Teman Hidupku

Teman Hidupku
Merindukan Keluarga


__ADS_3

Tak terasa dua minggu mereka telah berada di Kota Bahagia, Raysa dan Calista yang selalu sibuk dengan aktivitasnya hampir lupa untuk memberi kabar kepada keluarganya.


Hari itu adalah hari libur dimana dalam satu minggu mereka mengambil libur dihari yang sama, Calista dan Raysa tengah sibuk sendiri dengan kegiatan masing masing.


Calista yang tengah duduk ditaman menyendiri tanpa ditemani oleh Raysa.


Sesaat pikirannya terlintas mengingat Mamah dan Kakaknya, dan biar pun Papahnya yang selalu kasar padanya tak lupa ia juga mengingat.


Ia melihat layar ponselnya satu minggu yang lalu terakhir kakak dan Mamahnya menghubunginya.


Memberanikan diri untuk menghubungi nomor Marya, Mamah yang selalu membelanya dikala ia dipukul oleh Papahnya.


TU-TU-TU!


(Panggilan berdering)


"Hallo sayang," sahutan telepon saat terhubung dari seberang sana oleh Marya.


Calista adem mendengar suara lembut dari Marya yang ternyata menyambutnya dengan baik.


"Mah, bagaimana kabarnya?" balas Calista sangat tersentuh mendengar suara Marya.


"Baik sayang, tumben baru dihubungi?" Marya selama dua minggu itu selalu menunggu telepon dari Calista namun tak kunjung ada, Marya bersabar dan tidak ingin mengganggu Calista.


"Calista minta maaf Mah, akhir akhir ini Calista sibuk tidak ada waktu untuk bertelepon, hari ini baru ada libur makanya aku baru menghubungi Mamah," jelas Calista dengan suara serak tak terasa air matanya pun menetes.


"Iyah sayang Mamah mengerti kok, terus gimana dengan kuliahnya sayang?" Marya selalu berharap Calista tetap kuliah untuk kebaikannya dimasa depan.


"Ehm masih belum masuk Mah, bulan depan seluruh maha siswa baru masuk." jelas Calista kepada Marya.


"Syukur lah sayang, Mamah senang mendengar kalau kamu mau kuliah disana," Marya tidak bisa menyembunyikan perasaannya jika sebenarnya hatinya senang bercampur sedih kepada Calista.


"Iyah Mah, kakak Glen bagaimana kabarnya?" Calista tak lupa kepada kakaknya yang selalu ada untuknya dan selalu memberinya semangat.


"Kakak kamu baik, dia lagi ngampus hari ini,"jawab Marya.

__ADS_1


"ya sudah deh Mah syukur kalian baik baik disana, Calista nitip salam sama Papah dan kak Glen, diwaktu luang lagi nanti Calista akan menghubungi kalian," biarpun Calista benci terhadap Papahnya tapi dikala jarak jauh seperti ini ia pun tak tertahankan untuk mengatakan kerinduannya.


Mereka pun mengakhiri sambungan telepon itu.


Marya baru merasa lega, setidaknya rindu terobati saat mendengar suara Calista.


Air mata yang tak bisa dihentikan pun menetes membasahi pipi Marya.


Kini dia dan putrinya berada dalam jarak yang jauh, bertemu pun tak bisa apa lagi saat rindu seperti ini selain berteleponan tak akan bisa lagi bertemu.


"Kenapa Mah?" Jhon yang baru pulang dari kantornya mendapati istri yang sedang bersedih.


Marya menyadarinya dengan cepat ia mengusap air matanya mengelap pipinya yang telah dibasahi air mata.


"Ehh Pah sudah pulang?" sahut Marya mengalihkan pertanyaan suaminya padanya.


"Iyah nih Papah baru pulang, Mamah kenapa sedih?" balas Jhon mendudukan tubuhnya di sofa yang di duduki Marya.


Marya terdiam saat Jhon bertanya dan merangkulnya mengusap rambutnya penuh kasih sayang. "Aku rindu sama Calista Pah," ucapnya lirih, air mata yang tadinya ia tahan kini kembali menetes.


"Hubungi dia lah Mah atau video call biar rindu nya terobati,"ucap Jhon sedikit memberi perhatian kepada istrinya.


