
Raysa dan Calista akhirnya memilih untuk naik Taxi saja karena mobil yang tidak bisa tertolong diwaktu yang cepat, sementara Calista meringis kesakitan sejak tadi
"List sebaiknya kita langsung ke RS dulu jangan kerumah," ucap Raysa yang sedari tadi sangat mencemaskan Calista. "Tidak Sa, kita pulang kerumah saja," balas Calista malah bersikeras tidak ingin diperiksa ia malah memaksa Raysa agar segera pulang kerumah.
"Ya sudah, kamu jangan salahkan aku kalau terjadi apa apa sama kamu yah," Raysa kelihatan kesal dan kecewa karena keras kepala Calista, padahal niatnya tulus agar baby sahabatnya ini selamat. "Jangan khawatir semua akan baik baik saja," sahut Calista santai namun menahan rasa sakit yang teramat perih, rasanya ia ingin melahirkan.
Taxi membawa mereka sampai di depan rumah Calista, mereka segera turun dengan Raysa yang selalu membantu Calista.
"Ayo List aku bantu," ucap Raysa menarik pelan Calista dari dalam mobil membawa masuk dengan sangat hati hati. "Sa, tolong jangan cerita sama kak Nathan dan para pelayan dirumah tentang kejadian ini yah, please aku mohon," ucap Calista dengan suara kecilnya sambil menahan rasa sakit
"Terserah kamu deh List, aku sebenarnya tidak tega lihat kamu seperti ini," balas Raysa, memang ada niatnya untuk memberitahukan semua ini kepada Nathan agar Steven tidak berani lagi mencelakai Calista dan agar Calista segera di periksa untuk memastikan bayi di dalam perut nya
"Maaf, tapi aku takut Sa," sahut Calista dengan raut wajahnya yang sangat menyedihkan.
Mereka masuk kekamar Calista dan Nathan dengan Raysa yang masih siap siaga menemani Calista.
"Berbaring lah List, biarkan aku pijit pinggang mu agar enakan sedikit," ucap Raysa tanpa ragu, ia segera menidurkan tubuh Calista di atas ranjang memijitin pinggang Calista yang sangat kesakitan.
"Pelan pelan saja Sa asal di elus elus, ini rasanya sangat perih," balas Calista menutup matanya dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit itu.
"Baik lah, apa kamu perlu minum biarkan aku menyuruh pelayan untuk menyediakannya," Raysa sangat sibuk dengan Calista yang sangat kesakitan, ia takut dan cemas salah satunya adalah ia kasihan jika bayi Calista yang baru menginjak umur 6 bulan tidak bisa diselamatkan lagi.
"Iyah Sa, tolong dong suruh pelayan mengantarkan aku minuman hangat," sahut Calista. "Ya sudah tunggu yah," Raysa segera berlari keluar untuk memanggil pelayan untuk mengantarkan air hangat untuk Calista.
Calista terus meringis kesakitan tak henti tangannya terus mengelus pinggang dan perutnya.
Perasaannya memang bercampur aduk antara takut dan sedih, firasat buruk pun menghantui pikirannya. Ia memang sangat takut dengan Nathan yang memarahinya bila kejadian ini didengar olehnya.
__ADS_1
Dalam hati ia terus memohon doa dan keselamatan dari Tuhannya ia berharap keajaiban menghampirinya saat ini.
"List ini minum dulu," ucap Raysa yang cepat kembali membawakan minum untuk Calista. " Thank's yah Sa, aku sangat terharu denganmu yang sangat prihatin pada ku," jawab Calista meraih gelas nya. " Sudah jangan berpikir tentang itu dulu kamu kan sahabatku List, apa yang kamu rasakan bakal aku rasakan juga," sahutnya memberikan semangat untuk Calista.
"Sebaiknya kamu istirahat, aku akan menjagamu sampai kak Nathan datang," lanjut Raysa sambil mengelus elus pinggang Calista. "Iyah Sa," jawab Calista menganggukan kepala dan mencoba untuk menutup mata agar ia cepat terlelap.
Hampir dalam waktu 30 menit Raysa menjaga Calista sambil memijit seluruh tubuh sahabatnya sehingga terlelap.
Raysa menghela nafasnya lega dan meregangkan otot ototnya yang terasa pegal memijit Calista.
DING-DING-DING!
Tiba tiba ponsel milik Calista berdering, Raysa meraih ponsel itu dan melihat siapa yang menghubingi.
