Teman Hidupku

Teman Hidupku
Jangan Nodai aku


__ADS_3

"Sa ayo cerita gimana kak Radit mengungkapkan isi hatinya padamu?" ucap Calista memeluk lengan Raysa sambil berjalan dihalaman kampus.


"Aku sangat gugup dan malu List, seumur umur baru semalam pertama kali aku ditembak sama cowok, ternyata kak Radit tampan banget dari dekat," balas Raysa dengan wajah ceriah, ia merangkul leher Calista dengan gembira.


"Ucapin makasih samaku dong, aku kan yang perjuangi kalian," sahut Calista, ia juga menyembunyikan kepada Raysa tentang Radit yang pernah menembaknya.


"Ahhh makasih loh List, kamu emang sahabatku yang paling the best, i love you my frend,," seru Raysa melompat sambil memeluk Calista dengan erat.


Kedua sahabat akrab itu bercerita tentang pengalaman cinta setelah menginjak umur remaja, dulu mereka tidak pernah memikirkan soal pacaran saat masih berada di bangku sekolah.


"Jadi makin semangat kan pergi kerja," Calista malah meledeki Raysa sambil mencubit hidung mancung Raysa dengan gemes.


"Tau tidak List, kak Radit secepatnya melamarku," ucapnya lagi dengan gembira memberitahukan tentang kebahagiaannya ini kepada sahabatnya.


"Wah kamu beruntung Sa, aku jadi iri,"Calista malah memeluk Raysa dengan erat saat mendengar Raysa di lamar oleh Chef Radit.


"Sudah deh makanya suruh Steven untuk serius jangan hanya umbar kemesraan doang," Raysa malah menyindirnya karena selama Calista pacaran dengan Steven hanya keromantisan dan kemesuman yang ditunjukan doang, kata kata serius tak pernah terucap.


Calista malah memanyungkan bibirnya dan menarik nafasnya dalam dalam, ia tidak menanggapi lagi ucapan Raysa ia malah memeluk lengan Raysa kembali berjalan memasuki kelas mereka.


...----------------...


"Sayang kita bareng pulang hari ini yah," Steven menghampiri Calista memeluk dari belakang dan mencium sebelah pipi Calista. "Ihh sayang main nyosor saja, aku pikir kamu hantu dibelakangku," balas Calista berbalik menghadap Steven dan memeluk tubuh tinggi kekasihnya.


"Mau yah pulang bareng aku, hari ini aku ajak kamu kerumahku," Steven kembali melayangkan kecupan di kening Calista merangkulnya didalam keteknya.


"Aku mau, sekarang kita pulang," sahut Calista tidak menolak ajakan Steven ia malah senang mendatangi rumah kekasihnya itu.


"Pamit sama Raysa nanti kamu di omelin sama dia," Steven sedikit ada rasa takut kepada Raysa karena suka ngomel dan cerewet kepada Calista.


"Dia sudah chat aku, kebetulan hari ini ia dijemput pacarnya," untuk pertama kali, Raysa minta izin kepada Calista karena Radit siang itu menjemput Raysa jadi ada kesempatan besar untuk Calista pergi bersama kekasihnya.


Tak berlama lama lagi, Steven mengambil mobilnya di parkiran dan segera melaju pulang kerumah dengan mengajak Calista.

__ADS_1


Calista begitu senang kepada Steven yang mengajaknya kerumah, tujuannya ingin bertemu kepada calon mertuanya dan ingin mengetahui seisi rumah itu agar tidak kaget nanti jika benar Steven serius dengannya.


Steven memasuki pintu gerbang rumahnya dengan dibantu oleh penjaga rumah untuk membuka pagar.


"Sayang rumahmu besar banget, ada kolam renang lagi," ucap Calista yang melihat rumah pacaranya super super mewah dan cantik.


"Tapi sayang penghuninya tidak banyak," sahutnya menarik tangan Calista membawa masuk.


"Maksudnya," tanya Calista mengangkat wajahnya melihat kearah pacarnya yang tinggi itu. " Aku dan abangku yang menghuni rumah ini sementara Mamah Papahku diluar negeri," jelas Steven kepada Raysa.


"Yaampun yang, terus kita ngapain kerumah kalau tidak ada orangtuamu," Calista menghentikan langkahnya menarik diri ingin pulang saja karena Steven mengaku dirumah tidak ada orang.


"Iyah kita senang senang sayang, aku butuh kehangatan dari tubuhmu," ucapnya santai dan terlihat biasa saja, mungkin ini adalah kebiasaan Steven jadi dia dengan mudah saja berkata seperti itu.


"Tidak Stev, aku tidak mau," tolak Calista berhenti didepan pintu rumah Steven dan berkeinginan untuk segera pergi dari sana.


"Kenapa sih sayang, ayolah masuk dulu," Steven masih terlihat biasa saja, padahal Calista sudah mulai gelisah mendengar omangan Steven.


