Teman Hidupku

Teman Hidupku
Taman Kota Jadi Saksinya


__ADS_3

Steven mengeluarkan beberapa minuman dingin dan cemilan dari paper bag yang sengaja ia bawa sejak tadi. " Kamu mau yang mana List, biarkan aku bantu membukanya," ucap Steven menyodorkan beberapa minuman yang berbeda kepada Calista.


"Apa saja yang mudah kamu buka Stev aku tetap mau," jawab Calista tidak mau ambil pusing tentang minuman itu. "Kamu unik banget," sela Steven sedikit terkagum dengan sikap Calista yang baru baru saja ia kenal semua.


"Coba jelaskan apa yang unik?" tanya nya memandangi mata sipit Steven tanpa berkedip.


" Aku baru menemui sosok gadis seperti mu, mau ditawarkan apa, jawabnya apa saja akan tetap mau. Coba kalau gadis yang pernah kutemui mereka malah suka milih dan membuatku pusing sendiri," Jelas Steven tersenyum merasa jika Calista ini sangat istimewa.


"Hem aku emang kayak gini, jadi ini sikapku terkadang ada orang yang suka dan kadang ada yang tidak," sahut Calista biasa saja tidak terlalu bangga dengan sikapnya yang selalu dipuji puji ini.


Steven mengangguk dan tersenyum, ia menyodorkan botol minuman yang telah ia buka kepada Calista.


"Makasih yah," ucap Calista meraih botol itu dan tersenyum kearah Steven. Lagi lagi Steven hanya mengangguk dan ikut meraih botol minumanya dan meneguknya sedikit.


"Sebelum nya apa kamu pernah menjalin hubungan dengan lawan jenismu?" tanya Steven memancing cerita Calista. "Maksudmu, pacaran?" balas Calista sedikit tidak mengerti.


"Iyah seperti itu," jawab Steven mengangguk. "Belum pernah, aku dari umur 17 tahun ini baru berteman kepada seorang cowok," Calista dengan polos menjawabnya jujur, sehingga Steven sedikit menertawakannya.


"Dikasitau yang sebenarnya malah menertawakanku, hmm..!" Calista jadi sebel saja di tertawakan seperti itu oleh Steven. "Tidak, aku hanya merasa lucu saja mendengarnya. Gadis sepertimu langka di Kota ini," ucap Steven mengangkat jempolnya dengan kepribadian Calista saat ini.


"Papah Mamah ku selalu menasehatiku agar aku tidak boleh pacaran sebelum tamat SMA," jelas Calista karena Steven terus mertawakannya.


"Tapi sekarang bagaimana?" tanya Steven memastikan apakah Calista sudah diberi izin pacaran atau masih saja di larang.


"Sekarang aku boleh, tapi harus tu batasnya dan sewajar nya saja," balas Calista memandang wajah Steven sambil memanyungkan bibirnya.


"Berarti kamu mau menerima aku sebagai kekasihmu Calista?" ucap Steven dengan tenang saling berhadapan dengan Calista yang sedari tadi menghadap kearahnya.


DEG!


Jantung Calista berdetak kencang saat mendengar ucapan Steven kepadanya barusan.

__ADS_1


"Kamu ngomong apa barusan?" balasnya pura pura tidak dengar, ia tidak percaya yang diucapkan Steven itu serius dan pikirnya hanya sekedar lelucon saja.


"Apa kamu mau menerima ku sebagai kekasihmu? Steven masih mengulang ucapannya dengan memegang kedua tangan dan menatap wajah Calista.


Rasa gugup dan deg degan menguasai diri Calista saat ini, seumur hidupnya baru kali ini ia ditantang tentang ungkapan Cinta, dan ia bingung harus jawab apa sebenarnya. Tangannya terlihat gemetar dan keringat dingin di dalam genggaman Steven.


"Hei kok kamu diam, jawab dong?" bisik Steven mencoba mengangkat wajah Calista yang menunduk, ia ingin tau apa jawaban Calista tentang ungkapan perasaannya ini.


"A-a-aku, aku tidak tau harus jawab apa tapi sebenarnya perasaanku sama kamu emang ada Stev. Aku mau terima kamu jadi kekasihku," jawabnya terbata bata menundukan wajahnya tidak berani memandangi wajah Steven.


