
Tak terasa sudah 3 minggu berlalu saat calon bayi Calista dan Nathan pergi meninggalkan dunia.
Kini tubuh Calista sudah mulai pulih namun hati masih berbekas perih dan sakit, masih saja ia tidak melupakan bayinya yang meninggal karena keegoisannya.
Dalam tiga minggu itu ia tampak terus bersedih tanpa ada kebahagiaan diwajahnya. Ditambah suami yang masih enggan padanya membuat pikiran Calista pusing sampai terbawa suasana.
Nathan menjadi pendiam saat ini, pagi pergi dan pulang malam. Ia berbicara seadanya saja kepada Calista tanpa ada kata kata romantis ia ungkapkan.
Biasanya kalau pergi kerja ia wajib memberi kecupan dan pelukan untuk istrinya namun semenjak calon bayi mereka meninggal ia tak sedikit pun lagi melakukan itu, ia pergi asal pamit saja tanpa ada pelukan dan ciuman itu lagi.
Sebenarnya Calista sangat terpojok, dimana ia dalam kesedihan karena bayinya yang tidak selamat namun ditambah lagi dengan suami yang marah dan kecewa padanya. Terbayang tidak sih bagaimana perasaan Calista saat ini?
Benar benar sakit tapi ia kuat kuatkan diri agar tidak terlihat menyedihkan lagi.
...----------------...
Setelah seharian berada di luar kini Nathan pulang kerumah tepat pukul 22:00 malam, Calista yang sedari tadi tidur namun menyadari kedatangan suaminya.
Ia mendengar langkah kaki memasuki kamar lalu beralih masuk ke kamar mandi.
Calista menghela nafasnya mengangkat kepala untuk memastikan jika Nathan sudah masuk ke kamar mandi.
Ia tidak kuat dengan kondisi seperti ini terus, mereka sebagai suami istri haruslah saling sapaan dan berbicara.
Dari tenaga yang paling dalam Calista mengumpulkan keberanian untuk berbicara malam itu juga kepada Nathan.
Calista menunggu hampir dalam 55 menit baru kelar Nathan keluar dari dalam kamar mandi, ia telah menyiapkan baju ganti untuk suaminya yang sebenarnya sudah tak lagi ia lakukan dalam tiga minggu itu jadi malam ini ia mulai menyiapkan kepada suami nya kembali.
__ADS_1
Nathan keluar dari kamar mandi dan mendapati pakaiannya disana telah di sediakan, ia memalingkan wajahnya menatap kearah Calista yang sedang duduk bersandar di tempat tidurnya.
Ia meraih pakaian itu sembari berkata, "Terima kasih sudah nyiapin baju untuk ku," ucapnya melangkah pergi keruang ganti tanpa menunggu Calista menjawabnya.
Mulut Calista terbuka hendak menjawab namun karena langsung ditinggal ia mengurungkan niatnya untuk mengucapkan kalimat apa pun.
"Ahhm sayang apa sudah makan malam?" ucap Calista memberanikan diri berbicara saat pas ia mengetahui Nathan kembali kekamar.
Nathan masih terlihat cuek dan dingin seperti tak menghiraukan Calista. "Sudah, kenapa?" balasnya kembali bertanya. "Ohh tidak, aku pikir kamu tidak makan diluar jadi tadi aku nunggu kamu," jawab Calista terbata bata dengan wajah kikut.
"Hmm kalau begitu aku mau kelantai bawah sebentar untuk makan," ucap Calista lagi seraya menjinjit kakinya kelantai bersiap untuk pergi dari kamar mereka. "Aku akan temani," sahut Nathan dengan cuek sembari mengikuti Calista keluar.
Wajah Calista melongo, ia menghentikan langkahnya menatap Nathan serasa tak percaya jika ia ditemani. Malam malam sebelumnya Nathan tidak pernah begini saat Calista turun kelantai bawah.
Dengan langkah gontai ia berjalan tanpa berbicara sedikit pun kepada suaminya tekuknya serasa merinding karena Nathan yang berjalan dari belakang seperti hantu yang horor tanpa bicara sedikit pun.
"Duduk lah, aku akan mengambilkan makanan untukmu," ucap Nathan menarik kursi untuk Calista saat mereka telah sampai di ruang makan.
Ia duduk sesekali menatap punggung suaminya yang mengambil makanan untuknya.
Malam ini ia terlihat bingung, ia merasa Nathan sedikit berbeda dari baberapa minggu ini hatinya jadi adem dan harapannya semoga mereka kembali berbaikan.
