Teman Hidupku

Teman Hidupku
Jangan Ngambek


__ADS_3

Calista terdiam membisu tak berani beranjak ditempat duduknya saat ia melihat Nathan yang sudah sangat kesal padanya.


Ia merasa bersalah seharusnya ia tidak menolak ini, secara yang awalnya ingin menikah itu adalah Calista bukan Nathan yang memaksa.


Sementara Nathan menuruti keinginannya tapi sekarang Calista malah menarik ulur hati nya dan membuat hati Nathan kecewa terlalu dalam.


Ia telah menjadi seorang istri yang tentu ia harus siap melayani suami, ini sudah menjadi janjinya dihadapan Tuhannya dan dihadapan Ayahnya.


Sementara Nathan yang terlihat kecewa dan kesal, ingin mendahului Calista untuk tidur agar pikirannya menjadi tenang, namun sudah beberapa menit pun berlalu Nathan tak kunjung terlelap pikirannya kacau dan terus memperhatikan Calista.


Dengan wajah lesu Calista menatapnya diatas tempat tidur, inginnya menghampiri dan membujuk namun ia gengsi tidak ingin memulai duluan.


Sedang terlihat sedih dan cemas, Nathan yang tertidur terlentang dengan meletakan satu tangan keatas dahinya sesekali mengintip Calista dengan membuka satu matanya.


Sebenarnya perasaan Calista salah, Nathan malah menjahilinya mencobai sampai mana Calista bertahan disana.


Perasaan nya yang sudah sangat cemas dan tak tega, akhirnya ia memberanikan diri untuk berdiri dan melangkah pelan menghampiri ranjang membujuk Nathan kembali.


"Kak Nathan marah samaku?" ucapnya dengan nada lembut dan agak ada firasat takut jika Nathan memarahinya.


Calista menaiki ranjang dan ikut membaringkan tubuhnya dengan pelan disebelah tempat tidur Nathan.


Dengan segala kekuatan dan keberaniannya meraih pelan selimut yang tengah menyelimuti tubuh Nathan dan ikut menyelimuti tubuhnya sendiri.


Sesekali pandangannya mengarah kewajah Nathan memperhatikan jika Nathan beneran tidur atau hanya iseng nya saja.


Calista memandangi wajah tampan itu, terlihat begitu damai dan adem. Hidung yang mancung bibir yang seksi dan kelopak mata yang bulat, sebenarnya Calista sangat ingin mempersilakan dirinya untuk suaminya ini, tapi apa iyah mau jika kembali di beri karena tadinya ditolak?.


Calista kembali mengumpulkan keberaniannya, ia mengubah posisi tidurnya menyamping untuk menghadap kearah Nathan.


"Kak Nathan," ucapnya masih dengan suara lembut dan tenang, tangannya mulai terangkat mencoba menggoyangkan lengan Nathan untuk membangunkan.

__ADS_1


Nathan masih bertahan untuk pura pura tidur dan pura pura tidak menyadari jika Calista tengah membangunkannya.


"Aku minta maaf jika sudah membuatmu kecewa, tolong jawab aku. Aku bisa mempertimbangkan permintaanmu," ucapnya lagi, karena sudah menyadari kesalahannya sekarang ia ingin mempersilakan Nathan pada dirinya.


" Bangun dong kak Nathan," karena masih tak ada sahutan, Calista capek dan membangunkan Nathan dengan paksa.


Ia mencubit hidung Nathan dan menahan tangannya agar pernapasan Nathan terhenti dan bisa terbangun.


Karena Nathan yang tidak menyadari aksi jahilnya, sontak saja ia kaget dengan cepat membuka matanya dan berteriak.


"Aahhhw..!!" pekiknya segera menepis tangan Calista dari hidungnya sambil melototi tepat dekat wajah Calista.


Senyum lega terlihat diwajah Calista, bersyukur ia bisa terbangun dengan idenya.


Jadi sekarang ia dengan senang hati menawarkan diri kepada suaminya yang tampan itu agar tidak ngambek dan sebel lagi.


"Ada apa lagi," ucapnya menatap Calista tak suka. "Kak Nathan marah sama aku?" balasnya bukan nya menjawab malah balik bertanya. " Hemm," sahutnya berdehem, kembali menarik selimutnya dan berbalik badan membelakangi Calista.


