukan Calista yang mencegahnya untuk dibawa ke RS mungkin masalahnya tidak seperti ini.


"Ya Tuhan," sahut Raysa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang ia dengar ini. "Sa, aku benar benar bersalah telah mencelakai bayiku, hiks, hikks, hiks,!" ucap Calista memeluk Raysa dengan kuat, disana ia keluarkan semua unek uneknya. Banyak kalimat demi kalimat penyesalan ia sebut namun suara yang sudah tidak bisa terdengar sangat tidak jelas sehingga Nathan tak mengetahuinya.


Raysa memeluk Calista seraya mengelus rambut dan bahu untuk menenangkan sahabatnya ini, dan benar saja yang ia khawatirkan semua terjadi sekarang.


Ini semua memang kesalahan dari Calista yang bersikeras tidak mau segera di rujuk ke RS saat ia barusan terjatuh tadi, bukannya tadi Raysa sudah memaksa tapi apa boleh buat sahabatnya ini yang sangat tegas dan tidak mau mendengarkan kata orang dan begini lah akibatnya.


"Relakan dia Calista mungkin Tuhan telah menyediakan yang lebih baik dari ini, memang menurut kita Tuhan tidak adil bagi kita tapi disisi lain ia punya rencana yang jauh lebih baik untukmu," kata kata Raysa menenangkan hati Calista yang sangat patah hati dan kecewa terhadap hadiah yang di karuniakan padanya.


Terkadang kita manusia memang sering menyalahkan Tuhan, dimana ia memberikan kita hadiah yang sangat istimewa yang tidak bisa diberi oleh manusia, akan ada waktu yang sebentar lagi kita menikmati hadiah itu, lalu dengan sesukanya ia mengambil kembali dari kita.


Perasaan kita memang hancur dan kecewa kepada Tuhan, namun sebenarnya dibalik semua itu Tuhan menggantikannya dengan cara yang berbeda, percayalah sehabis hujan akan adanya pelangi, sehabis kesedihan datanglah kebahagiaan.


......................


Menceritakan tentang kehilangan si buah hati Author juga pernah rasakan, sangat sakit dan sangat kecewa kepada Tuhan. Tapi seiring berjalanan nya waktu Author telah menerima kenyataan sesakit ini perlahan Tuhan menggantikan kebahagiaan yang lain bukan hanya tentang anak melainkan tentang kebersamaan kepada pasangan dan keluarga.


Jadi bagi siapa yang berada di posisi ini, terimalah dengan lapang dada jangan salahkan Tuhan karena masalah tak datang bila manusia tidak ceroboh, Tuhan telah mengirim seseorang memperingati kita tetapi karena bersikeras maka itulah akibatnya ditanggung dan terima.


😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥😥


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2