Semenjak Calista pergi dari rumah kini Jhon baru menyesali kekerasannya terhadap Calista, seandainya dulu jika ia bertindak ia pikirkan dulu mungkin Calista bisa betah dan bersikap baik.


"Sudah barusan kami mengakhiri video call nya, tapi seandainya Calista disini aku ingin memeluknya," jawab Marya dengan suara seraknya menangisi anak gadisnya.


Jhon terdiam seribu bahasa dengan penuh penyesalannya.


"Apa Calista memberitahu dia ada dimana Mah?" tanya Jhon ragu namun untuk apa ia gengsi untuk tidak mengetahui keberadaan Calista.


Marya menggeleng artinya memang ia tak sempat menanyakan soal itu pada Calista.


"Ya sudah nanti kita coba tanya sama Glen siapa tau Calista memberitahunya," Jhon mencoba menenangkan Marya karena tak tega melihatnya menangis.


"Kenapa Papah ingin tau Calista tinggal dimana?" tanya Marya mengangkat wajahnya melihat kearah suaminya. "Iyah biar kita temui dia Mah untuk menghilangkan rindu mu," jawab Jhon santai tak ada maksud apa apa.

__ADS_1


Marya memperbaiki posisi duduknya sambil mengusap air matanya. "Papah tidak marah lagi sama Calista?" tanya Marya sedikit tenang saat suaminya terlihat kembali peduli dengan Calista.


"Hem, aku menyadari semua kesalahan dariku, dan aku menyesal Mah,"jawab Jhon berkata jujur apa yang sedang dia pikirkan. Marya melukis senyum indah dibibirnya saat ia mendengar pernyataan itu dari suaminya.


"Tapi Pah apa Calista mau jika kita ajak dia pulang kerumah?" Marya pun berharap Calista bisa pulang kerumah mereka.


"Aku juga kurang tau, tapi kita jangan memaksanya. Kita harus menuruti kemauannya saja," balas Jhon ingin membiarkan Calista mencari kehidupannya sendiri agar ia mandiri seperti yang ia inginkan.


"Hm baik lah, tapi Papah usahakan biar kita bisa mengunjungi Calista itu harapan ku," Marya pun berharap apa yang dikatakan Jhon padanya bisa ia tepati.


"Mamah tenang saja, biarkan aku usahakan secepatnya," Jhon tersenyum kearah istrinya dan kembali membelai kepala Marya lembut.


Marya membalas senyuman itu dan memandang lekat dalam bola mata suaminya. "Papah mau kopi?" ucap Marya bersemangat.


"Kalau Mamah yang buatkan Papah mau," balas Jhon menerima tawaran istrinya.


"Ya sudah sih biarkan aku yang membuatkan kopi untukmu," Walaupun Jhon kelihatan cuek terhadap Marya, tapi status suami istri wajiblah ada kemesraan didalamnya agar hubungan keluarga semakin hangat dan masih saling mencintai satu sama lain.


...----------------...


Marya pun beranjak dari duduknya dan pergi kedapur untuk membuatkan kopi untuk suaminya, memang dirumahnya banyak pelayan namun setiap Jhon pulang ia tetap menawarkan diri untuk membuatkan kopi untuk suaminya, Jhon juga selalu menerima sambutan hanga itu dari Marya walaupun sebenarnya mereka sering konflik dalam berumah tangga namun mereka mampu menyembunyikan itu untuk mencari kehangatan antara hubungan suami istri mereka.


Seperti biasa Marya membuatkan kopi untuk suaminya dengan rasa yang sama seperti yang di minta Jhon padanya.


"Pah, ini kopinya yah," ucap Marya sambil meletakan gelas kopi itu diatas meja. "Makasih yah Mah," balas Jhon menatap kearah istrinya mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.


"Mamah tinggal dulu mau nyiapkan pakaian ganti untuk Papah," balas Marya ingin segera memasuki kamar mereka. "Tidak Mah, aku ingin ditemani dulu disini," ucap Jhon tidak ingin Marya meninggalkannya dulu disana, mungkin saja ia ingin bercerita banyak kepada istrinya itu.


Marya menghentikan langkahnya dan kembali duduk di sofa.


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2