Teman Hidupku

Teman Hidupku
Mengikhlaskan


__ADS_3

"Kalian yang sabar yah sayang, jangan berlarut terus dalam kesedihan ikhlaskan lah kepergiannya," ucap Marya memberi semangat kepada Calista.


Kebetulan saat kejadian ini mereka menghubungi orang tua dan saat itu juga mereka kembali kekediaman Nathan, sebagai orang tua juga mereka merasa kehilangan atas kepergian calon cucu.


Padahal mereka sudah banyak berandai andai jika cucu mereka lahir kedunia, namun apa boleh buat mereka harus ikhlas merelakan kepergian sang cucu kembali kepangkuan sang pencipta.


Hari itu hari dimana baby Calista dan Nathan di kebumikan, setelah siap acara penguburan Calista dan Nathan serta keluarga besar mereka masih tertinggal disana, begitu juga dengan sahabatnya Raysa selalu ada disampingnya saat saat kesedihan seperti ini.


Wajah Calista benar benar tidak memancarkan kebahagiaan lagi matanya sembab dan pucak mungkin karena efek menangis terus, keadaannya yang masih belum pulih seutuhnya terpaksa ia menggunakan kursi roda untuk datang kepemakaman anaknya.


Nathan tampak diam tidak banyak bicara lagi, semenjak kejadian ini seakan ia menyimpan kebencian kepada Calista. Ia terus menyalahkan istrinya karena tidak memberitahukan apa yang telah terjadi sebenarnya.


Pikirannya saat ini masih kacau tak bisa menahan diri untuk berbaikan kepada istrinya, mungkin setelah ini mereka perlu berbicara seputar dibalik kejadian ini.


Nathan menarik nafasnya seraya mengeluarkannya kasar dan berkata. " Hmm kita lebih baik pulang, seberapa lama pun kita disini bayi nya takan kembali lagi," ucapnya mungkin sudah pasrah dan sudah sangat merelakan atas kepergian si buah hatinya.


Sontak semua pandangan tertuju padanya untuk menanggapi perkataannya. "Sabar nak, Papah yakin Tuhan pasti menggantikan yang lebih baik dari pada ini, yakinlah dengan perkataan Papah," sahut Arly memukul pundak Nathan dengan pelan untuk memberikan sedikit semangat kepada anaknya.


"Iyah Pah, aku sudah merelakan kepergian bayi kami dan harapanku untuk digantikan lagi semoga Tuhan mendengarnya," balasnya mengangguk sambil menggigit bibirnya.


"Ya sudah sebaiknya kita pulang kerumah," sahut Jhon, niatnya agar tidak terus bersedih jika sudah pergi dari tempat pemakaman itu.


Yang lainnya mengangguk sembari berbalik badan untuk pergi meninggalkan makam si dede bayinya.


Hati Calista sebenarnya tidak mau meninggalkan tempat itu, saat mereka melangkah dari sana ia masih menitiskan air mata sedihnya.


...----------------...


Sepulang dari pemakaman raut wajah yang lainnya masih terlihat sangat sedih, mereka memasuki rumah dengan hening tanpa sepatah kata sedikit pun.

__ADS_1


Linda yang biasanya sangat kegirangan dan cerewet dalam keadaan ini pun ia seperti kehilangan jiwa bahagianya. Ia juga sangat sedih atas kehilangan calon cucunya, air matanya tak bisa tertahankan hatinya juga ikut sakit merasakan kehilangan ini. Seandainya saja manusia bisa mengembalikan nyawa maka Linda berusaha agar cucunya bisa hidup kembali.


Namun apalah daya kita hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan dan jauh dari kesempurnaan.


"List kamu mau kekamar ?" tanya Raysa yang sedang mendorong kursi roda Calista. "Hem sebaiknya aku istirahat sebentar Sa, tolong antarkan aku," jawabnya meminta Raysa untuk mengantarnya ke kamar saja


Ia tahu jika Nathan marah padanya sangat kelihatan dari raut wajahnya dan seperti ia mencueki Calista.