Steven menghempaskan tubuhnya diatas sofa seraya menghembuskan nafasnya kasar menoleh kearah pintu melihat Calista yang masih mematung di pintu.


"Kemari lah yang aku hanya becanda, gitu saja sudah takut," seru Steven lagi yang baru menyadari Calista takut dan pasti tidak mau diajak gitu gituan.


Hampir sudah 3 bulan mereka menjalin hubungan Steven masih baik baik dalam bicara tidak pernah berkata demikian, hanya sikap mesumnya saja yang kadang ia tunjukan kepada Calista.


Dengan berat langkah, Calista masuk dan berjalan lambat seraya pikirannya dipenuhi dengan rasa gelisah.


"Kalau tidak mau ya sudah tidak apa apa, aku tidak memaksamu," Steven membaik baiki ucapannya agar Calista tidak marah dan ngambek padanya.


"Aku tidak akan merelakanmu jika kamu menodaiku Stev," Calista malah terus terang saja dengan suara terbata bata dan wajahnya kelihatan sedih dan takut.


Steven berdiri dari duduknya dan merangkul pundak Calista mendudukan tubuh mungil pacarnya itu disofa yang tadinya ia duduki.


"Sebenarnya itu adalah rasa yang enak dan nikmat, biar aku mengajarimu yakinlah kamu pasti akan ketagihan," bisik Steven didaun telinga Calista sedikit menggigit lembut daun telinga imut milik pacarnya itu.

__ADS_1


Calista menggeleng merinding mendengar ucapan horor itu, rasanya hantu sedang mencekiknya.


"Aku tidak mau yang, please jangan nodai aku," suara Calista gemetar dengan raut wajah murung.


Steven mengangguk dan tersenyum membelai rambut Calista dengan lembut penuh gairah.


"Aku tahu kamu pasti takut karena belum pernah kamu rasakan ya sudah tidak masalah, tapi puaskan aku dengan cara mu yang lain," bisiknya lagi sambil menyelipkan beberapa helai rambut di daun telinga Calista.


"Aku butuh kenikmatan sayang, sudah berapa lama aku tidak merasakannya," ucapnya dengan suara serak tengah berbisik, menambah detat jantung Calista semakin berdetak kencang seluruh bulu tanganya merinding mendengar bisik bisikan horor Steven.


"Aku pulang tolong antar aku," sela Calista berdiri dari duduknya, tidak tahan dan takut dengan Steven. Benar saja yang pernah ditegur dan diperingati Raysa dalam beberapa bulan padanya, terbukti jika Steven emang mesum ia mencintai Calista dengan nafsu bukan dengan cinta yang tulus.


"Baiklah aku akan mengantarmu, tapi tolong bantu aku List hasratku sudah tak tertahan lagi," Steven malah semakin menjadi jadi dan sepertinya rasa berkeinginan menyelimuti seluruh dirinya.


Calista dengan bingung tidak bisa menanggapi kata kata Steven, seumur hidupnya ia tidak pernah diajak kehal negatif seperti itu. Dengan penuh keberanian saja ia kembali duduk disamping Steven dan menangis histeris dalam dada bidang Steven.


Steven tersentak dan terdiam melihat Calista seperti itu, rasa kasihan tumbuh dalam hatinya, ia dengan penuh kesadaran memeluk Calista dan mencoba menenangkannya.


" Sayang maafin aku, aku benar hilaf dan pikiranku dikuasai kegelapan. Maaf jika kamu tersinggung," ucap Steven kembali menyadari semua ucapannya dan merasa bersalah telah membuat Calista sedih seperti ini.


"Kamu serius mencintaiku kan Stev," balas Calista dengan pilu merasa tersakiti dengan Steven. " Aku serius mencintaimu List tapi kebiasaanku meminta wanita untuk memuaskanku tidak bisa aku hilangkan dalam hidupku," Steven terus terang karena ini suatu kebiasaan nya dalam menjalin hubungan, dan sebelumnya juga ia pernah memberitahukan ini kepada Calista.


"Antar aku pulang," bentak Calista dengan suara meninggi dan masih menangis. " Ya sudah ayo aku akan mengantarmu, kamu jangan nangis lagi aku tidak tega melihatmu," walaupun Steven bejat terhadap wanita tapi ia juga tidak tega bila wanita menangis gara gara dirinya.


Dengan cepat ia merangkul Calista dan segera mengantarnya pulang, hasrat yang telah menguasai dirinya tentu ia akan melampiaskan kepada seseorang wanita lain karena Calista tidak mengizinkannya.


Diam diam ia mengantar Calista dulu setelahnya ia akan pergi ditempat biasa ia menemukan wanita yang mau diajak untuk melakukan suatu kesenangan dan memuaskan dirinya.


......................


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2