"Tidak lucu kalau kamu ngambek kayak gini, bikin geli tahu," ucap Calista tak putus asa, ia menggombal Nathan agar kembali baikan padanya. " Sampai kapan kamu bertahan seperti ini," tanya Calista sama sekali tidak mau mengalah sampai Nathan menjawabnya.


Sekarang ia masa bodoh dengan apa yang ia ungkapkan, toh cuman dia dan suaminya yang berada disana tidak mungkin Nathan membicarakan ini semua kepada orang lain.


Nathan masih terlihat tidak menghiraukannya, ia mencobai Calista sampai mana ia bertahan merayu dan menawarkan diri


Calista dengan beraninya mengangkat tubuhnya setengah memandangi wajah Nathan yang membelakanginya.


" Mau susu tidak?" tawarnya dengan ekspresi menggoda, ia dengan jahilnya menempelin sesekali dada empuk itu kebahu suaminya.


Nathan merasa geli dan bisa merasakan jika sesuatu itu sangat lembut bisa membuatnya senang. Tapi bagaimana pun ia tetap bertahan untuk terus cuek pada Calista.


Karena aksinya ini tidak ampuh Calista kembali membaringkan tubuhnya dengan menyamping di dibelakang bahu Nathan. Dengan nakalnya ia memeluk punggung suaminya lembut mengulurkan tangannya sampai di depan perut kotak kotak yang empuk milik suaminya.

__ADS_1


Nathan semakin geli dan merinding, sebenarnya tidak tahan untuk tidak tertawa dan rasanya ingin menepis jari jari nakal itu dari perutnya.


Namun karena ia punya niat untuk berpura pura ngambek Nathan menahan dan pura pura tidak peka saja.


Calista semakin nakal dan semakin jahil, jari jarinya menggelitik lebih lama diarea perut dan menjalankannya di dada empuk bantalan itu.


Disana ia bertahan untuk terus menggelitik, dan berhasil Nathan pun merespon mungkin karena tak tahan dengan rasa geli dan merinding.


Tangannya menahan pergelangan Calista dan membalikan badan nya menghadap Calista.


Masih dengan wajah datar dan dingin, sorot mata coklatnya mengarah diseluruh wajah Calista yang cantik dan mungil.


"Aku tidak ingin jika unjungnya kamu mengecewakan ku," ucapnya dengan suara berat dan serak.


Calista ikut menatapnya dan sedikit memperlihatkan senyumnya. " Aku bersedia, tubuhku adalah milikmu," balas Calista mungkin sudah mempersiapkan diri dengan memberanikan untuk mengatakan seperti itu.


Nathan tersenyum sinis dan memutar bola matanya kesal. " Sudah siap kah dirimu?" Nathan masih ragu dan tidak percaya, sebelum ia beraksi haruslah dulu menginterogasi agar tidak kembali kecewa seperi tadi.


" Ini malam pertama untuk kita, tentu aku sudah mempersiapkan diri," jawabnya meyakinkan Nathan dan membuka lapang dengan senang hati.


Nathan kembali tersenyum kecut, dan mendekati wajahnya dengan jarak sejengkal dari wajah Calista.


Karena bereaksi, Calista terdiam dan menunggu serangan dari Nathan. Ia betul telah mempersiapkan diri dan malam itu juga ia harus memutuskan Nathan untuk merenggut miliknya.


Nathan menghembus mata Calista yang tak berkedip kearah nya dan berkata. " Nyalimu kuat juga, aku suka ditantang oleh wanita sepertimu," bisik Nathan dengan tatapan tajam seperti pembunuh.


Calista merinding tubuhnya kaku melihat Nathan mulai mengangkat tubuhnya, namun ia mencoba untuk tetap santai dan menunggu saja bakal apa yang dilakukan Nathan.


Pikirannya bekerja dan menerka, "Apakah begini situasi jika malam pertama bersama pasangan?" batin Calista.


Ini sedikit lucu dan gila, padahal saat mengatakan janji suci semua sudah diungkapkan didepan banyak orang termasuk orang tua yang ikut menyaksikan saat melaksanakan pernikahan. Tapi kenapa jika pas hari berduanya, kalau bukan wanita yang munafik pastilah prianya yang akan melakukan kemunafikan.

__ADS_1


...----------------...


BERSAMBUNG...


__ADS_2