Teman Hidupku

Teman Hidupku
Lupa Jadwal Datang Bulan


__ADS_3

Mereka diam sambil berpelukan, Calista benar benar manja dan pengen di perhatiin terus sama Nathan.


"Kita kekamar saja sayang, istirahat yah?" ucap Nathan melepaskan pelukannya. Calista mengangguk sambil mengikuti langkah Nathan.


"Tidak ada yang sakit di tubuh mu yang lain kan sayang?" tanya Nathan menidurkan tubuh Calista. "Enggak sih sayang, cuman pinggang ku terasa pegal kayak mau datang bulan gitu," jawab Calista dengan suara manjan yang dibuat buatnya.


Nathan terdiam meresapi kata kata Calista. "Datang bulan?" ucapnya, karena setahu Nathan sudah beberapa bulan itu tidak pernah lagi ia lihat Calista datang bulan. "Iyah, mungkin aku bentar lagi haid loh itu,"sahut Calista.


Nathan curiga, jangan jangan Calista hamil karena setahu nya jika sudah beberapa bulan tak haid menandakan hamil.


"Ehm sayang, sebaiknya aku hubungi Dokter pribadi aku. Ada baiknya kamu diperiksa saja," ucap Nathan, kepikiran memanggil Dokter saja agar lebih baik. "Ahhh ngapain sih, kan aku mau datang bulan. Sudah deh jangan ngadi ngadi," Calista malah menolak dan tidak mau untuk diperiksa.


Ia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Nathan, Calista tidak mengerti sama sekali bagaimana itu kalau dikatakan sedang hamil.


"Kamu tenang dan tunggu bentar, aku akan menghubungi Dokter dulu," Nathan malah tak perduli dengan Calista yang menolak untuk pemeriksaan nya ke Dokter, ia tetap bersikeras menghubungi Dokternya agar ia tahu kepastian.


Ia beranjak dari tempat tidur meraih ponselnya dan segera menghubungi Dokte itu. Calista malah memanyungkan bibirnya sebel terhadap Nathan yang tidak memperdulikan kata katanya.


Setelah selesai menghubungi ia kembali. "Bentar lagi Dokter itu datang, aku penasaran kamu sakit atau tidak," ucapnya kembali duduk dibibir ranjang tempat Calista tidur."Hem terserah deh, aku pasrah!" jawab Calista memutar bola matanya malas.


Nathan malah terlihat baik baik saja dan tidak memperdulikan Calista lagi ngambek atau tidak yang terpenting ia harus mengetahui kenapa Calista malah mual jika minum atau makan.


Ia mengelus rambut Calista dengan lembut seraya mengecup kening.


...----------------...


1 jam kemudian, Dokter pribadi Nathan telah tiba kekediamannya.


Langsung saja, asisten rumah menuntunnya kekamar Tuannya.


DING- DING-DING!


(Suara bel pintu berbunyi)

__ADS_1


"Permisi Tuan, Dokternya sudah datang," seru asisten rumah memanggil mereka dari dalam. "Iyah bentar," sahut Nathan segera membuka pintu.


"Ohh silakan masuk Dok," ucap Nathan memberi salam kepada Dokter. "Baik Tuan Nathan, kira kira apa keluhan istrinya," sahut Dokter itu to the point saja.


Nathan tersenyum sembari menatap Calista yang masih berbaring di tempat tidurnya. "Ehhm gini Dok, istri aku tuh makan dan minum mual dan muntah terus pinggangnya terasa sakit," jelas Nathan dengan suara terbata bata.


"Ohh gitu ya sudah langsung saja kita periksa, izin yah Tuan," balas Dokter itu mengeluarkan segala perlengkapannya, ia berjalan kearah tempat tidur Calista.


"Ahh silakan Dok," ucap Nathan sambil mengikuti.


Dokter memeriksa dan sedikit penasaran dengan tubuh Calista. "Nona kalau boleh tahu kapan haid terakhirnya," tanya Dokter .


Calista termenung sambil memikirkan jadwal haidnya, ia baru ingat dari beberapa bulan itu ia tidak lagi haid sampai sekarang.


"Ehhmm setahu aku terakhir tiga bulan yang lalu," jawabnya sambil mikir. "Ohhh gitu, kita sebaiknya memeriksa perut Nona," sahut Dokter mulai firasat jika Calista sedang hamil.