"Kamu serius?" Steven tersenyum menang saat ia mendengar jawaban Calista, akhirnya ia menang kali ini menaklukan hati gadis yang baru tumbuh dalam percintaan.


Calista tidak menjawabnya lagi, ia mengangguk dan tersenyum memberi isyarat jika ia emang serius menerima Steven jadi kekasihnya.


Steven membalas senyumnya mengangkat kedua tangan Calista ia mencium punggung tangan lembut itu dengan penuh cintanya.


"Thank's Calista atas jawabanmu, aku janji akan mencintaimu dengan tulus," ucap Steven berjanji mengecup kening Calista.


Pria yang baru ia kenal dalam beberapa hari sudah berani mengucapkan kata cinta padanya, apa benar Steven tulus padanya? Ataukah hanya karena Calista yang belum pernah menjalin hubungan ia mencoba untuk mempermainkan Calista?.


Jawabannya ada di Steven, Calista cukup menjalaninya saja dulu dan melihat bagaimana hubungan mereka selanjutnya nanti.


"Aku harap kamu mencintaiku dengan tulus Stev, jangan permainkan aku," ucap Calista sebenarnya ada rasa ragu menjalin hubungan dengan Steven, pria yang baru saja ia kenal tanpa mengetahui segala kepribadian dan tingkah lakunya.


"Aku janji List, dan kita harus menjalaninya dulu," balasnya tersenyum mengusap rambut Calista lembut.


Jatuh cinta pada pandangan pertamana Calista merasa sedang melayang melintasi langit ketujuh, disana ia merasa kebahagiaan yang begitu besar.


Steven memperbaiki posisi duduknya meraih sesuatu di dalam saku celananya. Mata Calista tak lepas dari sana memperhatikan kejutan apa lagi yang diberikan Steven padanya.


Sebuah kotak cincin kecil yang mungkin sengaja telah ia persiapkan semua sebelumnya. "Dan ini kejutan untukmu," ucap Steven membuka kotak cincin itu memperlihatkan kepada Calista.

__ADS_1


Calista begitu senangnya, mulutnya mengangah tak percaya lagi apa kejutan yang diberikan Steven padanya.


Cincin berlian yang sangat berharga, bukan sekedar cincin biasa yang dijual dipasaran ini beda, mungkin saja Steven membelinya di toko tertentu dengan harga yang lumayan fantastik.


Steven mengangkat tangan Calista dan mengenakannya cincin berlian itu dijari manis Calista bukti cintanya agar Calista percaya padanya.


" Apa kamu suka?" tanya nya kembali mencium punggung tangan lembut dan mulus itu.


" Suka banget, makasih yah," balas Calista memandangi cincin itu di jarinya dengan penuh senyuman bahagia di wajahnya.


Steven tersenyum melihat Calista bahagia dan puas atas perlakuan manisnya yang ia tunjukan. Ia menyandarkan punggungnya di bahu kursi taman itu seraya menghembuskan nafasnya lega.


Dengan sigap ia menarik tubuh Calista dalam pelukannya, Calista luluh kepalanya ia sandarkan di dada bidang Steven dengan manja.


"Aku ingin sekali mendengar kamu mengatakan, kamu mencintaiku Calista," ucap Steven berbisik sambil mencium pucuk kepala Calista.


"I love you Steven," sela Calista dengan suara lembutnya, ia mengangkat wajahnya dan memandangi wajah Steven dari bawah dagu.


"I love you too Calista," balas Steven menunduk memandang wajah Calista dan mencoba mengecup kening Calista sekali lagi.


Calista menutup matanya menikmati kecupan lembut itu dikeningnya, dan secara bergantian ia mengangkat tubuhnya dan mencoba mengecup pipi Steven dengan penuh cintanya.


Steven tersenyum merasa senang Calista mulai mengerti apa yang sewajarnya ia lakukan untuk menambah keromantisan dalam menjalin hubungan.


Dua insan yang sama sama saling jatuh cinta bersantai di taman dan saling berucap kata cinta disana, tatkala mereka bermesraan untuk menambah keharmonisan hubungan yang terjalin indah itu.


...----------------...


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2