Semenjak sampai kedalam rumah ia masih enggan tak ingin berbicara pada istrinya, ia langsung pergi kekamar.


Calista menyadari suaminya yang terlihat masih marah padanya jadi ia meminta Raysa untuk mengantarnya ke kamar ia perlu berbicara dan menjelaskan semua ini kepada Nathan.


"Mari aku antar," ucap Raysa mendorong kursi roda Calista untuk segera diantar ke kamarnya.


Otak Calista sejak tadi terus berputar untuk mencari akal bagaimana cara menjelaskan semua kejadian ini kepada Nathan, sebenarnya ia takut namun memberanikan diri saja supaya mereka jangan berlama lama berada dalam kemarahan.


Raysa tersenyum sembari melangkah pergi dari sana. Sementara Calista memberanikan untuk masuk kedalam kamar.


Disana ia melihat suaminya yang tengah berbaring diatas ranjang dengan tubuh terlentang satu tangan ia letakan di kening namun matanya tak ia tutup


Nathan terlihat sedang banyak pikiran sehingga ia tidak menyadari Calista yang ada disana.


"Aku boleh minta tolong untuk mengangkatku diatas tempat tidur?" ucap Calista mendorong kursi roda nya dekat ranjang tempat tidur Nathan.


Mungkin saja Nathan menyadari tapi ia masih cuek, ia menghela nafasnya sembari berdiri tanpa sepatah kata pun ia mengangkat Calista ditempat tidur lalu ia kembali membaringkan tubuhnya.


Calista masih menatapnya dengan wajah sedih merasakan sakit hati melihat suaminya yang tengah cuek padanya, padahal di kondisi seperti ini Calista butuh sandaran dan butuh suami yang menghiburnya.


"Aku minta maaf jika sikapku membuatmu sangat marah dan kecewa," ucap Calista dengan suara seraknya.

__ADS_1


"Dan perlakuan mu ini aku pantas menerima karena semua musibah terjadi aku yang menyebabkan," ucap nya lagi terus mengucapkan kalimat demi kalimat agar Nathan dapat mendengarnya


Nathan malah diam saja seakan akan tidak mendengar Calista berbicara padanya


"Tolong maafkan aku sayang, aku janji kedepannya akan berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu sebagai suamiku," Calista menggerakan tubuhnya menyamping menghadap


Kearah suaminya yang hanya diam membisu.


"Kamu mendengarkan ku kan sayang?" ucapnya dengan beraninya mengelus pipi Nathan.


"Aku mendengar dan sebaiknya kita istirahat," jawabnya tak memandang kearah Calista sedikit pun. Saat pipinya dielus ia menutup matanya seraya menepis tangan Calista pelan lalu ia berbaring menyamping membelakangi Calista.


"Baiklah, aku akan sabar menunggu hingga kemarahanmu padaku reda," sahut Calista tersenyum sedih sambil menarik tangannya kembali.


Ia menatap punggung suaminya dengan mata yang berkaca kaca, benar benar kesedihan yang ia alami saat ini lebih parah dari kesedihan sebelumnya.


Baru pertama kali ini Nathan yang cinta, sayang, peduli dan perhatian padanya memarahi dan mencuekinnya


Dari belakang ia tampak kembali menetaskan air mata namun tak terdengar suara, nyesek memang tapi ia tahan supaya suasana malam itu tidak semakin buruk.


Nathan sebenarnya menyadari jika Calista benar benar sakit atas sikapnya yang cuek dan sok marah, tapi ia sengaja agar Calista menyadari dimana letak kesalahan terbesarnya.


Dari depan Nathan juga ikut menangis saat ia mendengar rintihan tangis Calista dari belakangnya.


Malam itu sunyi dan penuh dengan kesedihan, sepasang suami istri yang baru kehilangan si buah hati menjadi asing dan saling marah.


...****************...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2