Calista mengangguk membiarkan Dokter untuk memeriksa perutnya. Dengan seksama Dokter menekan perut bawah pusar Calista dan benar saja, dugaannya benar jika Calista hamil.


"Ehmm Tuan dan Nona selamat! Kalian mempunyai calon bayi, perkiraan Nona Calista sedang mengandung 14 minggu," Dokter menjelaskan detail haid dan bagaimana bisa hamil.


Nathan dan Calista kaget dengan mata dan mulut mengangah mendengar penjelasan Dokter kepada mereka.


"Ohh my God, realy Dok?" teriak Nathan menatap dengan wajah berseri kepada istrinya. "Benar, dan aku memberinya beberapa vitamin dan obat pencegah mual-mual," jawab Dokter kembali menjelaskan.


"Oh sayang, kamu hamil benar dugaanku, ya Tuhan terima kasih," ucap Nathan tersenyum sambil memeluk tubuh Calista.


Muka Calista terlihat bingung namun ia tersenyum senang, masih tidak nyangka jika ia hamil apa lagi sudah jalan tiga bulan tapi kenapa ia tidak merasakan.


Dokter menyerahkan kepada Nathan semua obat obatan serta vitamin dan menjelaskan aturan minumnya, dengan senang hati Nathan menerima dan memahami semua yang di jelaskan Dokter.


"Ohh ya Tuan Nathan, dalam 16 minggu kalian sudah bisa USG untuk mengetahui keadaan janinnya di dalam," Dokter mengingat jika dalam satu bulan lagi mereka bisa mendatangi Dokter itu untuk USG demi mengetahui kondisi janin mereka.


"Baik Dok, kami akan menunggu beberapa minggu itu. Kami akan menghubungi mu nanti," jawab Nathan mengangguk.

__ADS_1


"Kalau begitu aku permisi,"


"Mari Dok aku antar," ucap Nathan mempersilakan Dokter untuk ikut dengannya.


"Nona Calista, jaga kesehatannya dan jangan lupa minum susu," Dokter mengingatkan Calista juga untuk menjaga daya tahan tubuh janin di dalam perut perlu untuk mengonsumsi susu untuk Ibu hamil.


Calista mengangguk tersenyum. "Baik Dok terima kasih yah, sampai jumpa," sahut Calista dengan ramah menjawab Dokternya dan tak lupa melambaikan tangan.


...----------------...


"Eh sayang, kamu nyangka tidak kalau aku sedang hamil?" tanya Calista yang masih bingung saja. " Yakin, karena kamu sudah lama banget tidak dapat haidkan?" jawabnya begitu senangnya melihat istri bisa memberi nya keturunan.


Nathan sangat bahagia, di umurnya yang menginjak 28 tahun bisa mempunyai anak, dan belum begitu tua dia masih bisa menyekolahkan anaknya.


Calista malah banyak kepikiran tentang kehamilan itu, sebenarnya ia belum siap hamil. Tapi untuk menutupi kepada Nathan ia memperlihatkan wajah yang baik baik saja.


Sebenarnya dulu ia pernah berpikiran untuk menyelesaikan kuliah dulu baru mau hamil, namun Tuhan berkehendak lain ia malah mendatangkan malaikat kecil di tengah tengah mereka sebelum Calista belum siap.


Mau tidak mau harus ia terima, itu suatu berkat maka janganlah di tolak.


"Yaampun sayang sebaiknya kita memberitahu ini kepada orang tua kita, mereka pasti senang," ucap Nathan yang sangat kegirangan dengan kabar gembira diantara keluarganya.


"Hmm jangan dulu deh sayang, tunggu nanti kalau sudah USG saja," tolak Calista dengan alasan perutnya masih belum besar dan janinya juga masih beberapa bulan, sebaiknya nanti saja.


"Ohh ya sudah deh, biar kita ketahui jenis kelaminnya dulu kali yah," sahut Nathan sedikit masuk akalnya. "Nah gitu, sekalian saja kan kita kasi suprise nya sama mereka," Calista meyakinkan Nathan agar tidak buru buru dulu.


Hati Nathan sangat bahagia saat ini mendengar kabar baik atas kehamilan istrinya, tidak nyangka saja sebentar lagi dia sudah jadi Ayah.


Perasaannya semakin cinta dan sayang kepada Calista, ia pun berharap semoga janin mereka baik baik dan pertumbuhannya di berkati.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2