"Kak Nathan, aduh gimana nih," ucap Raysa menggaruk kepalanya bingung mau angkat atau tidak, ia juga tak tega membangunkan Calista yang baru saja terlelap.
"Ehem, ehem, halo kak Nathan," ucapnya berdehem untuk mesterilkan tenggorakannya. "Ahhm ini Raysa?" tanya Nathan mengerutkan keningnya merasa heran saja. "Benar kak Nathan, Calista sudah aku antar dan sekarang dia sedang istirahat, kebetulan ia memintaku untuk menjaganya sebelum kak Nathan pulang," jelas Raysa sedikit terdengar gugup, mungkin saja karena berbohong.
"Ohh gitu, jadi kalian sudah dirumah?" tanya Nathan merasa lega karena Raysa mengatakan jika ia sedang menemani Calista. " Betul kak ehm gimana, Calista dibangunin atau tidak?" sahut Raysa
"Ahhh sebaiknya jangan, biarkan ia tidur dulu. Aku sebentar lagi akan pulang, oh iyah Sa jangan lupa ajak dia makan siang," ucap Nathan memberi pesannya kepada Raysa supaya Calista makan diwaktu yang tepat. "Baik kak Nathan, aku akan membangunkan Calista sebentar lagi,"
Sambungan telepon pun Nathan akhiri, hatinya terasa lega namun perasaannya tak enak. Ia merasa seperti ada yang tengah terjadi kepada Calista.
Ia menghela nafas dengan kasar sambil menggigit jari untuk memikirkan apa yang sedang terjadi namun ia tidak dapat menebak.
"Aduh kenapa perasaan ku jadi tidak enak yah?," ucapnya sendiri. " Hmm sudah lah aku akan pulang sebentar lagi," ucap nya lagi berbicara sendiri tanpa ada yang mendengar dan menyahutinya.
__ADS_1
Nathan memang cemas namun ia tetap fokus untuk meyakinkan jika Calista dirumah sedang baik baik saja.
...----------------...
Sudah satu jam berlalu, Calista masih tertidur tapi Raysa masih saja berada disana, ia merebahkan tubuhnya diatas sofa sambil bermain dengan ponselnya agar tak terasa ngantuk untuk menjaga Calista.
Ia melirik jamnya dan ternyata sudah jam satu siang, Raysa beranjak dari duduknya memberanikan diri membangunkan Calista, sebab Nathan telah berpesan jangan telat untuk makan.
"List bangun yuk, kita makan siang dulu," ucap Raysa sambil menggoyangkan lengan Calista. "Ehhem iyah Sa, tolong suruh saja pelayan untuk mengantar makanan kita kesini," sahut Calista dengan suara serak dan pelan. "Oke lah, tunggu disini jangan ngapa ngapain," balas Raysa segera berlalu dari sana.
Raysa tanpa pamrih menemani Calista karena menganggap Calista sebagai saudaranya sendiri dalam suka mau duka ia tidak pernah berpaling, sikapnya yang sangat peduli Calista menjadi tidak enakan padanya.
Tak lama ia kembali dengan Bibi Sinta yang mengekorinya membawakan napan yang berisi makanan untuk Calista dan Raysa.
"Ini Non silakan dimakan," ucap Bi Sinta meletakan napan itu diatas meja yang memang disana sudah disediakan tempat untuk makan. " Makasih yah Bi" balas Raysa tersenyum ramah kepada Bibi Sinta
"Permisi yah Non," pamit Bi Sinta segera meninggalkan kamar itu. Raysa mengangguk sambil melangkah ditepi ranjang Calista. "List aku bantu yah duduk diatas ranjang bersandar dibantal," ucap Raysa menyusun bantal sambil mendudukan tubuh Calista.
"Makasih Sa," sahut Calista menatap wajah sahabatnya itu. " Santai saja, yuk makan mau disuapin atau bagaimana?" sahut Raysa menyodorkan piring yang berisi makanan di hadapan Calista. "Aku bisa kok makan sendiri," ucap Calista merasa tidak enak jika Raysa yang akan menyuapinya
Calista dan Raysa menikmati makan siang dengan tenang tanpa ada pembahasan apa pun, Raysa yang sedari tadi menahan diri untuk memberitahukan jika sebenarnya Nathan telah menghubungi Calista.
Pikirnya nanti saja untuk diberitahukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
BERSAMBUNG...
__ADS_1