"Makan lah, kamu terlihat sangat kurus dalam beberapa minggu ini," ucap Nathan meletakan piring serta berbagai macam menu makanan untuk Calista. "Terima kasih," balasnya mengangguk sambil meraih piring. "Biarkan aku saja yang mengambilkan untukmu," cegahnya, seraya mengambil alih sendok yang Calista pegang.
Calista memandanginya dengan wajah kikuk sembari mengangguk membiarkan Nathan yang mengambil untuk nya.
Nathan mengisi piring dengan berbagai macam makanan dan sayuran dan bersiap untuk menyuapkan kepada Calista.
__ADS_1
"Nah makan lah," ucapnya menyodorkan kemulut Calista. "Hemm" Calista mengangguk berdehem sambil membuka mulutnya. Senyum senang mulai terlihat dibibirnya saat Nathan kembali bersikap hangat padanya, malam ini juga ia berharap mereka tidak lagi saling marahan.
"Bagaimana keadaan Restoran, apa ramai seperti biasa?" tanya Calista basa basi untuk mengusir kegugupan diantara mereka. "Hem ramai seperti biasa," balasnya dengan wajah yang masih datar dan dingin.
Calista mengangguk sambil mengunyah makanan kedalam mulutnya. "Bagaimana keadaan mu, apa sudah pulih seutuhnya?" tanya Nathan sambil menyuap kembali makanan kepada Calista. "Aku sudah sehat, malah tidak merasa pedih lagi," jawab Calista, bermaksud tubuhnya yang sudah pulih tapi jika Nathan tahu hatinya masih belum.
"Bagus lah, berarti kamu sudah bisa masuk kampus lagi," ucap Nathan entah ia memancing Calista atau bagaimana. Calista menatap nya sambil meneguk minuman nya.
"Tidak aku tidak akan mau kuliah lagi," sahutnya dengan wajah tidak suka saat mendengar ucapan Nathan. "Kenapa?" tanya Nathan singkat dengan mengangkat satu alisnya. "A-a-aku memutuskan untuk fokus jadi ibu rumah tangga untuk suami, dan berharap Tuhan menggantikan anak untuk kita," jawab Calista dengan gugup, ia telah berpikiran seperti ini jadi ia harus membetitahukan kepada Nathan tentang yang ia rencanakan ini.
"Apa kamu tidak menyesal dengan apa yang kamu putuskan?" Nathan mentapnya bingung, tak percaya saja Calista bertekad seperti itu. Ia rela tidak melanjutkan kuliah demi menjadi ibu rumah tangga yang baik untuk Nathan.
Calista terdiam menundukan kepalanya. "Ini sudah jadi keputusanku, tidak akan aku sesali," jawabnya dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Nathan terlihat kasihan menatap Calista yang katanya rela meninggalkan cita cita nya demi dia. "Tapi Calista kamu tinggal beberapa tahun lagi kan sudah tamat?" sahutnya sedikit memberi kecegahan kepada Calista. "Aku tidak peduli, yang ku inginkan saat ini segera hamil lagi," jawabnya dengan tegas sembari mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah basah dengan air mata.
"Aku minta maaf jika sikapku yang membuatmu bertekad seperti itu, aku hanya kecewa karena kamu yang tidak bisa menjaga calon anak kita Calista!" ucap Nathan menyesali kembali sikapnya yang cuek dan dingin kepada Calista.
Hati nya memang hancur, sakit dan kecewa kepada Calista yang lalai menjaga kandungannya tapi ia tidak bermaksud untuk menghentikan Calista meraih cita citanya
"Ini semua bukan karena sikapmu padaku, ini semua kulakukan untuk menebus kesalahku kepada calon bayi kita yang meninggal," jawab Calista dengan suara serak
Disini ia tidak mampu menahan lagi tangisnya, ia tumpahkan segala kekesalan dan sakit hatinya. Ia menangis sejadi jadinya agar pikirannya menjadi lebih tenang.
Nathan beranjak dari duduknya mendekati Calista, dengan sigap ia memeluk dengan erat memberi bahunya untuk sandaran kepada Calista.
Ia mengelus seraya memberikan kecupan dipucuk kepala istrinya dengan lembut, sebenarnya selama satu bulan ini Nathan sangat merindukan Calista namun ia coba untuk berpura pura cuek dan egois untuk mentes bagaimana sikap Calista padanya.
__ADS_1
...****************...
BERSAMBUNG...